PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 62


__ADS_3

Malam ini udara begitu terasa dingin, saat ini Senja masih di hotel suaminya.


Rencan besok pagi, mereka akan langsung pulang ke Surabaya.


Senja saat ini hanya di kamar sendiri, karena suaminya akan mengecek pekerjaan selama di Bandung.


Sedangkan Mentari dan Yoga sore tadi langsung pulang ke Jakarta, karena Yoga tidak bisa meninggalkan kantor berlama-lama.


Satya yang masih ada dalam ruang kerjanya, merasa sangat bosan karena sekarang harus mengecek laporan yang diberikan oleh Romi.


Romi masuk ke ruang Satya merasa heran melihat sahabatnya mulutnya berkomat-kamit.


"Lo kenapa Bro?" tanya Romi


"Menurut lo!" hardik Satya.


Romi hanya terkekeh melihat sahabatnya kesal, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Satya moodnya menjadi buruk.


Setelah mengerjakan selama 2 jam, laporan udah siap ditandatangani oleh Satya. Ia buru-buru membereskan mejanya, setelah itu dia segera membuka pintu di balik lemari buku di ruangannya.


Saat sampai di kamar Satya hanya bisa menggelengkan kepalanya, dilihatnya Senja tidur di sofa dengan TV yang masih menyala.


Perlahan ia mendekati istrinya, disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah cantik Istrinya.


Berlahan diangkatnya tubuh istrinya, kemudian dibaringkan pelan-pelan di atas ranjang.


Setelah itu Satya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak berselang lama ia selesai dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kecil yang dililitkan di pinggangnya.


Diambilnya baju kaos warna hitam dan celana pendek, kemudian ia berbaring disamping Senja.


Senja yang merasakan gerakan disampingnya, ia berlahan mengerjapkan matanya. Senyum tersungging di bibirnya saat melihat suaminya sudah tertidur.


Senja segera berbalik badan menghadap ke wajah Satya, ia memperhatikan rahang kokoh di depannya berlahan tangannya mulai menyentuh pipi suaminya.


Tiba-tiba Satya bangun langsung memeluk Senja, Senja yang terkejut hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.


"Bby, kenapa belum tidur?" tanya Senja.


"Bby kangen sayang," ucap Satya.


Senja hanya bisa menghela nafas panjang, bagaimana kangen sedangkan mereka baru sore tadi bertemu.


"Bby kenapa semakin manja sekarang," goda Senja.


Satya tersenyum, ia sendiri tidak tahu kenapa begitu ingin bermanja dengan istrinya.

__ADS_1


"Sayang, jadi kapan Om Ranga dan Rendy pulang ke Surabaya?" tanya Senja.


Satya yang sudah berjanji merahasiakan kapan mereka pulang, terpaksa berbohong kepada Istrinya.


"Lusa sayang, setelah perkejaan selesai," jawab Satya.


"Semoga mereka pulang dengan selamat," kata Senja


"Maksudnya?" tanya Satya.


"Entah mengapa perasaan Mmy enggak enak," jawab Senja.


Satya juga khawatir dengan Rangga dan Randy, karena mereka pulang malam ini bersama Om Angkasa dan Tante Mela.


Mereka tidak boleh saling komunikasi selama mereka sudah mulai berpencar, begitu juga dengan Yoga dan Mentari.


Mereka hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja, Ayah Nugraha sengaja mengutus Rendy dan Rangga karena dia tidak percaya dengan anak buahnya yang lain.


Satya bingung bagaimana cara hubungi Ayahnya sekarang, karena Satya yakin kalau musuhnya sekarang bukan orang sembarangan.


Ia yakin kalau Ronald tidak kerja sendiri, untuk menghancurkan Nugraha dan Sanjaya.


Senja yang melihat suami hanya terdiam merasa khawatir, sepertinya ada yang disembunyikan darinya.


Namun, Senja menunggu suaminya untuk bercerita sendiri kepadanya. Ia tidak memaksa suaminya untuk menceeitakan semua hal yang tidak harus diketahuinya.


Sementara itu di kediaman Paman Angkasa, waktu sudah menunjukkan jam 12.30 malam.


Entah kenapa Rangga dan Rendy merasa tegang, karena amanah dari Ayah Nugraha yang begitu besar tanggung jawabnya.


Tidak sembarang orang untuk melakukan perintahnya, Rendy sendiri tidak tahu apa motif sebenarnya di balik keinginan Ayah Nugraha untuk membongkar semua kejahatan Ronald.


Tapi Rendy percaya kalau Ayah Nugraha baik, mereka sekarang sedang bersiap-siap untuk pulang ke Surabaya, memakai mobil yang sudah diganti oleh Ranga.


Sedangkan mobil Arga, di tinggalkan saja di depan rumah yang kemarin


mereka datangi.


"Gemana lo udah siap?" tanya Rendy ke Ranga.


"InsyaAllah gue siap, Ren tolong kasih tahu ke Papa dan Mama suruh mereka jalan kesimpang setelah gue pergi." kata Ranga.


"Oke gue kasih tahu, ingat ya setelah 30 menit gue tunggu di simpang. Namun, kalau gue sudah 30 menit enggak ada tolong lo tinggalin gue.


"Kata Rendy.

__ADS_1


Rangga terdiam, ditatapnya sahabatnya itu dengan tatapan penuh arti yang lain.


"Lo gue tunggu di sana, semoga bisa melabui mereka. gue tunggu di sana jangan kecewain kami, oke." kata terakhir Ranga kemudian ia pergi dengan memakai pakaian wanita untuk melbui orang yang terus memperhatikan rumah yang tempat parkir mobil Arga.


Langkahnya santai seperti warga lain yang hilir mudik, setelah sampai di simpang Ranga memperhatikan sekeliling, ia yakin tidak ada yang mencurigakan.


Ia harus menunggu 30 menit untuk melihat Papa Angkasa membawa Mama Mela.


Ranga berdecih saat melit pria bertato duduk di sebrang jalan, kemudian pria itu segera memesan nasi di samping Rendy.


"Pantau terus, jangan sampai lengah," kata pria itu kepada seseorang dibalik telepon.


Setelah pesanannya siap ia segera pergi naik motor meninggalkan simpang.


Ranga melihat Papa Angkasa segera berjalan santai menuju mobil, tak lama ketiganya segera masuk mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Ranga sesekali memperhatikan belakang lewat kaca spion.


Karena merasa aman Ranga segera melajukan mobilnya menuju tempat yang di janjikan.


Dari jauh Ranga bisa melihat beberapa waria berjejer, kemudian seulas senyum tersungging dari bibirnya saat melihat Rendy yang berdandan begitu imut.


"Alhamdulillah, semua aman," kata Paman Angkasa.


Rendy dan Ranga hanya tersenyum, mereka terpaksa melewati jalan darat . Karen keberadaannya sudah tercium oleh musuh.


Ranga yang membayangkan harus ke Surabaya, dengan naik mobil hanya bisa menghela nafas panjang.


Rendy mengusap bahu Ranga, kemudian keduanya tersenyum.


Rendy memberikan air mineral ke Paman Angkasa dan Tante Mela, tak berapa lama keduanya sudah tertidur.


Kini mobil melaju dengan kecepatan penuh, keduanya mengingat seperti waktu SMA menjadi pembalap, tapi kini skil itu terpakai.


Rendy mengeluarkan makanan dari dalam kantong yang tadi dibelinya.


"Jam berapa sibucin berangkat?" tanya Rendy


"kalau sesuai rencana besok pagi," jawab Ranga


Ranga hanya diam menangapi ucapan sahabatnya, " tadi bagaimana lo bisa lolos" tanya Ranga.


"Jantung gue rasa mau copot waktu ada yang menyentuh senjata gue," kata Randy sambil bergidik ngeri karena ulah waria disampingnya.


Seketika tawa Ranga meledak, Rendy hanya cuek saat Ranga menertawakan dirinya. Namun, yang Rendy ingat dari mereka ada yang mengatakan kurang kerjaan mengawasi rumah kosong.


Dan dari obrolan mereka sepertinya, ada diantara mereka sengaja ini lepas dari kerjaan itu.

__ADS_1


Bersambung ya...


__ADS_2