
Hari ini merupakan hari yang mendebarkan buat Ayah Nugraha, karena akan ikut hadir di persidangan.
Bunda yang melihat suaminya sedang berpakaian segera menghampiri, dan membenarkan dasi yang masih belum rapi.
"Ayah yakin mau ikut," tanya Bunda yang terlihat cemas.
"Ia sayang, Ayah juga menemani Roby," jawabnya sambil tersenyum.
"Semoga semuanya lancar," kata wanita yang setia menemani hidupnya itu
Keduanya segera turun untuk sarapan, di meja makan sudah berkumpul Paman Angkasa dan Tante Mela, Satya dan Senja sudah kembali kerumahnya.
Mereka sarapan dalam diam, setelah selesai sarapan Segera bersiap untuk berangkat ke pengadilan.
Dikediaman Satya.
Pagi itu Senja sudah berapa kali muntah, membuat tubuhnya menjadi lemas. Satya dengan sabar membalurkan minyak kayu putih ditengkuk Istrinya.
" Mmy mau sarapan apa? biar Bby buatkan," ucap Satya sambil mengusap pipi Istrinya.
"Mau teh hangat sama roti saja, Bby."
Setelah mendengar permintaan Istrinya, Satya segera kedapur untuk membuat teh.
Bik sum yang baru dari belakang melihat majikan ada di dapur terkejut, kemudian ia segera menghampiri Satya.
"Maaf Den, Aden membutuhkan apa?" tanya Bik Sum.
"Enggak apa-apa Bik, biar saya aja yang buat, hanya teh sama roti saja, kok," kata Satya.
Bik Sum tersenyum menatap Satya, yang begitu senang menyiapkan sarapan untuk Senja yang sedang mengandung darah dagingnya.
Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk istrinya, Satya segera naik kelantai dua.
Pria itu membuka pintu kamarnya berlahan, tapi saat melihat istrinya tidur ia pun tersenyum.
"Maafkan Bby sayang, kamu sampai ketiduran," ucap Satya kemudian ia segera masuk kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Satya segera memakai pakaian. Ia melihat istrinya masih tertidur lelap hanya tersenyum, kemudian Satya keluar dan menuju meja makan.
Di meja makan sudah ada Arnold, Suci, Nenek Wati dan Arga. Mereka sarapan sambil mengobrol.
"Lo enggak papa hadir di persidangan Om Ronald?" tanya Arga.
"Gue harus datang, Nenek dan Suci juga ikut," jawab Arnold.
__ADS_1
Satya hanya mengangguk menanggapi ucapan sahabatnya itu, setelah selesai sarapan meraka bersiap-siap untuk pergi ke persidangan.
Mereka pergi hanya dengan satu mobil saja, Mobil kemudikan oleh Satya. Arga dan Suci duduk di belakang, sedangkan Arnold di samping Satya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan Kota Surabaya.
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mobil yang dikemudikan oleh Satya sampai di depan pengadilan. Tak jauh dari mobilnya, Satya melihat Kakek Robby dan Nenek Marni turun dari mobil.
Rombongan Satya segera menghampiri Kakek Roby, Mereka saling jabat tangan satu dengan yang lainnya.
Kemudian mereka memasuki ruang persidangan, karena acaranya sebentar lagi akan dimulai.
Arnold tertegun saat pandangannya beradu dengan mata Papanya, Ronald tersenyum getir melihat Ibu dan anaknya hadir.
Sedangkan di deretan kursi satu lagi Ronald melihat Robby dan istrinya duduk bersebelahan, Satya diam-diam memperhatikan itu. Rahang Ronald terlihat menegang, saat matanya menatap Kakek dan Nenek.
Tak berapa lama Ronald melihat Ayah Nugraha dan Rendy baru datang sambil jalan beriringan, dan keduanya duduk di samping Papa Roby.
Kemudian sidang dimulai, dari pihak penggugat dan tergugat berjalan begitu alot. karena tidak ada bukti dari saksi yang dituduhkan, maka tuan Ronald bisa bebas.
Tak berapa lama datang dua orang, yang laki-laki mendorong kursi roda dan perempuan duduk di kursi roda, keduanya mendekati hakim ketua.
Rendy berbisik kepada pengacaranya, tak lama hakim ketua mengizinkannya.
Setelah itu flashdisk yang diberikan segera diputar.
Semua yang ada disitu terkejut, saat Vidio rekaman kalau Ronald yang merusakkan mobil Angkasa.
Wajah Ronald terlihat pias, saat melihat rekaman itu. Namun, masih ada video satu lagi yang memperlihatkan Ronald dan Marni bercumbu.
Rendy terdiam terpaku, apa lagi saat mendengar ucapan Ibunya. kalau itu dijebak, kedua tangannya mengepal.
Tidak jauh dari Rendy, Arnold terlihat shock melihat adegan itu. Suci mencoba untuk menenangkan lelaki yang sudah di anggap seperti saudara Ayahnya itu.
Ruangan tiba-tiba menjadi ramai, tapi keamanan segera bertindak menjadi kondusif kembali.
Pengacara Rendy meminta kepada lelaki yang berdiri dibelakang kursi roda segera membuka maskernya, berlahan Angkasa dan Melati membuka masker.
Ronald sangat terkejut, ia segera berdiri dari kursinya, ia menggelengkan kepalanya tidak mungkin saudaranya itu selamat karena mobil mereka jatuh kejurang dan meledak.
Nenek Wati melihat itu tiba-tiba pingsan, Arnold dan Suci segera menolong Nenek Wati dibantu para petugas untuk keruangan sebelah.
Hal yang lebih mengejutkan adalah Nenek Marni dinyatakan ikut sekongkol dengan Ronald untuk menguasai harta Pak Roby.
Rendy begitu shock, mendengar Mamanya yang begitu ia hormati begini tega melakukan hal itu.
Tiba-tiba Mama Marni berterik sebelum dibawa pergi oleh petugas.
__ADS_1
"Rendy, kamu harus tahu lelaki yang akan kamu penjarakan adalah Ayah kandungmu!" teriaknya
Papa Roby yang mendengar itu begitu sakit dadanya.
"Cukup Marni!" teriak Kakek Roby.
"Apa, hah! Ingat Rendy dia bukan Ayah kandungmu," kata Mama Marni.
Setelah itu hening, diruangan karena sidang telah usai. Satya mendekati Rendy kemudian ia memeluk sahabatnya sekaligus Omnya.
Arnold berdiri didepan pintu, ia tidak menyangka kalau masih punya adik.
"Tante....," Arnold memeluk Melati sambil menangis haru.
Melati mengusap bahu Arnold dengan lembut, kemudian datang Nenek Wati yang di papah oleh Suci.
Mereka saling melepaskan rindu, Nenek Wati tidak menyangka kalau Ronald tega melakukan itu kepada saudara perempuannya.
Papa Roby mendekati Rendy, dan duduk disampingnya. Ia menatap kosong kedepan, ia juga menyadari kesalahannya sebelumnya.
"Apapun yang terjadi kamu tetap anak Papa, ingat itu Nak," kata Papa Roby sambil mengusap bahu Rendy.
"Maafkan Mama,Pa," kata Rendy.
"Walau berat kita harus tetap jalani hidup ini, tetaplah pulang kerumah Papa," pinta Papa Roby.
Kemudian keduanya saling berpelukan, dan saling menguatkan. Ayah Nugraha tersenyum, melihat anak dan Orang tua yang sedang berpelukan.
"Rendy, mereka juga saudaramu, itu ada Nenekmu juga," kata Ayah Nugraha.
Kemudian ketiganya menghampir Nenek Wati, Arnold yang menyadari itu menatap Rendy dengan cangung.
"Maafkan Papa," kata Arnold.
Rendy tidak menjawab, tapi ia langsung memeluk Arnold. Melihat itu yang lain tersenyum.
"Apa kamu tidak mau memeluk Nenek tua ini," kata Nenek menatap Rendy.
Rendy tersenyum, kemudian ia memeluk Wanita didepannya.
Papa Roby melihat itu, segera mengusap bahu Rendy.
Nenek Wati langsung melepaskan pelukannya dari tubuh cucunya, saat melihat Robby melihatnya.
"Ibu, maafkan Roby," kata Papa Roby sambil memegang tangan Nenek Wati.
__ADS_1
"Ia Nak, Ibu memaaafkan kalian,"jawabnya.
Bersambung ya... jangan lupa tinggalkan jejak