PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 158


__ADS_3

Deg, keduanya ikut terkejut dan melepaskan pelukannya. Wajah keduanya memerah menahan malu. Hanum rasanya kalau bisa menghilang saat kedua orang tuanya berdiri di tengah pintu apalagi suara Ibunya yang sudah seperti toa.


"Bapak tunggu di luar!" ucapnya dingin.


Hanum dan Afkar saling tatap, terlihat wajah keduanya masih menahan malu dan takut. Pria itu menarik napas dalam digenggamnya tangan calon istrinya.


Ibu yang melihat keduanya berjalan bergandengan tangan langsung memisahkannya sambil mengatakan, " Belum jadi mahramnya," katanya sambil berjalan mendahului Hanum dan Afkar.


Afkar menatap Hanum yang masih bengong dengan sikap ibunya barusan, gadis itu berjalan lebih dulu menuju ke ruang tamu dimana ada Bapak dan Ibunya.


"Siang ini kalian menikah, Bapak akan urus!"


"Maaf," Kata Afkar.


"Bapak maafkan, jangan diulangi lagi," ucapnya sambil mengusap bahu calon menantunya itu.


Bapak dan Afkar keluar rumah untuk pergi ke tempat juragan untuk melunasi hutangnya sekalian mengurus surat pernikahan. Setelah kepergian kedua pria itu Ibu menghampiri Hanum yang sedang menjemur pakaian.


"Hanum, tadi selain pelukan kalian ngapain?" tanyanya kepo sambil senyum-senyum.


Hanum menatap ibunya hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu masuk rumah diikuti oleh wanita yang ingin tahunya besar itu.


"Ayo cerita mumpung enggak ada bapak," katanya sambil duduk di depan anaknya.


"Ibu maunya aku di apain, lihat aku dipeluk saja sudah heboh apalagi kalau sampai kami melakukan yang dilarang Agama, berzina apa ibu mau!" katanya sambil menaikan alisnya.


Buk, wanita paruh baya itu langsung memukul anaknya dengan kemoceng di tangannya membuat gadis itu meringis memegangi lengannya yang terasa panas.


"Buk, sakit jangan KDRT ke anak sendiri."


"Mulutmu yang seharusnya ibu pukul!" teriaknya.


Hanum hanya diam, tak lama Harun datang membawa pesanan ibunya. Melihat apa yang dibawa adiknya gadis itu hanya mendesah saat ada jengkol dan petai di dalamnya.


"Kenapa petainya banyak?" tanyanya.


"Mau buat sambal petai," sahut Ibunya dari dapur.


Hanum hanya mengangguk, semoga ada makanan  lain untuk Afkar nanti. Tak lama tetangga berdatangan untuk membantu memasak karena pernikahan siang ini juga.


***


Surabaya.

__ADS_1


Suasana Rumah keluarga Nugraha begitu ramai saat adik dari Ayah Nugraha datang, tapi diam-diam Rania yang baru datang mendekati Satya saat sedang berkumpul dengan keluarganya.


Senja sedari tadi hanya menatap wanita yang bodoh selalu mencari perhatian pria beristri. Walau dia tahu suaminya tak bergeming meskipun Rania menempel. Bunda yang melihat anaknya di pepet terus oleh ponakan itu merasa gerah karena ada hati yang harus dijaga olehnya.


"Rania sini bantu Bunda, Nak." panggilnya.


Gadis itu berjalan sambil cemberut, walau Rania bukan anak kandung dari adik iparnya, tapi tetap diakui oleh keluarga Nugraha.


"Bunda kenapa Kak Satya jadi dingin sama Rania," katanya sambil sedih.


"Dari dulu juga seperti itu, dia hangat kalau hanya sama Senja," jawabnya.


"Kenapa enggak sama Rania saja dulu dijodohkan, Bun?" tanyanya.


"Berarti bukan jodoh sayang, sekarang kamu cari pria lain. Apalagi kamu cantik dan pintar," bujuknya.


Rania hanya diam, tapi sesekali dia melirik Senja yang duduk di depannya, gadis itu heran kenapa wanita hamil itu tak marah mendengar apa yang barusan ia katakan. Apa istri Satya itu tak mencintai suaminya.


****


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, semua sudah berkumpul di hotel milik keluarga Nugraha, Arga yang sudah terlihat gagah nampak tenang, walau dalam hati rasanya dia mau pingsan.


Satya yang melihat itu terkekeh, begitu juga dengan Yoga tak habis-habisnya mereka mencibir sikap Arga itu. Keluarga dari mempelai wanita sudah datang, Kini Arga duduk di depan Angkasa.


"Apa bisa mulai?" tanya penghulu menatap Arga dan Angkasa Ayahnya Suci.


"Siap," jawab keduanya mantap.


Ayah Nugraha mengusap bahu putranya itu, walau hanya orang tua angkat untuk Arga, tapi pria itu menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.


Tak lama hening, " Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Arga putra Raksa bin Raksa dengan anak saya yang bernama Suci Ramadhan dengan maskawinnya berupa uang tunai sebesar satu miliar, Tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Suci Ramadhan binti Angkasa dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah," jawabnya serempak.


Arga merasa lega, kini resmi sudah dia menjadi suami dari wanita yang dicintainya. Tak lama Suci dihimpit oleh Bunda dan Mela untuk duduk bersanding dengan suaminya.


Arga begitu tertegun melihat bagaimana cantiknya wanita pilihannya, gadis itu terlihat lebih cantik walaupun memakai make up natural.


Kini tiba saatnya untuk sungkeman, saat Suci menghampiri Mamanya tangis haru tak terbendung lagi, Sedih karena putrinya akan meninggalkannya senang karena bisa melihat Suci menikah.

__ADS_1


Senja yang sudah tidak tahan lagi berdiri, dipapah Ibunya melihat itu Satya berjalan cepat menghampiri istri dan mertuanya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Pinggangku sakit," jawabnya.


Satya tersenyum, ia tahu istrinya tidak tahan duduk lama-lama, pria itu mengajak istri dan mertuanya untuk istirahat di kamar yang sudah disiapkannya.


"Apa acaranya sudah selesai?" tanya Senja.


"Sudah, hanya besok ijab kabul Ranga dan Diana, malamnya resepsi," Jawab Satya sambil mengusap perut Senja.


Mentari yang memilih duduk di sofa hanya tersenyum, ia yakin putrinya akan segera melahirkan.


"Sat, besok kamu siapkan keperluan Senja untuk melahirkan. Takutnya saat acara besok lahir.


"Ibu, aku masih ingin melihat resepsi Om Arga dan Ranga," sahut Senja karena kalau dia melahirkan besok pastinya dia tidak bisa hadir.


"Ibu bilang untuk jaga-jaga, Senja!"


"Iya Bu," jawab Satya sambil mengusap kepala istrinya.


Tak lama datang Yoga dan Ranga, keduanya terlihat lelah. Mentari melihat itu tersenyum, walau hanya mengundang seratus orang rasanya begitu banyak tadi.


"Capek, Yang." kata Yoga menyandarkan kepalanya di sofa samping istrinya.


"Gue enggak sabar nikah, kalau capek bisa manja ke istri," kata Ranga.


"Sabar Om," sahut Senja tersenyum.


Jam sudah menunjukan pukul lima lewat, kini semuanya sudah kembali ke rumah keluarga Nugraha begitu juga dengan keluarga Angkasa, ada Arnold dan Shinta


"Senja begitu senang saat ada Sari yang datang karena baru pulang ikut suaminya seminar di Semarang.


Ibnu duduk di samping Arga, sedangkan Suci asik mengusap perut Senja. Wanita itu begitu gemes saat anak dalam kandungan sahabatnya itu bergerak.


Arga diam-diam melirik istrinya yang terlihat asik di samping Senja, Satya yang melihat Arga melirik Suci tersenyum.


"Itu kode!"


"Kode apa?' tanya Arga tiba-tiba ling-lung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2