
Di kediaman Kakek Roby.
Pagi ini Senja bangun terlebih dahulu dari Satya, Ia segera membersihkan diri setelah itu turun ke bawah untuk membuat sarapan untuk anggota keluarga yang lainnya.
Sampai di dapur senja melihat sudah ada asisten rumah tangga yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah ditempat neneknya.
"Pagi Bik," sapa Senja sambil tersenyum.
"Pagi Nona," jawab mereka serempak.
"Bikin menu apa pagi ini Bik," ucap Senja sambil bergabung untuk menyiapkan sarapan.
Mereka sudah biasa mengerjakan bersama-sama sebelum Senja Menikah, tidak ada kecanggungan antara Senja dan pelayan di rumah Kakek Roby.
Setelah selesai menyiapkan sarapan Senja segera membangunkan Neneknya di kamar, Senja berlahan membuka pintu di lihatnya Nenek masih tidur dengan nyenyak.
Senja tidak jadi membangunkan Neneknya, ia beralih kekamar Rendy.
Senja membuka pintu kamar Omnya yang sudah dianggap seperti Ayahnya.
Rendy yang mendengar pintu terbuka segera menoleh melihat siapa yang masuk.
"Pagi Om jelek," ucap Senja langsung baring di kasur Rendy.
"Kamu itu sudah menikah Senja, jangan sembarang masuk kamar pria," ucap Rendy.
"What, sejak kapan Senja dilarang masuk kamar Om?" tanya Senja dengan ketus.
"Om enggak melarang, tapi horamati suamimu," kata Rendy sambil menonyor kepala Senja.
Senja hanya diam mencerna ucapan Rendy sambil tersenyum, keluar ide jahil Senja diambilnya handponenya Rendy lalu ditekannya audio di aplikasi hijau.
"Ah....sakit pelan-pelan," kata Senja langsung mengirimkan ke Popy.
Rendy terkejut mendengar suara keponakannya yang mendesah, seketika matanya melotot melihat Senja masih memegang handponenya.
Rendy segera merebut handponenya dilihatnya audio terkirim ke Popy, tapi belum sempat di baca oleh kekasihnya Rendy dengan cepat langsung menghapusnya.
"Senja!!!!" teriak Rendy segera keluar kamar mencari keponakannya yang suka sekali mengerjainya.
Satya yang baru keluar dari kamar terkejut mendengar Rendy teriak memanggil istrinya.
"Ada apa?" tanya Satya.
"Mana Senja!" ucap Rendy dengan raut wajah yang memerah menahan emosi.
"Sedang di kamar mandi," jawab Satya merasa aneh dengan sahabatnya itu.
"Ada apa sih?" tanya Satya sambil mengajak Rendy turun kebawah.
__ADS_1
Rendy menceritakan kejahilan Senja yang mengirim audio ke Popy.
"Audio apa?" tanya Satya yang penasaran karena setahu dia Rendy orangnya tidak mudah marah asal jangan masalah pribadinya.
"Tanya sama bini lo," kata Rendy ketus sambil menatap Senja yang turun dari tangga.
Satya mengalihkan pandangan ke arah tangga, dipandangnya istri kecilnya sudah rapi karena seusai sarapan mereka akan kerumah sakit.
"Om Rendy kenapa?" tanya Senja dengan wajah polosnya.
Rendy tidak menjawab hanya mendengus ke arah ponakannya, masih bisa dia tanya Om Rendy kenapa, batin Rendy sambil komat-kamit menirukan ucapan Senja.
Satya menarik nafas panjang, segera menyuruh istrinya untuk sarapan. Senja hanya tersenyum menanggapi tatapan Suaminya yang pasti sudah tau apa yang di lakukan sama Rendy.
"Bik, tolong siapkan dua porsi untuk Ibu dan Ayah ya," kata Senja.
"Baik Non," jawanya.
Tak lama Mama Marni datang segera duduk di depan Rendy, Senja segera mengambilkan nasi dan lauk untuk Neneknya.
Satya tersenyum melihat istrinya yang begitu gesit mengambilkan menu untuk Nenennya.
"Rendy apa ada kabar dari Kakakmu, Nak?" tanya Mama.
"Belum Mam, setelah sarapan kita segera kerumah sakit ya," ucap Rendy sambil mengusap tangan Mamanya.
Satya yang sudah selesai lebih dulu segera permisi mau kekamarnya, Satya ingat belum memberitahu kedua orang tuanya prihal Kakek Roby yang dirawat di rumah sakit.
📱"Halo Assalamualaikum Ayah," ucap Satya.
📲"Walaikumsalam Nak, tumben pagi-pagi sudah telepon Ayah?" tanya Ayah Nugraha dari seberang sana.
📱"Ia Yah, ada hal penting yang harus Satya sampaikan." ucap Satya.
📲"Apa itu Nak?" tanya Ayah terdengar serius.
📱"Kakek Roby sekarang dirawat," kata Satya kemudian menceritakan semuanya kepada Ayahnya kenapa Kakek Roby sampai di rawat.
📲"Astagfirullah Nak, apa yang kalian lakukan. Ya sudah nanti kita bicarakan lagi sekarang kamu kirim alamat rumah sakitnya Ayah dan Bunda segera kesana." kata Ayah Nugraha yang terkejut.
Sambungan teleponpun terputus, Satya merasa bersalah kepada Kakek Roby tak seharusnya dia berbicara keras dengan lelaki paruh baya itu.
Senja yang berlahan membuka pintu, mengerutkan keningnya melihat suaminya menatap kosong keluar balkon.
"Bby," ucap Senja
Satya menoleh segera menarik tubuh kecil Istrinya kedalam pelukannya, Senja yang terkejut hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada bidang Suaminya.
"Mmy, kita harus minta maaf kepada Kakek," kata Satya dengan suara beratnya.
__ADS_1
Senja mendongakkan wajahnya menatap suaminya, Satya melihat itu mengecup bibir merah Senja.
"Bby jangan mulai deh, Om Rendy dan Nenek sudah menunggu di mobil," ucap Senja sambil melepaskan pelukan Suaminya.
Satya hanya terkekeh mendengar ucapan Istrinya, pada hal Satya tidak ada berfikir untuk itu.
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Rendy, setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kemacetan pagi di saat orang mulai aktivitas.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam karena Jalan begitu padat di pagi hari, mobil yang dikemudikan oleh Rendy sampai di depan rumah sakit.
Mereka segera turun dan menuju ke ruang ICU, di mana tempat Kakek Roby dirawat.
Menteri yang melihat kedatangan Mamanya segera memeluknya dengan erat, begitu juga Senja langsung memeluk Ayah Yoga sambil bergelayut manja di lengannya.
Satya melihat istrinya seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian Senja memberikan rantang berisi sarapan untuk kedua orang tuanya.
"Bagaimana Nak, apa Dokter sudah memeriksa Papamu?" tanya Mama Marni.
"Dokter Intan belum datang, kata Suster tadi pagi yang mengecek Papa katanya semuanya setabil dan semakin membaik," kata Mentari sambil tersenyum.
"Alhamdulillaah, semoga Papamu segera sadar," ucap Mama Marni terlihat senyum bahagia dari matanya.
Mentari berharap Papa Roby tidak membenci Suaminya lagi, karena jujur dirinya sudah lelah.
Dari jauh Mentari melihat orang kepercayaan Papanya Om Ronald Ayah dari Arnold.
"Pagi," kata Om Ronald.
"Pagi Om," jawab Rendy.
Om Ronald tersenyum menatap Mentari dan beralih ke arah Yoga sambil menatapnya aneh, seperti tidak asing dengan wajah lelaki yang duduk sambil makan di samping Mentari.
Rendy mengikuti arah pandangan Om Ronald, kemudian Rendy tersenyum dan menghampir orang kepercayaan Papanya itu.
"Apa Om lupa siapa dia?" tanya Rendy.
Ronald menatap Rendy dengan menggerutkan keningnya, merasa tidak asing dengan wajah itu.
"Dia Yoga suami Kak Mentari," bisik Rendy.
Seketika Ronald terkejut langsung menoleh ke arah Yoga, dulu Yoga masih terlihat kekanak-kanakan sekarang sudah terlihat matang.
Rendy tersenyum melihat Ronald yang salah tingkah saat Yoga juga memperhatikan dirinya, Ronald segera mengambil handphonenya untuk melihat foto yang dikirimkan oleh Arnold anaknya.
Arnold selama ini selalu mengirimkan apa saja yang di lakukan oleh Yoga kepadanya, mengawasi Yoga adalah perkejaan yang membosankan bagi Arnold.
Ronald heran kenapa Arnold tidak memberitahu dirinya kalau Yoga sekarang ada di Surabaya, Ronald sampai lupa tujuannya pergi kerumah sakit.
Bersambung ya jangan lupa tinggalkan jejak 🙏
__ADS_1