
Leon tanpa menunggu lama berjalan lebih dulu sambil menggendong Sari, sedangkan Ayah Nugraha dengan langkah cepat mendahului Leon untuk menyiapkan mobil.
Bunda yang melihat Ibnu masih bengong jadi gemas.
"Ibnu sana ikut, istrimu mau melahirkan, Astagfirullah kok malah jadi patung." Bunda memukul bahu Ibnu.
"Dibawa ke mana?"tanya Ibnu.
Mata Bunda membulat, Ranga yang merasa tidak mungkin membiarkan Ibnu mengemudikan mobil sendiri langsung berkata."Bunda tolong jaga Diana, Ranga antar Ibnu."
Bunda hanya mengganggu, tamu satu-persatu mulai pulang. Tinggallah keluarga saja yang ada. Jingga terlihat begitu resah. Melihat itu Diana menatap balita itu.
"Senja kemana, Bun?" tanya Diana karena kasihan melihat jika Jingga sedang haus.
Ferdinand dan Fifi menghampiri Putrinya dan bertanya."Yang lain mana, Jeng?"
"Antar Sari mau lahiran," jawab Bunda.
Saat mereka sedang mengobrol, ponsel bunda bergetar ada pesan masuk dari suaminya jika Sari sudah ditangani dokter. Ayah Nugraha juga mengirimkan Sari di bawa ke rumah sakit mana.
Satya dan Senja baru datang ikut bergabung sudah memakai pakaian santai, melihat Bunda menggelengkan kepalanya ia baru sadar jika putranya itu mesumnya tidak ketulangan.
"Fifi, kamu bawa suami kamu istirahat nanti pelayan akan mengantar," ujar Bunda.
"Iya Jeng," jawab Bunda Fifi dengan wajah yang merona sedangkan Diana hanya terkekeh melihat wanita terhebat itu malu.
"Nak, kamu antar istrimu dan Diana pulang, Bunda naik taksi saja ke rumah sakit," kata Bunda.
"Bunda sakit, yang lain mana?" tanya Satya sambil melihat sekeliling hanya ada pelayan yang sedang membereskan ruangan.
Bunda memutar matanya malas dan menjawab."Ke rumah sakit, Sari sudah pecah ketuban."
Senja menutup mulutnya, ia tidak menyangka jika sahabatnya itu melahirkan saat menghadiri pesta. Entah mengapa berharap anaknya dan anak Sari nanti berjodoh. Bunda segera memberikan Jingga kepada menantunya sedangkan ia langsung menuju lobby karena taksi sudah datang. Apalagi suaminya sudah menghubunginya berapa kali karena Sari hanya bersama Leon di ruang bersalin.
Ayah Nugraha yang berada di depan ruang bersalin melihat Ibnu dan Ranga dari kejauhan. pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepala saat Ibnu duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
"Tenangkan hatimu, tarik napas dan minum ini," kata Ayah Nugraha memberikan air mineral untuk Ibnu.
Setelah melihat Ibnu tenang Ayah Nugraha berkata."Masuklah istrimu membutuhkanmu, berikan ia semangat dan kekuatan untuk melahirkan anak kalian ke dunia."
Ibnu mengangguk, pria itu masuk dan melihat istrinya menahan sakit sambil menunggu bukaan akhir karena ketuban sudah merembes. Jangan tanya bagaimana keadaan Leon pria berwajah tampan itu sudah seperti korban ****** beliung dari rambut sampai baju dan tangannya habis di buat Sari.
Leon merasa lega saat melihat Ibnu masuk dan berkata."Kenapa lama?"
Ibnu tidak menjawab, pria itu mengantikkan tangan Leon untuk istrinya dan berkata."Terimakasih."
Leon keluar ruangan bersalin, Ranga menatap kakak iparnya itu sambil menahan senyum. Bunda yang baru sampai langsung disuruh masuk oleh suaminya.
"Lo berhak mendapatkan penghargaan," kata Ranga sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
Leon tak acuh dengan pujian Ranga, pria itu langsung menghempaskan tubuhnya kursi samping Ayah Nugraha. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ada rasa haru dan sedih saat mengingat bagaimana almarhum mamanya dulu melahirkannya kemudian harus memilih selamatkan anak atau ibunya. Ini awal seorang Leon pria dingin dan datar itu meneteskan air mata.
Andai dulu Mamanya memilih bertahan mungkin ia tidak akan ada di dunia ini, Ayah Nugraha mengusap bahu Leon. Ada rasa haru di hari lelaki paruh baya itu.
"Kamu menang dari yang lain, dari Ayah juga," ujar Ayah Nugraha.
"Ayah hanya bisa menunggu saat Satya lahir, kamu bisa menunggu Jingga dan anak Ibnu. Itu hal luar biasa. Saat kamu menemani istrimu melahirkan sudah berpengalaman. "ujar Ayah Nugraha.
Leon hanya tersenyum tipis karena sampai sekarang ia belum kepikiran untuk menikah. Masih ingin menikmati hidup sendiri dan bebas. Walau tidak dipungkiri ingin memiliki istri yang seperti Mamanya. Wanita yang sederhana dan hanya mengutamakan keluarganya.
Jika masih ada wanita seperti itu, ia akan menjadikan ibu untuk anak-anaknya kelak. Namun, seulas senyum mengembang di bibirnya saat mengingat wanita yang ia temui di kafe.
"Jangan buat gue takut, lo baru keluar sekarang senyum-senyum," kata Ranga.
Leon menatap datar Ranga, sedangkan di ruang bersalin. Ibnu memberikan sugesti seperti apa yang dilakukan Ayah Nugraha kepadanya tadi. Hasilnya begitu langsung membuat Sari menjadi lebih tenang apalagi saat dokter memberi aba-aba untuk mengejan.
Ibnu selalu membisikan." Sayang, kamu harus kuat demi anak kita."
Sari hanya mengangguk, saat dokter memberikan aba-aba lagi. Wanita itu langsung bilang."Mas. Maafkan aku selama ini."
"Sayang, jangan bicara aneh-aneh ya," ucap Ibnu mencium kening sang istri walau ada rasa khawatir dalam hatinya.
__ADS_1
"Dokter selamatkan anak saya," kata Sari yang sudah lemah.
"Pikir positif Bu, ada suami Anda di sini. Pasti semua baik-baik saja," kata Dokter yang membantu Sari melahirkan.
"Ibu kita coba lagi," ucap dokter itu memberikan aba-aba.
"Sayang ayo kamu pasti bisa," ucap Ibun sudah tidak bisa menahan air matanya bagaimana sang istri mempertaruhkan nyawanya demi anaknya untuk lahir ke dunia ini.
Sari menari napas dalam dan berteriak."Allahu Akbar."
Suara tangis bayi menggema di ruangan bersalin, Ibnu tidak berhenti memberikan kecupan di wajah Sari. Air mata Ibnu sedari tadi sudah menganak sungai.
"Selamat ya Bu, anak-anaknya lahir dengan selamat dan semuanya lengkap" kata seorang perawat menunjukan wajah putra kembar pasangan Sari dan Ibnu.
"Selamat ya Sayang," kata Bunda mengusap kepala Sari lembut.
"Terimakasih Bun, Mas." Sari begitu terharu rasa sakit tadi menguap begitu saja saat mendengar tangis dari putranya.
Perawat membersihkan bayi Sari, sedangkan dokter mengurus Sari. Bunda yang memperhatikan anak Ibnu menatap ke arah Sari kalau anaknya begitu mirip dengan mamanya.
"Dokter jahit aja semua," goda Bunda.
"Bun," kata Ibnu panik membuat semua yang ada di ruangan itu geli dengan tingkah Ibnu .
"Bunda keluar dulu ya," pamit Bunda dan mengecup kening Sari.
Ibnu tidak pernah melepaskan tangan sang istri dan mengatakan i love you my wife, hal itu membuat Sari begitu malu karena perawat melihatnya sambil senyum-senyum.
Setelah satu jam, Sari dan putranya dipindahkan ke ruang rawat yang sudah di pesan oleh Ibnu saat siap melantunkan Adzan kepada putranya.
Di sinilah semua berkumpul untuk melihat Ibnu junior, Leon hanya diam memperhatikan anak Ibnu yang begitu imut dan lucu.
Bunda melihat itu tersenyum dan berkata, "Kamu luar biasa, Nak. Pasti Mamamu bangga di atas sana."
Leon tersenyum tipis, ditatapnya Sari yang sedang menatapnya juga. Perlahan Leon menghampirinya dan berkata."Kamu harus bertanggung jawab karena membuat aku luka di mana-mana."
__ADS_1
Bersambung ya