
Hari yang di tunggu-tunggu pun datang, di mana Satya dan Senja akan bertolak ke Surabaya. Wanita yang sedang hamil muda tua itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bunda dan sahabatnya, apa lagi sekarang Poppy juga sedang mengandung tiga bulan. Itu artinya tantenya sedang mau lepas dari masa-masa yang begitu menegangkan.
Senja sengaja pergi lebih dulu dari kedua orang tuanya karena suaminya ada masalah kerjaan yang harus dia selesaikan di Surabaya. Yoga sengaja akan menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, karena ia tak ingin membuat Adrian sibuk sendiri saat ditinggal nanti.
Yoga sengaja mengantarkan Satya ke Bandara, karena ia khawatir dengan putrinya yang sekarang tengah hamil tua, Tari sengaja tidak ikut. Selama di perjalanan seperti biasa menantu dan mertua itu selalu ada saja yang diributkan.
"Sat, jaga baik-baik putriku nanti kalau di Surabaya."Pesannya sambil fokus mengemudi.
Satya hanya memutar bola matanya saat Yoga mengatakan hal itu, selama ini dia juga sudah berusaha menjadi suami yang siaga untuk istrinya. Namun, wajar saja kalau Ayah mertuanya mengkhawatirkan anaknya yang sedang hamil tua.
"Ayah, jangan khawatir. Suamiku pasti akan menjagaku dengan baik," ujarnya.
"Ayah hanya mengingatkan!" tegasnya.
Senja yang tak ingin ribut dengan Ayahnya hanya diam, tetapi Satya hanya tersenyum karena istrinya melakukan itu untuk membelanya di dari Yoga.
"Bby, nanti kita siapa yang jemput?" tanya Senja berharap dijemput Om Rendy.
"Pak Yanto."
"Kenapa enggak minta jemput Om Rendy saja?" tanyanya sambil mengusap perutnya.
"Rendy sedang meeting saat kita sampai nanti, sedangkan Ranga dan Arga dipingit oleh Bunda," katanya sambil terkekeh saat membayangkan kedua sahabatnya itu dilarang keluar rumah.
Yoga langsung tertawa lepas saat mendengar Ranga dan Arga di pingit Bunda, pasti wajah keduanya sudah suntuk banget. Pernikahan keduanya tinggal tiga hari lagi, itu artinya si kembar tidak bekerja selama hari pingitan dari Bundanya.
Satya hanya menatap datar mertuanya yang sedang senyum sambil menggelengkan kepalanya, Ia juga dulu dipingit saat pernikahan pertamanya dengan Merry, tetapi saat menikah dengan Senja dirinya tidak mau mengikuti tradisi itu.
"Apa Ayah dan Ibu dulu juga di pingit?" tanya Senja membuat tawa Yoga langsung berhenti.
"Tidak, kami menikah hanya sederhana saja," jawabnya sendu jika mengingat saat dirinya meminang Mentari hidup penuh kesusahan, ia hanya kerja paruh waktu sambil kuliah.
"Tapi Ayah hebat," ucapnya.
"Hebat kenapa?' tanya Satya.
"Ya hebat biar hanya pernikahan sederhana, tapi masih bisa mempertahankan rumah tanggannya sampai sekarang. Walaupun Kakek selalu berusaha memisahkan Ayah dan Ibu." Jelasnya.
"Itu hanya masa lalu, sayang. Kita jadikan bahan perbandingan, oh ia jangan lupa jenguk Nenek ya," kata Yoga sambil mengingatkan putrinya.
__ADS_1
"InshaAllah, Yah."
Tak lama mobil yang dikemudikan Yoga sudah sampai di Bandara Soekarno- Hatta, Satya dan Senja segera pamit kepada Yoga, karena Ayahnya akan langsung pergi meeting. Satya dengan sabar berjalan beriringan di samping sang istri.
****
Setelah menempuh perjalan satu jam Satya dan Senja sampai di Bandara Juanda Surabaya, keduanya merasa lega saat melihat pak Yanto melambaikan tangannya.
"Pak apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum.
"Baik Non, mari," ucapnya sambil membukakan pintu untuk Nona mudanya itu.
Satya berlari kecil menghampiri ke arah Pak Yanto, ia segera masuk mobil. Senja merasa heran dengan suaminya yang terlihat sibuk sambil melihat ke tabnya.
"Apa ada masalah?" tanyanya.
"Iya sayang, tetapi Ayah sudah berusaha menyelesaikannya," jawabnya.
"Pak Yanto antarkan saya ke kantor dulu ya. Sayang maaf, sebaiknya kamu langsung ke rumah Bunda saja, bik sum juga ada di sana dengan bik ida!" titahnya.
Senja hanya bisa mengangguk, jujur dia begitu rindu dengan suasana rumahnya. Namun, tak mungkin dia pulang ke rumahnya saat suaminya sedang meeting, pastinya Satya tidak akan tenang nantinya.
Setelah mobil sampai di depan lobby kantor Satya langsung turun dan buru-buru masuk karena meeting bersama pemegang saham sudah dimulai setengah jam yang lalu.
Senja yang sudah mengantuk akhirnya tertidur di mobil, Pak Yanto hanya tersenyum tipis melihat Nonanya yang begitu terlihat imut saat sedang hamil tua. Setelah menerobos kemacetan mobil yang dikemudikan pak Yanto sampai juga di kediaman Nugraha.
Bik Idan dan Bunda sudah menunggu setengah jam yang lalu, Senja yang baru terbangun langsung berlari kecil menghampiri mertuanya hal itu membuat semua yang ada di teras teriak melihat wanita sedang hamil tua berlari.
"Dasar ceroboh!" umpat Ranga kepada Senja.
Wanita itu hanya mencibirkan bibirnya, toh dia tidak apa-apa kenapa harus pada teriak, Bunda segera menengahi keduanya supaya tidak ribut.
"Ayo masuk sayang, ingat jangan lari seperti tadi Bunda membayangkan jadi takut," sahutnya.
"Iya bunda maaf," katanya sambil berjalan memeluk lengan wanita paruh baya itu yang masih terlihat cantik.
"Hai, bumil apa kabar?" tanya Arga yang baru turun dari lantai dua.
"Baik Om, bagaimana rasanya dipingit Bunda," godanya sambil menaikan kedua alisnya.
__ADS_1
"Cih, masih panggil om saja!" gerutu Arga tak suka saat istri Satya masih memanggilnya Om.
Bik Ida datang membawa minuman dingin untuk Nonanya yang sudah hampir tiga bulan tidak bertemu.
"Bik Ida kangen," ucapnya sambil merentangkan kedua tanganya.
"Iya Non, bibik juga kangen," sambil membalas pelukan Senja dari samping.
Hanya dengan sekali teguk jus jeruk itu langsung tandas, Ranga melotot melihatnya. Namun, tidak dengan Arga ia hanya tertawa melihat Senja terlihat lucu saat sedang mengusap perutnya, kemudian tiba-tiba meringis sambil memegang bagian bawah perutnya.
"Eh, kamu kenapa? jangan bilang mau lahiran!" kata Arga panik langsung memanggil bundanya.
"Bunda ...!" teriaknya membuat wanita yang sedang terima telpon dari besannya berhenti.
"Ada apa?" tanyanya sambil menatap Arga yang sedang berjongkok di depan perut Arga.
"Ini Bun, Senja meringis sepertinya anaknya mau lahir," lata Arga yang tak tau apa-apa.
Senja langsung tertawa terbahak saat melihat wajah Arga yang terlihat panik sampai pucat. "Om, ini hanya kontraksi palsu saja," jelasnya.
"Ada juga kontraksi palsu," sahut Ranga yang baru datang sambil membawa cemilan ke ruang keluarga.
"Ada Nak, di mana sang bayi sedang mencari jalan lahir," jelasnya.
Arga dan Ranga saling pandang, kemudian hanya mengangguk. Namun, entah mengangguk karena mengerti atau enggak.
"Senja, kamu istirahat dulu saja, Nak." titah Bunda yang bisa menebak kalau menantunya itu pasti ingin berbaring.
"Iya Bun," jawabnya sambil beranjak menuju tangga.
"Eh, bu mil lewat lift saja."Ucap Arga sambil menghampiri Senja.
"Emang ada, Om?" tanyanya.
"Ada dong sudah di pasang sebulan yang lalu untuk menantu Nugraha," jawabnya sambil mengantarkan Senja ke lantai dua.
"Aduh," kata Senja sambil membungkuk menahan sesuatu.
Arga yang di sampingnya refleks memegang perut Senja, pria itu terlihat begitu panik saat Senja mencengkeram lengannya dengan kuat.
__ADS_1
jangan lupa dukung Aa dengan kasih vote dan like, boleh juga kasih saran dan kritiknya.
Tunggu kisahnya di episode berikutnya, ingat selalu jaga kesehatan ya ....