
Malam ini Senja sedang bersiap untuk pergi makan malam bersama suaminya, Satya dengan sabar menunggu Senja yang sedang merias wajahnya dengan tampilan yang natural.
"Bby ayo," ajak Senja.
"Ia sayang," jawab Satya yang sangat senang melihat penampilan Senja saat ini, dengan gaun warna hitam lengan panjang di aplikasi brukat warna putih terlihat sangat anggun, dengan make-up natural.
Mata Senja melihat sekeliling kenapa restoran semewah ini tidak ada orang yang datang, hanya beberapa pelayan yang hadir. Satya yang tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti agak bingung melihat sekeliling.
Satya membawa Senja ke ruangan yang langsung menghadap ke pantai, walau hari sudah gelap tapi pemandangan di luar begitu indah.
Senja merasa begitu bahagia karena ini untuk pertama kalinya dirinya mendapatkan makan seromantis ini, apa lagi dengan Suaminya.
Alunan musik yang mendukung membuat suasananya semakin hidup. Satya memberikan bunga ke Senja, Senja tersipu malu saat Satya mencium punggung tangannya.
"Sayang, maaf baru bisa sekarang Bby mengajak makan malam, ini pertama kali buat Bby membuat makan malam seperti ini, maafin Bby kalau ada kekurangan," ucap Satya lembut.
"Bby, ini makan malam yang romantis untuk Mmy, dan sama ini yang pertama buat Mmy," jawab Senja tersenyum menatap intens mata Satya.
Tak lama pelayan mengantarkan pesan Senja dan Satya, keduanya makan sambil ngobrol- ngobrol ringan, setelah siap makan pelayan datang membawa satu mangkuk es crem ada lima rasa buah kesukaan Senja. Mata Senja membulat, melihat es crem kesukaannya.
"Bby tau dari mana kalau ini kesukaan Mmy?" tanya Senja sambil mulai memakan es crem sesekali Senja menyuap Satya, tapi Satya menggelengkan kepalanya.
"Mmy saja yang makan, Bby kurang suka dengan yang manis-manis," tolak Satya.
"Coba dulu satu suap Bby," rayu Senja.
Satya tidak ingin mood istrinya berubah hanya menurut dibukanya mulutnya, Senja tersenyum langsung mnegulurkan tangannya untuk menyuap Suaminya.
"Bagaimanapun enak enggak?" tanya Senja.
"lumayan," jawab Satya.
Keduanya sudah siap makan malam, Senja tidak lupa membawa es cremnya yang masih banyak untuk lanjut memakannya di resort nanti. Keduanya jalan beriringan sesekali Senja tertawa mendengar gombalan Satya.
Sekarang tidak ada lagi Satya yang dingin, Senja merasa berhasil mencairkan balok es, yang sekarang duduk bersandar di dipan ranjang.
"Sayang jangan banyak-banyak" ucap Satya yang masih melihat istrinya memakan es cremnya.
"Tanggung dikit lagi habis Bby," jawab Senja.
Satya hanya menghela nafas berat, melihat istrinya yang keras kepala. Senja selesai makan es crem segera mengganti bajunya dengan piyama tidurnya.
__ADS_1
Senja bersandar di dada Satya, sambil mengusap pipi suaminya yang sudah mulai keluar rambut halusnya.
Saat Senja mendongakkan kepalanya, Satya dengan cepat menahan kepala Senja, sentuhan lembut dari Satya membuat keduanya hanyut, beberapa kali terdengar suara desahan Senja.
Sentuhan yang tadinya begitu lembut lama-lama menuntut, Satya yang sudah merasa tidak akan mundur dengan suara beratnya membisikkan sesuatu ketelinga Senja.
"Mmy Apa boleh?" tanya Satya sambil mengusap wajah Senja.
Senja yang sudah dalam mode on hanya bisa mengangguk, keduanya mulai menyulusuri lembah dan lautan kenikmatannya dunia, sampah keduanya mencapai titik finis.
Satya mengecup kening Senja, masih ada sisa air mata di sudut matanya, Satya mengusap air mata istrinya, dan beberapa kali membisikkan kata maaf.
Satya merasa bersalah kepada istrinya, karena tidak merencanakan sebelumnya untuk melaksanakan malam pertama yang tertunda.
Satya berharap Senja tidak marah saat bangun nanti.
Senja yang begitu lelah, sudah tidak merasakan kalau Satya membetulkan posisi tubuhnya supaya nyaman.
Satya mengusap rambut Senja dengan lembut, sebagai lelaki normal wajar menurut Satya meminta haknya, tapi di sisi lain rasa bersalahnya yang menganggu kepalanya. Satya yang juga merasa lelah akhirnya ikut tidur sambil memeluk tubuh polos istrinya.
Dirumah Yoga.
Mentari yang melihat suaminya pulang kerja langsung menyambut dengan mencium tangan Yoga. Keduanya melangkah menuju lantai dua Yoga tidak lupa menyapa Nenek Wati.
"Alhamdulillah sudah Nak," jawab Nenek tersenyum.
"Maaf Nak, tadi Nenek lihat kamar Senja kosong." ucap Nenek Wati yang dari siang mencari Senja.
Mentari yang terkejut langsung di gemgam tangannya oleh Yoga.
"Nenek enggak usah khawatir, Senja ada di kamar atas karena tadi telepon mau tidur bersama karena besok sore Senja harus pulang ke Surabaya," jelas Yoga.
"Oh.. maaf, saya tidak tau," jawab Nenek.
Yoga yang akan di interogasi istrinya langsung masuk kamar, di ikuti oleh Mentari.
"Mas Senja kemana?" tanya Mentari yang begitu Khwatir.
"Sayang, tenang dulu Senja sekarang baik-baik saja," jawab Yoga
Mentari yang tidak puas akan jawaban suaminya, segera mengambil handphonenya untuk menghubungi Senja. Yoga tersenyum melihat istrinya yang begitu mengkhawatirkan anaknya, Yoga mendekati Mentari, dipeluknya tubuh ramping istrinya.
__ADS_1
"Mas!" teriak Mentari yang begitu kesal dengan suaminya.
"Iya-iya.., maaf," ucap Yoga terkekeh.
Yoga akhirnya menceritakan semua ke Istrinya, kemana perginya Senja saat ini. Yoga juga memberitahukan kepada Mentari siapa Nenek Wati.
Mentari langsung menutup mulutnya karena terkejut mendengar ucapan suaminya, kalau selama ini Papa Roby mengirim seseorang untuk mengikuti suaminya, yang membuat Mentari tak habis pikir kenapa harus menyuruh Ibunya Ronal untuk memantau kondisi di rumahnya.
"Sayang, tolong Kerja samanya, jangan rubah sikapmu di depan Nenek Wati" ucap Yoga sambil tersenyum.
"Mas, kenapa Papa melakukan ini?" tanya Mentari.
"Mas juga sedeng menyelidiki bersama Satya," jawab Yoga setenang mungkin, pada hal tangannya sudah mengepal.
"Kenapa Papa sampai minta hotel yang di Bandung punya Satya, Mas?"
"Karena dulu kalau Satya menikah denganmu saham Nugraha yang Lima puluh persen akan menjadi hakmu." jawab Yoga.
"Tapikan pernikahan ini batal, apa Mas tahu kenapa akhirnya di gantikan oleh Senja?" tanya Mentari lagi seperti mengintrogasi Yoga.
"Karena undangan sudah menyebar, semuanya sudah di siap, Ayahnya Satya sangat kecewa waktu Papa mengatakan kamu pergi dari rumah, Ayah Satya mengancam akan mencabut sahamnya malam itu juga," kata Yoga menjelaskan kepada istrinya.
Mentari terduduk di tepi ranjang sambil mengusap air matanya, Yoga yang melihat istrinya menangis sangat sedih, sebenarnya tidak tega menceritakan kepada Mentari.
"Kenapa Papa masih minta hotel yang di Bandung Mas?" tanya Mentari sambil terisak.
"Papa mengatakan kalau bukan hanya keluarga Nugraha yang malu tapi juga keluarga besar kita, Kakek menawarkan Senja yang akan menikah dengan Satya, tapi." ucap Yoga berhenti di tatapnya istrinya yang juga penasaran apa alasannya Senja sampai menikah dengan Satya.
"Tapi apa, Mas?" tanya Mentari.
"Ayah Satya harus memberikan hotel yang di Bandung kepada Kakek Roby," jawab Yoga.
Mantari semakin pecah tangisnya, kenapa papa orang tuanya tega melakukan itu, Yoga memeluk Mentari untuk menenangkan.
"Kenapa orang tuanya Satya menyanggupinya." kata Mentari.
"Awalnya Ayah Nugraha tidak setuju, tapi Bundanya Satya menyetujuinya karena takut Satya tidak mau menikah lagi setelah kejadian ini." ucap Yoga.
Tak lama Pintu di ketuk dari luar, Yoga dan Mentari saling pandang. Yoga menyuruh Mentari diam. Setelah lama pintu tidak buka. terdengar suara langkah menjauhi kamar.
Bersambung ya...jangan lupa dukung dengan like dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 💃💃💃
__ADS_1
Yang kangen dengan Caca dan Arkana yang berjudul Menikah Muda, bisa cek di profil ya 🙏