
Siang ini cuaca terasa sangat panas, matahari begitu terik memancarkan sinarnya membakar kulit. Udara juga diam tak bergerak, panas siang ini benar-benar menyengat siapa saja yang pejalan Kaki.
Satya setelah mendapat SMS dari Arnold segera keluar kamar untuk menemui Yoga dan Ayahnya.
"Bik Sum, mana Ayah?" tanya Satya.
"Diruang kerja Den, sama Mas Yoga," jawab Bik Sum.
Satya segera menuju ruang kerjanya,
dibukanya pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ayah Nugraha hanya mendengus melihat anaknya yang selalu seperti itu, Yoga merasa ada yang sudah terjadi.
"Ada apa?" tanya Yoga.
"Ronald," jawab Satya.
"Kenapa dia Nak?" tanya Ayah Nugraha.
"Arnold mengatakan kalau Ronald sudah menghubungi pengacara untuk mengalihkan perusahaan Kakek Roby ke padanya," ucap Satya.
"Suruh Rendy kesini sekarang," kata Ayah Nugraha tegas.
Satya segera menghubungi Rendy untuk datang kerumah Ayah Nugraha, dia juga mengatakan kepada Yoga kalau Arnold disuruh menyelinap masuk kerumah dan kantor Yoga untuk mengambil berkas penting.
Namun, Arnold sudah hubungi Adrian dan Arga. untuk menangkap dirinya setelah menyelinap dikantor Yoga.
Arnold merasa lelah menjadi boneka Ayahnya, dan dia akan mengakhirinya.
"Itu tidak akan membuat Ronald berhenti, kalau dia sayang dengan orang tuanya dan Arnold tidak akan melakukan hal ini kepada anak dan Ibunya," kata Ayah Nugraha.
"Apa yang akan kita lakukan Yah," kata Yoga.
"Kita tunggu Randy datang," jawab Ayah Nugraha.
Yoga menarik nafas panjang, kenapa ia tidak bisa tenang. Kemudian handponenya bergetar, ada pesan masuk dari Adrian tentang Arnold tadi.
Yoga segera membalas, untuk menyerahkan Arnold ke kantor polisi. Yoga mau lihat apa reaksi Ronald.
Sementara itu diruang rawat VIP, Kakek Roby yang sudah sadar merasa lebih baik dari sebelumnya. Matanya menatap kosong kedepan.
Ada rasa rindu yang membuat hatinya sesak, rindu akan anak perempuan satu-satunya. Rindu akan cucu kesayangannya Senja.
Mama Marni yang melihat suaminya diam dengan pandangan kosong, merasa iba.
"Papa, jangan terlalu memikirkan yang berat," kata Istrinya.
"Apa benar Mentari sudah pulang ke Jakarta?" tanyanya.
"Ia Pa, apa Papa mau bertemu dengannya," kata Mama Marni.
"Apa dia mau memaafkan Papa," ucap Papa Roby sambil menunduk.
"Pasti, anak dan cucu kita orang yang baik," jawab Mama Marni.
Papa Roby tersenyum tipis menatap istrinya, betapa bodoh dulu dia menyia-nyiakan wanita yang baik sepertinya.
"Maafkan Papa," kata Papa Roby.
"Lupakan masa lalu," bisik Mama Marni sambil membenarkan selimut Suaminya.
__ADS_1
Papa Roby tersenyum melihat tingkah istrinya, ia berjanji akan mengabulkan permintaan istri untuk menebus segala kesalahannya.
Tak lama pintu diketuk
Tok..tok..
"Masuk," kata Mama Marni.
"Pagi Pak, Bu," ucap Ronald.
"Pagi, bagaimana keadaan kantor saat ini?" tanya Papa Roby.
"Aman Pak, masih terkendali," jawab Ronald sambil tersenyum tipis.
"Syukurlah," jawab Papa Roby.
"Ini Pak ada berkas yang harus di tanda tangani, sebaiknya langsung tanda tangani saja pak," desak Ronald.
"Apa urgent?" tanya Papa Roby.
"Ia Pak," jawab Ronly sambil mengusap wajahnya.
Saat Kakek akan menandatangani dokumen tanpa membacanya Senja dan Satya langsung masuk dan menghentikannya.
"Jangan Kek," teriak Senja segera mengambil berkas yang di tangan Kakeknya.
"Ada apa?" tanya Kakek.
"Senja tolong biarkan Kakek tanda tangani, karena ini penting," kata Ronald.
"Tidak akan, mungkin Kakek Roby percaya sama Anda, tapi tida dengan Senja Nugraha," talaknya.
"Senja!" bentak Kakek.
"Omong kosong," kata Kakek.
' Ini dokumen tentang pemindahan aset milik Roby Sanjaya kepada pihak kedua ya itu Ronald Hernandez," Sagah Senja tersenyum licik ke Ronald.
"Apa!" teriak Kakek.
"Kamu tega-teganya hianati saya," kata Kakek penuh dengan penekanan.
Senyum tipis tersungging dibibir Senja, Ronald diam mematung berakhirlah apa yang ia rencanakan sejak dulu.
Senja membisikkan sesuatu ke Kakeknya, tentang anaknya yang dikandung oleh Ibunya Yoga keguguran karena di tabrak oleh Ronald, mendengar itu Kakek mengepalkan tangannya.
"Selamat siang," kata dua orang berseragam polisi.
"Siang," ucap Mama Marni.
"Maaf kami membawa surat penangkapan buat Bapak Ronald," kata salah satu polisi.
Ronald hanya bisa pasrah, saat dirinya digiring keluar oleh polisi.
"Terimakasih," ucap Kakek.
"Kakek bisa berterima kasih dengan dia," kata Senja.
Setelah itu masuk Yoga dan Mentari diikuti Satya dari belakang, Kakek Roby terdiam menatap wajah anak dan menantunya.
Nenek Marni menarik Yoga untuk mendekati Papa Roby, setelah itu ia menyatukan tangan Yoga dan tangan suaminya sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
"Papa Yoga datang mohon doa restunya," kata Yoga sambil menggemgam tangan Mentari erat.
"Dasar Bodoh, sini peluk Papa," ucap Papa Roby.
Yoga dan Mentari langsung memeluk Kakek Roby bergantian, Senja tersenyum menatap kedua orangtuanya akhirnya mendapatkan restu dari Kakeknya.
Satya memegang bahu Senja, Rendy masuk bersama dengan Popy sekertarisnya.
"Sudah cukup pelukannya," ucap Rendy mengeser Kakak dan Mas Yoga.
"Kamu mau ngapain," kata Kakek
"Pa, Rendy dan Popy minta restu untuk menjalin hubungan lebih serius," kata Rendy
Semua yang diruangan terdiam menunggu jawaban dari Kakek Roby, Begitu juga Mama Marni.
"Segera urus persiapan pernikahan kalian," jawab Kakek Roby sambil tersenyum memeluk anak bungsunya.
"Terimakasih Pa," kata Rendy.
"Ia sama-sama, Nak." kata Kakek Robby.
Satya dan Senja menghampir kakek Roby.
"Kakek maafkan kami sudah bikin Kakek jadi seperti ini," kata Satya.
"Kakek akan memaafkan kalian dengan kasih Kakek cicit," jawab Kakek Roby sambil tersenyum.
Satya dan Senja tersenyum menanggapi ucapan Kakek, Mama Marni ikut bahagia melihat keluarganya kembali akur.
"Papa harus sehat, supaya kita bisa segera berkumpul dirumah," kata Mentari.
"Ia Nak, Kakek sudah tidak sabar ingin pulang," kata Papa Roby.
Kebahagiaan begitu jelas terpancar diwajah keluarga Kakek Roby, membuat tubuhnya segera ingin cepat sehat.
"Rendy secepatnya kalian menikah, jangan sampai Senja lebih dulu punya anak," goda Papa Roby.
"Enggak apa- apa Pa, Rendy ridho," jawab Rendy sambil memeluk pinggang Popy.
Satya tersenyum melihat Popy sudah tidak dingin lagi kepada dirinya dan yang lain, dia melihat Yoga sedang mencari sesuatu.
"Cari apa?" tanya Satya menghampir Ayah mertuanya.
"Handphone gue sama lo kan," ucap Yoga .
"Ini, punya mertua pikun ," ledek Satya.
"Menantu durhaka Lo," ucap Yoga ketus.
Satya hanya terkekeh, tanpa mereka sadari semua mata yang ada disitu menatapnya, Rendy mendekati Abang dan Ponakannya.
"Wah akur sekali menantu dan mertua ini," goda Rendy .
"Diam," jawabnya bersamaan kemudian keduanya saling pandang.
Ketiganya tertawa bersama, saat sedang asik tertawa Ranga datang dengan gaya coolnya, menghampir Kakek Roby.
"Kakek, maaf baru bisa jenguk," kata Ranga
"Ia tidak apa-apa," kata kakek sambil tersenyum.
__ADS_1
Untuk memperbaiki semuanya belum terlambat, melihat anak dan cucunya bahagia adalah harta yang paling berharga yang sebenarnya.
Bersambung ya...jangan lupa tinggalkan jejak