PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 161


__ADS_3

Satya pergi dengan yang lainya, mereka memakai satu mobil . Alan disuruh Satya untuk mengemudi membuat pemuda itu melengos sedangkan Ibnu hanya menepuk bahu mahasiswanya itu.


"Kita nanti enggak main kekerasan' kan?" tanya Leo 


"Tergantung , apa orangnya mau diajak bicara baik-baik." 


Deo sedari tadi hanya diam, hal itu membuat Leo merasa iba melihat sahabatnya seakan patah hati karena Diana. Walaupun dia bilang sudah ikhlas pasti masih ada rasa sakit di hatinya.


Mobil yang dikemudikan Alan sampai di gerbang rumah besar dan tinggi, "Apa keluarganya orang kaya?" tanya Deo.


"Iya dia salah satu kontraktor terbesar di kota ini, tapi orangnya agak perhitungan." Kata Satya.


Arga turun lebih dulu, ia tak ingin Satya langsung turun menemuinya. Saat sampai gerbang Ibnu dan Arga di hentikan oleh penjaga. 


"Maaf tuan Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu penjaga yang tubuhnya kekar.


"Saya mau bertemu dengan Tuan Ferdinan," kata Arga.


"Apa Anda sudah ada janji?" tanyanya sopan.


"Belum jawab Ibnu."


"Maaf kalau tidak ada janji sebaiknya silahkan Anda pergi," usirnya.


Tiba-tiba ada mobil mewah melintasi dan berhenti di depan gerbang, seorang pria masih muda dan terlihat tampan menghampiri Arga dan Ibnu.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Maaf Tuan Muda, mereka belum ada janji untuk bertemu Tuan Besar," jawabnya.


Pria itu tak lain anak pertama dari Ferdinand, Leon menatap Arga dan Ibnu bergantian. Kemudian ia menjabat tangan keduanya.


"Ada yang bisa aku bantu," kata Leon dengan ramah.


"Saya kakak angkat Diana, apa Anda mengenalnya?" tanya Ibnu.


"Diana anak dari Bunda Fifi," jawab Leon. 


"Iya," jawab Arga.


"Dimana mereka sekarang, apa mereka baik-baik saja?" tanya Leon.


Ibnu menceritakan semuanya kepada Leon, wajah Leon yang tadinya ramah langsung berubah memerah. Pria itu terlihat kesal dan marah.


"Aku yang akan menikahkannya." Jawabnya.


"Mari," ajak Ibnu.

__ADS_1


Kini mobil Leon mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Alan, sedangkan Arga dan Ibnu naik bersama Leon.


"Maafkan Papiku, aku tidak tahu kalau Diana sudah mau menikah, semenjak dua bulan ini aku mencarinya," ucapnya.


Mobil yang dikemudikan Leonardo dan Alan  memasuki parkiran hotel, Baik Satya dan yang lainya saling berjabat tangan dengan Leon. Kini mereka masuk, Satya membisikan sesuatu ke Ayah Nugraha.


Tak lama Leon melihat wanita yang dicarinya selama ini, "Bunda," panggilnya.


"Leon, ini kamu Nak," katanya langsung memeluk keponakannya yang sudah lama tidak ia jumpai.


"Maafkan Papi Bunda, eh Adik nakal kamu tidak sopan main langkahi Kakakmu ini!" hardik Leon menatap Diana.


Diana matanya sudah berkaca-kaca, tanpa ragu Leon memeluk adik sepupunya itu dengan Erat. Kini semua sudah berkumpul di tempat yang disediakan oleh pihak wo untuk melangsungkan pernikahan.


Leon dan penghulu bersama Ayah Nugraha mengobrol sebentar setelah itu mereka menempati tempat yang sudah disediakan, Ranga terlihat wajahnya begitu tegang saat ini. Tangannya sudah berkeringat dingin, tiba-tiba pria itu berdiri dan bersujud di Kaki Bunda, membuat yang lain terkejut, tapi setelah itu tangis haru menyelimuti tempat itu.


Ranga lebih melo dari Arga, entah kenapa pria itu tangisnya pecah. Bunda Fifi menghampiri calon menantunya itu.


"Sebentar lagi Bunda akan menjadi Mamamu juga, jangan sedih," katanya sambil memeluk bahu Ranga. Ayah Nugraha berdiri di ikuti oleh Arga dan Satya begitu juga Yoga.


Ayah Nugraha memeluk putranya itu penuh rasa sayang, "Mama dan Papamu pasti senang sekarang karena anak manjanya sudah mau menikah," katanya sambil mengusap air matanya.


"Adik kecil cengeng," kata Arga langsung memeluk Ranga dengan erat. Tak lama Satya dan Yoga memeluk kedua pria kembar itu.


"Ayo, lo mau nikah nggak, kalau enggak biar digantikan Deo!" Ancam Satya yang baru tahu dari Leo kalau Deo sedang patah hati karena Diana menikah.


"Usap dulu air matanya Adik kecil," goda Yoga.


"Bunda," rengeknya membuat para tamu undangan tertawa begitu juga pak penghulu dan Leon.


"Tenangkan diri dulu, dan bawa istigfar, Nak?" kata penghulu itu sambil memberikan air mineral kepada Ranga.


"Terimakasih Pak?" katanya sambil tersenyum tipis.


"Bagaimana sudah siap, dan para saksi juga siap ya, jadi Nak Leon ini menikahkan adiknya nantinya," ujarnya.


Leon hanya mengangguk, ini merupakan pengalaman pertama dirinya, walau dia belum menikah. Dijabatnya tangan Ranga keduanya saling pandang, Leon menahan senyum saat Ranga mengusap ingusnya habis menangis.


"Kok lo senyum," kata Ranga


"Gue merasa menikahkan bocah ingusan," jawabnya sambil terkekeh.


"Bisa dimulai! karena saya mau menikahkan yang lain juga."Kata Penghulu itu.


"Maaf." kata keduanya bersamaan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ranga putra Raksa bin Raksa dengan Adik saya yang bernama Diana putri Salsabila bin Fernando dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat, Tunai.”

__ADS_1


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Diana putri Salsabila binti Fernando dengan maskawainnya yang tersebut, tunai.” Jawab Ranga lantang


"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu.


"Sah," suara bergemuruh sama -sama bilang Sah.


"Luar biasa, saya tanya saksi, tapi yang menjawab semua yang hadir," katanya sambil tersenyum lebar.


Diana didampingi Bunda Fifi dan Bundanya Satya berjalan perlahan menghampiri suaminya.


Setelah acara tukar cincin dan tanda tangan berkas kedua mempelai meminta doa restu kepada orang tua masing-masing.


Tangis haru dan bahagia begitu terlihat, walau sebelumnya sempat ada gangguan karena wali nikah.


Kini kedua mempelai disuruh istirahat, karena ba'da magrib resepsi akan dimulai. Senja yang terlihat lelah memilih masuk ke ruang keluarga yang disiapkan untuk keluarga besar Nugraha.


Satya menghampiri istrinya, "Sayang kamu mau baring?" tanya Satya yang melihat istrinya mengusap pinggangnya.


"Enggak, Mas tolong usap punggungku rasanya panas," kata Senja.


"Kita ke kamar saja ya," kata Satya lembut.


Senja hanya mengangguk, perlahan dibimbingnya Istrinya untuk ke kamar yang tak jauh dari ruang berkumpul keluarga besar.


"Mau kemana, Nak?" tanya Bunda.


"Mau baring Bun, pinggangku sakit," keluhnya.


"Ya sudah, Satya jangan kamu tinggalkan istrimu sendiri!" kata Bunda terlihat Khawatir dengan menantunya itu.


"Iya Bunda sayang."


Sesampainya di kamar Senja bukannya baring, tapi dia berjalan bolak-balik dari balkon ke ranjang.


"Sayang istirahat saja," kata Satya.


"Kalau bawa baring semakin sakit," keluhnya.


Satya menghubungi Tante Mela, tapi tidak diangkatnya, pria itu terlihat cemas, dia takut tiba-tiba kalau Senja mules perutnya.


****


Di ruang berkumpul Mentari terlihat gelisah, ia merasa tidak nyaman dengan perut besarnya. Namun, sebisa mungkin ditahan, Seakan wanita itu lupa kalau ini kehamilan yang kedua.


Yoga yang duduk di samping istrinya sedang asik mengobrol dengan Ayah Nugraha dan Uncle Angkasa. Dia tidak sama sekali tahu kalau Mentari gelisah.


Bersambung ya....

__ADS_1


Kenapa maskawinnya beda dengan Arga itu sesuai permintaan Diana.


__ADS_2