
Sore harinya Yoga yang melihat Satya sedang duduk di taman belakang merasa heran, hal seperti ini sudah lama tak di lihatnya.
Biasa seorang Satya kalau ada masalah pasti akan langsung menyendiri seperti ini, Yoga menghampiri menantu sekaligus sahabatnya itu.
"Apa ada masalah?" tanya Yoga sambil duduk di samping Satya.
"Lo ... bisa enggak sih ... kalau enggak kagetin!" gerutu Satya.
Yoga terkekeh, entah sampai kapan ia dan mantunya selalu berdebat hal sepele seperti ini. Mungkin ini resikonya anaknya menikah dengan lelaki yang berstatus sahabatnya itu.
"Gue tanya baik-baik, lo aja yang nyolot," jawab Yoga.
"Gue mulai besok nagnator di Jakarta, dan itu selama tiga bulan. Nah itu berarti kehamilan Senja memasuki 9 bulan," kata Satya.
" Terus masalahnya apa, Bro." Jawab Yoga
"Ya gue harus cari Dokter kandungan yang bagus dong, dan rencana melahirkan di mari atau mau balik ke Surabaya," jawab Satya.
"Kalau Dokter kandungan bisa sama dengan bini gue, tapi kalau mau lahiran dimana sebaiknya lo tanya lagi kepada bini lo, cuma permintaan gue selama di Jakarta Lo dan Senja tetap tingal di rumah gue," kata Yoga tegas.
Satya hanya menatap mertuanya itu degan tatapan datar, sedangkan Yoga diam sambil memperhatikan sekeliling taman belakang yang suatu saat nanti tempat bermainnya anak dan cucunya.
"Lo kenapa sih senyum-senyum?" tanya Satya penuh selidik.
"Lo ... seujon aja sama mertua sendiri," cibir Yoga.
"Senyum Lo itu yang mencurigakan babang," sahaut Satya.
Yoga tak menjawab, tapi ia berdiri menuju lahan yang masih kosong di tumbuhi rumput liar di sekelilingnya.
Kemudian ia menatap dari kamarnya, setelah itu Yoga mundur lima langkah di ambilnya ranting setelah itu ia ukur dan menancapkan ranting itu tepat di dekat bunga-bunga yang di tanam oleh istrinya.
"Mau bikin apa sih ... Yah?" tanya Satya sambil menghampiri mertuanya yang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan menatunya itu.
Satya yang terlihat kesal melihat Yoga hanya senyum-senyum tak jelas, kemudian ia pergi meninggalkan Yoga yang sedang asik merancang taman untuk bermain anak dan cucunya nanti.
__ADS_1
Sampai diruang keluarga Satya menghampir istrinya sambil mengecup kening Senja. Sedangkan Mentari hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan suami istri di sampingnya itu.
"Bby habis ngobrolin apa sama Ayah, kok sekarang masuk sendiri mana pasang wajah kesal?" tanya Senja.
"Hanya ngobrolin kerjaan aja," jawabnya sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
Senja segera kedapur untuk membuatkan kopi untuk suami dan Ayahnya, saat sampai di ruang keluarga semua sudah berkumpul sambil menonton televisi.
"Ya ampun itu wajah masih di tekuk aja," kata Yoga yang melihat wajah Satya masih terlihat kesal.
Senja hanya tersenyum menanggapi ucapan Ayahnya, di usapnya tangan suaminya dengan lembut. kemudian Mentari sedari tadi yang penasaran ada masalah apa antara suami dan menantu itu.
"Sat ... Bunda tadi hubungi gue, katanya mau tinggal di apartemen atau di hotel?" tanya Mentari kepada menatunya itu.
"Tidak ada yang tinggal di hotel mau pun aparteman! kalia berdua tetap tinggal di sini, ingat saya tidak terima penolakan," kata Yoga tegas.
Mentari yang melihat Satya hanya diam akhirnya ia mengatakan alasannya.
"Kalau Senja di sini, setidaknya kami tidak akan kesepian jika kalian para suami pergi berkerja,"kata Mentari sambil tersenyum menatap anaknya.
"Terimakasih sayang,tapi ada baiknya juga kalau kita tetap tinggal disini, bisa hemat pengeluaran," kata Satya sambil mengedipkan matanya ke arah Yoga.
Yoga hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Satya yang seperti orang susah.
"Bby jangan gitu kita juga harus kasih uang belanja," kata Senja.
Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, sedangkan Mentari menarik nafas lega akhirnya ia bisa berkumpul bersama dengan anaknya dalam keadaan sama-sama hamil.
"Sat lo nanti siap sholat Maghrib ikut gue ya, bagaimanapun harus lapor sama RTRW setempat walau lo nggak lama di mari," kata Yoga sambil tersenyum setelah itu ia segera naik kelantai dua untuk membersihkan diri.
"Sayang nanti mau ikut?" tanya Satya kepada istrinya.
"Enggak Bby, Mmy mau istirahat aja di rumah," jawabnya sambil tersenyum.
"Mau istirahat atau mau nonton Drakor," kata Satya sambil menarik hidung istrinya.
__ADS_1
Kini keduanya naik menuju ke kamarnya, Satya lebih dulu mandi sementara Senja menyiapkan baju Koko untuk suaminya. setelah lima belas menit Satya keluar hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
Melihat itu Senja hanya bisa menarik nafas panjang, entah mengapa Sampai sekarang ia masih berdebat saat melihat suaminya hanya telanjang dada saja.
Satay terkekeh melihat istrinya yang masih saja selalu salah tingkah melihat dirinya hanya memakai handuk saja.
"Bby ini bajunya, Mmy kamar mandi ya," kata Senja tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
Satya hanya mengangguk walau istrinya tidak melihatnya, tapi dalam hati Ia begitu menyukai sikap istrinya yang begitu mengemaskan baginya.
Satya tak perlu menunggu istrinya siap mandi setelah selesai berpakaian ia segera turun terlihat Yoga sudah menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kayak anak perawan aja, lama bingit," kata Yoga sambil berjalan mendahului menatunya.
"Dimana-mana kalau masih perawan keset, jadi harus pelan-pelan," jawabnya.
"Astagfirullah," batin Yoga sambil mengusap dadanya.
Kalau ia jawab pasti keduanya tidak akan jadi sholat berjamaah di masjid. Kini keduanya berjalan beriringan sesekali Yoga memperkenalkan Satya kepada warga sekitarnya yang ia jumpai.
Walau sebenarnya Satya merasa risi, tapi ia beruntung Yoga mampu mencairkan suasana yang pertama seperti tegang. Yoga hanya bisa menghela nafas panjang. Andai dulu ayah Nugraha juga mengajarkan Satya untuk hidup bertetangga mungkin setiap warga akan mengenalinya.
Tak berapa lama mereka sampai di masjid Satya segera mengambil air wudhu dan di ikuti oleh Yoga.
Setelah itu mereka sama-sama menjalankan sholat magrib berjamaah.
Yoga yang sudah selasai menunggu Satya yang sedang mengobrol dengan salah satu warga, usut punya usut warga itu tak lain adalah sekuriti di kantor Arga.
Setelah tiga puluh menit Satya baru menghampir Yoga yang terlihat sudah lelah menunggu, "kita ke pak RT aja dulu," ajak Yoga.
"Besok aja ya gue laper," keluh Satya dengan wajah yang di buat memelas mungkin.
Lagi-lagi Yoga di buat tak berkutik oleh sikap Satya, kini keduanya berjalan beriringan menuju rumah, Satya ingin sekali jalan dengan langkah cepat, tapi lagi-lagi sepertinya banyak warga yang kenal dengan Yoga sehingga sebentar-bentar harus menyapa mereka balik.
Yoga terkekeh melihat wajah Satya yang gantian kesal, ia tahu mantunya itu ingin cepat sampai rumah. Namun, mau tak mau harus ikut beramah-tamah terlebih dahulu
__ADS_1