PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 153


__ADS_3

"Senja lo kenapa?" tanya Arga panik.


"Huff, enggak apa-apa sering kayak gini, Om."


Arga hanya menatap rasa iba kepada wanita hamil tua itu, sesampai di kamar yang biasa ditempati Senja dan Satya Arga membantunya untuk naik ranjang.


"Gue panggil Bik Sum, buat temani, lo."


Senja hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Arga, tapi pria itu tiba-tiba membalikan badannya.


"Apa Satya tau lo sering sakit seperti ini?" tanyanya serius.


"Tahu."


"Hah, tapi dia biarkan sendiri!"


Senja hanya menatap jengah pria yang keluar dari kamarnya, rasanya ia ingin sekali bilang ke semaunya jangan terlalu khawatir. Namun, dia hanya bisa diam.


Senja membaringkan tubuhnya yang merasa lelah, tak lama pintu terbuka menampakan seorang yang tak asing.


"Bik," panggilnya.


"Iya Non, mau makan dulu atau mandi?" tanyanya sambil meletakan nampan di atas nakas


"Mau baring-baring dulu," jawabnya.


Bik Sum hanya tersenyum menatap wanita yang dulu begitu manja dengannya, keduanya banyak mengobrol dengan cerita-cerita apa saja. Senja yang sudah merasa lapar akhirnya disuapi oleh Bik Sum.


"Bik Aku mandi dulu," katanya sambil mengambil handuk baru dari lemari.


"Iya Non, saya siapkan air hangat dulu," katanya.


"Jangan Bik, aku mau mandi air dingin saja," ujarnya.


Bik Sum hanya mengangguk, wanita itu keluar dari kamar Senja. Sedangkan di ruang keluarga sudah ada Rendy dan istrinya yang ingin bertemu dengan Senja.


"Bik mana Senja?" tanya Ranga yang sedang asik main game di ponselnya.


"Sedang mandi, Den." jawabnya.


Tak lama Senja menuruni tangga sambil perlahan, Ranga yang melihat itu refleks berlari menuju ke arah tangga.


"Lo gila ya, perut besar bukannya pakai lift!" katanya kesal tapi memegangi tangan Senja.


"Maaf Om, aku lupa padahal tadi naik pakai lift," jawabnya sambil terkekeh.


"Apa itu karena hormon juga?" tanya Ranga.


"Enggak tahu juga."

__ADS_1


Bunda yang membawa nampan untuk Rendy hanya bisa menggeleng melihat dua orang yang ribut di tangga.


"Kenapa enggak pakai lift, Nak?" tanya Bunda saat Senja duduk di sampingnya.


"Heheh ... maaf tadi lupa."


"Cih, hamil tua membuatmu pikun!" ejek Arga yang baru ikut bergabung.


"Sudah enggak usah ribut," kata Bunda menengahi anak dan menantunya.


Rendy menatap lekat keponakannya saat ini, entah mengapa melihat perut Senja dia merasa takut. Merasa diperhatikan Senja menatap Pria itu.


"Om, peluk," katanya sambil merentangkan kedua tangannya.


Rendy dengan berat hati menghampiri ponakannya itu, tapi saat Senja akan memeluknya lewat samping tiba-tiba pria itu lari ke ruang tamu sambil mengusap dadanya membuat yang lain bingung.


"Lo kenapa?" tanya Arga.


"Gue takut lihat perut besar, seperti balon," jelasnya.


Senja langsung menepuk keningnya sendiri, wanita itu baru ingat kalau Rendy trauma lihat balon. Namun, karena yang lain tidak tahu hanya tertawa meledek Omnya.


"Tante ambilkan minum dia, udah pucat." kata Senja.


Popy yang tak tahu apa-apa berdiri melihat suaminya, wanita yang sedang hamil tiga bulan itu berdiri menghampiri Rendy sambil memberikan air putih ke suaminya. Tak lama Senja mendekatinya.


"Om, terus nanti kalau perut Tante sudah membesar gimana?" tanya Senja.


"Om apa enggak kasih tahu tante?" tanyanya


Rendy hanya menggelengkan kepalanya, hal itu membuat yang lain mendekat ke arah Rendy, Senja akhirnya menceritakan semuanya tentang trauma yang dialami Rendy dulu.


Setelah selesai Ranga dan Arga tertawa sampai sakit perut, sedangkan Rendy hanya diam dengan wajah kesalnya kepada kedua orang yang asik mengejeknya itu.


Tak lama pintu terbuka Satya dan Ayah Nugraha tersenyum menatap wanita yang sedang hamil besar, Senja dengan susah payah berdiri untuk menjabat tangan mertuanya.


"Bagaimana kabar cucu dan menantu Ayah, Nak?" tanyanya sambil mengusap kepala Senja.


"Ahmadullah baik, Yah," jawabnya.


Satya mengajak istrinya duduk, melihat kedua suami-istri itu yang lain ikut bahagia. Ayah Nugraha begitu terharu saat semuanya berkumpul apalagi besok Yoga akan datang juga. Pria itu merindukan momen seperti ini.


Satya melihat wajah Rendy yang pucat merasa heran, tapi tatapannya beralih ke arah Popy yang terlihat ada perubahan dari wajahnya.


"Lo sakit?" tanya Satya sambil menatap Rendy.


"Enggak."


"Dia sakit karena bini lo," kata Arga.

__ADS_1


Satya dan Ayah Nugraha menatap Senja, sedangkan wanita itu hanya menatap tajam ke arah Arga yang hanya cengengesan saat ini.


"Aku lupa kalau Om Rendy trauma lihat balon, apalagi dengan perutku yang membesar," jelasnya.


Satya yang sudah tahu hanya tersenyum tipis, tapi tidak dengan Ranga dan Arga keduanya kembali tertawa mengingat Rendy yang berlari seakan mau ada bom, yang meledak.


"Sudah nak, jangan di ejek terus," sahut Bunda.


"Iya Bun," jawab keduanya kompak.


Satya kembali lagi mengembangkan senyumnya, saat melihat keduanya begitu patuh kepada Bundanya. Senja yang melihat suaminya senyum-senyum hanya mencibir.


****


DI Jakarta.


Semenjak kejadian Hanum pingsan kemarin membuat Afkar selalu memesan makanan untuk wanita itu, tidak hanya itu saja untuk menebus kesalahannya ia membelikan motor matic untuk gadis itu. Walau pertamanya Hanum menolaknya, tapi karena diancam akan dipecat mau tak mau wanita itu menerima motor pemberian Afkar.


Seminggu saja dia belajar dengan pria dingin dan arogan itu sekarang sudah begitu lancar, gadis itu ditawari untuk menjadi salah satu driver online untuk hari liburnya oleh Fitri, dengan senang hati Hanum melakukannya. Sahabatnya itu dengan sabar mengajarinya.


Hanum merasa beruntung karena hari sabtu dan minggu kantornya tutup, jadi dia bisa mencari uang tambahan. dia tidak akan takut jika malam hari mengantar penumpang karena dia alih dalam bela diri.


Hari ini Hanum mengendarai motornya menuju kantor, tapi dia keluar dari rumah jam enam karena ada orderan mengantarkan penumpang yang searah dengan kantornya, dalam waktu satu jam dia sudah mendapatkan uang seratus ribu begitu senang.


"Pagi Fit," sapanya saat melihat sahabatnya itu baru datang.


"Pagi, tumben sudah datang?" tanyanya merasa heran.


"Iya tadi gue sekalian mengantar penumpang," jawabnya sambil tersenyum tulus.


Fitri hanya menggeleng saja, semangat sahabatnya itu begitu besar untuk mencari uang tambahan, kini keduanya mulai mengganti pakaian dan mengambil peralatannya untuk membersihkan perusahan yang begitu besar ini.


Semua jadwal sudah ada, lagi-lagi Hanum harus membersihkan ruangan asisten pemarah dan galak itu lagi, sebelum masuk ruangan itu dia menarik napas dalam. Saat sedang membersihkan ruangan tiba-tiba ia mendengar langkah kaki mendekat.


"Pagi Pak," sapanya seramah mungkin.


Afkar hanya diam tanpa menjawab sapaan wanita yang sedang menatapnya itu, Hanum kembali lagi melakukan pekerjaannya,


"Hanum," panggilnya,


"Iya pak," jawabnya sambil membalikan badannya,


"Tolong siapkan sarapan saya!" titahnya.


Hanum segera berjalan menuju meja Afkar dan mengambil bungkusan yang ada di atas meja, perlahan gadis itu membukanya, matanya membulat melihat isi di dalamnya.


Bersambung ya....


Kira-kira apa itu isinya?

__ADS_1


Moga-moga enggak dikerjain lagi


jangan lupa dukung terus dengan vote dan likenya.


__ADS_2