PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 130


__ADS_3

Senja untuk sementara dirawat karena khawatir akan demam nantinya, kini wanita itu sudah dipindah di ruang rawat. Satya dengan setia menunggu istrinya sadar, sedang ayah dan bunda sudah pulang diantar oleh Ranga.


"Yang, maafkan aku," ucapnya sambil mengecup kening istrinya. tepat pukul, 8 malam Senja mulai sadar. Wanita itu perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya, kini ia melihat seseorang yang tak asing untuknya, Satya yang tertidur sambil duduk di tepi ranjangnya.


Senja menyentuh kening suaminya, seketika wanita itu panik karena kening suaminya panas, dengan susah payah ia membangun-kan suaminya.


“Bby, bangun sayang,” ucapnya sambil menggerak-gerakan bahu suaminya, tak lama Satya membuka matanya.


“Sayang kamu sudah sadar, maafkan aku semuanya perlu aku jelaskan yang,” ucapnya.


“Mmy enggak apa-apa, yang penting Bby harus minum obat, Bby juga demam,” kata Senja.


“Tidak! maafkan Bby dulu,” ucapnya sambil memegang tangan istrinya.


“Bby, sebelum minta maaf! Mmy sudah memaafkannya, jadi sekarang minum obat nya jangan sampai ikut sakit juga.” Ujarnya.


“Terimakasih sayang, bentar ya Bby minta obatnya,” kata Satya segera keluar rawat istrinya.


Tak berapa lama ia sudah masuk lagi, di tatapnya dengan lembut wajah pucat istrinya. Mata keduanya beradu, Senja sebisa mungkin tidak akan menangis baginya ini sudah biasa.


“Sayang, ini tak seperti yang kamu dengar dari obrolan ayah dan bunda. Maafkan mereka ya,” pinta Satya karena ia tak tega saat melihat bundanya menangis terisak dari tadi.


“Kenapa Bby selalu menomor kan dua istrimu sendiri, itu terasa tidak adil,” ucapnya akhirnya ia tak tahan lagi untuk tidak menangis.


Bulir bening itu keluar begitu saja mengalir di pipi nya yang putih, Satya mengusap air mata istrinya, hatinya begitu sakit melihat istrinya kembali terluka oleh sikapnya, yang rencana akan membuat kejutan untuk istrinya malah kejadian yang tak diinginkan.


“Sayang, sebenarnya Bby akan membuat supers untukmu, tapi sepertinya tidak berhasil, karena kejadian ini.


“Kejutan apa?” tanya Senja sambil terisak di dada bidang suaminya.


“Bukanya kamu sebentar lagi siap ujian dan libur?” tanya Satya.


“Iya, benar dan setelah itu Mmy harus cuti, karena 4 bulan lagi dia lahir,” jawabnya.


Satya tersenyum sambil mengusap perut istrinya di usia lima bulan perut istrinya masih terlihat kecil, itu katanya karena hamil anak pertama.


“Sayang, saat ke Singapore apa mau temani Bby disana nanti, sebenarnya kemarin Ranga sudah mengurus tempat tinggal kita sementara di sana.” Ucap Satya.


“Jadi Bby ajak Mmy, enggak pergi sendiri,” syahut Senja dengan tatapan mata berbinar menatap suaminya.

__ADS_1


“Iya sayang, kalau yang Mmy dengar itu hanya setengahnya saja dari obrolan bunda dan ayah, dan maafkan mereka kalau bilang kamu manja,” ujarnya.


Senja hanya tersenyum ingin rasanya ia juga marah lama dengan suaminya tapi itu ia tak bisa, mungkin benar kata bik Sum belajar menjadi dewasa itu tak mudah baginya.


Satya kini tersenyum menatap istrinya,” jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, kamu tahu yang rasanya duaniaku hancur saat melihat mu berbaring di kursi dan hujan lebat.


“Sekarang sebaiknya Bby istirahat badannya masih panas,” kata Senja


Satya akhirnya baring di samping istrinya, Senja tersenyum saat ia harus kembali berbagi ranjang rumah sakit dengan istrinya , kini ia berharap tidak ada dokter atau suster yang masuk ke ruangannya.


Satya yang tidur sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya tak lama terdengar dengkuran suaminya.


“Kamu pasti lelah telah mencari dan menjagajku,” kata Senja bermonolog sendiri.


Tak lama pintu terbuka, Ranga masuk sambil berdecak saat melihat Satya tidur sambil memeluk pinggang Senja.


“Om.. bawa apa?” tanya Senja lirih.


“Eh… kirain tidur! Ini baju ganti kalian.” Kata Ranga sambil duduk di kursi samping ranjang Senja.


“Bby demam, Om.” Kata Senja.


“Kalau dia demam, di bawa tidur sembuh.” Kata Ranga santai.


“Mana ada Om! hanya buat tidur sembuh, kalau enggak di kasih obat demam,” kata Senja.


Tak lama Satya membuka matanya, ia melihat Ranga duduk di kursi samping ranjang istrinya. Namun, ada yang beda dengan Ranga.


“Lo kenapa?” tanya Satya sambil duduk menatap Ranga.


“Lo demam ada bini yang lo peluk, giliran gue demam harus nganterin baju ganti lo,” kata Ranga kesal.


“Kasihan sini Senja peluk lima menit saja,” kata Senja tanpa ia tahu suaminya sudah melotot tajam ke Ranga.


Ranga merasa senang saat Senja mau memeluknya, tapi saat ia melihat sorot tajam dari Satya hanya bisa menelan salivanya.


“Sini om,” kata Senja.


“Mmy!” kata Satya dengan suara beratnya.

__ADS_1


“here… enggak apa-apa hanya lima menit.’ Jawabnya Senja.


Satya langsung menarik Ranga ke sofa hal itu membuat Senja terkekeh, suaminya itu tak pernah berubah selalu posesif pada dirinya.


“Lo ngapain marah sama gue, orang peluk juga kagak jadi ini,” kata Ranga kesal.


“ Bukan itu, bagaimana dengan urusan ke Singapore?”tanya Satya.


Ranga menatap Satya, pemuda itu menggelengkan kepalanya. Satya merasa bingung dengan apa yang terjadi.


“Lo enggak jadi berangkat, tapi lo harus pindah ke Jakarta dan Arga yang ke Singapore,” jawab Ranga.


“Kok bisa sih?” tanya Satya.


“Ayah tak ingin terjadi sesuatu dengan cucu dan menantunya, cukup sekali kemarin beliau melakukan kesalahan. Dan gue harus sendiri mengurus yang di Surabaya.


Satya terdiam, tak lama senyum mengembang di bibirnya,” ok gue setuju” kata Satya sambil tersenyum.


“Tumben, biasa enggak pernah mau ke Jakarta lama?” tanya Ranga.


“Pasti bini gue senang karena dia bertemu kedua orang tuanya ,” jawab Satya.


Ranga yang mengerti maksud dari Satya hanya menganggukkan kepalanya, selama ini Senja hanya ke rumah, kampus dan kantor suaminya saja mungkin kartunya dia refusing ke rumah Yoga.


“Kapan gue berangkat, udah nggak sabar ingin memberi bini gue kejutan?” tanya Satya.


“Tunggu ia sehatlah, bro,” jawab Ranga.


Satya menatap istrinya yang sedang memainkan handphone nya, ia tahu sebenarnya senja masih kecewa dengannya. Namun, karena ia tak ingin ribut di pagi hari mengatakan sudah memaafkan.


Pria itu juga sudah tak sabar menunggu anaknya lahir, ia ingin istrinya melahirkan  di Surabaya seperti dengan  dirinya. Namun, kalau ia harus di Jakarta selama tiga bulan berarti masuk sembilan bulan ia harus membawa istrinya ke Surabaya lagi. Sebaiknya ia tak egois yang penting anak dan istrinya saat persalinan sehat baik itu di Jakarta atau di Surabaya.


“Jangan banyak melamun, setan banyak yang lewat,” kata Ranga.


“Lo setannya ,” jawab Satya sambil tertawa karena  sudah sukses membuat Ranga kesal pada dirinya.


Satya jadi ingat kata-kata yang ia dengar dulu jangan suka berduaan, katanya berbahaya, karena yang ketiganya itu setan.


Maaf kondisi lagi kurang fit baru bisa up

__ADS_1


__ADS_2