
Yoga keluar ruangan dengan terburu-buru tanpa memperdulikan yang lain, Ranga mengejar Yoga dengan berlari. Sesampainya Rangga di sisi Yoga segera mengambil kunci mobil. Yoga melotot kesal melihat Ranga, kemudian Ranga duduk di belakang kemudi, sedangkan Yoga mendengus kesal, tapi mengikuti duduk di samping Ranga.
"Kemana kita Bos?" tanya Ranga tetap fokus mengemudi.
"Kekantor," jawab Yoga.
"Ada apa?" tanya Ranga
Yoga menarik nafas panjang sambil menatap Rangga, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
“Ada Rendy di kantor gue," jawab Yoga
"What, serius lo!” teriak Rangga yang terkejut.
"Gue tadi kaget waktu ditelepon Arnold!" jawab Yoga
“Apa lo tahu tujuan Rendy datang ke kantor lo?" tanya Rangga.
Yoga hanya menggelengkan kepala menanggapi ucapan Rangga. Yoga berharap ini bukan karena mertuanya, setelah menempuh perjalanan selama 40 menit mobil yang kemudikan Rangga sampai di kantor Yoga.
Yoga dan Rangga berjalan beriringan menuju lobi kantor, beberapa karyawan terkejut melihat CEO dari hotel Nugraha datang ke kantornya.
Rangga yang mendengar desas-desus pembicaraan para wanita yang mengagumi ketampanannya hanya tersenyum sinis, ternyata mereka masih mengira kalau Rangga adalah Arga.
Sampai didepan ruangannya Yoga diberhentikan oleh Adrian, Adrian membisikan sesuatu ke Yoga. Yoga menatap Rangga lalu menggelengkan kepalanya, Rangga mengerti hanya mengangguk.
Andrian menyuruh Rangga menunggu di ruangannya, Rangga duduk di sofa ruangan Adrian sambil menatap sekeliling ruangan.
Sedangkan di ruangan Yoga sudah ada Rendy dan Poppy. Saat pintu terbuka Rendy sangat terkejut melihat Yoga masuk ke ruangan.
“Hah, mas Yoga!" kata Rendy dengan terkejut.
Yoga berusaha bersikap seperti biasa saja, hanya tersenyum sambil duduk di depan Rendy. Rendi merasa bingung kenapa Yoga duduk di depannya.
Tiba-tiba mata Rendy terbelalak melihat nama yang ada di depan meja Yoga, Direktur Utama Yoga Irawan.
“Ini perusahaan Mas?" tanya Yoga masih dengan ekspresi terkejutnya.
Yoga hanya tersenyum menatap Rendy, Yoga memperhatikan wanita yang duduk di samping Rendi terlihat dingin.
Rendy yang melihat Yoga menatap Poppy hanya tersenyum.
"Mas kenalkan sekretarisku namanya Poppy," kata Yoga
Poppy hanya menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Yoga, Yoga hanya tersenyum menanggapinya.
Tak lama masuk Adrian bersama Rangga.
Rendy yang melihat Rangga sangat terkejut. Rangga hanya tersenyum tipis menatap Rendy.
"Apakah mengganggu kalian." ujar Rangga.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Papa dan Mama Ren?" tanya Yoga kepada Rendy.
“Alhamdulillah sehat Mas" jawab Rendy sambil tersenyum.
“Langsung saja, ada apa kamu menemuiku sampai ke kantor?" tanya Yoga kepada Rendy.
Akhirnya Rendy menceritakan semuanya kepada Yoga, kalau dirinya sengaja menemui pemimpin di perusahaan ini. Karena ada dana masuk ke rekeningnya atas nama perusahaan yang dipimpin oleh Yoga.
“Apa Papa Robby mengetahui kalau sekarang kamu di Jakarta, dan berniat untuk mengembalikan uang yang sudah ditransfer ke rekeningmu,” tanya Yoga.
"Tidak Mas, tapi tahunya aku pergi untuk bertemu dengan klien di Jakarta.” jawab Rendy.
“Apa kamu tahu apa akibatnya jika kamu mengembalikan uang itu kepadaku.” ucap Yoga.
“Mas Tenang saja, Aku sudah membicarakan kepada papa kalau uang ini akan aku buat modal untuk hotel yang akan dibangun di Bali.” jawab Rendy dengan tersenyum.
“Baiklah jika keputusanmu, Mas ucapkan terima kasih banyak," jawab Yoga dengan tersenyum.
“Sama-sama Mas, ini seharusnya menjadi hak mas Yoga dan keluargan" jawab Rendy
“Baiklah kalau tidak repot datanglah ke rumah pasti Kakakmu Mentari sangat merindukanmu." jawab Yoga tersenyum hangat kepada adik iparnya.
"Serius apa boleh Mas?" tanya Rendy
“Tentu boleh Ren, bagaimana pun juga kamu adalah adiknya." jawab Yoga dengan tersenyum hangat
Setelah pembicaraan tadi semuanya berubah menjadi hangat tidak ada lagi rasa canggung di antara Rendy dan Yoga.
Wajah Rendy tampak berbinar sangat senang akan bertemu kakaknya yang udah lama dirindukan. Rangga hanya tersenyum melihat Rendy seperti anak kecil.
Rangga heran melihat sikap poppy yang terlalu dingin kepada semua, Rendy yang tahu Rangga dari tadi memperhatikan kekasih hatinya merasa kesal.
Mereka akhirnya memasuki mobil Adrian dan mobil Yoga, mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah rumah sakit di mana tempat Satya dirawat.
Rendi merasa heran kenapa dibawa ke rumah sakit, ingin bertanya kepada Adrian, tapi lebih baik diam melihat apa yang akan mereka lakukan di sini.
Semuanya turun melangkah menuju ke lantai 3 Rendi dan Poppy hanya mengikuti mereka dari belakang, sesekali Poppy menatap Randy sambil tersenyum.
Pintu rawat dibuka oleh Yoga, Mentari yang melihat suaminya sudah kembali segera menghampirinya. Seketika mata Mentari melebar saat melihat siapa dibelakang Yoga dan Rangga.
"Rendy," ucap Mentari, kemudian Menteri berhambur memeluk Rendi sambil menangis.
Senja Yang penasaran kenapa Ibunya tidak kembali langsung menghampiri Ibunya di luar ruangan. Senja tersenyum saat melihat Om Rendi memeluk Ibunya.
"Om kangen," teriak senja sambil memeluk ibu dan Omnya.
Kemudian ketiganya masuk ke ruangan Satya, Rendy merasa bingung Siapa sebenarnya yang sakit. Rendy melihat ada Bunda dan Ayah Nugraha segera menghampirinya.
Satya terdiam melihat Rendi dan seorang wanita yang terlihat dingin menatapnya, Satya baru ingat siapa wanita itu Poppy teman kuliahnya dulu yang pernah mengutarakan isi hatinya ke pada Satya.
Popi merasa satya memperhatikannya segera memalingkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
“Bby, kenapa melihat sekertaris Om Rendy seperti itu," ucap Senja sambil cemberut.
"Tidak sayang, Bby seperti mengenalnya, tapi Bby tidak yakin," jawab Satya tidak ingin melihat istri kecilnya bersedih.
"Jangan macam-macam Bby, ingat ada Mmy di sini," sahut Senja dingin membuat Satya terkekeh melihatnya.
Rendy tersenyum melihat Senja dan Satya begitu dekat, semoga mereka bahagia, batin Rendy melihat keponakannya tersenyum hangat kepada Satya.
Ayah Nugraha sebenarnya enak karena tidak memberitahu Kakek Roby kalau Satya kecelakaan, tapi mendengar cerita Yoga kalau mertuanya masih mencoba untuk memisahkannya dengan Mentari tidak jadi menghubungi Kakek Roby.
"Rendy, bagaimana kabar Papamu, Nak?" tanya Ayah Nugraha sambil tersenyum hangat.
"Alhamdulillah sehat,Om," jawab Rendy sambil tersenyum.
"Syukurlah, Om senang mendengarnya," ucap Ayah Nugraha.
Rendy juga tersenyum, apa lagi melihat Kakaknya Mentari bisa kembali lagi ke suaminya. Sekarang yang yang Rendy perlu fikirkan hanyalah Papanya yang begitu membenci Yoga, entah karena apa? tapi bukan Rendy kalau tidak mencari tahu tentang semuanya.
Setelah selesai mengobrol, Mentari mengajak Adiknya untuk pulang bersamanya yang di setujui oleh Yoga dan yang lainnya.
Setelah semua sudah pergi, Satya segera memeluk pinggang Istrinya lewat belakang, membuat Senja terkejut, Senja khawatir akan mengenai tangan Satya yang masih ada jarum infusnya.
"Bby nanti darahnya naik," ucap Sanja melihat selang kecil yang terhubung di tangan Satya.
"Bby juga pengen naik Sayang," ucap Satya terkekeh.
"Bby sedang sakit, tapi masih mikir itu," jawab Senja sambil mengusap wajah Satya yang sekarang sudah melepaskan pelukannya.
"Mmy, Bby tidak sabar melihat ada yang hidup di perut Mmy," ucap Satya.
"Bby tenang saja pasti mereka hidup dengan bahagia, seperti Mmy sekarang," jawab Senja dengan polos.
"Benarkah," ucap Satya antusias.
"Ia sayang, apa lagi kalau jam dua belas Mmy belum makan pasti akan meronta-ronta," jawab Senja lagi.
"Meronta-ronta," ucap Satya mengerutkan keningnya.
"Ia Bby, kalau jam segitu Mmy belum makan pasti cacing di perut Mmy sudah demo," kata Senja santai.
Satya hanya mendengus mendengar ucapan istrinya, merasa kecewa Satya kira sudah ada janin di perut istrinya, bukan cacing yang demo.
"Mmy, maksudnya Bby sudah ada Satya junior di rahim Mmy," ucap Satya dengan lembut.
Senja terlihat shock mendengar ucapan Satya, jangankan janin membayangkan dirinya hamil saja Senja sudah merinding, Senja duduk di samping suaminya di tepi ranjang.
"Apa Bby ingin sekali punya anak dari Mmy?" tanya Senja.
"Tentu sayang," jawab Satya sambil menoel hidung Istrinya.
"Besok kita bikin tiga hari sekali, sesuai resep Dokter," jawab Senja dengan cengengesan. Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan Senja, yang sepertinya belum siap untuk hamil.
__ADS_1
Bersambung ya