
Malam harinya, Ayah Nugraha meminta agar Arnold sebaiknya menginap saja dirumah. Namun, dia menolak karena ia akan pergi ke makam Tante Mela.
"Tidak usah Nak, dengar apa kata Ayahmu," kata Bunda yang baru datang.
"Baiklah..Bunda, Arnold kekamar," ucapnya.
Ayah Nugraha menatap istrinya, merasa bersalah dengan keluarga Mela. Bunda yang mengerti apa yang difikirkan oleh suaminya.
“Ayah yang merasa bersalah seperti itu, bagaimanapun juga ini demi kebaikannya Mela dan Angkasa," ujar Bunda.
"Tapi Bunda, kasihan Suci pasti dia sangat kecewa dengan sikap Ayah ini.” katanya.
Bunda berdiri dan kemudian duduk di samping suaminya, karena ia yakin kalau dulu dia tidak menyembunyikan meraka sudah dipastikan keduanya akan di lenyapkan oleh Ronald.
"Bagaimana kalau kita suruh Arnold untuk jemput Nenek dan Suci saja, Yah..," kata Bunda.
Ayah sebelumnya sudah merencanakan untuk menjemput Nenek dan Suci, tapi untuk mempertemukan mereka dengan kedua orangtuanya tidak bisa sekarang. Karena ia harus menyembunyikan saksi utama untuk persidangan nanti.
Bunda melihat kegusaran suaminya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian Bunda meninggalkan suaminya sendiri diruang tamu.
Setelah kepergian Istrinya, Ayah Nugraha mengambil handphonenya kemudian ia tersenyum. Tanpa Ayah sadari Arnold memperhatikan dari depan pintu kamar.
"Apa yang mereka sembunyikan? Ayah memang keterlaluan," lirih Arnol kala mengingat apa yang dilakukan Ronald, kemudian ia pergi ketaman belakang rumah Ayah Nugraha.
...💞💞💞...
Sementara di Bandung, Rendy dan Ranga pergi untuk menemui Angkasa.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, keduanya sampai di depan rumah kecil yang sederhana.
Rendy mengawasi sekelilingnya, merasa aman dirinya dan Ranga segera turun. Sesuai apa yang dikatakan Ayah Nugraha mereka hanya datang berdua supaya tidak mencurigakan bagi warga sekitar.
"Lo ingat mereka pakai nama Mang Samsul dan Istrinya Bik Siti," kata Ranga.
"Ia gue ingat, banyak ngomong lo," bisik Rendy.
Kini keduanya sudah berdiri didepan pintu, Rendy segera mengetuk pintu. Namun, tetap tidak ada respon.
"Lo yakin ini rumahnya,"tanya Ranga.
"Ia gue yakin," jawab Rendy.
"Kita tanya ke orang itu," usul Rendy.
Kemudian Rendy menghampir seorang lelaki yang sedang mencabut rumput di samping rumahnya.
"Assalamualaikum permisi Pak," kata Rendy.
"Waalaikumsalam, ia ada apa?" tanya lelaki paruh baya yang memakai topi.
"Paman," lirih Rendy.
__ADS_1
Paman Angkasa hanya mengangguk, dan segera memberikan kode ke Randy untuk berjalan kebelakang dan membiarkan mobil terparkir di depan rumah yang ada Ranga.
Tak lama Rendy mengirimkan pesan, agar Ranga tetap dirumah itu. Sebelum kedatangan mereka sudah ada dua orang yang mengawasi rumah itu.
"Paman maaf kami terlambat mengetahuinya," lirih Rendy menatap lelaki yang masih terlihat gagah.
"Ini hanya takdir Nak," jawab Paman Angkasa.
Kemudian keluar seorang wanita yang masih terlihat cantik, walau umurnya tidak muda lagi. Wajahnya begitu mirip dengan Suci, hanya yang membedakan kulitnya terlihat sawo matang.
"Assalamualaikum Bik," sapa Rendy membuat Melati terkejut, karena sebelumnya tidak ada orang yang datang bertamu.
Melati tidak menjawab, tapi terlihat dari matanya kalau ia sedang khwatir.
"Sayang, jangan khawatir dia orang utusan dari Nugraha," kata Paman Angkasa sambil berjongkok didepan Istrinya yang kini duduk di atas kursi roda.
Rendy menoleh ke arah Melati, kemudian ia berdiri dan ikut berjongkok di depan wanita yang begitu mirip dengan Suci.
"Bibik...jangan takut saya Rendy Sanjaya, anak dari Roby Sanjaya," ucap Rendy yang akhirnya membuat Melati kembali lagi rileks.
"Akhirnya kalian datang, kami sudah menunggu lama," lirih Melati.
"Maafkan kami Bik, saya senang akhirnya bisa melihat Suci versi dewasa nanti," hibur Rendy yang membuat Melati tersenyum.
Angkasa menarik nafas lega, akhirnya Istrinya bisa interaksi dengan orang lain lagi.
"Rendy, bagaimana kabar Suci?" tanya Bik Mela sambil membuatkan minuman.
"Sini Bik, biar Rendy saja," kata Rendy.
Aktivitas keduanya tidak luput dari perhatian Angkasa, kemudian ia segera pergi keluar untuk menjemput Ranga.
"Kenapa enggak menyusul," bisik Paman Angkasa.
"Astagfirullah kenapa Anda seperti jalangkung, datang tidak di undang," kata Ranga sambil mengusap dadanya.
Paman Angkasa terkekeh, membuatnya mengingat orang tua Ranga.
"Masih siang tidak akan ada hantu lewat," ujar Paman
Setelah itu keduanya segera pergi meninggalkan rumah itu, Ranga berdecih lirih melihat Randy asik menikmati kopi hitamnya dangan suguhan pisang goreng.
"Laknat lo, gue tunggu enggak ada kabar!" gerutu Ranga kemudian meminum kopi didepannya.
"Ranga itu kopi milik Paman," ucap Randy.
"Enggak apa-apa minum saja," jawab Paman Angkasa yang baru datang.
"Paman Bibik mana?" tanya Ranga.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka, Ranga diam mematung melihat wanita didepannya.
__ADS_1
"Astagfirullah Suci, kenapa lo jadi tua begini," kata Ranga tanpa sadar.
Bugkkk Rendy memukul bahu Ranga dengan koran bekas disampingnya.
"Dasar laknat sakit tahu!" umpat Ranga sambil mengusap bahunya.
Melati melihat itu merasa terhibur, hal itu mengingatkannya kepada Arnold dan Suci.
Ranga memperhatikan wanita yang duduk di samping Angkasa.
"Kenapa?" tanya Melati sambil tersenyum menatap Ranga.
"Kenapa Anda mirip sekali dengan calon Kakak ipar saya," jawab Ranga
"Ya ialah mirip, ini Bik Melati Mamanya Suci," ucap Randy.
"What's?" kemudian Ranga menyalami tangan Melati dan duduk disampingnya.
Melati akhirnya tertawa lepas, setelah melihat tingkah Ranga. Sudah bertahun-tahun ia tidak merasakan perasaan seperti ini, ditatapnya wajah suaminya. Angkasa menganguk mengerti maksud Istrinya.
Berlahan diusapnya kepala Ranga yang duduk disampingnya, kemudian Melati memeluknya .
Ranga merasakan pelukankan hangat yang biasa ia dapatkan dari Bunda dan mendiang Maminya. Kini ia bisa merasakan dari Melati, wanita yang sebentar lagi akan menjadi Mamanya juga, walau bukan dirinya yang menikah dengan Suci.
"Bagaimana kabar Suci, Nak?" kata Melati.
"Alhamdulillah, baik Mam," jawab Ranga.
Semuanya yang ada disitu terkejut, pasalnya Ranga memanggil Melati dengan sebutan Mam.
"Kenapa lo lihatin gue seperti itu?" tanya Ranga melihat Rendy menatapnya lain.
"Lah...lo yang kenapa? panggil Bibik Mela dengan Mam!" kesal Rendy karena Ranga nyolot kepadanya.
"Karena dia Mamanya Suci, dan Suci calon Kakak ipar gue." ujar Ranga.
Angkasa menatap Ranga, kemudian beralih ke Rendy.
"Maksudnya?" tanya Paman Angkasa
"Begini Papa," kata Ranga tanpa ragu memangil Angkasa dengan Papa.
Ranga menceritakan kepada Melati dan Angkasa kalau Arga dan Suci kini dekat, begitu juga dengan Nenek Wati.
Melati meneteskan air matanya, rasa rindu yang sangat membuncah kepada anak gadisnya begitu ingin memeluknya. Apa lagi Ibu yang telah melahirkannya.
Tapi kini ia merasakan lega, saat Ranga mengatakan kalau Suci tumbuh dengan baik. Bahkan Suci sudah mempunyai calon yang akan menjaganya kelak.
Angkasa mendekati Istrinya, kemudian memberikan ketenangan dengan cara menyandarkan kepala Melati didada kekarnya. Walau umurnya tidak muda lagi tapi postur tubuh Angkasa tidak kalah dari Rendy dan Ranga.
Bersambung ya...jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏🙏
__ADS_1