PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 159


__ADS_3

"Hamil," jawab Yoga.


Arga tersenyum, entah mengapa ia juga tak ingin jika Suci nanti menunda kehamilan nya. Melihat Arga yang senyum-senyum Satya hanya mencibirnya.


"Malam ini langsung sikat, Bro."bisik Yoga.


Arga hanya menatap lemah, karena dia tahu kalau istrinya sekarang sedang mendapatkan tamu bulanan, melihat Kakaknya lesu Ranga bertanya, "Kenapa lo?"


"Suci baru tiga hari dapat tamu bulanan," pengaruh lemah.


Mendengar itu baik Satya, Ibnu dan Yoga tertawa lepas hingga yang lain melihatnya.Namun, para pria itu tetap santai walau menjadi Perhatian.


"Santai aja kayak gue, itu hasilnya."Kata Satya percaya diri.


"Cinta bersemi di rumah sakit," sahut Ranga.


Yoga mendengar itu langsung beralih menatap Ranga dan beralih ke Satya."Maksudnya apa?"tanyanya.


"Ingat gue, sampai dibelikan obat kuat oleh Kakek Roby," kata Ranga sambil tertawa mengingat waktu itu.


"Apa Satya enggak mampu ngimbangi anak gue!"talak Yoga sambil menaikkan kedua alisnya.


"Kalau gue sampai pagi kuat," balas Satya.


"Terus kenapa sampai dibelikan obat kuat?"


Ranga menceritakan apa yang terjadi tepat waktu itu, awalnya Yoga marah kepada Satya yang membuat putrinya sampai sakit, apa lagi sampai acuh kepada Senja.Namun, saat putrinya di rawat yang lain mengira karena kelelahan hingga dibelikan obat kuat buat Senja.


Lagi-lagi tawanya meledak hingga Senja menatap tajam suaminya, Satya mengedipkan mata ke istrinya yang sedang asik mengobrol dengan Sari dan Suci.


***


Di kediaman Hanum, Sore ini dipenuhi oleh tetangga dan saudara jauh yang sengaja datang untuk menyaksikan pernikahan Hanum dan Afkar.Yang rencana akan menikah siang, tapi di undur karena pak penghulu sedang menikahkan warga kampung sebelah.


Afkar hanya memakai baju putih dan peci hitam itu pun pinjam punya mertuanya, sedangkan Hanum memakai kebaya yang disewa oleh ibunya di salon tak jauh dari rumahnya, semua berubah tidak sesuai rencana Afkar, karena besok baju pernikahan baru diantarkan. Namun, sekarang yang terpenting adalah dirinya sah dengan wanita yang sederhana serta dia bisa memiliki keluarga yang hangat.


"Bagaimana apa sudah siap, Pak Iwan dan Nak Afkar?'tanya Penghulu menayakan keduan pria beda usia itu.


"InsyaAllah siap, Pak."


"Saksi sudah siap, untuk maskawainnya tolong letakan di atas meja, Afkar perlahan mengeluarkan cincin yang berkilauan dan meletakan di atas meja.


Warga yang kepo berbisik-bisik membuat pak Iwan hanya menarik napas panjang, dijabatnya tangan Afkar," Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Afkar Subrata bin Subrata dengan anak saya yang bernama Hanum Salsabila dengan maskawinnya berupa Cincin berlian seberat 3,5 gram, Tunai. ”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Hanum Salsabila binti Iwan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."

__ADS_1


"Bagaimana saksi?"tanya penghulu.


"Sah...."


"Ahmadullah," ucapnya bersamaan, kedua mempelai disandingkan.


Afkar tersenyum melihat istrinya yang terlihat anggun, tibalah saat penukaran cincin, setelah selesai Hanum mencium punggung tangan Afkar untuk pertama kalinya dan sebaliknya sang suami mencium kening istrinya.


Acara dilanjutkan makan-makan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.Hingga bada magrib tamu baru pulang.Kini keluarga Pak Iwan makan malam bersama, tapi ada yang berbeda dari Harun adik Hanum.pemuda itu hanya diam saja saat kakaknya sudah menikah tadi.


"Run, kamu kenapa?"tanya Hanum yang sedang menikmati sisa makan malam.


"Mbak, setelah menikah apa masih bisa membiayai aku sekolah, kalau enggak aku keluar saja ya," ujarnya.


"Kamu tetap sekolah, Run. Tanggung jawab Mbakmu sekarang menjadi tanggung jawabku," sahut Afkar yang sedang mencari sang istri.


"Tapi Mas, aku enggak mau merepotkan," ucapnya.


"Tidak ada yang direpotkan, kamu juga adikku sekarang," ujarnya.


Hanum merasa lega saat balok es sekarang sudah banyak bicara, Afkar lebih hangat dari sebelumnya hal itu bahagia.Karena hari sudah malam pengantin baru itu masuk kamar.


Hanum merasa gugup saat Afkar menutup pintu dan menguncinya, pria itu mengganti bajunya dengan baju yang sudah disediakan oleh istrinya.


"Enggak apa-apa."Jawabnya sambil menunduk.


"Kamu jangan takut, aku tak akan meminta hakku. Aku tahu pernikahan kita ini mendadak."


"Aku akan menunggumu siap, tapi jangan lama-lama aku juga lelaki normal," katanya sambil berbaring di kasur.


"Maaf."


"Jangan khawatir, marilah kita istirahat aku tahu kamu juga pasti lelah," ajaknya.


"Iya Mas,"


Afkar tersenyum saat istrinya memanggilnya Mas begitu lembut, tidak ada lagi Hanum yang bawel seperti biasanya.


Wanita itu membaringkan tubuhnya agak jauh dari suaminya, hal itu membuat Afkar menautkan keningnya.


"Hanum, kita sudah sah, kenapa kamu menjauh?"tanyanya sambil menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.


"Aku malu, Mas."


"Jangan malu, lebih malu saat kita ketahuan dengan Ibu dan Bapak," ucapnya terkekeh mengingat waktu itu.

__ADS_1


Afkar tak menyangka kalau dia seorang asisten dari grup Nugraha ketahuan mertuanya sedang berpelukan di kamar saat belum sah, dia enggak kebayang kalau sampai bosnya tahu, pasti habis dia bahan bulian Arga maupun Satya.


"Mas," panggilnya lembut.


"Hem."


"Apa Mas enggak menyesal menikahi aku?"tanyanya sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Kenapa kamu tanya itu?"


"Rasanya ini mimpi aku menikah dengan lelaki yang selalu ingin aku tendang dulu," ujarnya.


"Astagfirullah, Hanum!"


"Mas dulu kamu marah-marah, terus sering menyuruhku beli inilah, itulah enggak boleh telat," ucapnya mengingat waktu dia baru bekerja dulu.


"Mana ada seperti itu."Elaknya.


Hanum, duduk menatap suaminya yang masih berbaring sambil menatapnya."Apa Mas enggak ingat sering memarahiku!"ucapnya sambil mencibir Afkar.


Afkar tak marah, tapi dia tertawa lepas jika mengingat awalnya keduanya ribut, tapi dia tidak menyangka kalau gadis itu akan berniat menendangnya.


"Kamu mau menendang kakiku?"tanyanya.


"Bukan, tapi alat vital!"sedikit geram.


Afkar langsung duduk dan menutup sesuatu pakai bantal, hal itu membuat Hanum, tertawa terbahak.Gadis itu sampai menahan perutnya yang sakit karena tertawa terus.


Afkar melihat wanita yang baru dinikahinya itu menertawakannya muncul ide jahilnya.Dia langsung mengunci penggerakan Hanum yang sedang terlentang di sampingnya.


Gadis itu langsung diam dan menahan napasnya perlahan-lahan, mata keduanya berada di wajah Afkar semakin mendekatkan wajahnya hal itu membuat jantungnya terasa ingin lompat keluar.


"Mas," lirihnya.


"Aku mau," godanya, sebisa mungkin Afkar menahan tawanya saat melihat wajah sang istri yang memucat.


"Tapi!"


"Apa?"tanya Afkar menggigit bibir bawahnya.


Afkar memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Hanum, "Apa kamu setakut itu untuk melakukan denganku!"kata Afkar sambil melepaskan wanita yang terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"Maksudku," ucapnya karena Afkar keluar dari kamar.


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2