
Senja segera melangkan kakinya menuju kelas, saat sampai depan kelas ia bertemu dengan Alan. Pria itu tersenyum manis kepadanya, kemudian keduanya sama-sama masuk kelas.
Diana tersenyum saat Senja datang, kemudian dia melihat Sari datang dengan memakai kacamata hitam.
"Lo.. kenapa?" tanya Leo.
"Berisik," jawabnya jutek.
Leo hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya kini menengelemkan wajahnya di atas meja.
"Sari kamu kenapa?" tanya Diana dengan lembut.
Bukannya dijawab, tapi tiba-tiba tangisnya pecah. Hal itu membuat semua yang ada di kelas memperhatikan dirinya.
"Hai...kok malah nangis sih?" tanya Alan heran melihat sahabatnya menangis sampai sesegukan.
"Cerita sama gue siapa yang bikin lo sampai kayak gini," katanya dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Deo, apaan sih enggak usah lebay deh!" katanya sambil kesal.
"Gue bukan lebay maysaroh, tapi gue enggak akan rela teman gue dibikin nangis," jawab Deo.
Senja hanya diam, kemudian dia menarik nafas dalam-dalam.
"Jadi dimana kita belajar kelompoknya," katanya sambil tersenyum menatap Sari yang masih terisak.
"Di rumah kamu aja," jawab Alan dengan lembut.
"Yang lain bagaimana?" tanya Senja.
Semuanya langsung mengangguk, ia saat di rumah nanti akan memperkenalkan suaminya kepada teman-temannya. Walau dia tahu yang lain sudah tahu siapa Satya Nugraha, Diana menatap wajah Senja dengan arti yang berbeda.
Setelah selesai kelas, kini Senja dan Diana rencana akan langsung pulang. Senja segera mengirimkan alamatnya ke grup kelompoknya, tak lama mereka hanya balasan oke.
Kini Senja dijemput oleh pak Yanto, sedangkan Diana dijemput oleh Ranga. selama diperjalanan baik Ranga dan Diana hanya diam, Diana merasa dadanya berdegup kencang.
"Mau kemana dulu?"tanya Ranga.
"Langsung pulang saja, Kak," jawabnya sambil tersenyum.
Ranga hanya menganggukkan kepalanya, kini mobil langsung menuju butik yang belum dibuka.
"Kakak langsung ya, masih banyak pekerjaan," ucapnya sambil tersenyum menatap Diana.
"Iya Kak, maaf sudah merepotkan," ujarnya.
Ranga segera masuk mobil dan melambaikan tangan ke arah Diana dan sebaliknya Diana juga membalas lambaian tangan Ranga.
Diana mengusap dadanya sambil tersenyum, ia merasa begitu bahagia saat melihat Ranga tadi menjemputnya.
Bunda Fifi yang melihat anaknya senyum-senyun sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Cie...yang baru diantar pulang, dunia teras milik berdua," goda Bunda sambil tersenyum.
"Ih... Bunda kok jadi ledekin sih," ucapnya sambil tersenyum malu.
__ADS_1
Tawa Bunda Langsung pecah saat melihat anaknya menjadi salah tingkah, akhirnya keduanya segera naik ke lantai dua.
"Bunda nanti jam 4 sore Diana belajar kelompok dirumah Senja ya," katanya sambil duduk disamping Bundanya.
"Dijemput lagi enggak," kata Bunda sambil mengedipkan matanya.
"Bunda udah dong,....," katanya dengan wajah yang merona.
Bunda Fifi terkekeh, kemudian ia mulai menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tadi.
*******
Dikediaman Satya.
Senja yang baru sampai, segera pergi kedapur untuk mengambil minuman dikulkas, bik Sum yang melihat Nonanya sudah pulang segera menghampirinya.
"Nak.. nanti jadi belajar kelompoknya," kata bik Sum dengan lembut.
"Iya jadi Bik, tolong siapkan makanan kecil ya," katanya sambil menaiki tangga.
Istri Satya itu segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, kini ia mulai terlelap.
Waktu menunjukkan jam 3.30, Diana lebih dulu datang, ia segera menghampiri bik Ida yang tengah menyiram tanaman disamping rumah.
"Assalamualaikum Bik," sapa Diana.
"Waalaikumsalam, eh.. sudah datang, ayo masuk kayaknya masih tidur Nona Senjanya," kata bik Ida segera masuk rumah.
Senja yang baru terbangun, segera membersihkan diri setelah itu dia sholat asar terlebih dahulu.
Saat Senja turun melihat ruang keluarga sudah lengkap, ia tersenyum menatap semuanya.
Kini mereka mulai diskusi untuk membagi tugas, Alan mulai membagi tugas sedangkan Senja mulai mencatatnya.
Setelah selesai kini mereka mulai membuka lektopnya masing-masing untuk membuat tugas dari lembaran yang kemarin dibagikan.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam 17.00, kini mereka selingi sambil makan kue yang di suguhkan oleh bik Sum.
Tanpa mereka sadari masuk tiga pria, menuju ruang keluarga. Sari yang pertama melihat itu tak percaya, Satya Nugraha datang kerumah Senja.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab semua kompak.
Alan dan yang lainnya dibuat membeo tak percaya kalau Dosen killer dan Satya datang melihat mereka mengerjakan tugas dirumah Senja.
"Ehmm..maaf ya sebelumnya, mungkin semua bingung kenapa mereka ada dirumah ini sekarang," kata Senja sambil tersenyum.
"Maksudnya?" tanya Leo.
"Gu...gue... sebenarnya istrinya pak Satya Nugraha," kata Senja sambil menatap teman-temannya.
Deg... Sari tiba-tiba menggelengkan kepalanya rasanya ia tidak percaya, semalaman menangisi suami sahabatnya sendiri.
Begitu juga Alan, dadanya begitu sesak saat mengetahui kenyatan yang ada, wanita yang membuatnya jatuh cinta dipandangan pertama ternyata istrinya Rekan bisnis papa Kusuma.
__ADS_1
Leo dan Deo menepuk bahu Alan, keduanya prihatin melihat sahabatnya kembali harus menelan pil pahit saat ia mencintai seseorang ternyata sudah menikah.
"Jadi lo hamil," kata Leo.
Satya tersenyum melihat istrinya, begitu lega saat dia bisa berterus terang dengan sahabatnya.
"Semoga kalian tetap bisa bersahabat dengan baik dengan istri saya," kata Satya.
"Iya Pak Insyaallah," jawab Alan berusaha tegar.
Kini mereka satu persatu pulang, Sari masih terlihat begitu shock hanya diam duduk sambil bersandar.
Diana segera menghampirinya, dia memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Masih ada pak Ibnu," bisik Diana ditelinga sari.
"Huwaaa, Lo tega," ucapnya sambil menangis.
Tak lama Ibnu segera pamit pulang, tapi saat akan sampai pintu luar Sari memanggilnya.
"Pak Ibnu," panggilnya sambil berlari.
"Ada apa?"tanyanya
"Saya numpang enggak ada penolakan," ucap sari sambik berlalu mendahului Dosen killernya.
Ibnu hanya tersenyum menanggapi ucapan Sari mahasiswinya, kemudian ia segera masuk mobil yang di ikuti oleh Sari.
Selama diperjalanan sari tidak bisa diam dia terus cerita tak tentu arah, Ibnu hanya sesekali tersenyum hangat tanpa menatap wanita yang ada disampingnya.
Sari yang merasa dikacangin hanya menghela nafas panjang, dari tadi ia panjang kali lebar bicara orang disebelahnya hanya diam.
"Bapak itu ya kebangetan, bilang kek iya Sari," katanya sambil menghentakkan kakinya di mobil.
Ibnu hanya diam tanpa reaksi, saat Sari begitu kesal kepadanya.
"Bapak itu kalau pacar saya pasti sudah saya putusin tiga tahun yang lalu, nyebelin!" ucapnya tidak berhenti juga.
Tiba-tiba Ibnu menepikan mobilnya, lalu ia menatap wajah Sari lekat, Sari langsung terdiam ia tidak berani bergerak melihat Dosennya menatapnya dengan Intens.
Cup..
Sari langsung melotot sambil memegang bibirnya yang baru di rengut kesuciannya oleh lelaki yang bersetatus sebagai Dosennya.
Ibnu melihat reaksi Sari tersenyum, ia kemudian mengemudikan lagi mobilnya.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
🌾 Takdir Cinta Khansa
__ADS_1
🌾 Menikah Muda
✍️ cerpen