PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 54


__ADS_3

Pagi ini sekitar jam 9 Kakek Roby akan dipindahkan keruang rawat, karena kondisinya semakin banyak kemajuan.


Rendy bernafas lega melihat kesehatan Papanya yang semakin membaik, begitu juga dengan Mama Marni sekarang bisa tersenyum dengan bahagia.


Mentari duduk, ada rasa takut dihatinya saat nanti Papanya sadar. Yoga yang menangkap kegelisahan dari Istrinya mengemgam tangannya untuk memberikan ketenangan.


Ronald orang kepercayaan Papa Roby mendatangi Mentari dan Senja.


"Tari, Senja bisa Om bicara sebentar," kata Ronald.


Mentari menatap Yoga dan Satya ada rasa ragu di hati Satya saat Ronald ingin bicara dengan Istrinya.


"Apa kami boleh ikut!" kata Satya


"Baiklah kita bicarakan di taman," ujar Ronald.


Mereka berjalan mengikuti Ronald ke arah taman rumah sakit.


"Ada apa Om?" tanya Mentari.


"Seperti yang sudah kita ketahui, Papamu terkena serangan jantung karena kalian!" ucap Ronald menatap Satya dan Senja dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Satya.


"Tapi Kek...," ucap Senja langsung diberi kode oleh Satya, akhirnya Senja hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu ini Senja! apa belum cukup Kakekmu terkena serangan jantung!" bentak Ronald menatap Senja dengan tatapan membunuh.


Satya mencoba menahan emosinya, di genggamnya tangan Istrinya dengan erat.


Mentari menangis melihat anaknya dibentak oleh orang kepercayaannya Papanya. Yoga matanya sudah memerah andai tidak diberi kode Satya untuk tenang, pasti Yoga sudah menghajar lelaki paruh baya didepannya.


"Sekarang kalian sebaiknya pergi dari rumah sakit ini, kalau kalian ingin melihat Kakek kalian panjang umur!" kata Ronald dengan tatapan tajamnya.


Tangis mentari semakin terisak, Senja ingin rasanya menghajar lelaki arogan yang ada didepannya.


Tanpa permisi keempatnya segera pergi meninggalkan taman dengan luapan emosi yang tertahan, Senja yang sudah merekam ucapan pria arogan itu segera mengirimkannya ke Rendy.


Seulas senyum tersungging di bibirnya, mungkin orang akan menganggapnya kekanakan. Satya sempat memicingkan matanya kearah Istrinya, merasa ada yang disembunyikan.


Yoga hanya diam, membuat Mentari sangat bersedih. Mobil warna silver berhenti tepat di samping mereka berdiri.


"Perlu tumpangan?" tanya Ayah Nugraha sambil mengedipkan matanya.


Tanpa menunggu lama mereka masuk mobil, Bunda merasa heran melihat kearah belakang.


"Ayah dari mana?" tanya Satya.


"Tadinya mau jenguk Pak Roby, tapi malah mendengar live drama," jawab Ayah Nugraha.


Satya hanya tersenyum mendengarnya, tak lama handphonenya Senja berdering, dilihatnya Rendy menghubunginya.


"Halo Om," kata Senja.


"Kamu dimana?" kata Rendy terdengar panik.

__ADS_1


"Dijalan," sangah Senja.


"Berikan handponenya ke Satya," ucap Rendy.


Senja menari nafas panjang, diliriknya Suaminya. Satya tersenyum melihat istrinya yang masih kesal kepadanya.


"Apa?" bisik Satya.


"Om Rendy mau bicara dengan Om Satya," kelakar Senja.


Satya yang mendengar istri memanggilnya Om langsung memeluk pinggang wanita yang duduk disebelahnya.


Ayah dan Bunda hanya tersenyum mendengar bisi-bisik anak dan mantunya.


"Kita langsung kerumah Ayah saja," ujar Satya setelah menerima telepon Rendy.


"Kenapa tidak kerumah kita saja Bby," elak Senja.


"Kakek sudah sadar saat Kakek menayakan Ibu, Rendy bilang sudah pulang ke Jakarta." kata Satya.


"Kenapa begitu?"tanya Senja.


"Karena kita sedang menyelidiki kelemahan Om Ronald," terang Satya.


Semuanya diam saat mendengar penjelasan dari Satya, Ayah Nugraha hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya.


"Itu hal yang mudah, nanti sampai rumah kita bicarakan lagi karena ada hal yang belum kalian ketahui.” Papar Ayah Nugraha.


Jarak tempuh rumah sakit dengan rumah Ayah Nugraha tidak terlalu jauh hanya butuh waktu 45 menit mobil sudah memasuki pintu gerbang warna hitam yang kokoh.


Mentari memeluk bik Sum dengan tangisan yang pecah keduanya larut dalam kesedihan.


Bik Sum orang satu-satunya yang menjadi saksi bagaimana Mentari bertahan membesarkan Senja tanpa adanya suaminya.


Yoga memeluk wanita yang sudah dianggapnya seperti Ibunya, lewat Bik Sum Yoga bisa mengetahui bagaimana kabar istri dan anaknya.


"Kenapa Bibik tidak pernah kabarin Yoga lagi?" tanya Yoga.


"Maaf, waktu Bibik telpon ketahuan Tuan besar Nak," jawab Bibik.


"Ia enggak apa-apa Bik," jawab Yoga sambil tersenyum.


"Bik tolong antarkan mereka untuk istirahat," perintah Bunda.


"Baik Nyonya," jawab Bik Sum.


Satya duduk di sofa ruang keluarga, dia begitu lelah selain kurang tidur dirinya terlalu banyak memikirkan masalah kantor dan keluarga Istrinya.


Ayah Nugraha menghampir anaknya, ditepuknya bahu Satay. Memberikan semangat kepada anak semata wayangnya.


"Ini namanya cobaan hidup, ingat setiap masalah pasti ada penyelesaiannya." ujar Ayah.


"Ia Yah, Terimakasih," jawab Satya tersenyum.

__ADS_1


"Istirahatlah, Nak," ucap Bunda yang duduk disampingi Suaminya.


"Satay tidur di kamar tamu saja ya, Yah." sela Satya.


Bunda yang mendengar ucapan anaknya terkejut, diperhatikannya wajah Satya dengan seksama.


"Apa kalian bertengkar," sergah Bunda.


"Enggak Bun cuma kalau Satya dekat-dekat Senja, jadi enggak bisa tidur." jelas Satya.


Ayah dan Bunda hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan anaknya.


"Kalau pisah gitu kapan kalian kasih Bunda cucu," kelakar Bunda.


"Nanti malam Bun," jawab Satya.


Ayah Nugraha langsung tertawa lepas mendengar ucapan anaknya, sedangkan Bunda hanya mendengus melihat anak dan suaminya.


Satya yang baru sampai kamarnya, tertegun melihat istrinya menangis terisak sambil duduk dilantai dengan menengelemkan wajahnya di lutut.


Satya menghampirnya kemudian menarik Istrinya dipeluknya, dia berusaha memenangkan Istrinya.


Setelah Senja tenang, Satya memegang kedua tangan Senja.


"Ada apa?" tanya Satya.


Senja memberikan handphonenya kepada suaminya, Satya melihat handpone Istrinya.


Ada pesan dari Rendy, kalau Kakeknya tidak maslah tidak bertemu dengan Mentari dan dirinya.


"Kita doakan yang terbaik buat Kakek, semoga Kakek segera sehat." kata Satya.


Senja memeluk suaminya menumpahkan segala kegundahan hatinya yang selama ini ia pendam sendiri, Satya yang mendengar tangis Isak Istrinya hanya bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan.


"Menangislah jika itu membuatmu tenang," ujar Satya.


Senja setelah tenang mulai menceritakan kepada suaminya bagaimana dulu dia seorang diri memikul ejekan dan hinaan kawan-kawan sekolahnya.


Sering dikatakan anak haram, karena setiap ada kegiatan hanya Bik Sum dan Mentari yang datang, Kakek Roby tidak pernah memperdulikan bagaimana ia menghadapi dunia luar.


Satya ikut merasakan bagaimana Senja menjadi bulian dari teman-temannya karna tidak pernah memiliki Ayah.


"Sekarang kalau masih ada hal seperti itu bilang sama Bby," ucap Satya tegas.


"Terima kasih Bby," ucap Senja.


"Ia sama-sama sayang, sekarang istirahatlah jangan terlalu berat memikirkan hal sesuatu yang tidak penting," ujar Satya.


Satya membantu Istrinya untuk berbaring dikasur, kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya disamping Istrinya.


Baru saja matanya akan terpejam handponenya bergetar tanda ada pesan masuk dari Arnold, Saat Satya membuka pesannya seketika matanya melotot.


Satya mengepalkan kedua tangannya, rahangnya menegang menahan luapan emosi yang siap meledak, sekilas Satya melirik Istrinya yang sudah terlelap.

__ADS_1


Bersambung nya..jangan lupa like dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏


__ADS_2