PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
peyusub


__ADS_3

Desti membuka pintu rumah kedua orang tuanya yang sudah tiada itu. Wanita itu berjalan sambil mengibaskan tangannya karena debu yang membuatnya sesak.


Desti membuka kamar kedua orang tuanya, ia duduk di tepi kasur yang tertutup kain putih itu.


Setelah ibunya tahu kalau Rahma meninggal karenanya, sang Ibu tiba-tiba terkena serangan jantung, tapi sayang sampai rumah sakit wanita itu telah tiada.


"Semua pergi karenaku." Desti tersenyum getir.


Ia begitu ingat, kalau Ibunya tidak pernah peduli karena dirinya anak dari wanita yang merusak rumah tangganya, hingga Ayahnya mengajaknya untuk tinggal bersama Ibunya.


Dibukanya kain yang menutupi figura itu, matanya menatap Ayah dan Ibu serta Rahma di sana sedang tersenyum manis.


"Kalian begitu bahagia, tetapi tidak untukku yang dijual oleh ibuku sendiri demi bisa berjudi," kata Desti menatap sinis ketiga orang yang berada di dalam figura itu.


Matanya nyalang menatap lemari yang berada di samping ranjang. Perlahan Desti membukanya, barang-barang masih utuh dan tertata rapi walau terlihat unsang.


Lima tahu setelah kejadian itu, baru kali ini ia kembali ke rumah orang tuanya. Desti mengambil berkas yang ada di dalam laci lemari.


Matanya seketika melebar saat menemukan foto Ibu kandungan serta Ibu tirinya itu.


Desti melempar begitu saja foto itu, ia tidak peduli dengan hubungan keduanya.


Kamar yang tadinya rapi kini sudah seperti kapal pecah, semua kain dan kertas bertebaran di mana-mana.


Merasa tidak mendapatkan apa-apa, Desti masuk kamar Rahma.


Matanya langsung tertuju di lantai yang menjadi saksi ia merenggut nyawa kakak tirinya itu.


Dilihatnya sekeliling kamar Rahma, wajah Desti tersenyum saat melihat figura. Di mana ada foto Ibnu yang terlihat begitu tampan sedang memeluk Rahma dari belakang.


Diambilnya foto itu lalu disobeknya yang ada Rahma. Senyum terukir di bibirnya, tetapi sedetik kemudian ia menangis saat sadar kalau pria yang berada di fotonya bukan menjadi miliknya lagi.


"Akan ku bunuh dia, seperti aku menyingkirkan Rahma.

__ADS_1


Desti membaringkan tubuhnya di ranjang milik kakaknya, lama- lama matanya terpejam dan kini ia sedang bermimpi dalam tidurnya.


.


****


Di kediaman Nugraha.


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, di sinilah semua berkumpul untuk acara syukuran akikah Jingga dan El.


Tamu yang datang hanya rekan bisnis dan keluarga terdekat saja sesuai apa yang diinginkan oleh Senja. Wanita itu terlihat begitu anggun dengan gamis brokat dan jilbab berwarna senada dengan gamisnya.


Satya yang tidak kalah tampan dengan mertuanya, kedua pria itu memakai pakaian berwarna sama dengan yang dikenakan oleh istrinya masing-masing.


"Lo kenapa?" tanya Yoga pasalnya menantunya itu terlihat begitu gelisah saat ini.


"Perasaan gue nggak enak," kata Satya.


Yoga berjalan menuju salah satu ruangan, pria itu mencoba menenangkan hatinya. Ia berharap acara berjalan dengan lancar.


Di ruang tamu dan keluarga diubah oleh Bunda menjadi lapang, entah dimana barang-barang dipindahkannya. Ayah Nugraha dan Ranga sibuk menyambut tamu yang berdatangan.


Senja tersenyum saat melihat Sari dan sahabat yang lainnya datang. Sari langsung memeluk Senja, Alan akan memeluknya juga langsung ditahan oleh Ibnu.


Mata senja menyipit saat melihat Leo berjalan bersama wanita tapi ia seperti tidak asing dengan wajah itu.


"Dia kembaran Deo baru sampai," ujar Sari.


Senja hanya mengangguk, pantas sedari tadi melihatnya seperti tidak asing lagi.


Kini semua sudah hadir acara demi acara berjalan dengan lancar, Tamu undangan sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Semua sedang berbahagia saat ini, hingga tidak ada yang menyadari kalau ada tamu yang tidak undang datang. Sosok, yang kini sedang memakai baju berwarna hitam dan masker menutupi wajahnya.

__ADS_1


Matanya menatap satu- persatu orang yang berpapasan dengannya. Hingga matanya kini menemukan seseorang Yang sengaja sedari tadi dicarinya dan berkata."Sekarang tertawalah, dan sebentar lagi  akan menjadi tangis dar setiap kata-katamu." 


Satya dan Leon sedang mengobrol mengenai kerja sama perusahaannya, pria itu sedari tapi memperhatikan tamu yang pakainya berbeda dari yang lainnya. Diam-diam sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya sosok yang kini terlihat sedang menyembunyikan jati dirinya.


Leon menyuruh anak buahnya untuk berjaga di luar, kini tamu undangan satu persatu sudah mulai meninggalkan kediaman Ayah Nugraha. Satya dan yoga sibuk mengucapkan terimakasih dan membagikan amplop kepada anak-anak yatim piatu.


Leon begitu kesal karena ia kehilangan jejak wanita tadi, kini ia berjalan menuju arah taman belakang, sekilas ia melihatnya lagi, tapi sepertinya wanita itu tahu jika sedang ia ikuti.


Leon kembali lagi berkoordinasi lagi dengan anak buahnya, ia masuk dan mulai mencari keberadaan wanita misterius tadi.


Leon melihat Sari dan Senja sedang berfoto bersama Jingga dan El, senyum pria itu terlihat tulus saat melihat kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya.


Matanya kini mulai mengawasi para keluarga besar Satya, matanya melebar saat melihat bayangan yang bersembunyi di baling pilar besar yang tak jauh dari Ayah Nugraha dan istrinya sedang duduk.


Leon meminta anak buahnya untuk masuk lima orang untuk mengunci pergerakan lawan, ia takut wanita itu akan berbuat nekat untuk membuat Ayah Nugraha, hingga anak buahnya mengajak pria paruh baya itu untuk menjauh dari pilar, saat keduanya sedang berjalan untuk menjauh. Leon melihat wanita itu menyembunyikan sesuatu dari balik bajunya.


Saat Leona ingin mendekat supaya ia bisa tahu apa yang diinginkannya karena sedari tadi hanya menguntit saja, Apa orang gila yang menyelinap masuk. Satya yang melihat anak buah rekan bisnisnya ikut masuk merasa aneh.


"Ada apa?" tanya Satya.


"Enggak ada," jawab Leon.


Satya hanya menarik napas dalam, Senja berjalan ke arahnya sedangkan Sari duduk sambil bermain dengan bayi lucu itu. Sari membalikan tubuhnya membelakangi pilar besar itu. Seakan ingin melindunginya.


Leon melihat pandangan orang itu kini menatap Sari, pria itu merasa dijebak Karena bukan Ayah Nugraha yang diincarnya melainkan Sari kalau enggak Suci yang kini baru datang.


Leon berjalan menjauh dari Satya, pria itu lagi-lagi mengikuti wanita yang mencurigakan. Legat dari wanita itu begitu mencurigakan buat kelima anak buahnya Leon.


Leon berjalan cepat menuju ke arah Satya dan Yoga yang sedang saling ledek karena memang di pertama kali saja.


Mata Leon melebar saat  melihat wanita itu mengeluarkan pistol dan kini mengarahkan ke Sari yang sedang duduk sendiri sambil memangku El anak Yoga dan Mentari.


Leon berlari dan langsung memeluk Sari dari belakang dan terdengar suara tembakan. Hal itu membuat yang lain kocar- kacir. Sari tubuhnya bergetar saat mendapatkan pelukan dari Leon sepupu dari Diana itu.

__ADS_1


__ADS_2