PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Satya makin posesif


__ADS_3

Ranga tidak menyadari kalau jam sudah menunjukan pukul empat itu artinya sebentar lagi adzan subuh berkumandang.


"Mas," panggil Diana yang masih terlihat mengantuk. 


"Yang, kok udah bangun?" tanya Ranga saat melihat istrinya keluar kamar.


"Mas ini jam berapa, kok kamu sudah bangun?" tanya Diana yang ikut duduk di depan Ranga.


"Sudah mau subuh, kamu kenapa juga jam segini sudah bangun, Yang?" tanya Ranga.


Diana yang masih mengantuk menguap beberapa  kali dan menjawab."Aku lapar sayang."


Ranga tersenyum, ia rasa karena istrinya hamil jadi jam segini sudah lapar. Pria itu tidak ada salahnya selama di rumah sakit ia mencari tahu tentang informasi  seputar kehamilan. 


"Mau makan apa? Biar  Mas buatkan, Yang." Ranga beranjak dari duduknya berjalan menuju dapur  dibukanya kulkas untuk mencari bahan.


Diana yang sudah  membuka matanya, mengikuti suaminya keduanya kini sama-sama  mantap isi kulkas  yang tinggal ada telur dan sayur sawi dan wortel.


"Hanya ada ini, Yang." Ranga memperlihatkan telur tiga butir kepada istrinya.


Diana ingat masih menyimpan mie goreng langsung membuka lemari tak jauh dari kulkas.


"Kita masak mie aja, Mas." Diana mengambil dua bungkus mie instan.


"Yang itu-." Diana langsung menggerakkan jadinya supaya suaminya diam.


Ranga hanya menarik napas dalam dan menghembuskan dengan kasar dan berkata." Ini tidak baik untuk anak kita."


"Sekali ini saja, aku sudah lapar Mas." Diana langsung mengecup pipi suaminya lalu ia menghidupkan  kompor dan mengisi air di panci.


Ranga hanya menatap istrinya yang begitu terampil, tidak menunggu lama mie goreng dua piring  sudah tersaji di meja makan.


"Mas mau pakai cabai rawit," tawar Diana.


"Enggak," tolak Ranga.


"Huff, syukurlah karena tinggal dua butir," kata Diana sambil terkekeh.


"Nanti pas belanja beli Yang, kamu paling suka pedas," ujar Ranga.


Diana hanya mengangguk, dan berkata." Si rawit lagi naik daun, mahal banget, Mas."


"Kalau butuh beli," jawab Ranga sambil mengobrol.


Keduanya selesai makan saat adzan subuh berkumandang, Diana membersihkan  piring sedangkan  Ranga masuk kamar karena selama menikah saat subuh ia akan sholat di masjid  tidak jauh dari butik.


Diana membuka pintu, wanita itu begitu terpesona  melihat suaminya yang sudah rapi dengan baju koko dan sarung.


"Yang, peciku mana ya?" tanya Ranga.


Ranga yang merasa tidak ada sahutan dari istrinya menoleh, keningnya mengernyit karena Diana hanya bengong menatapnya.


"Yang, hai!" seru Ranga melambaikan tanganya di depan wajah istrinya.


Diana yang baru sadar hanya bisa menggaruk kepalanya dan bertanya."Mas cari apa?"


"Peci sayang," jawab Ranga.

__ADS_1


Diana meminta suaminya untuk menyingkir dan berkata."Ini."


"Makasih aku pergi dulu," pamit Ranga.


Diana hanya mengangguk, wanita itu menarik napas dalam dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyelesaikan ritualnya. Lima belas menit kemudian ia selesai dan langsung melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Setelah selesai sholat Diana akan selalu membaca mengaji dan mendoakan Ayahnya yang lebih dulu mendahuluinya. Disela-sela doanya Diana meneteskan air matanya dan berkata."Ayah Bunda akan menikah dengan Papa Ferdi, semoga ini terbaik buat Bunda ya, Yah."


Tanpa Diana tahu jika Fifi sudah berdiri di belakangnya, Wanita itu tahu pasti menantunya masih di masjid jam segini.


Fifi meneteskan air matanya, saat mendengar apa yang dikatakan putrinya. Diana yang mendengar isak tangis di belakangnya langsung menoleh."Bunda."


Fifi memeluk putrinya yang masih memakai mukenah itu sambil berkata."Maafkan Bunda, Nak."


"Kenapa Bunda minta maaf?" tanya Diana.


"Harusnya Bunda tidak menerima ajakan Papa Ferdi untuk menikah," ujar Fifi.


Diana terkejut, ia sudah menebak jika wanita yang sudah melahirkannya itu mendengar apa yang ia ucapkan tadi.


"Bunda, jika itu membuat Bunda bahagia kenapa tidak. Pasti Ayah juga akan mendukung dan bahagia karena ada pria yang mau menjaga wanita yang begitu dicintainya," jelas Diana sambil memeluk Bundanya erat.


Pintu terbuka, Ranga yang baru pulang terkejut karena mertuanya menangis di kamarnya dan bertanya."Ada apa?"


"Mas, sudah pulang," kata Diana sambil mengurai pelukannya kepada Bundanya.


Ranga hanya mengangguk dan menatap mertuanya intens lalu bertanya." Apa Bunda Baik-baik saja?"


Fifi hanya mengangguk dan bertanya."Kalian mau sarapan apa biar Bunda buatkan?" 


"Benarkah?" tanya Fifi lagi karena ini masih begitu pagi untuk sarapan.


"Cucu Bunda sudah lapar sebelum subuh," jawab Diana karena melihat Bundanya yang merasa heran.


Fifi yang mengerti hanya mengangguk tanda ia mengerti dan keluar kamar, Setelah pintu tertutup Ranga duduk di tepi ranjang menatap sang istri yang sedang membereskan alat sholatnya.


"Bunda kenapa, Yang?" tanya Ranga.


"Lagi kangen sama Ayah kayaknya, Mas." Diana menjawab dengan santai ia tidak tahu kalau ekspresi suaminya terkejut.


"Kamu jangan mengada-ngada, dua hari lagi Bunda mau menikah," ucap Ranga.


Diana hanya diam, Lalu wanita itu duduk di samping suaminya dan berkata."Bunda merasa bersalah karena seakan mengkhianati Ayah mungkin, Mas."


"Jangan berpikir kejauhan, kita tidur aja aku mengantuk," ajak Ranga.


Diana hanya mengangguk karena wanita itu juga sangat mengantuk, tidak lama keduanya tertidur.


****


Di kediaman Ayah Nugraha, pagi ini seperti biasa sarapan bersama bedanya sekarang ada Arga dan istrinya. Selama sarapan hanya ada keheningan.


Jingga yang  diam bersama bik Ida sedang duduk di ruang keluarga, setelah selesai sarapan mereka bergabung ke ruang keluarga.


Satya yang ingat jika hari ini sang istri akan ke kampus entah mengapa ada rasa ragu jika Jingga akan ditinggalkan hanya dengan Bik ida dan Neneknya.


"Yang, jam berapa nanti ke kampus?" tanya Satya.

__ADS_1


Mendengar itu Ayah Nugraha dan lainnya langsung menatap ke arah Senja yang sedang bermain dengan putrinya.


"Jam sepuluh," jawab Senja sama sekali tidak terganggu dengan tatapan semua orang ke arahnya.


"Apa Jingga diajak?" tanya Arga.


"Enggak Kak, aku hanya sebentar saja," jawab Senja.


Satya sebenarnya ingin meminta tolong saja kepada Ibnu, Tetapi sang istri menolaknya karena tidak ingin memanfaatkan jika suaminya yang memiliki kampus itu.


"Biar Jingga sama Nenek dan Mbak Ida," kata Ayah Nugraha.


"Mbah Ida," kata yang lainnya kompak.


Bika Ida yang duduk dekat Senja sambil menunduk malu, sedangkan Satya menatap ke arah istrinya.


"Kenapa Mbah?" tanya Satya.


"Kalau panggil Tante nggak sopan," jawab Senja yang langsung di cupit lengannya oleh Suci.


Satya hanya menatap datar istrinya, sedangkan Bunda tersenyum ia tahu jika putranya itu keberatan. Namun, itu sudah keputusan Senja jika Jingga akan memanggil Mbah kepada Bik Ida dan Bik Sum.


"Nanti kamu tunggu di rumah aku yang akan mengantar setelah meeting," ujar Satya.


"Mas," kata Senja karena ia akan mengobrol dulu dengan sahabatnya di kantin.


"Tidak ada penolakan, Yang." Satya beranjak dari duduknya.


Senja yang tahu suaminya tidak terbantahkan mengikutinya sambil mengikutinya sambil menggendong putrinya untuk mengantar Satya pergi kerja.


"Sayang, Papa berangkat dulu."Satya mengecup pipi gembul putrinya  ia juga mengecup kening istrinya.


"Hati-hati, Papa." Senja mengikuti gaya anak kecil sambil melambaikan tangan Jingga ke suaminya.


Satya sebelum masuk mobil tersenyum menatap istri dan anaknya, tidak lama ia masuk mobil dan membunyikan klakson. Pria itu semenjak Ranga pindah sekarang mau tak mau mengemudikan mobilnya sendiri.


Hingga mobil suaminya sudah tidak terlihat lagi, barulah Senja membawa istrinya masuk. Wanita itu kembali bergabung bersama yang lainnya. Arga sebenarnya iba terhadap Senja, sikap posesif Satya itu ia rasa terlalu berlebihan.


"Padahal tadi bisa pergi bersamaku ke kampus, Ja."Suci memecahkan keheningan.


"Tumben?" tanya Arga menatap istrinya.


"Aku mau lihat kampus Senja, Mas." Suci tersenyum menatap suaminya.


"Nanti ikut saja, Kak!" kata Senja.


Suci tersenyum, wajah wanita berseri karena ibu satu anak itu akan mengajaknya. Arga ikut bahagia saat senyum manis terbuat dari bibir istrinya.


"Lain kali aja ya!" pinta Arga.


Suci menatap suaminya merasa tidak suka."Kok gitu."


Arga tersenyum menatap istrinya dan berkata."Kita bulan madu aja lagi selagi masih libur."


Suci menatap suaminya tidak percaya membuatnya malu karena mengatakan itu di depan mertuanya dengan geram ia berkata."Mas!"


Bersambung ya....

__ADS_1


__ADS_2