PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Bertemu Diana


__ADS_3

Satya ikut bergabung, kini Ranga duduk di samping Satya sedangkan Senja di depan kedua pria itu.


"Gue tahu lo akan mengambil keputusan yang tepat, tetapi alangkah baiknya lo temui Bunda Fifi dulu sebelum memutuskan apa yang terbaik buat rumah tangga kalian nantinya." Satya mencoba mengingatkan adiknya.


"Kak, aku harap kakak datang buat jenguk Diana di rumah sakit. Bagaimanapun wanita itu masih istri Kakak, walau sikapnya salah," ujar Senja.


"Iya makasih," ucap Ranga.


"Besok kalau Kakak mau aku temani," tawar Senja hingga Satya menatap istrinya itu dengan tatapan yang berbeda.


"Besok gue temani, entar lo sedih peluk bini gue," kata Satya kesal.


Ranga hanya menggelengkan kepalanya, Satya yang sudah terpapar bucin akut itu sudah membedakan saudara dan orang lain membuat pria itu begitu membatasi istrinya.


"Jangan terlalu erat menggenggamnya, bisa jadi dengan mudah ia akan lepas," ucap Ranga.


"Adik laknat doakan kakaknya sendiri pisah!" kata Satya kesal.


Pertengkaran itu terhenti saat Yoga datang sambil memangku El, pria itu menatap Satya yang terlihat kesal dan bertanya."Kenapa?"


Satya hanya menaikan bahunya dan bertanya."Senja, kalian sudah amankan, Ayah dan Ibu harus cepat pulang ke Jakarta, Nak?" tanya Yoga.


"Kenapa buru-buru, Yah?" tanya Senja yang masih begitu rindu dengan kedua orang tuanya itu.


"Pekerjaan Ayah banyak yang tertunda, sedangkan lusa harus meeting bulanan," sahut Mentari.


Senja menatap sendu Ibunya itu, melihat itu Mentari memeluk putrinya yang sudah dewasa sekarang. 


"Ayah juga akan membawa Ilham untuk ke Jakarta," kata Yoga.


Satya dan Senja saling pandang dan bertanya." Bukannya Ilham kerjasama Leon?"


Yoga hanya menaikan bahunya, entah kenapa ada rasa takut jika membawa Ilham ke Jakarta.


"Lo jangan khawatir, anak itu akan tinggal di apartemenku yang lama," ujar Yoga yang bisa membaca rasa khawatir menantunya itu.

__ADS_1


Senja merasa tidak enak juga ingin rasanya mencegah sang Papa untuk tidak membawa sahabatnya itu. Namun, alasan apa yang mampu ia katakan nantinya.


Senja menatap Ibunya dan bertanya." Apa Ibu yakin?" 


Mentari tersenyum dan berkata."Tadi Ilham datang dan menawarkan diri untuk ikut karena kamu sudah ada Satya yang menjaga."


Senja memejamkan matanya dan menatap Ayah dan Ibunya, wanita itu bagaimana jika sahabatnya jahat kepada kedua orang tuanya  nantinya.


*****


Pagi harinya Ranga bangun seperti biasanya, dilihatnya Bik Sum sedang menyiapkan sarapan dan bertanya."Bik kopi satu."


"Udah kayak di warteg saja," sahut Arga yang melihat tingkah adiknya sudah mulai seperti semula.


Dari malam Ranga berpikir ia tidak ingin dikatakan suami yang tidak bertanggung jawab membiarkan istrinya sakit sendirian. Ia juga sudah meminta nasehat Ayah Nugraha dan Bunda jika ia akan menemui Diana hari ini ke rumah sakit.


Kini keluarga besar itu sedang berkumpul untuk sarapan bersama. Setelah selesai Ranga langsung pamit, walau awalnya Satya ingin menemaninya. Namun jawaban Ranga begitu membuat semua tertegun.


Ranga ingin menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri tanpa ikut campur orang ketiga. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah padatnya lalu lintas kota Surabaya.


Selama dalam perjalanan pria itu hanya fokus jalanan saja, setelah empat puluh menit mobil itu memasuki area parkir rumah sakit di mana istrinya dirawat.


Perlahan Ranga membukanya dan mengucapkan."Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab semua yang berada di kamar rawat Diana ada Ferdi dan Bunda Fifi.


Wanita itu berjalan mendekati Ranga dan berkata."Terimakasih sudah mau datang menjenguk Diana, Nak."


"Gimana kabarnya Bun?" tanya Ranga menatap datar wanita yang kini sedang tertidur itu.


Ranga sebenarnya merasa iba, tapi mengingat apa yang dilakukan istrinya itu membuat hatinya begitu sakit yang membuatnya malu kepada Ayah dan Bundanya.


"Bunda tahu ini berat untuk kalian berdua, tapi percayalah Bunda tidak tahu apa alasannya itu." Wanita itu menatap putri semata wayangnya yang ia kira berubah ternyata diam-diam Diana mengkhianati.


Ranga jujur dalam hatinya masih  begitu mencintai istrinya, karena cinta tulus itu yang kini membawa langkah kakinya sampai di depan istrinya.

__ADS_1


Perlahan Diana membuka matanya, wanita itu menatap kosong langit-langit kamarnya dan bertanya."Bunda aku ingin ikut Ayah dan anakku saka." 


"Sayang dengar Bunda, kamu tidak sendirian, lihat siapa yang datang," ujar Fifi menatap penuh harap.


Ranga berjalan mendekati brankar istrinya, ingin menanyakan kabar istrinya lidahnya rasanya kelu. Hanya bisa menatap dalam diam.


Diana menatap dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya, mata keduanya saling beradu memancarkan rasa rindu dan cinta.


"Mas, Anak kita," kata Diana sambil terisak.


Melihat pasangan itu membutuhkan waktu untuk berbicara  Feri dan Fifi keluar dari ruang rawat. Setelah mertuanya pergi, Ranga duduk di kursi samping istrinya.


"Mas maafkan aku, tidak seharusnya aku melakukan ini. Apa pun keputusanmu aku akan terima." kata Diana karena ia tahu kesalahannya begitu fatal.


Ranga hanya diam saja menatap istrinya datar, wajah tampan itu sama sekali tidak menguap ekspresinya sama sekali, Diana memiringkan tubuhnya. Wanita itu menyentuh tangan Ranga dan meletakan di atas kepalanya dan berkata." Aku akan tetap mencintaimu, Kak."


Diana melepaskan genggaman tangannya, wanita itu mengerti jika suaminya begitu kecewa hingga ia tidak bisa mengatakan apa-apa kepadanya. 


"Pulanglah Mas!" usir Diana sambil tersenyum paksa.


Ranga hanya diam, pria itu hanya ingin memastikan jika istrinya baik-baik saja. Sedangkan ia di rumah sudah seperti orang gila. Pria itu beranjak dari duduknya dan bertanya."Saat sidang aku akan datang."


Deg, Diana hanya bisa diam, Fifi yang melihat jika Ranga sudah keluar dari ruang rawat putrinya dengan wajah dingin bahkan pria itu sama sekali tidak peduli  wanita itu setia.


Ranga yang sudah sampai lobi menatap orang berlalu lalang, setelah itu pria itu meminta kepada OB untuk memberikan minuman dan cemilan untuk istrinya karena ia malas.


Tanpa menunggu lama Ranga masuk dalam mobilnya, pria itu melihat Leon bersama Ilham yang ia tahu akan Jakarta bersama Ayahnya.


"Ranga," panggil seseorang yang sedang tidak mau mengganggu .


Faisal yang baru melihat sahabatnya itu merasa khawatir dan bertanya."Kamu baik-baik saja?" 


"Seperti yang kamu lihat. "jawab ranga membuat pria itu menatapnya kesal.


"Aku merasa ada yang berbeda dengan istrimu, ia menangis lagi dan nanti akan histeris memanggil anaknya yang bisa menenangkan adalah suaminya," ujar Faizal.

__ADS_1


Ranga menatap kepergian Faisal, pria itu tidak ingin dengan mudah memaafkan istrinya karena ia tahu jika istrinya dirasa masih sama.


Bersambung ya


__ADS_2