PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Rendy sadar


__ADS_3

Dokter dan empat perawat dalam ruangan itu terkekeh melihat keluarga yang lucu menurut mereka.


"Ayo bu sedikit lagi!" seru Dokter saat melihat kepala bayi yang akan keluar, Popy mengejan dan bersamaan Dokter menggunting inti Popy membuat mata Rendy melotot tidak lama terdengar suara bayi yang menangis.


Dokter memperlihatkan anak Rendy yang berjenis kelamin laki-laki. Bukan senang atau tersenyum wajah Rendy pucat  saat melihat anaknya  masih berlumuran darah itu. Semua terkejut karena Rendy tiba-tiba pingsan.


Bik Sum yang latah tiba-tiba  reflek ikut tergeletak di lantai


"Eh, kok pingsan," kata salah satu perawat  yang melihat tubuh Rendy dan wanita paruh baya itu tiba-tiba  tergeletak.


"Astagfirullah Om, Bik!" seru Senja.


"Eh, maaf," kata Bik Sum malu karena semua perawat  menatapnya.


Senja hanya menggelengkan kepala  saat tubuh Rendy di pindahkan di atas brankar. 


Perawat  langsung membersihkan  tubuh anak Rendy, sedangkan  dokter mulai mengurus Popy.


Bik Sum dan Senja keluar dari ruang bersalin tidak lama ia menghubungi suaminya. Namun, tidak diangkat. Lalu ia mengirimkan pesan  kepada Satya kalau sekarang sedang di rumah sakit.


Senja juga mengirimkan  pesan kepada Mertua dan Ibunya jika anak Rendy sudah lahir dengan selamat.


Sepuluh menit kemudian, Ayah Nugraha  dan istrinya datang karena mereka masih berada di ruang rawat Ranga.


"Sayang," kata Bunda memeluk menantunya.


"Kita tunggu di ruang rawat saja, Bun," ajak Senja.


Mereka kini masuk ke ruang rawat yang sudah disiapkan  untuk Popy.


Ayah Nugraha melihat di ranjang ada Rendy, pria itu menatap ke arah Senja dan Bik Sum.


Senja terkekeh  mengingat  saat Omnya siap melihat anaknya lahir langsung pingsan dan berkata."Tadi pingsan, Yah."


"Kok bisa?" tanya Bunda sambil mendekati brankar di mana Rendy masih belum sadarkan diri.


Senja hanya menggelengkan kepalanya, tidak lama Rendy mengerjapkan matanya. Pria itu menatap Bunda dan Ayah Nugraha.


Saat ia mengingat, langsung bangun bersamaan Popy dan anaknya dibawa masuk ke ruang rawat.


Rendy langsung turun, dan berkata."Maaf."


Popy hanya tersenyum, ia tidak marah memang begitu suaminya. Rendy menatap putranya yang sudah bersih, pria itu sebenarnya penasaran kepada istrinya karena tadi mengingat Dokter mengambil gunting dan langsung terdengar Krek.


"Rendy, Popy selamat ya, Nak. sudah menjadi Papa," kata Ayah Nugraha.

__ADS_1


Rendy hanya tersenyum saat Ayah Nugraha  mengusap bahunya.


Senja merasa tidak tenang karena sudah hampir dua jam meninggalkan  putrinya


"Ada apa?" tanya Rendy kepada keponakannya itu.


"Moga Jingga nggak nangis ya, Om," kata Senja.


"Kamu sudah hubungi Satya, ini terakhir kamu mengemudikan  mobil," ujar Rendy.


"Siapa yang mengemudikan  mobil?" tanya Satya yang baru masuk ruangan bersama  Leon karena tadi baru siap meeting.


Senja hanya tersenyum, ia tidak ingin suaminya tahu. Namun, bukan Satya namanya karena ia tahu gelagat istrinya yang mencurigakan.


Satya menaikan  kedua alisnya menatap Senja. Membuat sang istri  salah tingkah.


"Mas," kata Senja.


"Katakan!"perintah Satya.


"Sat, lo nggak ingin lihat anak gue," kata Rendy untuk mengalihkan  suami keponakannya  itu.


"Jelaskan nanti di rumah," bisik Satya saat melewati  istrinya.


Senja hanya bisa menelan salvianya, wanita itu hanya bisa duduk membayangkan  amukan suaminya saat tahu jika tadi ia mengemudikan  mobil.


Satya hanya diam, sedangkan  Ayah Nugraha  tersenyum menatap kedua pria di depannya.


Rendy  yang tidak ingin ponakannya  dimarahi sahabatnya  itu akhirnya  cerita apa yang sebenarnya  terjadi. 


Mendengar itu Bunda dan Ayah Nugraha  tertawa, sedang  Leon yang menggeleng  kepalanya. Ia saja membayangkan tidak sanggup  karena waktu Senja  melahirkan  membuatnya khawatir  dan panik.


"Jadi mau nambah lagi nggak?" tanya Bunda menggoda Rendy.


Rendy hanya tersenyum  getir, tadi saja ia rasanya mau pingsan lagi . Ditatapnya  istrinya yang terbaring  begitu terlihat lemah.


Rendy berjalan mendekati sang istri dan langsung mengecupnya.


"Terimakasih  sudah melahirkan putra kita di dunia ini," ucap Rendy sambil meneteskan air matanya.


Popy tersenyum dan mengusap air mata Rendy dan berkata." Sudah jadi Papa jangan menangis."


Rendy  tersenyum, diusapnya rambut sang istri. Ia begitu beruntung memiliki istri yang kuat seperti Popy.


Senja yang merasa  diacuhkan oleh suaminya akhirnya  pamit kepada Rendy karena tidak tenang untuk meninggalkan  putrinya lebih lama lagi.

__ADS_1


"Tante, aku pulang ya takut Jingga rewel," pamit Senja.


"Pulang sama siapa?" tanya Bunda karena melihat Satya masih mengobrol dengan Leon serius.


"Naik mobil, ini kuncinya," jawab Senja sambil tersenyum  dan langsung keluar dari ruang rawat Popy.


Senja yang merasa kalau suaminya  tidak mengejarnya menjadi kesal, sedangkan Satya yang berada di ruang rawat Popy  tidak menyadari  jika istrinya sudah pergi.


Satya menoleh ke arah sofa belakangnya, keningnya mengernyit.


"Bini lo pulang bawa mobil sendiri," kata Rendy.


Satya yang terkejut  langsung berjalan keluar ruangan, pria itu begitu merutuki  kenapa bisa lengah.


Satya masuk lift menuju ke lobby, pria itu sesampainya bawah menatap sekeliling dan ke luar menatap area parkiraan, dilihatnya mobil Rendy baru keluar dari gerbang  rumah sakit.


Satya dengan cepat menuju mobilnya dan langsung mengejar mobil yang dikemudikan   istrinya. Setelah ia melihat mobil Rendy, saat akan memotong. Namun, Senja langsung  melajukan  mobilnya lebih cepat dari sebelumnya.


Satay begitu cemas karena istrinya mengemudikan  mobilnya kecepatan tinggi dan sekarang  Senja membelokkan mobilnya ke arah jalan pintas.


Jalan pintas yang dilalu Senja, menuju ke arah  kediaman Ayah Nugraha. Pak Yanto yang melihat mobil Rendy segera membuka pintu gerbang. Tidak lama mobil Satya juga masuk. 


Pria itu keluar lebih dulu, dan langsung mengetuk mobil yang dikemudikan  oleh istrinya.


Senja hanya menarik napas dalam lalu  langsung keluar dan memeluk suaminya sambil berkata."Maaf."


Satya menggendong  istrinya masuk rumah, saat melewati pak Yanto hanya bengong melihat pasangan  suami istri itu Senja mengedipkan matanya  membuat pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya.


Bik Ida yang melihat Senja digendong merasa terkejut, saat ingin pertanyaan Satya sudah memberi kode. Hingga mengurungkan pertanyaannya.


Sesampainya di kamar, Satya membaringkan  istrinya. Pria itu menatap lekat wajah  cantik yang hampir membuatnya  jantungan itu.


"Aku mohon jangan seperti  itu lagi!"pinta Satya.


"Boleh, tapi cium dulu," ucap Senja supaya suaminya tidak marah.


"Dasar istri nakal," kata Satya langsung mendaratkan kecupan di bibir istrinya yang selalu membuatnya candu itu.


Senja dengan senang hati langsung membalasnya, ciuman yang begitu lembut lama-lama menuntut. 


"Kita olahraga siang ya," kata Satya dengan suara seraknya karena menahan sesuatu yang kian membuncah.


Senja yang sudah merasa on juga hanya mengangguk, siang hari mereka meluapkan rasa yang tidak ada habisnya. Hingga keduanya sama-sama ingin meraih kepuasan. Tiba-tiba suara Jingga dan ketukan pintu membuyarkan konsentrasi olahraganya.


"Mas, jingga nangis," kata Senja.

__ADS_1


"Nanggung sayang!" 


bersambung ya...


__ADS_2