
Dokter dan empat perawat dalam ruangan itu terkekeh melihat keluarga yang lucu menurut mereka.
"Ayo bu sedikit lagi!" seru Dokter saat melihat kepala bayi yang akan keluar, Popy mengejan dan bersamaan Dokter menggunting inti Popy membuat mata Rendy melotot tidak lama terdengar suara bayi yang menangis.
Dokter memperlihatkan anak Rendy yang berjenis kelamin laki-laki. Bukan senang atau tersenyum wajah Rendy pucat saat melihat anaknya masih berlumuran darah itu. Semua terkejut karena Rendy tiba-tiba pingsan.
Bik Sum yang latah tiba-tiba reflek ikut tergeletak di lantai
"Eh, kok pingsan," kata salah satu perawat yang melihat tubuh Rendy dan wanita paruh baya itu tiba-tiba tergeletak.
"Astagfirullah Om, Bik!" seru Senja.
"Eh, maaf," kata Bik Sum malu karena semua perawat menatapnya.
Senja hanya menggelengkan kepala saat tubuh Rendy di pindahkan di atas brankar.
Perawat langsung membersihkan tubuh anak Rendy, sedangkan dokter mulai mengurus Popy.
Bik Sum dan Senja keluar dari ruang bersalin tidak lama ia menghubungi suaminya. Namun, tidak diangkat. Lalu ia mengirimkan pesan kepada Satya kalau sekarang sedang di rumah sakit.
Senja juga mengirimkan pesan kepada Mertua dan Ibunya jika anak Rendy sudah lahir dengan selamat.
Sepuluh menit kemudian, Ayah Nugraha dan istrinya datang karena mereka masih berada di ruang rawat Ranga.
"Sayang," kata Bunda memeluk menantunya.
"Kita tunggu di ruang rawat saja, Bun," ajak Senja.
Mereka kini masuk ke ruang rawat yang sudah disiapkan untuk Popy.
Ayah Nugraha melihat di ranjang ada Rendy, pria itu menatap ke arah Senja dan Bik Sum.
Senja terkekeh mengingat saat Omnya siap melihat anaknya lahir langsung pingsan dan berkata."Tadi pingsan, Yah."
"Kok bisa?" tanya Bunda sambil mendekati brankar di mana Rendy masih belum sadarkan diri.
Senja hanya menggelengkan kepalanya, tidak lama Rendy mengerjapkan matanya. Pria itu menatap Bunda dan Ayah Nugraha.
Saat ia mengingat, langsung bangun bersamaan Popy dan anaknya dibawa masuk ke ruang rawat.
Rendy langsung turun, dan berkata."Maaf."
Popy hanya tersenyum, ia tidak marah memang begitu suaminya. Rendy menatap putranya yang sudah bersih, pria itu sebenarnya penasaran kepada istrinya karena tadi mengingat Dokter mengambil gunting dan langsung terdengar Krek.
"Rendy, Popy selamat ya, Nak. sudah menjadi Papa," kata Ayah Nugraha.
__ADS_1
Rendy hanya tersenyum saat Ayah Nugraha mengusap bahunya.
Senja merasa tidak tenang karena sudah hampir dua jam meninggalkan putrinya
"Ada apa?" tanya Rendy kepada keponakannya itu.
"Moga Jingga nggak nangis ya, Om," kata Senja.
"Kamu sudah hubungi Satya, ini terakhir kamu mengemudikan mobil," ujar Rendy.
"Siapa yang mengemudikan mobil?" tanya Satya yang baru masuk ruangan bersama Leon karena tadi baru siap meeting.
Senja hanya tersenyum, ia tidak ingin suaminya tahu. Namun, bukan Satya namanya karena ia tahu gelagat istrinya yang mencurigakan.
Satya menaikan kedua alisnya menatap Senja. Membuat sang istri salah tingkah.
"Mas," kata Senja.
"Katakan!"perintah Satya.
"Sat, lo nggak ingin lihat anak gue," kata Rendy untuk mengalihkan suami keponakannya itu.
"Jelaskan nanti di rumah," bisik Satya saat melewati istrinya.
Senja hanya bisa menelan salvianya, wanita itu hanya bisa duduk membayangkan amukan suaminya saat tahu jika tadi ia mengemudikan mobil.
Satya hanya diam, sedangkan Ayah Nugraha tersenyum menatap kedua pria di depannya.
Rendy yang tidak ingin ponakannya dimarahi sahabatnya itu akhirnya cerita apa yang sebenarnya terjadi.
Mendengar itu Bunda dan Ayah Nugraha tertawa, sedang Leon yang menggeleng kepalanya. Ia saja membayangkan tidak sanggup karena waktu Senja melahirkan membuatnya khawatir dan panik.
"Jadi mau nambah lagi nggak?" tanya Bunda menggoda Rendy.
Rendy hanya tersenyum getir, tadi saja ia rasanya mau pingsan lagi . Ditatapnya istrinya yang terbaring begitu terlihat lemah.
Rendy berjalan mendekati sang istri dan langsung mengecupnya.
"Terimakasih sudah melahirkan putra kita di dunia ini," ucap Rendy sambil meneteskan air matanya.
Popy tersenyum dan mengusap air mata Rendy dan berkata." Sudah jadi Papa jangan menangis."
Rendy tersenyum, diusapnya rambut sang istri. Ia begitu beruntung memiliki istri yang kuat seperti Popy.
Senja yang merasa diacuhkan oleh suaminya akhirnya pamit kepada Rendy karena tidak tenang untuk meninggalkan putrinya lebih lama lagi.
__ADS_1
"Tante, aku pulang ya takut Jingga rewel," pamit Senja.
"Pulang sama siapa?" tanya Bunda karena melihat Satya masih mengobrol dengan Leon serius.
"Naik mobil, ini kuncinya," jawab Senja sambil tersenyum dan langsung keluar dari ruang rawat Popy.
Senja yang merasa kalau suaminya tidak mengejarnya menjadi kesal, sedangkan Satya yang berada di ruang rawat Popy tidak menyadari jika istrinya sudah pergi.
Satya menoleh ke arah sofa belakangnya, keningnya mengernyit.
"Bini lo pulang bawa mobil sendiri," kata Rendy.
Satya yang terkejut langsung berjalan keluar ruangan, pria itu begitu merutuki kenapa bisa lengah.
Satya masuk lift menuju ke lobby, pria itu sesampainya bawah menatap sekeliling dan ke luar menatap area parkiraan, dilihatnya mobil Rendy baru keluar dari gerbang rumah sakit.
Satya dengan cepat menuju mobilnya dan langsung mengejar mobil yang dikemudikan istrinya. Setelah ia melihat mobil Rendy, saat akan memotong. Namun, Senja langsung melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya.
Satay begitu cemas karena istrinya mengemudikan mobilnya kecepatan tinggi dan sekarang Senja membelokkan mobilnya ke arah jalan pintas.
Jalan pintas yang dilalu Senja, menuju ke arah kediaman Ayah Nugraha. Pak Yanto yang melihat mobil Rendy segera membuka pintu gerbang. Tidak lama mobil Satya juga masuk.
Pria itu keluar lebih dulu, dan langsung mengetuk mobil yang dikemudikan oleh istrinya.
Senja hanya menarik napas dalam lalu langsung keluar dan memeluk suaminya sambil berkata."Maaf."
Satya menggendong istrinya masuk rumah, saat melewati pak Yanto hanya bengong melihat pasangan suami istri itu Senja mengedipkan matanya membuat pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya.
Bik Ida yang melihat Senja digendong merasa terkejut, saat ingin pertanyaan Satya sudah memberi kode. Hingga mengurungkan pertanyaannya.
Sesampainya di kamar, Satya membaringkan istrinya. Pria itu menatap lekat wajah cantik yang hampir membuatnya jantungan itu.
"Aku mohon jangan seperti itu lagi!"pinta Satya.
"Boleh, tapi cium dulu," ucap Senja supaya suaminya tidak marah.
"Dasar istri nakal," kata Satya langsung mendaratkan kecupan di bibir istrinya yang selalu membuatnya candu itu.
Senja dengan senang hati langsung membalasnya, ciuman yang begitu lembut lama-lama menuntut.
"Kita olahraga siang ya," kata Satya dengan suara seraknya karena menahan sesuatu yang kian membuncah.
Senja yang sudah merasa on juga hanya mengangguk, siang hari mereka meluapkan rasa yang tidak ada habisnya. Hingga keduanya sama-sama ingin meraih kepuasan. Tiba-tiba suara Jingga dan ketukan pintu membuyarkan konsentrasi olahraganya.
"Mas, jingga nangis," kata Senja.
__ADS_1
"Nanggung sayang!"
bersambung ya...