
Ayah Nugraha menatap Arga dan bertanya."Arga kamu tidak marahin Ranga 'kan, Nak? tanya Ayah Nugraha menatap Putranya.
Arga hanya tersenyum, pria itu menarik napas dalam. Namun, ia rasanya belum puas jika belum memberikan pelajaran kepada adiknya itu.
Ranga sudah besar harusnya ia mengambil sikap dan tidak membahayakan dirinya dan orang lain.
Satya yang melihat Arga hanya diam saja, akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Ranga cemburu sama Deo!" kata Senja terkejut.
Satya hanya mengangguk. Arga mendengar itu hanya diam.
"Bunda harap jangan dimarahi, Ranga sudah punya tanggung jawabnya sendiri. Kita hanya bisa menasehati jika anak itu bersalah," ujar Bunda menatap Arga.
Wanita itu tahu jika Arga begitu menyayangi adiknya. Namun, jika harus marah seperti saat Ranga masih lanjang mungkin bisa diterima. Berbeda dengan sekarang ia sudah menjadi kepala rumah tangga.
Ayah Nugraha menatap istrinya sambil tersenyum. Merasa bangga dengan wanita yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka itu.
"Makin sayang, sama Bunda," kata Ayah Nugraha begitu tulus menatap sang istri penuh cinta.
Satya hanya memutar bola matanya melihat sikap kedua orang tuanya itu.
"Ayo Bun, kita istirahat," ajak Ayah Nugraha.
"Jangan lupa buat adik untuk Satya Bun," ucap Arga.
"Dasar anak nakal!" kata Bunda sambil memukul lengan Arga.
"Kak, aja kak Suci istirahat," kata Senja.
"Iya," jawab Arga.
"Yang, kita ke kamar juga yuk," ajak Satya.
"Mau ngapain?" tanya Senja penuh selidik.
Satya tergelak saat melihat istrinya menatapnya penuh curiga dan berkata."Hanya berbaring saja."
"Janji," kata Senja.
Satya hanya tersenyum. Keduanya jalan beriringan . Namun, saat sampai di tangga bertemu Arga.
"Lo mau kemana?" tanya Satya.
"Jagain Ranga," jawab Arga sambil menuruni tangga.
Satya terdiam ditatapnya Arga yang berjalan ke arah pintu luar. Senja menatap suaminya." Pergilah Mas."
"Tapi Yang," kata Satya.
"Aku takut kalau Kak Arga marah dengan Ranga," ujar Senja.
Satya mengangguk, pria itu mengikuti istrinya untuk berganti baju.
"Sayang, aku pergi. Jingga jangan rewel ya Nak," pesan Satya kepada putrinya.
"Hati-hati, Mas," kata Senja menatap suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang, aku pergi." Satya mengecup kening istrinya.
Setelah suaminya pergi, Senja menuturkan putrinya ke bok karena sudah terlihat mengantuk.
"Anak pintar, maafin Mama Nak. Bukannya tidak mau menidurkanmu digendongan karena tujuan Mama supaya kamu terbiasa tidur sendiri." Senja mengecup kening putrinya.
Senja membaringkan tubuhnya ke ranjang, ia juga merasa begitu lelah. Tidak menunggu lama akhirnya tertidur.
****
Di salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya. Sebuah mobil memasuki area parkir. Tidak lama pria berwajah tampan dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Arga dengan langkah cepat berjalan menuju ke ruang rawat Ranga.
Tanpa mengetuk pintu ia masuk, Ranga menatap tajam saudara kembarnya itu.
"Buka Kakak mau istirahat?" tanya Ranga.
Arga hanya diam, matanya melihat le arah kamar mandi karena tidak ada Diana di sofa.
"Cari siapa?" tanya Ranga merasa aneh melihat saudara kembarnya.
"Mana bini lo?" tanya Arga.
Ranga mengernyitkan keningnya dan berkata." Lo udah ada bini ngapain cari bini gue!"
Arga menatap Ranga dengan datar dan kembali lagi bertanya." Mana Diana?"
"Pulang," jawab Ranga singkat.
Ranga terkejut karena Arga tiba-tiba membentaknya dengan kasar.
"Maksudnya lo qpq?"tanya Ranga dengan nada suara naik satu oktaf.
"Lo itu sudah ada bini, dan sebentar lagi akan menjadi orang tua yang harus menjadi contoh buat anak lo kelak." Arga menarik napas, "jadilah Ranga yang bisa membuat Bunda dan Ayah bangga."
Ranga diam, pria itu tahu jika maksud dari Arga benar. Yang tidak membuatnya tenang adalah cara Arga pakai membentak hingga cacingnya menabrak dinding dan menjadi gawe over.
"Maaf, " kata Ranga.
Arga menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia tidak ingin jika sampai terbawa emosi seperti apa yang Bunda dan Ayah Nugraha khawatirkan.
Arga begitu menyayangi Ranga lebih dari apa pun. Bahkan dulu waktu sekolah ia rela menggantikan hukuman adiknya karena kondisi tubuh Ranga kurang fit karena baru sembuh.
Ditatapnya Ranga yang sedang kembali memainkan ponselnya. Arga hanya bisa menarik napas dalam.
Tidak lama pintu terbuka, Satya bersama Ibnu masuk dan tersenyum menatap Ranga dan Arga.
Satya langsung ikut duduk di samping Arga, pria itu sudah yakin jika Arga sudah mengeluarkan uneg-unegnya kepada saudara kembarnya itu.
"Ingat apa kata Bunda," ucap Satya.
Arga hanya mengangguk, jujur pria itu ingin sekali memberikan adiknya itu pelajaran. Namun, ia masih terngiang nasihat dari wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
"Ranga, lo main game anak SD," kata Ibnu.
"Diam killer," kata Ranga.
__ADS_1
"Cih, pasti bini lo udah ngomongin gue," kata Ibnu bisa menembaknya.
"Buka tapi bini lo," jawab Ranga tanpa rasa bersalah sedangkan Satya dan Arga sudah tertawa.
"Bini sendiri panggil lo killer," ejek Arga.
"Itu panggilan sayang ke gue," bela Ibnu.
"Jadi anak satu kelas ada panggilan sayang killer ke elo semua," timbal Ranga.
Ibnu menarik napas dalam, entah mengapa dari dulu akan kalah jika sudah berdebat dengan si kembar.
Satya hanya tersenyum tipis, dan berkata." Gue bilang lo akan kalah lawan dua orang itu."
"Mereka main koyok," jawab Ibnu tidak terima dikatakan kalah.
Mendengar itu Ranga tertawa begitu keras dan berkata." Makanya jangan galak sama bini lo."
"Dulu gue nggak tahu kalau Sari jodoh yang diberikan Allah untuk gue," jawab Ibnu.
Ibnu ingat betul karena ia tidak suka jika ada wanita yang mengejarnya. Namun, ia akan mencari istri cuek kepadanya dan berusaha untuk mendapatkan dengan usahanya sendiri.
Sari wanita yang lain dari mahasiswa lainnya. Dulu istrinya itu cuek dan tidak peduli akan keberadaannya.
Berbeda dengan Sasa, gadis itu begitu terang-terangan untuk menyatakan cinta. Namun, karena itu membuat ibnu jadi merasa jika Sasa bukan wanita baik-baik.
"Melamun," kata Arga yang melihat Ibnu hanya diam.
"Enggak, lo kapan sampai?" tanya Ibnu.
"Siang tadi," jawab Arga.
"Adik lo ingin jadi pembalap," bisik Ibnu.
"Sayangnya udah kao saat belum sampai ujung," sahut Satya.
"Siapa sampai ujung?" tanya Ranga.
Ketiganya saling pandang, dan langsung tergelak karena gaya Ranga bertanya merasa tidak berdosa.
"Kenapa, apa ada yang lucu?" tanya Ranga.
"Kagak," jawab Satya.
"Gue kasihan sama bibirnya," ucap Ibnu.
"Cih, ingat hanya satu kesempatan lo," ujar Satya mengingatkan Ibnu.
Ibnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan diingatkan lagi, sedang hamil tua. Maunya tidur mulu," ujar Ibnu.
Ranga mencoba mencerna dan bertanya."Emang kalau suruh lari bisa?"
bersambung
__ADS_1