PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Mengingatkan Ranga


__ADS_3

Ayah Nugraha menatap Arga dan bertanya."Arga kamu tidak marahin Ranga 'kan, Nak? tanya Ayah Nugraha   menatap Putranya.


 Arga hanya tersenyum, pria itu menarik napas dalam. Namun, ia rasanya belum puas jika belum memberikan pelajaran  kepada adiknya itu.


 Ranga sudah besar harusnya ia mengambil sikap dan tidak membahayakan  dirinya dan orang lain.


 Satya yang melihat Arga hanya diam saja, akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya  terjadi.


 "Kak Ranga cemburu sama Deo!" kata Senja terkejut.


Satya hanya mengangguk. Arga mendengar  itu hanya diam.


"Bunda harap jangan dimarahi, Ranga sudah  punya tanggung jawabnya sendiri. Kita hanya bisa menasehati jika anak itu bersalah," ujar Bunda menatap Arga.


Wanita itu tahu jika Arga begitu menyayangi  adiknya. Namun, jika harus marah seperti  saat Ranga  masih lanjang mungkin bisa diterima. Berbeda dengan  sekarang ia sudah  menjadi kepala rumah tangga.


Ayah Nugraha  menatap istrinya  sambil tersenyum. Merasa bangga  dengan wanita yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka itu.


"Makin sayang, sama Bunda," kata Ayah Nugraha  begitu tulus menatap sang istri penuh cinta.


Satya hanya memutar bola matanya melihat sikap kedua orang tuanya itu.


"Ayo Bun, kita istirahat," ajak Ayah Nugraha.


"Jangan lupa buat adik untuk Satya Bun," ucap Arga.


"Dasar anak nakal!" kata Bunda sambil memukul lengan Arga.


"Kak, aja kak Suci istirahat," kata Senja.


"Iya," jawab Arga.


"Yang, kita ke kamar  juga yuk," ajak Satya.


"Mau ngapain?" tanya Senja penuh selidik.


Satya tergelak  saat melihat  istrinya menatapnya penuh curiga dan berkata."Hanya berbaring  saja."


"Janji," kata Senja.


Satya hanya tersenyum. Keduanya  jalan beriringan . Namun, saat sampai di tangga bertemu  Arga.


"Lo mau kemana?" tanya Satya.


"Jagain Ranga," jawab Arga sambil menuruni tangga.


Satya terdiam  ditatapnya Arga yang berjalan ke arah pintu luar. Senja menatap suaminya." Pergilah Mas."


"Tapi  Yang," kata Satya.


"Aku takut kalau Kak Arga marah dengan Ranga," ujar Senja.


Satya mengangguk, pria itu mengikuti istrinya untuk berganti baju.


"Sayang, aku pergi. Jingga jangan  rewel ya Nak," pesan Satya kepada putrinya.


"Hati-hati, Mas," kata Senja menatap suaminya.

__ADS_1


"Iya sayang, aku pergi." Satya mengecup kening istrinya.


Setelah suaminya pergi, Senja menuturkan putrinya ke bok karena sudah terlihat mengantuk.


"Anak pintar, maafin Mama Nak. Bukannya tidak mau menidurkanmu digendongan karena tujuan Mama supaya kamu terbiasa tidur sendiri." Senja mengecup kening putrinya.


Senja membaringkan  tubuhnya  ke ranjang, ia juga merasa begitu lelah. Tidak menunggu lama akhirnya  tertidur.


****


Di salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya. Sebuah mobil memasuki  area parkir. Tidak lama pria berwajah tampan dengan kacamata hitam bertengger  di hidungnya.


Arga dengan langkah cepat berjalan menuju ke ruang rawat  Ranga.


Tanpa mengetuk pintu ia masuk, Ranga menatap tajam saudara  kembarnya itu.


"Buka Kakak mau istirahat?" tanya Ranga.


Arga hanya diam, matanya melihat le arah  kamar mandi karena tidak ada Diana di sofa.


"Cari siapa?" tanya Ranga merasa aneh melihat saudara  kembarnya.


"Mana bini lo?" tanya Arga.


Ranga mengernyitkan  keningnya dan berkata." Lo udah ada bini ngapain  cari bini  gue!"


Arga menatap Ranga dengan datar dan kembali lagi bertanya." Mana Diana?"


"Pulang," jawab Ranga singkat.


Ranga terkejut  karena Arga tiba-tiba  membentaknya dengan kasar.


"Maksudnya lo qpq?"tanya Ranga dengan nada suara  naik satu oktaf.


"Lo itu sudah ada bini, dan sebentar  lagi akan menjadi orang tua yang harus menjadi contoh buat anak lo kelak." Arga menarik napas, "jadilah Ranga yang bisa membuat Bunda dan Ayah bangga."


Ranga diam, pria itu tahu jika maksud  dari Arga benar. Yang tidak membuatnya tenang  adalah cara Arga pakai membentak hingga cacingnya menabrak dinding dan menjadi gawe over.


"Maaf, " kata Ranga.


Arga menghempaskan  tubuhnya  ke sofa. Ia tidak ingin jika sampai terbawa emosi seperti apa yang Bunda dan Ayah Nugraha  khawatirkan.


Arga begitu menyayangi  Ranga lebih dari apa pun. Bahkan  dulu waktu sekolah  ia rela menggantikan  hukuman adiknya karena kondisi  tubuh Ranga kurang fit karena baru sembuh.


Ditatapnya Ranga yang sedang kembali memainkan ponselnya. Arga hanya  bisa menarik napas dalam.


Tidak lama pintu terbuka, Satya bersama  Ibnu masuk dan tersenyum menatap Ranga dan Arga.


Satya langsung ikut duduk  di samping Arga, pria itu sudah yakin jika Arga sudah mengeluarkan  uneg-unegnya kepada saudara  kembarnya  itu.


"Ingat apa kata Bunda," ucap Satya.


Arga hanya mengangguk, jujur pria itu ingin  sekali  memberikan  adiknya  itu pelajaran. Namun, ia masih terngiang nasihat  dari wanita yang sudah dianggapnya sebagai  ibunya sendiri.


"Ranga, lo main game anak SD," kata Ibnu.


"Diam killer," kata Ranga.

__ADS_1


"Cih, pasti bini lo udah ngomongin  gue," kata Ibnu  bisa menembaknya.


"Buka tapi bini lo," jawab Ranga  tanpa rasa bersalah sedangkan  Satya dan Arga sudah  tertawa.


"Bini sendiri  panggil lo  killer," ejek Arga.


"Itu panggilan  sayang ke gue," bela Ibnu.


"Jadi anak satu kelas ada panggilan  sayang  killer ke elo semua," timbal Ranga.


Ibnu menarik napas dalam, entah mengapa dari dulu akan kalah jika sudah berdebat dengan si kembar.


Satya hanya tersenyum tipis, dan berkata." Gue bilang lo akan kalah lawan dua orang itu."


"Mereka  main koyok," jawab Ibnu  tidak terima  dikatakan kalah.


Mendengar itu Ranga tertawa  begitu keras dan berkata." Makanya jangan galak sama bini lo."


"Dulu gue nggak tahu kalau Sari jodoh yang diberikan  Allah untuk gue," jawab Ibnu.


Ibnu ingat betul karena ia tidak suka jika ada wanita yang mengejarnya. Namun, ia akan mencari istri cuek kepadanya dan berusaha untuk mendapatkan dengan usahanya sendiri.


Sari wanita yang lain dari mahasiswa  lainnya. Dulu istrinya itu cuek dan tidak peduli akan keberadaannya.


Berbeda dengan Sasa, gadis itu begitu terang-terangan untuk menyatakan  cinta. Namun, karena itu membuat ibnu jadi merasa  jika Sasa bukan wanita baik-baik.


"Melamun," kata Arga yang melihat Ibnu hanya diam.


"Enggak, lo kapan sampai?" tanya Ibnu.


"Siang tadi," jawab Arga.


"Adik lo ingin jadi pembalap," bisik Ibnu.


"Sayangnya udah kao saat belum sampai ujung," sahut Satya.


"Siapa sampai ujung?" tanya Ranga.


Ketiganya saling pandang, dan langsung tergelak karena gaya Ranga bertanya merasa tidak berdosa.


"Kenapa, apa ada yang lucu?" tanya Ranga.


"Kagak," jawab Satya.


"Gue kasihan sama bibirnya," ucap Ibnu.


"Cih, ingat hanya satu kesempatan  lo," ujar Satya mengingatkan  Ibnu.


Ibnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jangan diingatkan lagi, sedang hamil tua. Maunya tidur mulu," ujar Ibnu.


Ranga mencoba mencerna dan bertanya."Emang kalau suruh lari bisa?"


bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2