PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 156


__ADS_3

Senja mendongak melihat apa yang di tunjuk suaminya, senyum mengembang di bibir ranum istrinya.


Wanita itu mengambilnya dan memperlihatkan sepatu rajut buatannya selama ada di Jakarta. Melihat itu Satya mengerutkan keningnya, untuk apa istrinya bikin sepatu anak bayi, sedangkan anaknya nanti belum bisa jalan.


"Itu pas udah jalan enggak akan muat," katanya.


"Ini pengganti kaos kaki, Papa!"


Satya hanya mengangguk karena tidak mau ribut dengan istrinya, pria itu mengambil laptop dan bersandar di hardboard. Senja yang tahu pekerjaan suaminya banyak karena harus menghandle  yang di Jakarta juga.


Dilihat istrinya sedang tidur nyenyak, membuat Satya merasa lega. Pria itu menghubungi Afkar untuk menanyakan berkas yang sudah ditinggalkannya di ruangan kemarin.


"Assalamualaikum, Pak." Jawab Afkar.


"Waalaikumsalam, Af. Coba kamu ke ruanganku, kayaknya ada berkas yang sudah siap," ucapnya.


"Maaf Pak, apa itu urgent?" tanyanya.


"Enggak sih, hanya ingin memastikan saja."


"Senin pagi langsung saya cék," ujarnya.


Satya terdiam lama, "Apa kamu jadi ke Surabaya?" tanyanya.


"Tidak, Pak. Saya ke sedang menuju ke rumah orang tua Hanum," jawabnya.


"Apa anak itu sakit?" tanya Satya.


"Bukan sakit, tapi kamu minggu akan menikah."


"Apa? serius! apa kamu hamili dia!" teriaknya.


"Belum, setelah nikah baru akan saya hamili," jawabnya sambil tersenyum walau Satya tak melihatnya.


"Dasar gila. Kalau butuh apa-apa kamu bilang ke saya ya, ingat potong gaji."


Tak lama telepon terputus , Satya mengusap wajahnya. Asistennya itu sungguh membuatnya stres. Dilihatnya istrinya yang masih tidur, kemudian perlahan keluar dari kamarnya. Saat sampai depan ruang kerja Ayahnya ia berhenti dan langsung masuk.


Ayah Nugraha melihat putranya hanya tersenyum tipis, keduanya duduk berhadapan dengan laptopnya masing-masing. Satya mulai menyelesaikan pekerjaannya apa lagi besok ijab qabul Arga baru minggu Ranga, walaupun resepsinya nanti bersamaan hari minggu malam.


"Apa Senja sudah tidur?" tanya Ayah Nugraha.


"Sudah Yah," Jawabnya.


"Firasat Ayah dia akan lahiran hari minggu kalau enggak senin," ujarnya.


"Belum pasti," kata Satya.

__ADS_1


Ayah Nugraha menghentikan kerjaannya di tatapnya putranya itu, kemudian menarik napas panjang. Sambil tersenyum membayangkan dia akan bermain dengan cucu.


"Nanti kalau sudah lahir yang pertama, tambahkan cucu lagi," katanya.


"Ini saja belum keluar, Yah."


Keduanya hanya saling senyum, dan kembali lagi fokus dengan pekerjaannya, tak lama Arga dan Ranga masuk mengambi duduk di sofa, walau sedang di pingit oleh Bunda keduanya tetap berkerja di rumah.


"Arga, asisten lo minggu akan nikah juga," ujarnya.


"Afkar?"tanyanya.


"Iya siapa lagi," Kata Satya kesal.


"Sama siapa, sejak kapan dia punya pacar?" tanyanya.


"Emang harus laporan sama situ dia punya pacaran atau tidak," sahut Ranga ketus.


"Bukan gitu, selama ini gue enggak pernah lihat dia jalan sama wanita. Dia juga terlihat dingin jika di kantor."


"Sudah jangan diributkan," sanggah Ayah sambil beranjak berdiri membawa berkas yang baru dibuatnya. Satya juga ikut pindah di sofa untuk melakukan diskusi mengenai kerjasamanya dengan   Grup Wijaya yang ceonya Radit.


"Kenapa kita mengajukan lagi sama dia?' tanya Satya.


"Selama Ayah kerja sama dia semuanya aman, kalau ada yang bagus apalagi kita kenal kenapa tidak!"


"Malas sama Radit atau istrinya," sahut Yoga yang baru bergabung.


Yang lainya hanya tersenyum, sedangkan Satya hanya mendengus. Mertuanya itu selalu mengejeknya. Jika boleh memilih lebih baik tidak ada jalin kerja sama lagi. Namun, kalau masih dipegang oleh Ayahnya Radit tak masalah.


"Sat, nanti sore kamu jemput Om Johan dan Rania," kata Ayah Nugraha.


"Yang lain saja, Yah. Satya enggak bisa ninggalin Senja jauh-jauh."


"Ada gue juga di rumah, jangan alasan lo mau hindari Rania." Cibir Arga.


Satya hanya diam tidak mau membalas apa yang dikatakan Arga, pria itu ingat bagaimana Senja tidak suka waktu bertemu Rania di Bandara.


Satya keluar dari ruang kerjanya untuk melihat istrinya, Ayah Nugraha yang tahu anaknya menjadi suami siaga akhirnya meminta tolong kepada pak Yanto. Kini tinggal Yoga dan Ranga yang tinggal berdua di ruangan itu.


"Apa Senja berencana melahirkan di Surabaya?" tanya Ranga.


"Gue juga enggak tahu, dia sudah ada suami, pastinya sudah dibicarakan lebih dulu."


Rangga hanya mengangguk, menanggapinya. Dia yakin Satya akan memberikan hal yang terbaik untuk istri dan anaknya nanti, tapi kalau lihat kondisinya sekarang apa mungkin akan lahiran di Jakarta.


***

__ADS_1


Di kediaman Hanum.


Orang tuanya terkejut karena tiba-tiba putrinya datang bersama pria ke rumah, Kini baik Afkar dan kedua orang tua Hanum sedang mengobrol dan saling cerita.


"Beginilah kondisinya rumah Hanum, Nak."Kata Pak Iwan sambil tersenyum.


"Ini sudah bagus, Pak. Setidak masih bisa ditempati," Jawabnya.


Hanum datang bersama dengan Ibunya membawa teh dan cemilan untuk di suguhkan kepada Afkar.


"Diminum, Nak. Hanya ada ubi goreng," ucapnya dengan tersenyum tulus.


"Iya Bu, terimakasih.


Afkar menarik napas beberapa kali, Kenapa dia begitu gugup saat akan mengatakan tujuannya, padahal saat dia meeting bertemu orang penting tidak pernah segugup ini.


"Hem, Pak. Tujuan saya kemari mau minta izin untuk menjadikan Hanum istri saya," katanya dengan gugup.


Pak Iwan dan Bu Wati terkejut, keduanya saling tatap sedangkan Hanum hanya menundukan kepalanya.


"Apa kamu serius, Nak?" tanya ibu Wati.


"Iya, Bu, saya serius." jawabnya tanpa beban.


Pak Iwan terdiam, entah kenapa ada rasa yang susah untuk diungkapkan saat ini. Senang karena anak gadisnya akan menikah dan sedih akan ditinggalkan karena setelah menikah Hanum bukan menjadi tanggung jawabnya lagi.


"Kalau saya terserah Hanum, Nak. Bagaimana Hanum, apa kamu terima lamarannya?" tanya Bapaknya.


Hanum masih menunduk, perlahan dia mengangkat kepalanya menatap wajah tampan di depannya.


"Iya Pak," jawabnya pelan.


"Alhamdulillah, jadi kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Ibu Wati.


"Minggu besok Bu, karena pekerjakan saya banyak, bos saya sedang cuti menikah makanya saya tidak bisa meninggalkan kantor lama," ujar Afkar.


"Hah, tapi kalian tidak melakukan sesuatu yang dilarang agama' kan!" teriaknya terkejut.


"Astagfirullah, Bu. Biar Hanum jelek gini enggak pernah mau melakukan itu," katanya sambil cemberut menatap ibunya sendu.


"Maafkan Ibu, Nak. Soalnya biasa di kampung kalau menikah mendadak karena itu," jawabnya sambil mengusap bahu anaknya.


"Maaf Bu, InshaAllah kami tidak sampai ke situ saat ini," jawab Afkar.


"Alhamdulillah, saya senang dan sangat menghargai niat baik kamu, Nak."


"Setelah Hanum menjadi istrimu tolong bimbing dia, mungkin ia harus banyak di suruh baru tahu," ujarnya.

__ADS_1


Afkar hanya tersenyum menatap kedua orang tua Hanum, keluarga yang hangat selalu di idam-idamkan ingin memilikinya. Walau dia tidak tahu siapa ayah dan ibunya karena besar dengan orangtua angkatnya dan sekarang sudah meninggal semuanya


__ADS_2