
Suara adzan subuh berkumandang, Senja berlahan meregangkan otot-otot tubuhnya ia begitu nyaman tidurnya saat ia akan duduk matanya terbelalak karena di sampingnya ada sosok yang ia tunggu kabarnya dari semalam.
Senja berlahan memindahkan tangan suaminya dari pinggangnya, tapi Satya kembali memeluknya dengan erat.
"Bby, lepas Mmy mau ke kamar mandi," katanya lirih.
Satya membuka matanya," maaf, jangan marah," kata Satya sambil memeluk Senja dengan erat.
"Ih...Bby lepas," kata Senja buru-buru ke kamar mandi karena sudah sesak mau buang air kecil.
"Sayang jangan lari-lari," kata Satya yang merasa khawatir saat melihat istrinya berlari menuju kamar mandi.
Satya mengambil handphonenya untuk menghubungi orang tuanya kalau dia langsung ke Jakarta, tak lama Senja keluar dari kamar mandi.
"Bby kita sholat berjamaah ya," ajak Senja yang sudah mengambil air wudhu.
"Iya sayang, tunggu Bby ambil wudhu," jawabnya segera berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai sholat keduanya kini sedang duduk di sofa, Satya masih melihat istrinya seperti cuek dengannya.
"Yang, maafkan Bby," ucapnya lagi sambil memegang tangan istrinya.
"Yang penting Bby sampai sini dengan selamat itu sudah membuat Mmy senang,"jawabnya sambil tersenyum menatap wajah suaminya.
Jujur Senja begitu merindukan suaminya, entah ini bawakan anaknya atau dia yang memang merindukan lelaki yang kini duduk di sampingnya.
"Terimakasih, sayang," kata Satya sambil mengecup kening istrinya.
Senja yang tersenyum saat suaminya kembali manis kepadanya, karena merasa gemes ia mengecup benda kenyal milik Satya.
"Ayo kita turun, Bby masak ya buatkan Mmy nasi goreng," katanya sambil tersenyum menatap wajah suaminya yang terkejut dengan permintaan istri kecilnya itu.
Satya hanya bisa pasrah saat istrinya membawanya ke dapur,dimana sudah ada bik Sum yang sedang membuat sarapan.
"Bik mau masak apa?" tanya Senja.
"Nasi goreng,Non," jawabnya.
"Bibik kerjain saja yang lain, biar Bby yang masak!" perintahnya
Bik Sum hanya mengangguk, kemudian ia menjelaskan kepada Satya bagaimana cara bikin nasi gorengnya.
Setelah kepergian Bik Sum Satya hanya menggaruk kepalanya, dari pada di suruh masak sebaiknya di suruh ikut lembur kerja.
Yoga yang baru turun melihat Satya di dapur hanya diam, merasa ada sesuatu yang diinginkan istrinya.
__ADS_1
"Lo ngapain?" tanya Yoga yang melihat pria yang kini menatapnya.
"Bini gue minta buatkan nasi goreng," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Yoga terkekeh, karena ia tahu kalau Satya tidak bisa masak, kini Yoga menghampir menantunya yang sedang kebingungan.
Mentari melihat ada Satya terkejut, entah kapan suami anaknya itu datang.
"Satya.... kapan datang?" tanyanya sambil menghampiri kedua pria yang kini sedang di dapur.
"Tadi malam, Bu," jawab Satya karena bagaimanapun juga Mentari mertuanya.
"Lagi mau bikin apa?" tanya Mentari melihat bahan sudah di atas meja dapur.
"Ibu ... biarkan mereka yang masak," kata Senja yang baru datang.
"Serius?"tanya Mentari, sedangkan Senja hanya mengangguk.
"Ok, sekarang kita duduk cantik di ruang keluarga saja," ajak Mentari sambil mengedipkan matanya ke arah Yoga.
"Gara-gara lo, gue jadi kena juga," kata Yoga kesal.
Satya hanya tersenyum karena ia tahu Yoga masakannya enak, kini Yoga mulai memotong bawang merah dan menyuruh Satya untuk mencincang bawang putih sampai halus.
"Lo ambil kuali yang di di sebelah itu, kemudian kasih minyak secukupnya!" titah Yoga.
Satya segera mengambil dan meletakkan di atas kompor, tidak lupa ia menuangkan minyak secukupnya.
"Ini bumbunya," kata Yoga memberikan potongan bawang merah dan bawang putih cincang.
Saat Yoga sedang memotong bakso dan sosis, ia melihat kuali yang di atas kompor hanya menepuk jidatnya.
"Kenapa? apa ada yang salah?" tanya Satya merasa bingung karena ia tak merasa membuat kesalahan.
"Kenapa kompornya enggak di hidupkan, terus itu bumbunya juga udah lo masukkan ke kuali!" kata Yoga sambil menatap tajam menantunya itu.
"Tadi lo enggak bilang hidupkan kompornya!" gerutu Satya.
Yoga segera mengambil bumbu yang sudah di dimasukkan oleh Satya tadi, kemudian ia menghidupi kompor. Setelah minyak sudah panas barulah ia menuangkan bumbu yang tadi.
"Lo ... jangan marah sama gue, ntar anak lo mirip gue gemana!" kata Satya sambil mengulum senyum saat melihat Yoga semakin kesal padanya.
"Ini lo aduk dulu, gue mau buat susu," kata Yoga.
Satya segera mengambil alih pekerjaan Yoga, setelah 10 menit baru ia matikan kompornya.
__ADS_1
Satya merasakan nasi gorengnya, ada rasa yang aneh. Rasa hambar di lidahnya.
Yoga datang menatap curiga ke Satya, ia melihat Satya sepertinya sedang merasakan nasi gorengnya tadi.
"Kenapa?" tanya Yoga.
"Kok rasanya kurang ya," kata Satya ke Yoga.
Tak menunggu lama Yoga mengambil sendok dan merasakan nasi gorengnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya, kemudian segera mengambil garam.
"Tadi lo enggak kasih garam," ucapnya sambil menambahkan garam ke nasi gorengnya.
Setelah selesai Yoga menyuruh Satya untuk merasakannya lagi, dengan senang hati Satya menyendokkan lagi kedalam mulutnya.
"Bagaimana?" tanya Yoga.
"Ini enak," jawab Satya.
Yoga hanya tersenyum, saat melihat Satya ingin mengambilnya lagi yang masih ada di kuali.
"Nanti, makan sama-sama." kata Yoga sambil memukul tangan Satya pakai sendok yang di pengangnya.
"Gila Lo sakit tahu!" kata Satya sambil meringis menahan sakit di tangannya.
Kini keduanya menyusun dimeja makan, setelah selesai Yoga memanggil anak dan istrinya untuk sarapan bersama.
Dengan semangat Senja melihat nasi goreng yang sepertinya sangat nikmat, ia segera mengambilkan untuk suaminya terlebih dahulu kemudian untuk ayah dan Ibunya.
Kini mereka makan dengan nikmat, hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar.
Entah enak atau lapar Senja makan sampai menambah, melihat itu Yoga dan istrinya hanya tersenyum. Sedangkan Satya menatap istrinya dengan horor.
Setelah selesai makan, Senja segera membantu Bik Sum untuk membereskan meja makan, walau sudah dilarang oleh Bik Sum.
Kini mereka pindah duduk di ruang keluarga, karena kebetulan hari Sabtu. mereka memilih menghabiskan waktu bersama di rumah saja.
Sedari tadi Satya asik berdebat terus dengan Yoga. Hal itu membuat suasana semakin hidup dengan keributan keduanya.
Apalagi saat Satya sedang main PS dengan mertuanya, tidak hanya tawa keduanya saja terkadang Senja dan Mentari juga ikut tertawa dengan sikap menantu dan mertuanya itu.
Seandainya dulu papa Roby bisa seperti Yoga dan Satya mungkin hidupnya akan lebih bahagia, membayangkan papa Roby dan Yoga bercanda seperti yang sedang dilakukan keduanya.
Senja yang melihat ibunya melamun sambil menatap kedua pria yang sedang fokus dengan permainannya. Wanita itu hanya menghela nafas entah apa yang dilamunkan oleh Ibunya
__ADS_1