
Satya dan Senja sudah sampai lobby melewati tangga darurat, keduanya merasa sedang dikepung oleh Yona karena setiap jalan keluar di anak buahnya.
"Kita tinggalkan mobil om Rendy," kata Senja kepada suaminya.
Satya menangguk kini keduanya kembali lagi naik ke lantai tiga di mana bunda dirawat. melihat Satya dan Senja masuk membuat yang lain terkejut Arga bertanya." Ada apa?"
"Di luar ada banyak anak buah Yona," jawab Satya.
Kini semua mata menatap Ke arah Diana, Ranga yang sedang duduk di samping Bundanya langsung beranjak dari duduknya. Pria itu menatap Diana tajam.
Direbutnya ponsel Dana, Mata Rangga membulat saat melihat chat Diana ke Yona. Pria itu begitu marah dan langsung melempar ponsel istrinya ke dinding.
"Ranga!" seru Bunda.
"Kenapa kamu tidak mau menurut kataku, jangan balas chatnya, Biar Leon yang urus!"teriak Ranga menatap sang istri.
Senja dan Satya saling pandang, tidak lama pintu ruang rawat terbuka sosok Bunda Fifi muncul bersama suaminya. Wanita itu begitu terkejut karena melihat anaknya sedang menangis sambil menutup wajahnya.
"Ada apa ini?" tanya Leon.
"Lo cek wa Diana," ujar Satya.
Leon langsung membuka ponselnya, tidak ubahnya seperti Ranga. Leon juga terkejut karena Diana mengatakan kalau senja berada di rumah sakit.
"Diana, Kakak sudah bilang Padamu, Papa dan Bunda baik-baik saja. Apa kamu tidak percaya sama kami, dan kamu lebih percaya dengan Yona, hem!" Leon menatap Adiknya itu dengan suara tertahan.
"Aku hanya takut jika Yona akan mencelakai Bunda," jawab Diana.
"Cukup Diana, aku bisa memaafkanmu tanpa kau pinta, tapi untuk kembali seperti dulu maaf," kata Senja.
Ayah Nugraha mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Sedangkan Bunda Fifi yang tidak begitu paham akhirnya bertanya."Ada apa sebenarnya?"
Leon beranjak dari duduknya, pria itu menjelaskan semuanya, mendengar itu Fifi berjalan mendekati putrinya. Satu tamparan mendarat di pipi Diana.
"Kenapa kamu lakukan itu, bukankah Senja sudah memaafkanmu, tapi ini apa Diana. Bunda malu, Nak. Fifi terhuyung ke belakang yang langsung ditangkap oleh Ferdi.
"Ranga, keputusan ada di tanganmu, Nak. Bunda tidak tahu harus berkata apa lagi dari awal Bunda kira sudah berubah," kata Bunda Fifi lagi.
Ferdi memapah istrinya untuk berdiri, air mata Fifi tidak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Ranga bawa istrimu pulang!"perintah Ayah Nugraha merupakan harga mati yang tidak bisa ditolak.
Ranga tanpa menunggu istrinya keluar begitu saja, Arga memberi kode kepada istrinya untuk ikut, sedangkan Arga tidak tega untuk meninggalkan Bunda yang kini hanya bisa menangis.
Senja masih duduk di sofa yang sedang ditenangkan oleh Satya, Bunda Fifi yang masih terlihat shock duduk di dampingi oleh Leon. Ayah Nugraha keluar dari ruang rawat bersama Ferdi untuk berbicara penting.
"Apa terjadi kepada anak-anak harus kita putuskan," kata Ayah Nugraha.
"Aku paham, tapi biar mereka menyelesaikan sendiri apa yang terbaik. kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung saja." jawab Ferdi.
Ayah Nugraha tidak menyangka jika Ranga anak bungsunya akan mengalami hal seperti ini. Ia berharap tidak mengambil keputusan yang gegabah untuk rumah tangganya.
Kedua pria itu sibuk dengan pikirannya masing-masing, tidak lama Leon dan Satya datang.
"Apa rencananya?" tanya Satya karena Leon memberikan kode kepada Satya untuk keluar.
"Kita buat pancingan agar Yona keluar dari sarangnya." Leon menjelaskan kepada semua yang ada.
"Gue enggak akan setuju jika Senja dijadikan umpan!" kata Satya tegas.
Leon menarik napas dalam dan bertanya."Apa kamu tahu keahlian istrimu yang sesungguhnya?"
"Bini lo punya ahli menembak dan memanah saat SMA sering ikut lomba kata Ilham," ujar Leon.
Satya menatap pria di sampingnya, sedangkan Ayah Nugraha begitu terkejut jika menantunya diam-diam mempunyai keahlian khusus.
"Apa kamu pernah melihat Senja melawan musuh?" tanya Ayah Nugraha.
Satya menceritakan jika ia waktu di malang berdua dengan istrinya berkelahi melawan anak buah Yona.
Ayah Nugraha tersenyum, ia tidak akan khawatir jika Senja akan memancing keluarnya Yona.
"Ayah setuju Senja akan keluar rumah, tapi saat di tangkap buat anak Leon mengalah," ujar Ayah Nugraha.
Satya menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya. Ayah Nugraha melihat itu menarik napas dan berkata."Hanya ini cara biar kita tidak terpecah belah. Kamu tahu bagaimana Ranga."
Satya mengusap wajahnya kasar, pria itu dibuat tidak berdaya haruskah ia mengorbankan sang istri.
"Bagaimana kalau gue dan Senja yang jadi umpan," usul Satya menatap yang lainnya.
__ADS_1
"Boleh juga, tapi anak lo bagaimana?" tanya Leon.
"Ada sama mertua gue selama Bunda masih dirawat," ujar Satya.
"Oke, nanti lo bilang sama Senja." Leon langsung beranjak berdiri karena ia harus mengantar Bunda dan Ayahnya.
"Apa kamu yakin, Nak?" tanya Ayah Nugraha.
"Iya Yah, tidak mungkin aku biarkan Senja sendiri menghadapi ini," kata Satya.
Ayah Nugraha mengangguk, ia walau berat tidak mungkin membiarkan Senja sendiri. Pria paruh baya itu berharap segera selesai dan bisa hidup tenang, Ditatapnya Ferdi yang sedari tadi diam.
"Om Ferdi enggak pulang Leon sudah memanggil Bunda Fifi," kata Satya.
"Om, nggak bisa bicara apa-apa lagi, Nak. Diana juga dulu bagaimana kehidupannya. Yang Om tahu hanya Fifi tidak berubah sifatnya," ujar Ferdi.
"Jangan dipikirkan, Om. Sekarang itu tanggung jawab Ranga," kata Satya.
Ferdi mengangguk pria itu berharap semua akan baik-baik saja, apalagi jika kalau Diana sampai pisah dengan Ranga. Ia tidak bisa membayangkan istrinya nantinya.
Kini ketiganya beranjak dari duduknya, berjalan beriringan menuju ruang rawat Bunda di lantai tiga.
Saat Satya melihat ke arah taman, ia melihat sosok yang mencurigakan. Saat ia menatapnya lama sosok itu langsung pergi begitu saja,
Leon yang melihat Satya menatap ke arah taman melalui jendela langsung mengikutinya.
"Kamu lihat itu?" tanya Satya.
Arga yang penasaran ikut melihatnya, dan berkata."Siluet itu tidak asing. Sat wanita yang menembak itu."
"Apa itu artinya Yona ada dekat sini?" tanya Senja.
"Bisa jadi sayang," jawab Satya.
Senja menarik napas dalam dan bertanya."Kak Arga, apa Diana masih shock dan menangis di rumah?"
Bunda Fifi mendengar itu menggelengkan kepalanya, ia merasa bersalah dengan Senja. Ia juga baru tahu kalau anaknya dulu sering membully istri Satya.
Ferdi yang melihat istrinya menatap Senja mengusap bahunya dan berkata."Semua akan berakhir sayang."
__ADS_1
Bunda Fifi mengangguk, ia juga berharap begitu, jujur ia tidak tahu kalau anaknya mengenal wanita kejam seperti Yona. Namun, kini nasi sudah menjadi bubur apa pun yang terjadi akan menerimanya.