
Senja yang merasakan ada sesuatu yang berat menimpa pingangnya segera membuka matanya, ia tersenyum saat menyadari tangan suaminya tengah memeluknya.
Berlahan ia segera memindahkannya, setelah terbebas dia segera kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah lima belas menit Senja segera keluar, dia segera memakai pakaiannya.
Satya yang baru bagun tersenyum melihat istrinya yang sudah terlihat lebih segar.
"Mau kemana sudah rapi?" tanyanya
Senja tersenyum kemudian ia dekati suaminya, diciumnya kening Satya dengan lembut.
"Mmy mau nonton dibawah, boleh ya," ucapnya.
"Boleh, tapi cium ini dan ini," kata Satya sambil menunjuk pipi dan bibirnya.
"Ih...banyak maunya," kata Senja sambil tersenyum, tapi dia mengikuti kemauan suaminya.
Setelah itu Senja segera keluar kamar, saat menuruni tangga ia melihat ada Ibu dan Ayahnya.
"Huhu... kangen," ucapnya sambil memeluk Ibu dan Ayahnya bergantian.
"Suamimu mana?"tanya Yoga sambil duduk diruang keluarga.
"Sedang mandi tadi," jawabnya.
Senja dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Mentari, ia begitu rindu belaian hangat dari Ibunya.
Bik Sum datang membawakan minum untuk kedua orang tua Nonanya.
"Bibik apa kabar," tanya Mentari sambil tersenyum menatap wajah yang selalu mendampingi anaknya ini.
"Alhamdulillah, baik Nak," jawabnya.
Tak lama Satya datang ia ikut bergabung bersama yang lainnya di ruang keluarga, Satya tersenyum saat melihat istrinya begitu manja dengan ibunya.
"Besok kami rencana pulang," kata Yoga.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Senja sambil cemberut.
"Kamu ini sudah mau jadi orang tua masih seperti anak kecil," kata Mentari gemes melihat Senja yang masih manja .
Yoga hanya terkekeh melihat anak dan istrinya, keduanya sama-sama melepaskan rindu.
"Kapan rencananya pulang," kata Satya.
"Insyaallah lusa, gue harap lo sekali-kali lihat papa Roby," ucapnya sambil tersenyum menatap mentunya.
"Iya, Insyaallah," jawab Satya
"Ayah...mau diantara siapa?"tanya Satya.
Yoga hanya menarik nafas panjang, ia masih geli kalau Satya memanggilnya Ayah.
"Rendy," jawabnya datar.
"Kenapa lihat gue seperti itu," kata Satya.
__ADS_1
"Kalau hanya berdua jangan panggil gue Ayah, jujur masih geli gue," ucapnya sambil terkekeh.
"Jangankan lo, gue saja kadang ini lidah kebas," sahut Satya.
Keduanya tertawa, tapi mau sampai kapan keduanya sama-sama cangung.
"Tapi kalau anak gue sudah lahir jangan nolak lo gue panggil Kakek," kata Satya langsung tertawa.
"Ngak ada yang lain selain Kakek?" tanyanya
"Ada, lo tinggal pilih, Kakek, Opa, Aki," kekeh Satya menggoda mertuanya.
"Itu mah..enggak jauh beda," kaya Yoga sambil menatap sinis.
"Ngobrolin apa sih?" tanya Senja.
"Ini lo...Mmy, nanti kalau anak kita lahir panggil Ayah apa?" kata Satya.
Mentari yang baru gabung juga ikut memikirkan panggilan untuknya dan suaminya.
"Kakek ketuaan enggak sih...," kata Mentari melihat anak dan suaminya.
"Yang lain?"tanya Senja.
"Opa, Aki," kata Satya sambil mengulum senyum.
"Ih... Bby itu lebih tua lagi...," kata Senja sambil melotot.
"Jadi apa?" tanya Satya.
Senja terkejut melihat Diana datang kerumahnya masih pakai baju yang ia lihat dikampus pagi tadi.
Diana tersenyum, mentari yang melihat anaknya masih diam segera mengajaknya untuk duduk.
"Maaf kalau kedatangan saya menganggu," kata Diana sambil menunduk.
"Siapa namamu, Nak," kata Mentari lembut.
"Saya Diana Tante, Senja gue minta maaf selama ini gue salah," ucapnya terjeda karena tangisnya.
Mentari menatap anaknya, Senja hanya diam, dia bingung harus ngomong apa dengan Diana.
"Gue tahu, kesalahan gue sudah fatal," katanya.
"Jangan dipikirkan, gue sudah maafin semuanya," kata Senja sambil tersenyum.
Kini keduanya saling berpelukan, smeoga hati Diana ikhlas meminta maaf padanya.
"Lo..tahukan resikonya ini apa!" kata Senja.
"Ia gue paham Sasa tidak akan terima ini, tapi ini hidup gue," katanya .
"Maksudnya Nak?" tanya Mentari bingung.
Diana menceritakan kalau Sasa yang membuat dirinya membenci Senja, hasutan yang ia ceritakan dari Dia tk sampai SMA," ucapnya.
"Jadi selama ini lo dekat sama dia semuanya harus mengikuti aturannya?" tanya Senja.
__ADS_1
Diana hanya mengangguk, ia merasakan lega dihatinya karena Senja dan kedua orang tuanya mau memaafkannya.
"Sekarang lo tinggal dimana!" kata Senja
"Gue tingal sama Mama, semenjak ayah meninggal, gue sama bunda tinggal di kontrakan," ucapnya
Senja begitu terkejut mendengar kalau ayahnya Diana sudah meninggal, akhirnya Diana menceritakan semuanya. Setela perusahaan ayahnya bangkrut, Ayah sakit terkena serangan jantung. Kemudian dirawat selama tiga hari setelah itu Ayahnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Semuanya terdiam, terlebih Satya ia merasa bersalah kepada almarhum pak Pras.
Satya janji akan membiayai kuliah Diana dan kebutuhan Bundanya,
"Tadi kamu kekampus?" tanya Senja.
"Iya gue masuk lagi, semua itu karena mertua lo," kata Diana sambil tersenyum.
Satya merasa lega ternyata Ayahnya bergerak dengan cepat, ia ingat betul bagaimana orang tuanya Diana bersahabat dengan Ayahnya.
Keduanya saling membagi bagaimana cara berbisnis dengan baik, tidak melenceng. Wajar Ayah Nugraha menanam usaha di perusahaan om Pras saat itu.
Tetapi semua sudah terjadi, tingallah penyesalan yang kini mereka rasakan. Senja memeluk Diana, bagaimanapun juga Suaminya yang mencabut saham Nugraha di waktu itu.
"Maafin suami gue ya," ucap Senja ke Diana.
"Wajar dia melakukan itu, karena gue yang keterlaluan. Gue berharap masih ada waktu untuk menjadi lebih baik lagi," ucapnya
" Insyaallah tidak ada kata terlambat untuk memulainya," jawabnya.
Keduanya sama-sama tersenyum, semoga ini awal yang baik bagi keduanya.
Mentari ikut bersedih kalau ingat bagaimana mereka melakukan Senja waktu itu, tapi semua itu butuh proses.
Untuk berubah perlu proses, sedangkan proses itu membutuhkan waktu yang panjang.
Bukan sehari atau dua hari, bisa jadi bertahun-tahun lamanya, itu tergantung manusianya sendiri untuk berubah.
Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan. Orang yang tak berubah dari buruk menjadi baik atau dari baik menjadi lebih baik diibaratkan seperti orang yang jatuh ke lubang yang sama dua kali.
Bila kesalahan itu berkaitan dengan sesama manusia, misalnya berbuat jahat, menyakiti, atau mengambil hak-haknya secara tidak sah, ia segera menyesali perbuatannya, lalu meminta maaf dan mengembalikan apa yang dia ambil itu kepada yang berhak.
Allah mengaruniakan akal, pikiran, dan hati nurani kepada manusia di samping kemampuan dan kekuatan fisik.
Semua ini dimaksudkan agar ia bisa belajar dari banyak hal di sekitarnya, termasuk dari kesalahannya, kemudian meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Manusia jangan menyerah atau putus asa dengan keadaan yang ia anggap sulit dan berat.
Diana berharap bisa berteman dengan Senja, ia juga sudah lebih tenang dari sebelumnya. Sesuatu yang mengganjal di hatinya telah usai, mendapatkan maaf dari Senja semoga menjadikan awal yang baik untuknya bisa menghargai orang lain.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
🌾 Takdir Cinta Khansa
🌾 Menikah Muda
__ADS_1