PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 76


__ADS_3

Pagi ini Senja sedang bersiap akan ke kampus, dia sudah memutuskan untuk tetap lanjut. Namun, ia kini akan tetap menjaga kesehatan dan tidak boleh terlalu capek.


Begitulah juga dengan suaminya, Satya kini sedang mengancingkan kemejanya. Senja begitu gemes melihat suaminya, ia segera membantu mengancingkan bajunya.


"Cepat ya Bby, kalau mau antar," kata Senja.


"Kenapa buru-buru!" kata Satya.


Senja menghela nafas panjang, ia menatap suaminya sebentar.


"Mmy mau sarapan bubur sum-sum dikantin," jawabnya.


"Kenapa enggak bilang dari tadi," ucap Satya segera mengambil dasinya.


Kini keduanya sama-sama menuju lantai bawah, Bik Sum yang melihat Nonanya sudah rapi tersenyum.


"Mau sarapan apa?" tanya Bik Sum sambil tersenyum.


"Kami sarapan dikantin kampus Senja saja Bik," kata Satya.


"Eh.... hanya Mmy yang sarapan dikampus," ucap Senja yang terkejut dengan ucapan suaminya.


Satya menatap istrinya heran, bukankah dia yang tadi bilang ingin sarapan dikampus.


"Kok gitu sih? bukannya tadi ingin makan bubur sum-sum," kata Satya.


"Ia Bby, tapi hanya Mmy saja," jawabnya.


"Terus Bby makan apa?" tanya Satya.


"Sarapan dikantor saja, nanti kalau Bby ikut kekantin banyak digodain wanita mau!" kata Senja dengan ketus.


Satya tersenyum, ia merasa geli mendengar ucapannya. sebenarnya Senja yang tidak ingin banyak wanita melihat suaminya dengan tatapan mendamba.


"Baiklah sekarang kita jalan," ucap Senja segera berjalan mendahulu Satya.


"Den...yang sabar ya.. hormon wanita hamil berubah-ubah," kata Bik Sum.


Satya tidak menjawab hanya tersenyum, kemudian ia segera menyusul isterinya.


Kini keduanya sudah duduk di mobil, Senja sudah berapa kali menelan ludah membayangkan bubur sum-sum yang di siram pakai air gula merah.


Padahal sebelumnya ia tidak terlalu suka dengan bubur sum-sum, tapi semenjak ia melihat postingan di grup wa ada yang memposting bubur sum-sum entah mengapa ia jadi menelan ludahnya.


Mobil akhirnya sampai depan kampus, Satya tersenyum melihat istrinya begitu antusias pagi ini.


"Yakin enggak aja Bby," goda Satya.


Senja tersenyum dengan manis, kemudian ia segera meraih tangan suaminya untuk salam.


"Maaf...sayang, Mmy tidak berubah," kata Senja segera keluar dari mobil.


Satya membuka kaca mobil, dilihatnya istrinya berjalan dengan santai menuju gerbang kampus.

__ADS_1


"Benar-benar, tega." lirih Satya.


Mobil Satya segera melaju menuju kekantor, ia juga harus segera cari sarapan kalau tidak bisa-bisa asam lambungnya akan kambuh.


Sesampainya Satya di kantor, ia segera masuk ke lift kusus.


"Ranga..." panggilnya saat melihat asistennya hendak masuk ruanganya.


"Eh...tumben lo....baru datang," kata Ranga yang melihat bosnya baru sampai.


"Ia gue antar Senja kekampus dulu, Ga minta tolong ob untuk beli lontong di depan kantor ya" kata Satya.


"Hah...lo belum sarapan, tumben?" tanya Ranga, pasalnya Satya tidak bisa telat makan.


"Udah sono suruh orang carikan gue sarapan," perintah Satya.


Ranga hanya menghela nafas panjang, tanpa menunggu lama ia segera keluar ruangan Satya.


Satya menarik nafas panjang, perutnya sudah terasa tidak enak. Ia segera duduk disofa, tak lama Rendy masuk keruangan.


"Sat...lo kenapa?" tanyanya.


"Om...tolong ambilkan obat dilaci gue," kata Satya dengan lirih sambil menahan sakit.


"Lo telat makan?" tanyanya.


"Ia," jawab Satya singkat.


Rendy ... hanya menghela nafas panjang, sudah tahu punya sakit maag masih juga tidak sarapan.


"Tadi gue minta tolong beli lontong didepan kantor," jawab Satya.


Ranga yang baru datang, dengan membawa bungkusan tersenyum melihat Rendy yang sudah datang.


"Yeilah... udah naik dia," kata Ranga yang segera memindahkan nasi lemak di piring. Satya menaikkan kedua alisnya, melihat apa yang dibeli Ranga tidak sesuai keinginannya.


"Gue tadi minta apa?" tanya Satya.


"Minta lontong, tapi habis....Yang ada tingal nasi lemak. Dari pada lo enggak makan!" kata Ranga.


Pria didepannya hanya melengos saja saat Ranga menatapnya, Rendy mendekati nasi lemak yang ada di meja.


"Lo mau enggak?" tanya Rendy.


"Mau!" jawab Satya dengan wajah kesalnya.


Ranga hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak suka. Namun, piring sekarang jadi bersih.


"Lo lapar atau apa?" tanya Rendy.


"Lapar,"jawab Satya dengan cuek.


Rendy segera mengeluarkan berkas dari tasnya, kemudian ia memberikan kepada Satya dan Ranga.

__ADS_1


"Kalau untuk desainnya sebaik kita serahkan ke Yoga," kata Satya.


"Gue setuju, selagi dia masih di Surabaya," sahut Ranga.


"Gue enggak menyangka kalau Mas Yoga bisa membuktikan ke Papa, bahwa ia bisa sesukses ini sekarang.


Satya akhirnya menceritakan bagaimana Yoga dulu lebih fokus ke usahnya, dan Yoga dulu sungguh tertutup. Dia tidak pernah bercerita kalau ia sudah menikah atau punya anak.


Seingat Satya dulu Ayah Nugraha bilang kalau ia akan membantu seseorang yang punya potensi besar untuk terjun di dunia bisnis desain. Namun, sayang ia hanya lulusan D3.


Karena usaha yang dirintis oleh Yoga hanya jalan ditempat, kalau dibiarkan pasti tidak lama akan gulung tikar. Kurangnya manajemen yang kurang akurat di perusahaan yang dirintisnya membuat usahanya tidak ada kemajuan.


Apalagi persaingan bisnis dari orang yang lebih matang, membuat Yoga dan Adrian menjadi seperti hanya bayangan.


Waktu itu kata Ayah, dia anak dari sahabatnya. Setelah itu Bunda dan Ayah berdiskusi, bagaimana kalau Yoga melanjutkan kuliah lagi untuk mengambil jurusan bisnis.


Dengan turut campur tangan dingin dari Ayah Nugraha, Yoga bisa kuliah di salah satu universitas milik Grup Nugraha.


Bagi Yoga yang sudah lama tidak belajar, saat ia akan melanjutkan ke jenjang Sarjana harus banyak berlatih lagi.


Ayah Nugraha memberikan target ke Yoga, dia harus lulus dalam satu tahun ini dengan hasil yang memuaskan.


Disela-sela libur tidak ada kuliah, Yoga harus terjun langsung ke kantor grup Nugraha yang dulu masih dihandle oleh Ayah Nugraha.


Tidak hanya Yoga yang di gembleng oleh Ayah Nugraha, ada juga Satya sebagai penerusnya nanti. Ada juga Arga dan Ranga.


Satya sering melihat Yoga murung, tapi ia tidak berani bertanya. Perbedaan umur tidak membuat keduanya mejaga jarak. Mereka tetap bersahabat, walau sering ada perbedaan pendapat karena keempatnya satu time.


Setelah satu tahun Yoga menimba ilmu di Surabaya, kini ia kembali ke Jakarta untuk memajukan usahanya yang dikelola oleh Adrian.


Begitu juga dengan Satya harus Mengantikan Ayah Nugraha, sedangkan Arga diberikan kepercayaan untuk mengelola perusahaan yang ada di Jakarta yang sebelumnya di pegang oleh Ayah Rania.


Ranga yang suka ceroboh, menjadi asisten Satya.


Satya menghela nafas panjang, andai ia dulu tahu bagaimana Yoga sering diancam oleh Kakek Roby pasti ia dan Ayahnya akan membantu.


Rendy yang dulu tertutup juga , tidak pernah cerita kalau ia ada hubungan dengan Mery wanita yang dijodohkan orang tuanya.


Tetapi yang membuat Satya tidak habis pikir sampai sekarang, pernikahan Yoga dan Mentari kenapa di sembunyikan oleh Kakek Roby. yang Ia tahu, dia akan menikahi janda beranak satu, tanpa bertanya siapa mantan suaminya.


Ayah Nugraha juga tahunya Mentari janda yang ditinggalkan suaminya, tapi kini semua sudah terjawab alasannya Yoga tidak pernah cerita kepada siapapun tentang istri dan Anaknya, semua itu ia lakukan demi keselamatan Senja dan istrinya di bawah tekanan Papa Roby.


Nah disini yang kemarin bertanya bagaimana Yoga dan Satya bisa dekat ya...dengan perbedaan Umur yang jauh, kenapa bisa satu universitas semua itu karena Ayah Nugraha....


Maaf kalau banyak salah, insyaallah saya akan revisi lagi...


Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍


Vote


Jika suka berikan hadiahnya 🙏


Jangan lupa baca juga karya aku yang lain

__ADS_1


🌾 Takdir Cinta Khansa


🌾 Menikah Muda


__ADS_2