Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
102


__ADS_3

Tak beberapa lama pesanan mereka datang diantarkan oleh pelayan. Mereka berdua menikmati makanan mereka sambil sesekali bercanda.


"Arhhh... kenyang banget!" Seru Luna sambil menepuk perutnya yang terasa penuh setelah menghabiskan banyak hidangan makanan yang mereka pesan tadi.


Gama tersenyum, ia mengambil tisu lalu membersihkan sisa makanan di pinggir bibir Luna.


"Kalau makan itu yang rapi sayang," ujar Gama.


"Heheh lapar sayang," balas Luna terkekeh.


" Mau keliling keliling atau pulang?" Tanya Gama.


"Ummm, kita pulang aja tapi cari martabak dulu ya buat orang di rumah, tadi mereka minta martabak," ujar Luna yang dianggukkan oleh Gama.


Gama pun membayar pesanan mereka, Luna yang berdiri di dekatnya menatap ke sembarang arah melihat lihat suasana di daerah itu.


Matanya tertuju pada sosok pria mencurigakan yang mengawasi mereka dari kejauhan, namun saat mata Luna dan pria itu bersitatap dia langsung berpaling dan melarikan diri.


"Siapa sebenarnya itu?" Batin Luna.


"Sayang ada apa? Kenapa kamu bengong terus dari tadi?" Tanya Gama.


"Emm.... bengong? Nggak tuh," balas Luna sambil menggandeng lengan suaminya dengan erat.


Gama tersenyum, mereka berdua berjalan keluar dari tempat makan itu, kembali menyusuri lokasi area jajan bagi anak muda itu.


"Sayang kita beli martabak yang itu deh, kayaknya enak," ujar Luna.


Gama pun mengangguk dan merangkul Luna menuju tempat penjual Martabak itu.


Mereka membeli beberapa porsi dan sengaja di lebihkan siapa tau kakak kakaknya mau, dan juga para pelayan di rumah itu pasti kebagian.


"Banyak banget sayang," ucap Gama.


"Kenapa? Apa kamu gak bawa uang?" Tanya Luna dengan polos.


Gama tergelak mendengar ucapan istrinya.


"Bawa kok, tapi ini kebanyakan deh buat siapa sih?" Tanya Gama.


"Buat dibagiin sama semuanya, pelayan penjaga dan pengawal kamu yang ikutin kita dari tadi," ujar Luna.


Gama tersenyum, ternyata istrinya ini benar-benar perhatian pada semua orang.


Gama pun membayar martabak mereka lalu memanggil anak buahnya untuk membawa martabak itu untuk dinikmati di rumah besar Park nanti.


"Udah pulang yuk, kakiku sedikit sakit nih, padahal kita jalannya pelan pelan," ucap Luna.


"Ayo kita pulang, kamu bisa gak jalannya? Atau aku gendong saja?" Tanya Gama.


"Bisa kok," jawab Luna.


Namun Gama tampak tidak yakin, pria itu langsung berdiri di depan Luna dan berjongkok meminta Luna naik ke punggungnya.


"Naik sini biar ku gendong, kalau nolak nanti aku gendong di depan loh!"ancam Gama.


"Ck ..iya deh iya padahal ku gak apa apa loh!" Ketus Luna sambil mendekati punggung Gama dan naik ke atas punggung pria itu.

__ADS_1


Hap


Gama menggendong Luna dengan sangat mudah sebab bobot tubuh gadis itu sangat ringan.


"Aku berat gak?" Tanya Luna.


"Nggak, kamu ringan banget malah,"balas Gama.


"Masa sih?" Tanya Luna.


"Iya loh," balas Gama.


Mereka berjalan menuju mobil Gama, Pria itu menurunkan Luna di dekat mobil dan membuka pintu untuknya.


"Terimakasih sayang,"ucap Luna yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Gama.


Mereka pun melaju menuju rumah besar Park. Jalanan sedikit macet karena hiruk-pikuk jalanan yang pada khususnya di jam jam seperti saat ini.


Satu jam kemudian mereka sampai di rumah. Tampak Luna ketiduran di dalam mobil. Gama tersenyum, ia keluar dari mobil dan membuka pintu disebelah istrinya.


Dengan mudah pria itu menggendong istrinya dengan kedua tangannya, bagaikan menemukan bantal untuk tidur, Luna reflek melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu dan menelusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


Pintu rumah di buka oleh pelayan, mereka sangat terkejut melihat kedatangan tuan mereka yang sudah kembali pulih.


Bi Eni kepala pelayan rumah itu sampai menganga tak percaya, ia membelalakkan matanya saat melihat sosok tuannya ya g sudah kembali seperti dahulu.


"Tu...tuan, ya ampun apa ini benar benar tuan?" Ucap Bi Eni sambil menutup mulutnya tak percaya, pelayan lain pun merasakan hal yang sama.


"Halo Bi, iya ini Gan, siapa lagi kalau bukan litle boynya Bibi," ujar Gama sambil tersenyum.


"Gama masuk dulu ya Bi, Luna lagi tidur," Ucap Gama pelan yang dianggukkan oleh Bi Eni


Mata Bi Eni berkaca-kaca, ia menatap punggung pria itu.


"Terimakasih Tuhan, Kau sudah mengembalikan tuan muda seperti dahulu," tangis Bi Eni.


"Bibi kenapa?" Tanya Dini yang berdiri di belakang Bu Eni bersama satu pelayan lain.


"Bibi hanya terharu, akhirnya tuan Gama kembali seperti dahulu kala," ucap Bi Eni sambil mengusap Air matanya.


Gama terus berjalan melewati ruang santai, hingga tiba-tiba Anna, Andin dan Ferdi yang sedang menonton di ruang santai menghentikan langkahnya.


"Kakak!" Teriak Anna saat melihat Gama.


Gama menatap Anna seolah mengatakan jangan berteriak sambil melirik Luna yang tertidur memastikan apakah gadis itu terganggu.


Anna reflek menutup mulutnya, Andin dan Ferdi juga sama terkejutnya saat melihat Gama bisa kembali berjalan. Aura pria itu kali ini berkali kali lipat dari sebelumnya.


"Aku ke kamar dulu, dia sudah tidur," ujar Gama pelan yang dianggukkan oleh mereka bertiga.


Gama meninggalkan mereka disana.


"Kak Gama sudah sembuh Kak Din, Kak Fer, kakakku sudah sembuh!!" Seru Anna kegirangan.


"Wahh ternyata kakakmu benar benar sempurna Na," ujar Andin.


"Dia benar-benar tampan!" Ucap Ferdi.

__ADS_1


Di dalam kamar, Gama dengan perlahan meletakkan tubuh istrinya di atas kasur, ia membuka sepatu Luna dan melepaskan kaki palsu istrinya agar gadis itu nyaman tidurnya.


Setelah itu diambilnya handuk basah lalu di bersihkannya tangan, Kaki dan wajah istrinya dengan lembut.


"Mulai hari ini kupastikan kau akan terus bahagia sayang," batin Gama.


Gama menatap jemari Luna, ia teringat sesuatu, Gama mengambil kotak kecil yang disimpannya di dalam kantong bajunya.


Terlihat sebuah cincin permata berwarna biru terang yang sangat indah bersama dengan pasangannya yang memiliki ukuran lebih besar.


Gama menyematkan cincin itu di jari istrinya dan juga di jari manisnya sendiri.


"Perfect!" Serunya saat melihat cincin itu begitu pas di jari istrinya.


Diambilnya ponselnya lalu di fotonya kedua tangan mereka.


Setelah itu pria itu menyelimuti istrinya, perlahan dia membelai lembut wajah Luna yang tampak sangat mempesona meskipun sedang tidur.


Cup


Cup


Cup


Tiga kecupan mendarat di kening pipi dan bibir gadis itu, seperti yang biasa dia lakukan dulu tanpa sepengetahuan Luna.


"Selamat malam sayang, aku mencintaimu," bisik Gama sambil tersenyum.


Luna tidur dengan sangat nyenyak mungkin karena kelelahan terlebih luka dan rasa perih di kakinya masih terasa.


Gama membersihkan diri, setelah mengganti pakaiannya, ia keluar dari kamar dan bergabung bersama Anna dan yang lainnya.


Anna melihat kakaknya keluar dari kamar, para pria yang tampan dan kharismatik itu membuat siapa saja terpesona.


"Kakak!" Seru Anna yang langsung berdiri dan menghamburkan pelukannya pada Gama.


Gama membalas pelukan Anna adik kesayangannya.


"Kapan kakak sembuh? Kapan kakak pulang? Kenapa gak bilang-bilang, kakak tau gak kak Luna sering nangis diam diam di kamar, kenapa kakak lama banget sih!" Omel Anna.


Gama sedikit terkejut mendengar ucapan Anna, ia tak menyangka kepergiannya benar benar membuat Luna kesepian.


"Kamu kok makin cerewet sih, persis seperti kakak iparmu!" Ucap Gama sambil menyentil kening adiknya.


''hehehh, ya iya lah Anna kan tinggal sama kak Luna selama setahun pasti ketularan hahhaha," kekeh Anna.


.


.


.


Author lama Up, sorry 😌


jangan lupa like, vote dan komen, kalau masih berkenan heheheh


Masa kalian lupa sama Alex, author aja gak Lupa Up ,🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2