Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
152


__ADS_3

Setelah berpamitan pada si nenek, Luna dan rombongannya berangkat menuju rumah besar keluarga Park.


Sebelum berangkat, Luna memberitahukan bahwa nenek Rose akan dirawat oleh tenaga profesional sehingga Rose tidak perlu khawatir dengan sang nenek dan dia bisa fokus dengan pekerjaannya sebagai asiten Luna.


"Kak Rose kita satu mobil ya dengan kak Alex dan kak Ken," ucap Luna.


"Loh sayang kenapa bareng mereka? Kita bareng aja," ucap Gama yang berusaha mendekati Luna namun Luna dengan sengaja menepis tangan suaminya.


"Ck... menyebalkan!" Ketus Luna.


Gama merasa sangat frustasi, Luna tidak mau berbicara dengan dirinya belum lagi Ken juga tampak marah padanya.


"Luna kita tidak akan pulang kalau kamu nggak bilang apa salahku!" Tegas Gama sambil menarik tangan Luna dengan sedikit kasar.


Ken langsung menghampiri mereka, dia takut Gama akan menyakiti Luna apalagi kandungannya masih sangat rentan.


"Apa yang kau lakukan pada adikku Gama?" Ucap Ken dengan nada marah.


"Arhhh...aku ..haishh...apa salahku? Kenapa kau sedari tadi menghindariku?" Ucap Gama frustasi, dia melepaskan tangan Luna.


"Hiks...hiks...hiks, kau jahat!" Tangis Luna.


Gama terbelalak, sebenarnya ada apa dengan istrinya itu pikirnya.


"Ohh...ayolah sayang ada apa? Apa ini masih masalah tadi pagi? Bukankah aku sudah meminta maaf?" Ucap Gama frustasi.


"Aku tidak mau bicara padamu, ayo kita pergi kak Ken, ayo kak Rose, aku gak mau pulang ke rumahnya kita ke rumah kak Ken hiks hiks hiks," ucap Luna yang malah menangis tersedu-sedu.


Gama semakin frustasi apalagi saat mendengar istrinya tidak mau pulang ke rumah.


Alex dan Mark juga begitu bingung dengan sikap Luna kali ini, mereka tak bisa menebak apa yang sedang terjadi.


"Jangan ke rumah Ken! Apa pun masalah kita, kau jangan berani keluar dan pergi dari rumah, jika kau marah silahkan tapi jangan pernah pergi dari rumah kita!" Ucap Gama tegas.


"Hiks hiks, aku mau pulang bawa aku kak Ken dia...dia jahat!" Ucap Luna sambil memeluk Rose yang berdiri di sampingnya.


Alex menghampiri Gama lalu menepuk punggung pria itu.


"Tenang lah dahulu, kita ke rumah selesaikan baik baik dan jangan membentaknya," ucap Alex berusaha menenangkan Gama.


"Arhhh...sial!!" Ketus Gama frustasi.


Sementara Luna yang sedang memeluk Rose menangis haru dengn ucapan suaminya, dia tau kalau suaminya benar-benar mencintai dirinya.


"Aku mencintaimu sayang, tunggu sampai besok ya," batin Luna.


"Ayo kita pulang, Luna kamu tidak boleh ke rumah kakak, kamu harus di rumah suamimu," ucap Ken.


"Baiklah tapi kalian temani aku, aku tidak mau bersamanya!" Ucap Luna yang enggan menatap wajah frustasi suaminya.


Akhirnya mereka pulang menuju kediaman keluarga Park. Gama merasa sangat tertekan dengan hal ini, dia tidak suka kalau istrinya tidak berbicara padanya seperti biasanya.


"Arghh....Mark apa kau tau Luna kenapa?" Tanya Gama yang duduk di kursi di samping pengemudi.


"Saya tidak tau tuan, coba jelaskan masalah Anda mungkin saya bisa membantu," ucap Mark yang fokus menyetir.


"Arghh...tadi pagi dia bertanya bagaimana kalau dia tidak bisa punya anak, aku diam cukup lama sampai akhirnya dia marah, tapi aku sudah minta maaf bahkan kami sampai Ekhmm ya begitulah intinya dia tiba tiba saja kembali marah padaku!" Resah Gama .


Mark tersenyum tipis melihat wajah tuannya yang sudah kusut hanya karena tidak tau masalah apa yang menimpa dirinya dan Luna.


"Setahu saya, wanita itu sensitif sekali tuan, jadi saya rasa tuan memang salah karena sempat diam," ucap Mark.


"Hufftt entahlah Mark, aku juga bingung!" Ucap Gama pasrah.


Sementara itu di mobil Alex, Luna malah tertawa cekikikan membuat Alex yang belum tau apa-apa jadi khawatir dengan Luna.

__ADS_1


"Na kamu gak stress kan karena lagi marahan sama Gama, Kamu baik baik saja kan?"tanya Alex.


"Pffthh hahahaha hahahhahah, kak Lex itu semua cuma sandiwara," tawa Luna.


"Haa?" Alex terperangah.


"Heheh, jadi Ekhmmm begini kak, besok kan ulang tahun Gama, Luna mau adain kejutan buat suami Luna, kalian juga harus bekerja sama, jangan ada yang bicara padanya mulai hari ini sampai besok, salahkan saja dia terhadap banyak hal," jelas Luna.


"Arhhh....aku mengerti, baiklah ini pasti akan seru, hahahah, wajahnya tadi sudah sangat panik, kau tega sekali na," ucap Alex.


"Heheheh, ini menyenangkan ," ucap Luna.


"Apa kau sudah menyiapkan hadiahnya?" Tanya Alex.


"Sudah," ucap Luna sambil mengelus perutnya.


"Ah benarkah apa hadiahnya?" Tanya Alex.


"Baby twin!" Ucap Luna.


"What!!??" Pekik Alex , untung mereka berhenti di lampu merah jika tidak Alex busa saja mengerem mendadak karena terkejut.


"Kamu hamil na?" Tanya Alex yang di jawab anggukan oleh Luna.


"Wow! Si Gama topcer hahahhahaha," seru Alex.


"Ck...suaramu keras sekali Lex, keponakanku terganggu nanti," ketus Ken .


"Heheh maaf ya Na, maaf ponakan Paman Alex!" Seru Alex .


"Hahahhaha" mereka semua tertawa terbahak-bahak.


Mereka semua menikmati perjalanan menuju rumah besar Park. Luna menjelaskan rencana nya pada Alex agar pria itu ikut membantu.


"Loh istriku mana?" Tanya Gama yang baru tiba bersama Mark.


"Entah cari sendiri, Mark kemari lah ada yang ingin ku bicarakan ini tentang proyek pembangunan jalan itu!" Ucap Ken padahal dia mau mengajak Mark menyiapkan persiapan ulang tahun Gama.


"Baik," jawab Mark.


"Erghhh...aku akan keluar mencari udara segar, oh iya Ke tempat Aiden saja," ucap Alex yang langsung pergi dari rumah itu.


Jadi lah Gama di tinggalkan sendirian di ruangan itu.


"Kenapa semua orang malah menghindari aku?" Ucap Gama frustasi, dia mengacak-acak rambutnya sambil berjalan mencari keberadaan istrinya.


Sementara itu, Luna dan Rose kini berada di taman belakang bersama Anna, Andin dan Ferdi.


"Andin, Fer, Anna aku bisa minta tolong tidak?" Tanya Luna.


"Boleh," ucap mereka bertiga bersamaan.


Luna pun menjelaskan perihal rencananya untuk menjahili sang suami. Andin, Anna dan Ferdi mengangguk paham dan siap untuk melakukan tugas mereka.


Rose mengawasi pintu menuju taman belakang wanti wanti kalau Gama tiba tiba datang.


"Ahh dan lagi ada kabar bahagia," ucap Luna sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasanya.


Luna menunjukkan foto hasil USG itu pada mereka bertiga. Mata ketiganya terbelalak.


"Sssthhh jangan ribut, nanti dia tau, biar ini menjadi hadiahnya," ucap Luna berbisik yang di balas anggukan oleh mereka.


"Wahh selamat ya Luna!!" Ucap Andin langsung memeluk sahabatnya.


"Selamat ya Na, semoga sehat samapi persalinan," ucap Ferdi sambil menepuk punggung Sahabat nya itu.

__ADS_1


"Selamat kak, jadi aku sekarang aunty dong hahahah, aunty nya muda dan cantik begini," kekeh Anna.


"Hahahah, iya iya, ssst jangan keras-keras nanti dia tau!" Ucap Luna.


"Na..suami kamu datang," ucap Rose saat melihat Gama keluar dari pintu belakang dan berjalan menuju mereka yang sedang duduk di kursi taman.


"Hiks...hiks hiks, dia jahat dia diamkan aku tadi," tangis Luna memulai aktingnya.


"Sudahlah jangan menangis," ucap Andin sambil memeluk Luna.


"Kak Gaamaaa, apa yang kakak lakukan pada kakakku? Kenapa pulang dari rumah sakit, kakak malah nabgsi begini!" Teriak Anna dengan nada kesal dan marah.


Tatapan Ferdi dan Andin juga sama menakutkan dengan ucapan Anna yang memarahinya dengan tatapan tajam.


"A..aku arhh...Luna kumohon bicaralah pada ku!" Pinta Gama yahg sudah sangat frustasi.


Gama tak berani mendekat apalagi saat melihat adik nya Anna tiba-tiba bergetar ketakutan namun berusaha di tahan gadis itu.


"kak Gama, tolong pergilah, Anna akan panik jika kakak mendekat, ku mohon," ucap Bima yang melihat Anna bergetar ketakutan.


"Tuan saya mohon pergilah, Luna dan Anna butuh ketenangan, mereka bisa sakit jika begini,"pinta Rose.


"Arhhh...kalian kenapa sih??!" Gerutu Gama.


"Hiks hiks hiks, pergi sana!" Ucap Luna dengan nada kesal.


Gama pasrah, dia tak bisa mendekat apalagi Anna ada disana, dia tau kalau Anna masih trauma bahkan sulit berdekatan dengan pria selain Ferdi.


Gama semakin frustasi, belum selesai masalah adiknya sekarang istrinya tak mau dekat dengannya lengkap sudah penderitaan Gama.


Gama meninggalkan mereka disana berharap kalau Luna mau berbicara dengannya.


"Dia sudah pergi," ucap Rose.


"Huhhffhhh...aku tak tahan mendengar nya memohon seperti itu," ucap Luna.


"Ekhmm.. baiklah kita sekarang lakukan tugas kita," ucap Luna sambil menghapus air matanya.


"Ayo," ucap mereka.


Hari itu mereka semua sibuk mempersiapkan acara ulang tahun dan kejutan untuk Gama. Luna benar-benar tidak diperbolehkan melakukan apa pun, apalagi saat mendengar penjelasan Rose kalau trimester pertama adalah masa yang rentan.


"Rose ayo kita lihat tempat, Andin kamu juga ikut," panggil Ken yang datang bersama Mark.


"Baiklah," ucap mereka berdua.


Sementara Rose, Andin, Ken dan Mark melihat gedung, Luna, Ferdi dan Anna berdiskusi di ruang kerja sambil merangkai aksesoris yang di gambar oleh Gama sewaktu mereka masih kecil.


"Wah ini akan sangat indah kak," ucap Anna sambil mengangkat aksesoris itu.


Sementara itu Gama hanya bisa mengintip Luna dari pintu masuk ke ruangan kerja tanpa bisa mendekati mereka.


"Na,suamimu ngintip tuh," bisik Ferdi.


"Ssstt biarkan saja, lakukan seperti biasa," balas Luna.


"Ada apa denganmu sayang?" Batin Gama yang lagi galau Gegana karena di cuekin istri sendiri.


.


.


.


Like, vote dan komen 😉😉😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2