
Luna sedang duduk di ruang santai, jam menunjukkan pukul 12 siang, dia dan Ferdi baru saja menyelesaikan rakitan aksesoris mereka untuk toko online yang sudah dibuka sejak kemarin.
Anna masih di sekolah, Gama, Ken, Aiden dan Bima juga masih di kantor mereka masing-masing. Sedangkan Andin masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Luna belum sempat mengunjungi kantor suaminya karena dia juga punya kesibukan sendiri. Ferdi sendiri pergi ke belakang untuk melakukan olahraga rutinnya yang sudah diatur oleh Ken, Aiden dan Bima dalam program diet pria itu.
Tercium harum minyak pijat di ruang santai itu, suara televisi yang menayangkan program kesukaannya juga menggema dalam ruangan itu. Para pelayan sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing, ada sekitar tiga pelayan yang membersihkan ruangan itu.
Luna duduk di atas karpet, perlahan ia membuka kaos kakinya yang selalu setia ia gunakan untuk menutupi kaki palsunya.
Klekk
Luna membuka kaki palsunya, ia mengambil cairan pembersih untuk mensterilkan kaki palsu itu, dengan lembut ia membersihkan.
"Ck...karena lama gak dibuka jadi gini deh, shh...kakiku jadi gatal," gerutu Luna sambil menggaruk ujung kakinya yang buntung itu.
Para pelayan tidak lagi terkejut dengan kondisi Luna, walaupun saat pertama kali melihat gadis itu melepaskan kaki palsunya di ruangan itu mereka cukup terkejut, sebab cara berjalan Luna sama seperti orang normal dan mereka tidak menyangka kalau Luna cacat.
Setiap hari Luna selalu memakai kaos kaki atau gaun panjang untuk menutupi kakinya, bukan malu dengan kondisinya, ia hanya tidak ingin orang lain merasa tidak nyaman melihat kakinya.
Meski demikian, tidak ada yang pernah merendahkan bahkan menganggap remeh gadis itu di rumah besar Park. Mereka sangat menghormati nyonya baru mereka yang selalu bisa membuat suasana menjadi menyenangkan.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Bi Eni yang tiba-tiba datang karena melihat Luna sedang membersihkan kaki palsunya.
Luna menoleh, tangannya masih asik mengelap kaki palsu itu
"Ahh...ummm aku hanya butuh air hangat di bakul, bisa tolong ambilkan bi? aku lupa tadi membawanya," ucap Luna dengan nada sopan.
"Baik nyonya akan saya ambilkan," ucap Bi Eni sambil tersenyum.
"Eh...Bi jangan Bibi biar pelayan yang lebih muda aja, Bibi udah tua gak boleh angkat-angkat yang berat," celetuk Luna yang membuat Bi Eni membelalakkan matanya saat mendengar kata 'tua'.
Para pelayan yang mendengar ucapan Luna mengulum senyum mereka, sebenarnya mereka ingin tertawa saat melihat wajah stok Bi Eni saat di katakan sudah tua oleh majikannya.
"Hahahah, Nyonya ada ada saja ya, cuma nyonya yang berani bilang saya tua kalau pelayan lain bilangnya saya masih muda," kekeh Bi Eni.
"Mata saya masih sehat Bi, ya kali gak bisa bedain mana yang tua mana yang muda," celetuk Luna.
" Nyonya, coba liat saya apa saya sudah setua itu?" tanya Bi Eni yang memang terkenal narsis dan tidak mau di bilang tua padahal usianya sudah kepala Lima.
Luna menatap Bi Eni dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Udah loh Bi, noh di bawah mata bibi ada kerutan, di dahinya juga terus di balik bedak Bibi pasti ada flek hitam terus mulai keriput, Bibi jarang perawatan ya," goda Luna dengan tatapan meledek pada Bu Eni.
Sebenarnya ini akal akalan gadis itu saja, karena meski usia Bi Eni sudah kepala lima, kulitnya sangat bersih dan fresh meski ada beberapa kerutan di beberapa sisi namun tidak mengurangi pesona Bi Eni yang belum menikah sampai saat ini.
"Nyonya....jangan dilanjut, saya jadi malu ihkk," ucap Bi Eni sambil menutup wajahnya.
"Makanya Bi rajin perawatan, ada kaca di kamar kan? kalau gak ada bibi boleh pakai kaca di kamar Luna biar jelas dimana yang berkerut hahahhaha," balas Luba sambil tertawa terbahak-bahak.
"Nyooooonyaaaaa....." rengek Bi Eni.
"Hahahaha, hahahahahah," mereka tertawa terbahak-bahak akibat ulah Luna.
Para pelayan tertawa mendengar ucapan Luna, lain halnya dengan Bi Eni yang malah mengerucutkan bibirnya karena di goda oleh nyonya nya sendiri.
Luna sangat disayangi di rumah itu, dia juga menyayangi semua pelayan di rumah besar itu, Luna bahkan sudah seperti teman bagi mereka namun para pelayan tetap menjaga rasa hormat mereka pada istri tuan mereka itu.
"Kamu tolong ambilin air hangat di bakul ya," ucap Luna pada seorang pelayan wanita yang usianya mungkin beberapa tahun di bawahnya.
"Baik nyonya," jawab gadis pelayan itu dan langsung beranjak ke belakang.
"Bi Eni masih cantik kok, jangan marah ya, Luna bercanda doang heheheh," ucap Luna sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Iya nyonya, Bi Eni tau kok," jawab Bi Eni sambil tersenyum.
"Baik nyonya, kami permisi!" ucap mereka sambil menunduk lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.
Gadis pelayan tadi datang membawa bakul air hangat ke dekat Luna, namun karena tidak hati-hati ia terjatuh dan air dalam bakulnya tumpah dan mengenai tubuh Luna.
Byuuurrrr
"Eh...aduh banjiiiirrrrr!!" teriak Luna yang terkejut karena tubuhnya tersiram air.
Pelayan itu langsung buru-buru bangkit, ia panik saat melihat nyonya rumah itu sudah basah, bahkan ia tidak memperhatikan kakinya yang lecet karena terjatuh bahkan sampai mengeluarkan darah.
"Nyo....nyonya...ma..maafkan...saya...ma..maaf nyo...nya," ucap gadis pelayan itu sambil berlutut di depan Luna.
"Ambilkan handuk!" ucap Luna.
Dengan segera gadis pelayan itu berdiri lalu berlari dengan kakinya yang sedikit pincang karena terluka, hal ini tidak lepas dari pandangan Luna.
Bi Eni yang mendengar teriakan Luna menjadi panik lalu dengan segera berlari menemui gadis itu .
__ADS_1
"Astaga nyonya, kenapa nyonya basah? aduh ada apa ini?" ucap Bi Eni panik.
Gadis pelayan tadi datang dengan membawa beberapa handuk untuk nyonya mereka. Jujur saja ia sedang ketakutan sekarang, terlihat dari raut wajahnya yang pucat dan tubuhnya juga gemetaran.
"i...ini handuknya nyonya,"ucap gadis pelayan itu.
Luna mengambil handuk itu dan langsung mengelap tubuhnya yang basah karena tersiram air.
"Dini kamu yang lakukan ini hah? udah ku bilang hati hati kalau kerja, astaga, Din kamu lihat nyonya udah basah kuyup begitu!" ucap Bi Eni memarahi gadis bernama Dini itu.
Dini berlutut di hadapan mereka dengan tubuh bergetar ia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya dengan bulir-bulir air mata yang sudah berjatuhan dari kedua pelupuk matanya.
"Ma..maafkan saya nyonya...maafkan saya, saya terpleset tadi, maafkan saya, saya bodoh maaf nyonya," Dini menangis ketakutan sambil memohon maaf di depan Luna.
Wajah Luna seketika berubah, ia menatap tajam ke arah Dini, bahkan pelayan lain yang melihat hal itu menjadi ketakutan mereka menghentikan pekerjaannya dan berdiri di tempat masing-masing sambil menunduk, Bi Eni juga ikut takut dengan aura suram gadis itu, baru kali ini mereka melihat wajah Luna penuh kemarahan.
"Ya Tuhan habislah aku, hiks hiks hiks aku telah melakukan kesalahan besar," batin Dini di dalam hatinya.
"Kemari!" ucap Luna dengan datar.
Dini mendekati Luna lalu duduk di atas lantai dengan posisi berlutut, kini ia sejajar dengan Luna yang duduk lesehan di atas karpet.
"Mendekat kemari!" ucap Luna dengan nada dingin.
Dini semakin gemetaran, wajahnya pucat pasi saat mendengar suara Luna yang begitu seram baginya.
Luna menatap tajam ke arah gadis itu, ia kesal sangat kesal, Luna mengangkat tangannya dan....
PLakkk
Plakk
Plakk
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😉😊
__ADS_1
Waduh Luna kok gitu???