
"Lepaskan aku tuan, apa yang kau lakukan?" Tukas Andin saat Mark memeluknya secara tiba-tiba, tentu saja ia terkejut dengan hal ini, baru saja pria itu pergi namun sikapnya seolah oleh berbeda kali ini.
Andin meronta ingin melepaskan pelukan Mark, ia tidak suka di peluk oleh sembarang laki-laki.
"Lepaskan aku!" Ketus Andin.
Mark tak berkutik, ia tetap dalam posisinya memeluk Andin, entah apa yang di pikirkan pria kaku itu sekarang tapi ada yang aneh dengan wajahnya saat ini. wajah Mark merona tapi ekspresinya tetap kaku, sebenarnya ada apa denganmu Mark?
Bruk brukk bruk
"Emphh...le..pasukan aku," kesal Andin sambil memukul-mukul punggung pria itu namun Mark sama sekali tidak bergerak.
"Diam, jangan bergerak atau kau tidak akan selamat malam ini!" Balas Mark dengan suara beratnya yang terdengar sangat menyeramkan.
Andin bergidik ngeri,ia tidak tau kenapa pria kaku itu tiba-tiba seperti ini. Apa mungkin ada kerusakan di otak pria itu pikirnya.
"apa yang kau lakukan tuan? Kenapa kau begini? Ini sangat tidak enak dipandang mata," kesal Andin.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi aneh, ada apa denganmu tuan kaku? Cepat lepaskan aku, kau pikir aku bonekamu sampai kau bisa sembarang memeluk seorang perempuan hah?" Andin berbicara dengan sedikit berteriak karena sedari tadi pria itu tak menggubris perkataannya.
"Apa yang kau mau hah? Apa kau mau merasakan tubuhku hah? Kalian para pria sama saja, kalian semua hanya memikirkan diri kalian, kepuasan kalian!!" Andin berteriak marah, namun Mark tidak memperdulikan itu, ia semakin memeluk Andin dengan erat.
"Diamlah atau apa yang kau katakan itu akan terjadi malam ini!" ancam Mark yang langsung membuat Andin terdiam kaku, tubuhnya gemetar ketakutan, ia tak berani lagi berkutik.
Sungguh sial nasibnya bisa bertemu dengan pria aneh seperti Mark.
Merasa tidak ada pergerakan,Mark melepaskan pelukannya namun tangannya masih berada di bahu gadis itu. Mark menatap Andin yang tertunduk diam, perlahan pria itu mengangkat wajah Andin hingga pandangan mereka saling bertemu.
Andin menatapnya dengan penuh kebencian, Mark menatap Andin masih dengan tatapan dingin dan datarnya itu.
"Kau jahat!" Tukas Andin dengan mata penuh amarah.
"Diamlah aku perlu mengkonfirmasi sesuatu!" Ucap Mark jangan lupakan aura dingin pria itu.
Andin menatap bingung dengan ucapan Mark, mengkonfirmasi apa maksudnya.
Mark menatap wajah Andin, matanya turun ke benda kenyal di bawah hidung gadis itu. jantungnya berdegup kencang, tak pernah ia merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
Mark menarik tengkuk Andin dan mendekatkan wajahnya ke wajah Andin. Dalam waktu singkat kedua benda kenyal itu bersentuhan, entah mendapatkan insting dari mana, Mark mulai mencium bibir itu dengan lembut.
Andin membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan pria kaku itu. jantung Andin berdegup kencang ia baru pertama kali melakukan hal ini, jujur saja Andin sedikit ketakutan namun perlakuan lembut Mark membuatnya sedikit terbuai.
Walau demikian Andin tetap menyadarkan dirinya agar segera melepaskan dirinya dari pria itu.
"Emphh...lepaskan aku dasar pria mesum !!!" Teriak Andin saat berhasil menjauhkan wajahnya dari Mark.
Mark melepaskan Andin dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, entahlah pria itu selalu tanpa ekspresi. Ia berdiri di hadapan Andin sambil menatap gadis itu.
"Tidurlah, ini sudah larut aku akan menjagamu," ucapnya seolah tidak terjadi apa-apa barusan. lain halnya dengan Andin yang merona, jantungnya berdegup tak karuan antara terkejut, takut dan menikmati.
"Dasar pria bajingan, kau sudah mengambil ciuman pertamaku!!!!" Teriak Andin kesal, ia menggosok gosok bibirnya karena sangat kesal diperlakukan seperti itu.
"Aku bukan wanita murahan yang bisa kau perlakukan seperti itu, aku tidak sama dengan wanita-wanita yang mungkin sudah pernah kau tiduri bang.....sat!!" Andin berteriak marah jujur saja ia seperti merasa tidak dihargai.
"Kau harus tanggung jawab, kau sudah mengambilnya, dasar pria jahat!!" Tambahnya lagi sambil menatap Mark yang berdiri di depannya dengan tatapan seperti biasa.
"Baiklah aku akan bertanggungjawab, kalau begitu mulai hari ini kita berkencan supaya kau tidak merasa seperti wanita murahan, cepat tidurlah aku akan melanjutkan pekerjaanku!" Ucap Mark sambil membaringkan tubuh Andin di atas bed rest lalu merapikan selimut gadis itu.
"A..apa? Berkencan? Aku tidak Sudi!!" Ketus Andin.
"Mimpi apa aku memiliki kekasih seperti dirimu, jangan harap itu akan terjadi!" Ucap Andin langsung menutup wajahnya dengan selimut dan membelakangi Mark.
Mark tersenyum tipis, ia beranjak menuju sofa dimana laptopnya dia letakkan. Ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa empuk itu sambil menatap Andin yang meringkuk di bawah selimut.
"Manis, bibirnya bisa semanis itu, ck...kau sudah gila Mark, sudah terlanjur maka aku akan menikmati permainan ini, semua wanita itu sama!" Gumam Mark.
Mark melakukan itu untuk mengkonfirmasi apakah dirinya menyukai Andin atau tidak dan hasilnya ya dia menyukai gadis itu, tapi karena trauma di tinggalkan oleh sang Ibu, Mark memiliki pikiran licik untuk sekedar bermain-main dengan gadis itu.
"Dia pasti akan cepat jatuh cinta padaku dan setelah jatuh cinta dia akan meminta segala macam hal saat itu terjadi aku akan mencampakkannya, para wanita memang tidak bisa dipercaya!" Tukas Mark.
Rasa bencinya pada wanita menutupi perasaannya pada Andin sehingga yang ada dalam pikirannya adalah melampiaskan semua perbuatan ibunya pada Andin.
Padahal dia tidak tau takdir apa yang akan menjeratnya nanti bersama gadis itu.
Di balik selimut, Andin menggosok gosok bibirnya, dia sangat benci kejadian tadi, bukannya berdebar karena jatuh hati kali ini ia berdebar ingin melakukan pembalasan dendam.
"Sialan kau Mark, kau mengambil ciuman pertamaku, kalian para laki-laki memang jahat, kalian gila kalian mesum otak kalian hanya dipenuhi kepuasan pribadi menjijikkan!" Lirih Andin.
__ADS_1
"Kasihan sekali kau Andin, hiks hiks hiks," Andin menangis sambil menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar.
Andin dulu memiliki seorang kekasih, hanya saja ia diputuskan karena tidak mau melayani mantan kekasihnya itu di atas ranjang, bahkan sekedar berciuman saja ia menolak hingga akhirnya Andin di selingkuhi dan diputuskan di depan selingkuhannya itu.
Kekasihnya itu ternyata menyuap Papa dan Mama Andin dengan segepok uang agar mereka memberikan ijin berpacaran dengan Andin dengan maksud bisa menikmati tubuh gadis itu.
Sejak saat itu Andin tidak mau memiliki hubungan apa apa dengan pria, cukup sekali ia disakiti, ia tak mau lagi mengalami hal yang sama.
Jam terus berjalan, rombongan Luna kembali ke rumah utama Keluarga Park setelah berkeliling kota beberapa jam. Kali ini Ken, Aiden, dan Bima mengajak gadis itu ke berbagai tempat yang bisa dikunjungi saat malam hari di kota metropolitan itu.
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, dan mereka baru kembali dari perjalanan mereka. Luna sangat gembira bisa mengelilingi kota itu bersama kakak kakaknya yang super heboh, apalagi saat ada pria yang berani meliriknya, mereka langsung menatap tajam kearah pria itu persis seperti serigala yang bersiap menerkam mangsanya.
Ken menggendong tubuh Luna yang terlelap dalam perjalanan mereka tadi. Gadis itu tidur persisi seperti anak bayi, sangat nyaman dalam pangkuan sang kakak.
Ken membawa Luna menuju kamar Luna dan Gama sedangkan Aiden dan Bima langsung masuk ke kamar masing-masing dan terlelap karena sudah lelah.
Perlahan Ken membuka pintu meski sedikit sulit karena ia menggendong Luna. Setelah berhasil ia masuk lalu membaringkan gadis itu di samping Gama. merasa ada yang masuk,Gama membuka matanya dan melihat Ken dan Luna disampingnya.
"Ini sudah jam dua, kenapa kalian lama sekali?apa terjadi sesuatu dengannya?" tukas Gama sambil menatap jam di atas nakas lalu kembali melihat Ken.
"Kami berkeliling dulu tadi, dia sangat senang, kalau begitu aku keluar dulu," ucap Ken setelah merapikan selimut Luna.
"Terimakasih, lain kali jangan sampai selarut ini," ucap Gama ya g dianggukkan oleh Ken.
Ken keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan pelan.
Gama menggeser tubuhnya mendekati Luna yang tidur dengan lelap. Sambil tersenyum Gama memeluk istrinya dari samping seperti yang biasa ia lakukan.
"Kau senang sekali sepertinya, baguslah maafkan aku yang tidak bisa menemanimu berkeliling dengan kondisiku ini sayang," ucap Gama .
Luna yang terlelap tentu tidak mendengar ucapan Gama, ia hanya merapatkan tubuhnya ke dekat Gama dan memeluk suaminya seolah tau jika ia sedang tidur di samping suaminya.
Gama tersenyum, ia memeluk gadis itu dengan erat dan mengecup pucuk kepala istrinya lalu kembali terlelap mengarungi dunia mimpi.
.
.
.
jangan lupa like, vote dan komen 😊😉😊
__ADS_1
ini udah author ganti, soalnya part ya g kemarin belibet 😂😂🤣
Author buatnya sambil ngantuk ya gitu deh , mianhe yeorobun 🙏🙏🙏