Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
112


__ADS_3

Dengan langkah lunglai Gama masuk ke dalam kediaman Ken. Mereka tinggal di rumah Ken demi menjaga keselamatan, apalagi setelah mendapatkan informasi bahwa ada penyusup di rumah besar Park yang harus di musnahkan dahulu.


Penampilan Gama benar-benar kacau, rambutnya acak-acakan, katung matanya menghitam, wajahnya pucat, tubuhnya lemah bahkan pikirannya sangat kacau kali ini.


Gama masuk seperti manusia tanpa nyawa, dia benar-benar menyesali perbuatannya yang mengabaikan istrinya hanya karena nama orang lain.


"Arhhhhhhhhh...... Luuuunaaaa....arhhhh," Gama berteriak histeris saat masuk ke dalam rumah, di meremas kepalanya dengan kuat.


Penghuni rumah itu sampai lari berbondong-bondong untuk melihat apa yang terjadi.


Gama meringsut ke lantai dia mengusap kasar wajahnya, hatinya benar-benar kacau selama dia belum menemukan Luna, sungguh besar peran penting Luna dalam kehidupan Gama.


"Sebesar itu rasa cintamu padanya, aku tak pernah melihat seorang Gama sampai segila ini," batin Bima.


"Ada apa? Kenapa dia?" Tanya Ferdi yang panik.


"Stress, dia depresi karena Luna masih belum ditemukan, Luna benar-benar hilang kali ini," ucap Bima dengan wajah Lesu dan tidak bersemangat.


"Cihh....itu semua karena tempramen burukmu itu, sampai kau mengorbankan orang-orang terdekatmu!" Ucap Anna yang langsung pergi meninggalkan mereka disana, dia memang masih kesal pada pria itu.


Gama mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar depresi kali ini.


"Arhhhh...." Gama benar-benar stress memikirkan dimana keberadaan istrinya saat ini. Pria itu bangkit berdiri.


Dia berjalan keluar rumah, dia ingin kembali ke rumahnya berharap bisa menemuka Luna disana.


"Kau mau kemana?" Tanya Bima saat melihat Gama berjalan ke luar.


"Pulang, Luna akan mencariku di rumah,"ucapnya pelan.


Bima menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Mereka semua memang sangat khawatir pada gadis itu .


Bahkan tim yang mencari keberadaan Luna saat ini dilipatgandakan, mereka mendapat bantuan dari keluarga Farenheit yang beberapa hari lalu sudah pulang namun saat tiba di Yogyakarta mereka menerima berita bahwa Luna hilang.


Semuanya panik, keluarga Farenheit ikut andil dalam pencarian Luna namun hasilnya sama, mereka tidak menemukan gadis itu.


"Baik ayo ku temani, jika kau kubiarkan sendiri kau mungkin akan bermain gila seperti di jalanan tadi!" Ketus Bima.


Ferdi dan Andin saling menatap, mereka juga sama khawatirnya dengan yang lain.


"Fer sebenarnya apa yang terjadi pada Luna? Aku khawatir dia kenapa kenapa," risau Andin sambil meremas kedua tangannya.


"Aku juga bingung dengan situasi ini, tapi ada yang mencurigakan di rumah besar Park, sepertinya ada seorang penyusup, aku akan kesana menyusul mereka, kita harus menghentikan penyusup itu!" Ucap Ferdi.

__ADS_1


Andin cukup terkejut mendengar ucapan Ferdi, bagaimana bisa di rumah besar itu ada seorang penyusup pikirnya.


"Kau jagalah Anna jangan sampai dia histeris lagi, aku pergi dulu!" Ucap Ferdi yang dianggukkan oleh Andin.


Setelah kepergian mereka, Andin segera memeriksa keadaan Anna.


Tok


Tok


Tok


"Anna, kamu di dalam?" Panggil Andin saat di depan kamar Anna.


Ceklek


"Ada apa kak, masuk saja," kata Anna sambil membukakan pintu untuk Andin.


Andin masuk, dia melihat Anna tidak sedepresi kemarin saat Luna dinyatakan hilang.


"Mereka berdua duduk di atas ranjang Anna dan saling berhadapan.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Andin dengan raut khawatir di wajahnya.


"Hiks hiks hiks, bagaimana kalau Luna celaka? Aku gak sanggup An, gimana ini hiks hiks hiks," tangis Andin pun akhirnya pecah, dia benar-benar khawatir dengan sahabat baiknya itu.


Anna memeluk dan menenangkan Andin seraya menepuk-nepuk punggung Andin.


"Cepatlah pulang kak Luna, keadaan disini semakin kacau, aku tak yakin apa aku bisa merahasiakan kalau kakak baik-baik saja, apalagi melihat keadaan kak Gama tadi, dia benar-benar hancur kak," batin Anna.


Gadis itu tau jika Luna sudah kecewa maka akan sangat sulit mengambil hati gadis itu. Tapi disini banyak orang yang membutuhkan gadis super cerewet itu, kehilangan Luna adalah hal terbesar yang tidak ingin mereka alami.


Keluarga Farenheit di Yogyakarta pun sampai kocar-kacir karena berita ini.


Gama masuk ka dalam kamarnya, penampilannya acak-acakan, wajahnya lesu, pucat dan hatinya bterasa sakit.


Dia menatap kamarnya, biasanya Luna akan menemaninya disini, Luna akan memijit kakinya saat dia lumpuh dulu, Luna akan menyiapkan pakaian nya, mengeringkan rambutnya, memeluknya saat tidur memberikan kecupan dan banyak hal yang membekas diingatan pria itu.


"Lu...naa, di..mana kau sayang?" Tangis Gama tersedu-sedu di dalam kamarnya. Air matanya membasahi wajahnya, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya benar-benar pucat, sudah tiga hari dia tidak makan dan hanya minum ala kadarnya.


Gama merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia menghirup dalam dalam aroma tubuh Luna yang tertinggal di bantal dan seprai mereka.


"Maafkan aku....arhhh...Lu..na, maaf," Gama masih menangis, hatinya benar-benar hancur. Terlalu lelah menangis, terlalu lelah berpikir, terlalu lelah berlari kesana kemari membuat Gama terlelap dengan cepat.

__ADS_1



Hari berlalu begitu saja dengan beban yang sama,


Di apartemen Alex, tampak Luna menatap layar komputer di depannya, wajahnya menunjukkan kalau dia khawatir pada pria yang benar-benar tengah hancur hati itu.


"Kalau kau kasihan padanya, kusarankan kau pulanglah Luna, dia bisa benar-benar drop tanpa dirimu," ucap Alex yang datang sambil membawa segelas susu coklat hangat dan memberikannya pada Luna.


"Terimakasih kak," ucap Luna sambil menerima susu hangat itu.


"huuuffft....aku kesal dan kecewa tapi dia benar-benar menderita seperti itu, aku jadi tidak tega, aku tidak mau pulang kalau kakak tidak ikut denganku!" Ucap Luna.


Alex duduk di samping Luna, dia mendesah berat, bukannya tidak mau bertemu dengan Gama, dia sangat ingin tapi dia takut akan reaksi pria itu nanti.


"Luna sudah berapa kali kukatakan padamu, aku tidak mau membuatnya semakin membenciku," ujar Alex.


"Ck....ya sudah kalau begitu aku tidak mau pulang kalau kau tidak mau ikut pulang!" Tegas Luna dengan sorot mata tajam mengancam Alex.


Alex memang menjaga Luna dengan baik disini, segala kebutuhan gadis itu dipenuhinya, lagi pula Luna bukan gadis yang banyak mau, apa yang disediakan itu yang akan dia pakai.


Selama di apartemen itu, Alex selalu menyuruh Luna pulang apalagi melihat sorot mata Luna yang benar-benar merindukan suaminya meski mulutnya berkata dia kesal dan kecewa pada pria itu.


Mata Luna tak bisa berbohong, dia benar-benar rindu dengan pria itu.


"Aku tidak akan bertemu dengan Gama Luna, biarlah aku mengawasinya dari jarak seperti ini, aku takut dia semakin membenciku,saat ini pria itu pasti berpikir aku di Finlandia bersama Tiara, dia akan sangat marah jika melihat kau bersamaku," ucap Alex.


"Nggak mau, aku tidak peduli dengan tanggapan si bodoh itu, dia harus belajar mengubah tempramen buruknya itu, kau juga sama bodohnya, arhhhh......kenapa aku harus bertemu orang orang bodoh seperti kalian sihh," gerutu Luna sambil mengacak-acak rambutnya.


Alex memijit keningnya, dia sangat pusing dengan ocehan gadis ini, baru beberapa hari dia bersama Luna, rasanya dia selalu mendengar suara gadis itu mengomel tentang ini dan itu setiap saat.


"Apa kau tidak khawatir dengan Gama, dengan Anna, kakak kakakmu dan sahabtmu?" Tanya Alex lagi.


"Aku khawatir tapi kalau kakak tidak mau ikut bersamaku, aku benar-benar akan tinggal disini dan mengikutimu selamanya!" Tegas Luna.


"Huffft..... baiklah aku akan ikut, tapi aku tidak yakin apa dia mau mendengarkan aku nanti," lirih Alex.


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMENTAR YA GUYSSS, 😉😉😉😉😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2