Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
62


__ADS_3

..."This is the beginning of the War!!!"...


...-Mark Lee-...


...****************...


Di jalanan kota Bali, tampak sebuah mobil sedan hitam tengah mengikuti mobil silver di depannya.


Mark mengemudi mengikuti mobil silver yang membawa orang yang tengah dicarinya.


Beberapa menit yang lalu saat ia keluar dari kediaman Luna saat di desa ia mendengar teriakan seorang gadis yang sangat khas di telinganya.


Suara itu adalah suara Andin yang dibawa paksa oleh kedua orang tuanya. Mark dengan cepat mengunci rumah dan masuk ke dalam mobil sedan hitam miliknya.


Bertepatan dengan itu, ia menerima panggilan dari tuannya. Ia menerima perintah untuk mempercepat pekerjaannya dan segera membawa Andin ke Jakarta.


Mark dengan kelihaiannya mengikuti mobil itu, hingga tiba lah mereka di depan sebuah hotel bintang lima yang ternyata salah satu hotel milik Aiden.


Mark menyalakan GPS ponselnya agar tuannya di Jakarta tahu posisinya dengan demikian, mereka dapat dengan mudah melacak keberadaan Andin di hotel yang sangat besar itu.


"Tuan, nona Andin ada di hotel tuan Aiden, sebaiknya kalian mengawasi nona Andin dari CCTV rahasia milik tuan Aiden!" ujar Mark dalam panggilan teleponnya. Ia bekerja sendiri, Rendi ditugaskan mengurus hal lain dan dia tidak membawa anak buah kesana.


"Mark apa kau menyadap hotelku juga?!!!" teriak seseorang di balik telepon yang kesal karena Mark sampai tau kalau Aiden memasang kamera pengawas di hotelnya.


"Maaf tuan, ini demi keselamatan nona Andin, saya harap tuan dapat membantu," ucap Mark yang kini berada di parkiran. Ia berlari mengejar targetnya, tiba-tiba ada sekitar enam pria berpakaian hitam mengikutinya dari belakang.


"Mark mereka anak buah-ku,mereka akan membantu,kau cepatlah naik ke lantai 34, Andin sedang dipukuli oleh wanita itu!" ujar Aiden yang berbicara melalui sambungan telepon yang terhubung dengan earphone yang dipakai Mark.


"Baik tuan!" ucap Mark, Mark bergegas menaiki lift khusus Presdir yang sudah di beri akses masuk oleh Aiden.


Sementara itu,Zea dan Jaka menyeret Andin menuju sebuah kamar yang sudah mereka pesan bersebelahan dengan kamar hotel yang ditempati pria tua itu.


Di kamar ini mereka akan melakukan transaksi, setelah itu Andin akan di bawa ke kamar pria tua itu.


"Duduk!"


Zea mendudukkan Andin dengan kasar di meja rias, Andin terus menangis, air matanya berjatuhan, mau melawan pun ia tak sanggup lagi, tubuhnya penuh luka dan kepalanya sangat sakit.


"Jika kau sampai berani pergi seperti terakhir kali, maka lihat ini!" ucap Jaka sambil menunjuk sebuah foto yang berisikan gambar gadis cantik dengan rambut birunya.


"Aku akan membawanya ke neraka!!" ancam Jaka.


"Lu..Lunaa....ku..kumohon jangan sakiti dia, kumohon hiks hiks, jangan sakiti Luna,"Andin menangis sesenggukan saat melihat tatapan ayahnya yang tertarik dengan Luna sahabat baiknya.


"Kumohon, jangan sakiti dia...a..aku akan melakukan apa pun, tapi jangan sentuh dia hiks hiks hiks," Andin menangkupkan kedua tangannya di depan dada, ia memohon belas kasih dari manusia tanpa kasih itu.


Jaka memegang rahang gadis itu dengan keras sehingga membuatnya kembali meringis kesakitan.


"Lihatlah gadis bodoh ini, dia sampai sebegitu mudahnya memohon agar temannya tidak disentuh, hahahah, mau kau memohon atau tidak semua tergantung keputusanku anakku sayang !!" ujar Jaka dengan seringai jahat di matanya.


"Ck....dasar psyco!" celetuk Zea yang memang tidak mempermasalahkan jika Jaka tidur dengan banyak wanita karena toh dia juga melakukan hal yang sama, dasar pasangan menjijikkan!!


"Sudah cepat rias dia, ganti pakaiannya dengan gaun itu!" ucap Jaka sambil menunjuk sebuah gaun pendek berwarna merah menyala tanpa lengan dan bagian depan yang rendah.


"Hmmm, kau panggilkan pria tua itu, kami akan selesai dalam 15 menit!" ucap Zea yang mulai memoles wajah Andin dengan make up miliknya.

__ADS_1


Zea merias wajah Andin, namun tiba-tiba ia berhenti tepat setelah Jaka keluar dari ruangan kamarnya, ia langsung mengambil tisu dan menghapus make up Andin.


Zea menatap mata Andin dalam-dalam, Andin juga melakukan hal yang sama. Baru kali ini Andin merasakan tatapan ya g berbeda dari Ibu kandungnya itu.


Zea mengelus lembut wajah Andin, ia meneteskan air matanya. Andin terkejut melihat Zea menangis, hal yang tidak pernah dilihat gadis itu selama dia hidup.


Zea memeluk Andin dengan erat, " Maafkan Mama nak hiks hiks hiks, Maafkan Mama, Mama yang salah sampai membawamu dalam masalah ini," ucap Zea sambil melepaskan pelukannya, air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Ma...Mama, hiks hiks hiks," Andin menangis tersedu-sedu saat pertama kali mendengar suara lembut Zea.


"Apa kau menyayangi Mama nak?" tanya Zea lembut sambil membelai wajah Andin.


"Andin sayang sama Mama, hiks hiks hiks, Mama....hiks hiks hiks," Andin menatap Zea dengan tatapan sendunya.


"Mama juga sayang, Mama sayang sama kamu," ucap Zea untuk pertama kalinya sejak ia melahirkan Andin 23 tahun lalu saat usianya 20 tahun.


"Mama...." ucap Andin sambil memeluk Zea dengan erat.


"Hahahhahaha,. tapi bohong hahahahah, wah ternyata bakat aktingku masih seperti dulu ya hahahha," Zea tertawa terbahak-bahak sambil mendorong tubuh Andin hingga gadis itu jatuh dari kursi.


Zea mendekati Andin dengan tatapan mata tajam dan menyeramkan.


Zea menggenggam rahang gadis itu hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Gara-gara kehadiranmu, karirku sebagai model hancur berantakan!" ucap Zea melampiaskan kemarahannya.


Plakkk


Plaakk


Plaak


"Ma..ma...hiks hiks hiks," Andin begitu hancur hati saat mendengar ucapan Ibunya, jujur saja ia bertahan selama ini karena ia masih mengharapkan kasih sayang seorang ibu namun tidak ia dapatkan.


Dengan cepat Andin dirias dan diganti pakaiannya oleh Zea.


Ceklek....


Pintu di buka, tampak Jaka dengan pria tua yang biasa di sapa tuan Bara itu masuk ke dalam ruang kamar itu.


Tuan Bara menatap Andin dengan tatapan genit, ia sangat tertarik dengan gadis itu, apalagi pakaiannya saat ini sangat terbuka dan seksi, dandanannya juga sangat menantang.


"Bagaimana tuan?" ucap Jaka menatap tuan Bara sambil menaikkan satu alisnya.


"Deal! ck...ck..ck..kalian memang orangtua yang gila!" ledek Tuan Bara sambil mengeluarkan cek bertuliskan 3 M dan diberikan langsung pada Jaka pertanda bahwa transaksi sukses.


"Hahahah, ini sebagai bayaran karena kami telah merawatnya selama puluhan tahun," ujar Jaka tertawa terbahak-bahak, matanya melotot saat melihat nominal dalam cek itu.


"Hmmm terserah, tapi segel masih aman bukan? jika tidak, akan ku pastikan kalian berdua mati di tanganku!" Ucap tuan Bara dengan tatapan mata tajam.


Glekk


Jaka dan Zea menelan saliva mereka saat mendengar ucapan tuan Bara.


"Tenang saja tuan, dia belum pernah di sentuh oleh lelaki manapun," ujar Jaka.

__ADS_1


Andin hanya bisa pasrah, mau pergi pun ia tak bisa, tubuhnya sudah terlalu lemah, air matanya terus menetes membasahi pipinya.


"Tuhan aku mohon jika Kau masih berkenan membiarkan aku hidup, maka selamatkan aku, aku akan mengabdi pada siapa pun yang menyelamatkanku, tapi jika tidak, tolong segera ambil nyawaku Tuhan," batin Andin dalam hatinya.


Andin di bawa oleh pria tua itu menuju kamarnya, tampak Andin bergetar ketakutan saat pria itu menyentuh bahunya dengan tatapan genit.


"Kita akan bersenang-senang sayang," bisik pria tua itu sambil menyentuh tubuh bagian belakang Andin.


Tiba-tiba saja sebuah benda keras menghantam punggung pria tua itu.


Brakkkk


Mark yang sudah bersiap-siap sedari tadi akhirnya menyerang pria tua itu, seluruh anak buah tuan Bara sudah di lumpuhkan dan tidak berdaya.


Tuan Bara langsung di bekap oleh anak buah Aiden yang ikut bersama Mark dan dibawa entah kemana sesuai perintah Mark.


"Tu..tuan....awas!!" teriak Andin saat melihat salah seorang anak buah tuan Bara ingin memukulnya.


Brukkk


dengan satu tendangan, pria itu terjatuh. Mata Mark terus fokus pada mata Andin, ia menatap mata Andin yang bergetar ketakutan.


Mark mendekati Andin, tubuh Andin tampak bergetar hebat, Mark membuka jasnya dan memasangnya dengan lembut pada tubuh Andin yang terekspos.


"Hiks...hiks...tuaaaannn," Andin memeluk Mark dengan sangat erat, ia menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terasa bergetar hebat, dan tiba-tiba semuanya gelap, Andin jatuh tak sadarkan diri.


"Nona Andin, bertahanlah, Andin, bertahanlah!" ucap Mark panik. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Andin dan melarikan gadis itu ke rumah sakit.


"Ada apa denganku? hatiku bergetar saat melihat tangisan menyedihkannya itu, kasihan sekali dia, aku akan membantu membalaskan dendam mu Andin, this is the beginning of the War!!" batin Mark dengan amarah yang membuncah.


Sementara itu di Jakarta tampak Gama, Aiden, dan Bima bernafas lega setelah melihat Andin di bawa langsung oleh Mark.


"Siapa itu??" ucap Ken yang tiba-tiba datang, ia melihat wajah Ayah dan Ibu Andin.


"Mereka iblis yang menyamar menjadi orangtua Andin," ucap Gama.


Ken diam saja, ia tampak mengeraskan rahangnya, Gama, Aiden dan Bima mengerti pasti ada sesuatu dengan pria itu.


"Ada apa?" ucap Aiden.


"Dia saudara si psikopat itu, ternyata kegilaan mereka sudah turun temurun!" ujar Ken dengan wajah penuh dendam.


"Ha?" Aiden , Gama dan Bima cukup terkejut, bagaimana mereka semua bisa bertemu dengan cara aneh ini.


"Gadis itu bukan anak kandungnya, itu hanya akal bulus wanita licik itu agar aibnya sebagai model tertutupi dengan menikahi psikopat itu," jelas Ken.


"Aku jadi kasihan pada Andin," ucap Bima.


.


.


.


like vote dan komen 😊😉

__ADS_1


Andin selamat woi, gak dibikin mati 😉😉


Andin juga butuh kebahagiaan,


__ADS_2