
Makan malam sudah disajikan di atas meja, Luna, Anna dan Andin dan bantu oleh empat lelaki tampan yaitu Mark, Rendy, Ferdi dan Aiden yang walaupun cuma bisa bantu doa sebenarnya.
Mereka menata makan malam spesial yang dimasak oleh Luna, bahkan Luna sengaja memasak dalam jumlah besar agar bisa di bagikan pada pelayan.
Setelah semuanya beres mereka menunggu semua orang berkumpul di meja makan. Bi Eni membawa bagian milik pelayan yang sudah disiapkan Luna ke rumah tinggal pelayan di bagian belakang.
Luna berjalan menuju kamarnya, dia melewati dua pria menyedihkan yang sedang menatapnya. Luna lewat begitu saja tanpa menghiraukan kedua pria malang itu.
"Ini semua gara gara kau Ken, kenapa kau berkata kasar seperti itu pada adikmu, aku juga jadi kena imbasnya arghhhhh," gerutu Bima sambil mengusap kasar wajahnya.
Rasanya sungguh tidak menyenangkan jika Luna tidak berbicara dengan mereka. Bahkan saat lewat tadi Luna melewati mereka seperti tidak ada siapa-siapa disana.
"Ck....arghhhh....ini salahku, astaga benar kata Andin, dia sangat sulit diambil hatinya, matilah aku, dasar mulut bodoh, sepertinya aku ketularan penyakit Aiden huh," keluh Ken yang tertunduk lesu.
"Ck....malah Aiden yang selamat, kenapa jadi berbalik gini sih!" Ucap Bima kesal.
Luna membuka pintu dengan pelan, dia mengintip kedua pria di dalam kamarnya. Pemandangan yang sangat enak dilihat saat kedua orang itu akur.
"Kak Alex, Sayang kita makan malam yuk, semuanya udah menunggu," ucap Luna yang menghentikan percakapan mereka.
"Baiklah, tapi kau bagaimana Gam?" Tanya Alex yang melihat kondisi Gama yang masih dipasangkan selang infus di tangannya.
"Sayang kamu belum bisa makan makanan berat, kamu makan di kamar aja ya," ucap Luna seraya mendekati Gama.
Saat keluar kamar tadi Luna menyempatkan diri menghubungi dokter George terkait keadaan suaminya dan makanan apa yang bisa dikonsumsi.
"Aku mau makan di ruang makan, gak enak makan sendirian," ucap Gama seraya bergelayut manja di lengan Luna.
"Pfhhtt....hahahah, Luna suamimu ini seperti anak kecil saja, astaga aku jadi panas melihat kalian bermesraan seperti ini," celetuk Alex.
Kepribadian Alex tidak seperti asisten Gama saat ini si pria kulkas alias Mark. Alex orang yang easy going, supel dan hangat tapi hanya pada orang yang dekat dan dirasa nyaman berinteraksi bisa dikatakan dia mirip dengan Luna dan Aiden yang super heboh tapi kejam seperti Ken.
Alex orang yang akan bekerja diam diam dan saat orang melihat, dia sudah mencapai goalnya padahal dia tidak terlihat ketika bekerja.
Mendengar ucapan Alex Gama semakin mempererat pelukannya pada tubuh Luna seperti seorang anak yang memeluk ibunya dengan manja.
Luna ikut tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia menepuk kepala suaminya dengan gemas.
" Kau seperti kucing nakal sayang," ucap Luna.
"Sudah ayo kita makan, kamu bisa jalan atau pakai kursi roda aja?" Tanya Luna.
"Jalan, biar Alex yang bantu aku sayang, kamu pegang tangan ku aja," ucap Gama manja, Alex merotasikan kedua bola matanya melihat tingkah Gama yang benar-benar berubah ini.
"Kau banyak berubah Gama!" Seru Alex.
"Tentu saja, dia yang mengubahku iya kan sayang," ucapnya lagi sambil menatap Luna dengan lembut dan penuh kasih, tatapan dan senyumannya benar benar membuat siapa saja jatuh hati, manis sekali !
__ADS_1
Luna tersipu malu mendengar ucapan suaminya, dia membantu suaminya untuk bangkit berdiri.
Alex memapah Gama sambil membantu mendorong tiang infus yang masih tertancap di tangannya.
Sedangkan Luna menggenggam tangan Gama di sisi yang lain.
Semuanya sudah berkumpul di ruang makan, hanya dua pria yang diusir Luna tadi yang tidak bergabung di meja makan.
Alex memapah Gama, Luna berjalan di samping mereka menuju ruang makan. Mereka melewati Ken dan Bima yang duduk termenung di dekat tangga menuju lantai dua.
"Kenapa kalian duduk disitu Ken, Bim?" Tanya Gama heran.
"Ahh iya, Mulai hari ini Alex akan bergabung dengan kita, seperti dahulu, kuharap kalian bisa akrab!" Ujar Gama seraya menatap kedua sahabatnya yang berwajah masam itu.
"Ayo sayang, jangan berbicara pada manusia tidak punya hati, kau sedang sakit kau harus cepat makan, Kak Alex bawa Gama, hawa disini membuatku merinding," ucap Luna tanpa melihat kedua pria yang berwajah muram selalu menatapnya sedari tadi.
Gama menatap heran pada istrinya sedangkan Alex diam saja tidak mau ikut campur.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Gama. Ken dan Bima hanya diam saja, mereka benar-benar menyesali perbuatan mereka, padahal baru hari ini Luna pulang mereka sudah membuat masalah untuk diri mereka sendiri.
"Sudah gak usah dipikirkan, ayo makan setelah itu kita istirahat, aku sudah lelah," ucap Luna.
"Hmmm baiklah," ucap Gama.
"Ken, Bima ayo makan malam, jangan duduk disana," ajak Gama.
"Ayolah, boleh kan sayang?"tanya Gama lembut pada Luna yang memalingkan wajahnya kesal.
"Terserah mereka!" Ketus Luna.
Ken dan Bima saling menatap, rasanya benar-benar tidak enak dicuekin oleh gadis cerewet mereka.
Mereka semua berjalan menuju ruang makan, melihat Alex yang memapah Gama menandakan bahwa hubungan mereka sudah kembali seperti dahulu sehingga membuat semua orang bernafas lega, mereka sempat berpikir akan terjadi peperangan besar di rumah itu.
Gama duduk di ujung meja dibantu oleh Alex dan Luna. Luna duduk di sebelah kiri Gama dan Alex dihadapan Luna.
Ken dan Bima duduk paling ujung jauh dari Gama dan Luna, mereka terus saja diam sungguh kasihan mereka dicueki oleh gadis cerewet itu.
Mereka pun mulai makan setelah melakukan doa bersama seperti biasa mereka lakukan menurut kepercayaan mereka.
Semua hidangan yang disediakan disantap oleh mereka dengan lahap. Masakan Luna benar-benar cocok dengan lidah mereka semua.
"Sayang kamu makan bubur ya, kamu belum boleh makan yang berat berat, biar cepat sembuh," ucap Luna sambil menghidangkan bubur untuk suaminya.
"Terimakasih sayang, kamu makanlah biar aku makan sendiri, kamu udah capek pasti," ucap Gama mengambil sendok nya dan mulai memakan makan malamnya.
Mereka semua makan dengan tenang, tak ada yang berbicara selama makan malam dilaksanakan, yang terdengar hanya dentingan sendok.
__ADS_1
Ketika semuanya makan malam dengan tenang, Ken dan Bima sama sekali tidak tenang, sampai sampai Ken salah menyendok makanannya, dia menyendokkan satu sendok cabai rawit yang benar-benar pedas ke dalam mulutnya.
"Arhh....shhh haahhh....haaahh air, Bim....air plisss haaah," teriak Ken kepedasan, lidahnya bagai terbakar setelah memakan satu sendok penuh cabai rawit.
"Pfthhhhh hahahahah, astaga Ken apa ikannya kurang pedas sampai sampai kau memakan cabai rawit?" Ledek Aiden yang tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Ken memerah karena kepedasan dan tubuhnya sampai berkeringat saking pedasnya sambal itu.
"Ck....nggak fokus," balas Ken sambil menenggak air minumnya berkali-kali untuk mengurangi rasa pedas di lidahnya.
Mereka sudah selesai makan malam sekarang waktunya bersantai sebelum beristirahat.
"Anna, kamu belajar gih biar kakak sama kak Andin aja yang beresin, Fer tolong bantuin Anna ya," ucap Luna menatap Anna dan Ferdi bergantian.
"Biar Anna bantu bentar kak," ucap Anna.
"Nggak usah, disini juga banyak tenaga yang menganggur, kamu belajar aja sama kak Ferdi kalau butuh apa apa kasih tau sama kakak," ucap Luna yang sedang mengumpulkan bekas makan mereka semua dibantu Andin dan dua asisten Gama beserta Aiden.
"Baiklah, Anna belajar dulu ya kak, bye ummah, ummah!" Ucap Anna sambil mengecup pipi Luna dan Gama bergantian.
"Sayang kamu kembali ke kamar ya supaya kamu istirahat, aku beres beres dulu," ujar Luna pada suaminya.
"Iya sayang," jawab Gama berusaha bangkit berdiri. Alex langsung membantu pria itu dan mendorong tiang infus nya.
Luna dan Andin membereskan piring dan bekas masakan mereka dengan telaten. Para pria membantu membersihkan dapur dan ruang makan sehingga pekerjaan lebih cepat selesai.
Andin selalu menghindari Mark meski pria itu terus mencoba mendekati Andin. Andin selalu memasang wajah datarnya saat didekat Mark, dia sangat tidak menyukai pria itu.
Suasana menjadi sangat mencekam apalagi dengan sikap dingin Luna pada Bima dan Ken.
"Na, kakak mau bicara, please dengerin kakak dulu," ucap Ken sambil memegang tangan Luna.
Luna terdiam dia baru selesai membersihkan piring bersama Andin. Luna menepis tangan Ken dengan wajah kesal dan kecewa pastinya, dia benar-benar sedih saat mendengar kata kata Ken beberapa jam yang lalu.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan, bukannya jelas aku hanya orang asing tuan!" Ucap Luna.
By the way dapat salam dari babang Ferdi guysss ✌️✌️✌️
.
.
.
like vote dan komen, maaf author mungkin akan lebih sering Up malam ya reader 🤗
__ADS_1