
...17 :"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran,"...
...-Prvb 17-...
...****************...
Luna duduk di samping bed rest Andin setelah dokter memeriksa keadaan gadis itu. Gama dan Mark setia menemani mereka di dalam ruangan itu.
"Luna...Lun..i..ini Luna kan hiks hiks hiks," ucap Andin sambil menyentuh wajah Luna, suaranya masih lemah dan tubuhnya masih sakit.
"Ma..maafkan aku hiks hiks hiks, maaf Luna..."
Andin menangis sesenggukan, ia merasa menyesal, rindu sekaligus bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabat terbaiknya itu.
"Maafkan aku, aku tidak...aku..aku...jahat...maaf," Andin terus menangis, ingin rasanya ia bangkit dan memeluk Luna dengan erat, hanya saja tubuhnya begitu lemah.
Luna memegang tangan Andin yang mengusap wajahnya, ia menurunkan tangan itu dan menggenggamnya, tangannya yang satu lagi dia pakai untuk menghapus air mata Andin.
Sambil tersenyum lembut, Luna menatap sahabatnya dengan penuh kasih. Mereka memang sangat dekat bahkan melebihi dekatnya seorang saudara.
"Husshh....jangan menangis, aku tau kenapa kau melakukan itu, jangan menangis lagi ya, aku juga sedih kalau kamu menangis," ucap Luna dengan lembut.
"Aku tidak menyalahkan dirimu, kau tau kan kita best friend forever? ingat janji kita sejak kecil, kita adalah sahabat yang tidak akan pernah terpisahkan kecuali oleh maut," lanjut Luna.
" tapi mautnya nanti aja tunggu kita udah tuwir dan muka kita berkeriput baru deh kita pisah heheheh," cengir Luna dengan wajah cantiknya, ia berusaha menghibur sahabatnya agar tidak terpuruk.
"Hiks...hiks...hiks.. terimakasih banyak Luna, aku minta maaf sudah memukulmu waktu itu," ucap Andin terbaru.
"Ahh...untuk bagian yang itu tiada maaf bagimu Andin," ucap Luna sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan Andin.
"Aku akan buat perhitungan denganmu, kau pikir itu tidak sakit dasar gadis nakal, aku akan menghajarmu nanti," ucap Luna sambil menyingsingkan lengan bajunya dan menunjukkan otot lengannya yang tidak seberapa itu pada sahabatnya.
Gama dan Mark menahan tawa melihat tingkah Luna yang memang selalu menjadi mood booster bagi siapa saja yang berada di dekatnya, tak terkecuali Mark si pria kulkas, ia juga merasa terhibur dengan nonanya itu.
"Hahahha ada tontonan gratis, setidaknya aku tidak harus melihat wajah seram tuan Gama setiap hari," batin Mark yang sedikit tersenyum, sangat sedikit.
"Jangan memikirkan hal aneh Mark atau ku kirim kau ke pedalaman Amazon!" bisik Gama.
"Saya mana berani tuan," kilah Mark. Sejujurnya bagaimana tuannya itu ini bisa tau kalau dia sedang memikirkan hal hal aneh, sungguh di luar nalar memang.
"Hahaha, arghh...jangan membuatku tertawa Luna, aku kesakitan," ucap Andin yang merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya yang masih belum sembuh total.
Luna bangkit berdiri, ia berkancah pinggang menatap Andin dengan tatapan mengejek.
"Ck..ck..ck," Luna menggelengkan kepalanya.
"Makanya jadi orang jangan sok soan mau main rahasia-rahasiaan, gini kan jadinya, kalau ada apa-apa tuh di omongin jangan di pendam, kamu sendiri yang sakit kan," Luna mulai mengeluarkan jurus cerewetnya.
__ADS_1
Mark dan Gama mulai menyiapkan telinga mereka agar tidak tuli setelah mendengar Omelan gadis itu.
"Dia mulai lagi," batin Gama yang asik mendengar celotehan istrinya.
"Salah sendiri sok soan mau main drama anak yang tersiksa, tersiksa beneran kan?" ketus Luna.
"Kamu pikir kami gak bisa bantuin kamu hah? makanya ngomong Andin, apa apa itu diomongin, jangan ngambil tindakan gegabah ini kan jadinya," ucap Luna lagi dengan wajah yang benar-benar kesal, hari ia benar-benar harus mengomeli sahabatnya itu.
"Perasaan wonder woman atau apa? kamu bayangin kalau Mark terlambat hari itu, kamu pasti udah hancur sekarang Andin, ergh......kesal kesal kesal," geram Luna sampai-sampai wajahnya memerah.
"Untung aja Mark cepat, si tua bangka itu udah jadi lemper kali sekarang, udah tua tapi pengennya daun muda, apa kita kebiri aja sekalian?" ketusnya.
"Ingat ini Andin jangan sekali-kali kamu bertemu lagi dengan kedua jelmaan iblis itu, kalau kamu sampai melakukan itu akan ku ikat kau di rumah supaya tidak kemana-mana!" dengus Luna dengan wajah kesal, nafasnya naik turun karena kali ini ia benar-benar melepaskan semua yang ada di hatinya.
"Hufftt...."
"Udah ngomelnya?" ucap Gama.
"Udah," jawab Luna singkat, ia masih menatap Andin dengan wajah kesal.
"Terimakasih Luna," ucap Andin terharu mendengar celotehan dan nasehat gadis itu.
"Hufftt....haaahhh," Luna menghela nafas panjang lalu kembali duduk di atas kursi.
"Ingat kata-kataku jangan pernah menemui mereka, kalau tidak, kau akan merasakan ini!" Ancam Luna sambil mengangkat tangannya yang terkepal.
"Baiklah Luna, " jawab Andin sambil mengangguk.
"Ah...tuan Gama, tuan Mark, terimakasih atas pertolongannya, saya berhutang nyawa pada kalian," ucap Andin pelan sambil menatap kedua pria itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa, dia yang menyelamatkan dirimu, maka kau berhutang padanya," ucap Gama dengan wajah datar seperti biasa padahal di samping nya Luna sudah berwajah seram.
"Ekhmm... maksud saya berterimakasihlah pada Mark Andin," ucap Gama lebih lembut dari sebelumnya saat ia melihat kode bahaya dari istrinya.
"Terimakasih tuan Mark, terimakasih banyak Anda sudah menyelamatkan nyawa dan harga diri saya sebagai seorang perempuan, saya bersyukur bahwa sesuatu yang sangat berharga bagi seorang wanita tidak direnggut dari saya malam itu," tutur Andin dengan berderai air mata.
Luna sebenarnya sedih, ia ingin sekali menangis tapi Gama menggenggam tangannya dan menguatkan gadis itu.
Deg....
Jantung Mark beradu, rasanya sakit saat mendengar penuturan gadis itu, baru kali ini ia merasakan hal seperti itu terhadap lawan jenisnya.
"Jangan sungkan nona," jawab Mark singkat, ia tidak tau harus berkata apa apa lagi.
"Cih dasar kulkas berjalan!" ketus Luna dengan tatapan meledek pada Mark.
"Kau bisa saja Luna," ucap Andin, sekilas Andin menatap ekspresi datar Mark yang sangat membosankan itu.
__ADS_1
"Aku berhutang nyawa padamu, aku akan membalasnya suatu saat nanti," batin Andin sambil menatap Mark dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Mata Mark bertemu dengan mata Andin sesaat namun terasa seperti waktu berhenti untuk beberapa saat. Yang terdengar hanya detak jantung mereka yang menderu di dalam dada mereka.
"Aku tidak kuat menatap matanya yang terlihat sedih itu, ingin rasanya kubuat dia tersenyum, wait!! apa ini? kenapa aku merasa begini? Mark sadar, semua wanita itu sama!!" batin Mark merutuki dirinya sendiri.
Dengan cepat dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun tidak dengan Andin, gadis itu terus menatap Mark dengan mata sayup ya.
Luna mengikuti arah pandangan Andin, ia tersenyum jahil, sebuah ide muncul di otaknya.
Luna menatap Gama, yang ditatap membalas Luna dengan senyuman lembut yang selalu menenangkan hati.
"Gama apa boleh Mark yang mendampingi Andin selama di rumah sakit, kau tau kan aku sedang mempersiapkan barang-barang untuk toko online kita," ujar Luna tiba-tiba, ia memegang tangan Gama seraya memberikan kode.
"Ahhh....baiklah, tentu boleh. Mark yang akan menjaga Andin sementara kita mempersiapkan barang jualan kita," ucap Gama mengangguk.
"Benarkah? wah terima kasih Gama," ujar Luna girang.
"Mark kau dengar semuanya kan? lakukan dengan baik dan laporkan pada kami," ucap Gama dengan suara tegasnya.
"Baik tuan,"
Mau tidak mau Mark harus menuruti perintah tuannya itu.
"Kenapa aku harus merawatnya, jantungku rasanya mau copot jika di dekatnya, apalagi tatapan mata itu, aku tidak kuat!!" batin Mark menggerutu di dalam hatinya.
"Jangan menggerutu Mark!" tukas Luna.
Mark semakin terkejut, selain tuannya ternyata nonanya juga bisa tau isi pikirannya, aneh!
"Mark akan menjagamu, tak apa kan Andin? aku juga akan berkunjung bersama Anna dan Ferdi nanti," ucap Luna.
"Baiklah, terimakasih Luna," ucap Andin sambil tersenyum lembut.
"Emmm ngomong-ngomong dimana orangtuaku?" tanya Andin penasaran.
"Mark jelaskan!" titah Gama.
"Mereka....mati!" ucap Mark.
"Haaaa??" Gama, Luna dan Andin melongo dengan ucapan Mark.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊😊😊
Andin akhirnya sadar dan semuanya kembali baik, hmm semoga tetap damai ya, 🤗🤗🤗