Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
67


__ADS_3

Gama mengajak Ken berbicara ke sudut ruangan. Raut wajah Gama menunjukkan bahwa pembicaraan ini adalah hal yang sangat serius.


"Apa kau sudah tau?" tanya Gama langsung pada intinya, jangan lupakan wajah datarnya yang selalu membuat orang lain gugup.


"Apa kau juga sudah tau?" Ken menanyakan hal yang sama dengan aura yang sama datarnya.


"Ck...aku bertanya terlebih dahulu dodol," ketus Gama.


"Hehh....jawab saja, apa kau sudah tau?" balas Ken sama ketusnya.


"Ck... tadinya aku ingin bicara serius denganmu tapi selalu tidak bisa, dasar bule KW!" ketus Gama.


"Cihh...kita mau bicara atau berdebat manusia kulkas?" balas Ken lagi.


"Huffft...kau sama saja dengan-nya, tak heran kalau kalian itu bersaudara!" ucap Gama, memang Gama dan Ken kalau ketemu selalu berdebat saling ejek dan ya begitulah pertemanan mereka.


" Aku sudah tau, sejak beberapa waktu lalu hanya saja belum ada waktu yang pas untuk memberitahukan padamu," ucap Gama mulai bisa serius.


"Dia benar-benar adikmu Nana, adik kecil yang sangat kau sayangi, aku sudah cari tahu semuanya melalui Rendi, hasil tes DNA juga menyatakan kalau kalian memang bersaudara," jelas Gama.


"Aku sudah tau, itu alasannya aku langsung datang ke tempat ini," lirih Ken.


Setelah memberikan hukuman untuk Jaka dan Zea, Ken langsung terbang ke perusahaannya di Jakarta. Dengan segera ia meminta asistennya mencaritahu semua data tentang Luna.


Selama dua hari menunggu hasil ternyata semua hasil yang mereka temukan cocok dan sesuai dengan identitas Nana adik kandung Ken.


Ken begitu bahagia saat mengetahui kebenaran bahwa Nana adik kesayangannya masih hidup, Adiknya yang cantik masih hidup dan dia adalah Luna gadis yang ditemuinya di Bali.


Ken begitu bersyukur, semangat hidupnya kembali lagi seperti semula bahkan berkali-kali lipat. Bahkan dia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan membuat adiknya bahagia untuk menebus waktu belasan tahun yang tidak mereka lalui bersama.


"Ken, apa kau akan memberitahukan hal ini padanya? " tanya Gama dengan nada khawatir dan Ken menyadari maksud sahabatnya itu.


"Kita lihat saja nanti, tapi dia harus tau kalau aku adalah kakak kandungnya, aku tidak mau lagi berpisah dengannya sudah cukup waktu belasan tahun kami berpisah, aku hanya ingin membuatnya bahagia," ujar Ken.


"Aku takut dia mengingat semua traumanya itu, kau sudah lihat kan jika hujan tiba kakinya akan kembali sakit, aku benci melihatnya kesakitan," ucap Gama sambil menatap Ken dengan serius.


"Aku akan perlahan-lahan mengingatkan dirinya, tapi jika tidak memungkinkan maka aku hanya akan mengakui saja kalau aku kakaknya, aku juga tidak mau dia mengingat kejadian kelam itu," balas Ken dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


"Hmmm...ini akan jadi kabar bahagia untuknya, aku yakin dia akan sangat senang," ujar Gama sambil tersenyum tipis ke arah Ken.


"Benar, hah jadi kau adalah adik iparku sekarang, kau harus hormat padaku tuan Kulkas," goda Ken dengan menaikkan satu alisnya ke atas.


"Ck...aku tidak mengakuimu, kakak ipar? heh sana kau!" ketus Gama lalu pria itu memutar kursi rodanya dan meninggalkan Ken duduk disana.


Ken tersenyum tipis menanggapi ucapan Gama, ia tau pria itu tidak benar-benar serius dengan ucapannya.

__ADS_1


Gama mendekati Luna dan yang lainnya.


"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Gama yang kini berada di dekat Luna. Luna menoleh ke arah Gama, ia menatap pria itu dengan wajah bingung dan tampak ingin menyampaikan sesuatu yang berputar-putar di kepalanya.


"Ada apa dengannya?" tanya Gama pada tiga pria yang berdiri di dekat mereka.


"Entah kami sudah bertanya tadi tapi dia bilang baik-baik saja dan hanya diam seperti itu," jawab Bima.


"Luna, ada apa?apa otakmu geser sedikit?" celetuk Aiden.


Plak


Brukk


Dua pukulan dari Gama dan Bima melayang di kepala dan lengan Aiden yang membuatnya meringis kesakitan.


"Arkhhh..shhhh.....sakit loh dodol!" ketus Aiden sambil mengusap kepala dan lengannya bergantian.


"Makanya kalau ngomong jangan sembarang!" ketus Bima, Mark hanya diam saja tak menanggapi sudah biasa pria kaku itu seperti patung yang hanya mendengar dan menjawab jika ditanya.


"Luna, ada apa hmm?" tanya Gama dengan lembut sambil menggenggam tangan gadis itu.


Luna menatap netra Gama, wajahnya tampak bingung.


"Gam, aku...." lama gadis itu terhenti, Gama dan yang lainnya menunggu jawaban gadis itu.


Mendengar ucapan Luna, Ken segera mendekat dan duduk di samping gadis itu. Ingin rasanya ia menyampaikan semuanya sekarang tapi mata Gama mengatakan untuk menunggu dulu.


"Lalu? apa yang kau ingat?" tanya Gama perlahan.


Mark, Aiden, Bima dan Andin mendengarkan dengan seksama.


"Aku ingat namaku sebenarnya itu Nana Evelyn Anderson, dan....shhh," Luna menyerngit saat mencoba semakin menyatukan puzzle dalam otaknya.


"Pelan pelan saja, jangan dipaksakan," ucap Gama lembut agar istrinya itu tenang, tangan kanannya menggenggam tangan Luna dan tangan kirinya menepuk punggung gadis itu.


"Dan aku punya seorang kakak namanya David Kenzo Anderson dia sangat menyayangiku dan aku pun begitu, ummmm...erghh...Mama dan Papa shhh...arkhh..kepalaku sakit," rintih Luna sambil meremas rambutnya dengan sebelah tangannya.


"Luna, sudah jangan dipaksakan!" ucap Ken yang langsung panik bahkan saat ini ia lebih panik dari siapapun di dalam ruangan itu.


"Erghhkk...nggak aku harus ingat ini kak!" ucap Luna.


Perlahan Luna menarik nafasnya lalu menenangkan dirinya.


"Mama dan Papa bercerai dan Mama pergi, lalu Papa menjualku dan kakakku, dia menikah dengan wanita lain, dia jahat, Mama meninggal karena dia membawa wanita itu, aku dan kakak berpisah entah karena kejadian apa aku tidak ingat," ucap Luna yang membuat mereka semua menatap Luna bingung.

__ADS_1


"Kejadian setelah kami dijual pada seorang pria aneh, aku tidak ingat sama sekali,hanya saja yang kutahu kami terpisah, emm...kejadian apa itu? kenapa aku tidak mengingatnya?" ucap Luna.


"Lalu penyebab dirimu sendirian di jalanan waktu itu apa kau ingat?" tanya Gama pelan pelan.


Luna berpikir, ia berusaha mengingat semu kejadian, hanya saja semakin ia mencoba maka semakin buram ingatan itu.


"Huhhh...aku tidak ingat, ck...kejadian apa itu? kenapa aku bisa lupa ya?" ujar Luna.


"Lalu penyebab kakimu?" tanya Aiden yang membuat semuanya menoleh ke arah pria itu, Aiden seketika terdiam apalagi melihat tatapan tajam dari Gama, Bima dan Ken.


"Emm...aku juga tidak ingat," ucap Luna Sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kau mengingat wajah kakakmu?" tanya Bima.


"Aku ingat, wajahnya selalu datang ke mimpiku, dia sangat tampan, baik dan mirip dengan kak Ken, oh iya nama kalian juga sama loh, kak Kenzo!" ujar Luna sambil tersenyum, ia begitu senang saat tau sosok anak laki-laki yang selalu muncul di mimpinya yang ternyata adalah kakaknya.


"Mirip?" ucap Gama.


Luna mengangguk," Ummm...jika boleh apa kita bisa mencari kakakku? aku merindukannya, dia baik sekali, dia yang selalu menemaniku bahkan saat Mama meninggal dan Papa memperlakukan kami dengan jahat," lirih Una sambil menatap Gama.


"Bagaimana kita tau wajahnya, tentu dia sudah sangat jelek sekarang!" ucap Gama sambil melirik Ken dengan tujuan membuat pria itu panas.


Ken menatap kesal ke arah Gama sedangkan Aiden dan Bima serta Andin berusaha menahan tawa mereka lain halnya dengan Mark yang pasti diam saja.


"Kau jangan bicara seperti itu, kakakku itu tampan pasti sekarang pun dia menjadi pria paling tampan, dia pasti mencariku, aku ingin menemuinya," tukas Luna.


"Lalu bagaimana cara kita mencarinya, apa kau punya sesuatu yang membuktikan kalau dia adalah kakakmu?" ujar Gama lagi yang berusaha membongkar ingatan Luna, dan sejauh apa Luna mengenal kakaknya.


"Dia punya tanda lahir berbentuk hati di bahunya, sama persis dengan milikku," ucap Luna sambil menarik leher bajunya hingga menunjukkan bahu putih mulusnya.


Gama dan Ken terbelalak dengan gadis itu mereka langsung cepat-cepat menarik kembali baju gadis itu dan menutupi bahunya.


"Luna jangan sembarang buka bukaan disini, kau tidak lihat ada banyak duta jomblo disini?" ucap Gama yang tidak rela tubuh istrinya dilihat orang lain yang bahkan dia sendirian belum pernah lihat.


"Ya maaf, anggap aja pemandangan gratis ya kakak kakak heheh," celetuk Luna yang membuat mereka terkekeh dengan tingkah gadis itu.


"Dasar gadis konyol, jangan pernah tarik tarik bajumu di depan orang lain, gak boleh," ketus Ken.


"Iya kakak cerewet," balas Luna sambil nyengir cantik.


.


.


like, vote dan komen 😊😉😊

__ADS_1


digantung lagi 🤣🤣


__ADS_2