
Presentasi telah selesai dilakukan, mereka mengakhirinya dengan baik begitu juga dengan Gama, dia menahan dirinya dengan baik untuk tidak meledak saat presentasi dilakukan.
"Bagaimana tuan? Apakah sesuai dengan yang tuan harapkan?" Tanya salah satu pria muda dari perusahaan asing.
"Ummm, semuanya jelas dan menarik, ini akan memberikan cukup keuntungan bagi kita semua," ucap Gama serta menatap sinis ke arah gadis itu.
Mereka menyadari tatapan sinis pria itu membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Benar rumor yang beredar kalau tuan Gama sangat menyeramkan," batin mereka.
"Masalah kerjasama dan kontrak akan diurus oleh asiten saya, kalian tinggal menunggu konfirmasi saja," ucap Gama.
"Baiklah kita akhiri rapat ini hari ini," ucap Gama seraya bangkit berdiri diikuti oleh mereka.
"Ahhh tuan Gama, saya ingin memperkenalkan anak bungsu saya yang selanjutnya akan mengurus perusahaan saya, Dia Bella yang selanjutnya akan mengambil alih proyek perusahaan saya termasuk kerja sama ini," jelas Tuan Frans.
"Ahh baik, saya menantikan kerjasamanya!" Jawab Gama datar.
"Jika tuan berkenan mungkin kita bisa melakukan makan siang bersama setelah ini," ucap Bella mulai berani dengan tatapan aneh yang sangat tidak disukai oleh Gama.
"Dalam rangka apa nona? Seingat saya kita tidak punya janji, dan ingat ini tuan Fran dan Nona Bella," ucap Gama .
"Jangan sekali-kali melewati batasan Anda jika tidak ingin perusahaan kalian hancur saat ini juga!" Tegas Gama.
Glekk
"Menyeramkan sekali!" Batin Bella.
"Apa maksud Anda tuan?" Tanya tuan Frans.
Gama menaikkan sebelah alisnya dan menatap sinis ke arah tuan Frans.
"Saya belum memutuskan apakah akan menerima kerja sama ini atau tidak, jadi saya harap Anda paham maksud saya!" Ucapnya seraya melirik penampilan Bella dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Saya memberi kesempatan bagi kalian dengan maksud membantu gadis aneh ini untuk bisa membeli setidaknya satu set pakaian normal!" Ketus Gama.
Tuan Frans dan Bella terkejut dengan ucapan sarkas dari seorang Gama.
"Saya pria yang sudah menikah, tak pantas Anda berusaha menggoda saya dengan tubuhmu itu gadis bodoh!" Geram Gama sambil menunjuk cincin pernikahan di jari manisnya.
Mereka semua terbelalak kaget dengan info yang tidak diketahui publik ini. Seorang Gamaliel Park sudah menikah, tentu ini akan menjdi berita paling menghebohkan seantero negeri.
"Ma...maafkan sa..saya tuan,maaf atas kebodohan saya!" Ucap Bella segera menunduk meminta maaf sambil menutup bagian dadanya dengan tangannya.
Dia sadar telah melakukan kesalahan besar dengan berusaha menggoda Presdir J.B grup dengan tubuhnya yang bagaikan gitar spanyol itu.
"Maafkan putri saya tuan, saya akan mengajarinya dengan baik, maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Tuan Frans ikut berbungkus menyesali perbuatannya.
"Ck....kalau bukan karena istriku, kalian tidak akan pernah kumaafkan," ketus Gama meninggalkan mereka di dalam ruangan itu.
Tuan Frans, Bella dan kedua pria muda itu sanagt terkejut dengan berita ini, tak ada angin tak ada hujan ternyata pria yang diidolakan segala generasi sudah berumah tangga tanpa sepengetahuan siapa pun.
Tuan Frans dan Bella keluar dengan wajah pias, mereka merutuki kebodohan mereka sendiri yang telah mengganggu ketenangan iblis yang sedang tidur tersebut.
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit tampak Luna sedang menemani kakaknya keliling taman di rumah sakit. Ken sudah mulai menjalani perawatan, dan menurut dokter dia diperbolehkan berkeliling agar tidak stress di dalam ruangan.
Sementara Anna, Ferdi dan Mark diutus Rahel untuk melihat gedung baru untuk toko aksesoris yang sudah mereka rintis. Sebenarnya ini juga akal akalan Luna untuk mendekatkan kedua manusia yang saling diam selama hampir sebulan itu.
"Kak, kira-kira bagaimana keadaan kak Aiden disana ya?" Tanya Luna pada Ken yang duduk di kursi Roda dan Luna mendorong dari belakang.
"Dia pasti kuat na, Aiden itu pria yang kuat dan hebat, kakak yakin dia bisa melalui ini semua," ujar Ken.
"Aku ingin bicara padanya tapi disana pasti sudah malam," ucap Luna.
"Iya, biarkan saja dia beristirahat, nanti jam 7 adalah pemakaman mendiang Papanya," jelas Ken.
"Hmmm, kak kapan kita ke tempat Mama, kemarin kan gak jadi," ucap Luna.
"Luna kangen sama Mama," lirihnya.
Ken memegang tangan Luna yang mendorong kursi rodanya.
"Nanti kita akan kesana, tinggi setelah kakak sembuh ya sayang, " ucap Gama menguatkan sang adik.
"Iya kak, pokoknya kakak harus sembuh, Luna gak akan kuat kalau kakak sampai kenapa-kenapa," ucap Luna menahan tangisnya.
Ken tau kalau Luna menahan tangisnya, dia memutar kepalanya dan menatap Luna sambil tersenyum.
"Kakak akan sembuh, kakak yakin itu, kamu jangan sedih ya Na," ucap Ken.
"Baik kak, Luna akan dukung kakak terus," ujar Luna.
Mereka tiba di taman dengan banyak bunga di halamannya, Luna membantu kakaknya duduk di kursi taman dan menikmati keindahan taman itu.
Luna menatap anak-anak yang sedang bermain, dia tersenyum sambil mengingat kenangannya bersama Gama sewaktu kecil saat dia diamputasi, hanya Gama yang mau bermain dengannya.
"Na, kamu suka ya sama anak-anak?" Tanya Ken saat menyadari spot yang ditatap oleh Luna.
"Hmm, suka banget kak, anak anak selalu bikin Luna senang," ujar Luna sambil tersenyum menatap anak-anak yang bermain di taman itu.
"Suami kamu juga sangat menyukai anak kecil, lebih tepatnya diantara kami semua dia yang paling suka pada anak kecil," ucap Ken.
"Benarkah?" Ucap Luna yang dianggukkan oleh Ken.
"Dia pasti akan sangat bahagia kalau punya anak dari kamu," ucap Ken sambil tersenyum menatap adik perempuannya.
"Luna juga berharap dia akan hadir di sini," ucap Luna sambil mengelus perutnya mendoakan agar segera tumbuh janin disana.
Ken tersenyum dia mengelus kepala adiknya dengan sayang.
"Kamu sudah dewasa sekarang dek, kakak mendoakan yang terbaik buat kamu!" Ucap Ken.
Luna memeluk lengan kakaknya, dia menikmati waktu berdua dengan kakaknya sungguh sebuah hal yang menyenangkan.
"Kakak juga harus cepat sembuh, jangan sakit-sakit lagi, Luna gak mau kakak kenapa kenapa," ucap Luna sambil menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.
"Iya kakka janji nona cerewet," balas Ken.
__ADS_1
"Hmmm....kak," ucapnya.
"Apa?" Tanya Ken.
"Kalau Luna gak bisa punya anak apa Gama akan meninggalkan Luna? Apa kalian juga akan benci pada Luna?" Tanya Gadis itu tiba-tiba.
Ken terkejut mendengar pertanyaan adiknya sungguh sebuah pertanyaan yang membuat siapa saja was was dan heran pastinya.
"Kamu kenapa na? Apa kamu sakit? Ada apa? Kenapa kamu tanya begitu?" Ucap Ken sedikit panik.
"Cuma bertanya saja kakakku sayang, gak usah panik, wajar dong kalau Lun mikir seperti itu," ucap Luna seraya menatap kakaknya.
"Huhhh kamu ini, kakak pikir kamu sakit dan terjadi apa-apa padamu," ucap Ken sambil mengelus dadanya lega.
"Heheheh, kakak panikan ya, gak sesuai sama image macho kakak hahahahah," ledek Luna.
"Ck...kamu selalu saj menggod kakak," ujar Ken yang dibals tawa kecil oleh Luna.
Ken menggenggam tangan Luna, ia paham dengan kekhawatiran Luna.
"Mau bagaimanapun kamu nantinya, kakak yakin Gama tidak akan pernah meninggalkan kamu karena kamu adalah hidupnya," ujar Ken.
"Biar kakak tanya, apa di pernah nuntut kamu untuk melakukan apa pun ya g dia mau?" Tanya Ken, Luna menggelengkan kepalanya.
"Nggak pernah kak, malah dia selalu bertanya setiap kali akan mengambil keputusan, dia sangat menghargai Luna," jawab Luna.
"Nah itu dia, Gama itu benar-benar sayang padamu, dia mencintai dan menghargai kamu, jadi apa pun yang akan terjadi kedepannya, satu nasehat kakak kamu harus percaya pada suami kamu!" Ucap Ken.
"Hmmm...iya kak, terimakasih watas wejangannya," ucap Luna sambil tersenyum.
Drrttt....drrrttt......drrttt
Ponsel Luna berbunyi, nama Andin tertera di layar benda pipih itu.
"Kak Luna angkat dulu ya," izin gadis itu yang dianggukkan oleh Ken.
Luna meninggalkan Ken di taman sendirian, tetapi bukan Benar benar sendiri sebab mereka dikhawal dengan ketat.
"Halo tuan, terima bunga ini ya," ucap seseorang pada Ken sambil menyodorkan setangkai bunga mawar berwarna pink ke tangan Ken.
Ken cukup terkejut saat melihat seorang nenek dengan baju pasien memberinya setangkai bunga. Namun untuk menghargai nenek itu, Ken menerima setangkai bunga itu.
"Terimakasih nenek baik," ucap Ken tersenyum tipis.
"Aiggooo anak lelaki yang tampan, wahh kau tampan cucuku, heheh" ucap si nenek sambil menepuk kepala Ken dengN gemas membuat Ken tersenyum lebar saaf diperlakukan seperti itu oleh nenek tersebut.
"Neneeeeeekkkkkkkk...!!!!" Teriak seseorang dari kejauhan.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😉