Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
48


__ADS_3

Ken keluar dari ruangan Gama dengan perasaan tak karuan. Dengan wajah datar dan dingin Ken beranjak tanpa memperdulikan Luna dan Yuna yang menatapnya.


"Ada apa dengan Kak Ken?" ucap Luna bingung.


"Entah, coba kita tanya pada kakak," ucap Yuna sambil menggandeng tangan Luna.


Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan Gama, mata Luna terus menatap punggung pria tadi sampai hilang di balik dinding rumah sakit.


"Kenapa kak Ken?" batin Luna.


Sementara itu, Ken menelepon anak buahnya untuk berjaga di sekitar rumah sakit, ia meninggalkan Gama, Luna dan Yuna disana untuk malam ini.


Setelah memastikan mereka ada yang menjaga, Ken menyalakan mesin mobilnya. Ia melaju menuju salah satu hotel milik Aiden di kota itu.


Setelah itu dia naik ke atap menunggu helikopter yang sudah dipanggil sebelumnya.


Helikopter tiba, pria tampan dengan wajah sedingin es itu naik dan langsung terbang menuju kota Jakarta.


"Kalian memang harus mati!!" batin Ken.


Setelah beberapa saat penerbangan, Helikopter Ken mendarat di atap gedung rumah sakit milik Ken.


Ken turun dari pesawat dan disambut oleh tangan kanannya.


"Selamat datang tuan," ucap Asisten Ken dengan penuh hormat sambil membungkuk sempurna diikuti oleh sepuluh orang anak buah lainnya tepat di belakang asisten Ken.


"Hmmm," Ken hanya berdeham, ia berjalan melewati asistennya dengan tatapan super dingin dan menyeramkan. Aura kemarahan menyelimuti pria tampan itu.


"Sepertinya akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan!" Batin asisten Ken.


Ken berjalan dengan gagahnya memasuki rumah sakit miliknya. Seluruh Pegawai rumah sakit itu membungkuk hormat saat melihat pemilik rumah sakit mereka turun dari atas gedung.


Tentu seluruh pegawai rumah sakit itu tau sifat kejam dari pemilik rumah Sakit itu.


Jika pria ini datang ke rumah sakit, maka ia pasti mempunyai urusan dengan seseorang yang selama ini disiksanya di dalam rumah sakit itu.


Ken berjalan menuju ruangan pintu Merah yang berada di salah satu sudut gedung itu. Pintu merah itu dijaga ketat oleh para pengawal, ruangan itu terpisah dari ruangan lainnya, tidak ada yang boleh masuk kesana selain petugas yang sudah diijinkan.


Ceklek


Pintu di buka, tampak di dalam ruangan sederhana itu seorang pria tua bangka tengah berbaring di atas brankar rumah sakit dengan berbagai selang yang tertancap di tubuhnya.


Kedua tangan dan kedua kakinya diikat ke brankar. Tampak wajahnya sudah berkerut dan rambutnya memutih, tubuhnya lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Ken menyeringai seram, ia berdiri di samping brankar pria tua itu. Tampak mata mereka saling bertatapan, pria tua itu menatap Ken dengan tatapan sayup, ingin bicara tapi rasanya terlalu lemah.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya pak tua? tersiksa sekali ya hahahahah,"


Ken berbicara dengan aura kejam namun seketika itu juga ia tertawa seperti seorang iblis.


"Erghh....ke...kena..pa..tak...kau biarkan saja aku mati Ken,...." ucap Pria tua itu dengan suara lemah.


"Mati? oh tidak Papa, Ups.... maksudku mantan Papa hahaha," ejek Ken.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu mati dengan tenang sementara adik dan Ibuku mati hanya karena perbuatanmu yang bejat itu?" ucap Ken sambil menunduk menatap Pria tua yang merupakan ayah kandung yang sudah tega menjualnya dan adiknya.


"Tentu tidak !!!" tegas Ken dengan sorot mata tajam menusuk dengan seringai menyeramkan di wajahnya.


"Kau harus tersiksa seumur hidupmu tuan Anderson, apa kaki dan tanganmu masih bisa kau gerakkan hmm?" bisik Ken dengan suara menyeramkan.


Ken menegakkan tubuhnya sambil menatap tajam ke arah pria tua itu.


"Inilah....yang aku dan adikku....rasakan....saat...kau...menjual kami bangsat!!!!!" teriak Ken marah, ia mengangkat kursi kayu yang ada di dekat brankar itu dan melemparkannya ke arah dinding hingga hancur berantakan.


Brakkkk


"Hah...hah....hahh....bangsat!! tega kau menjual anakmu setelah menceraikan istrimu?"


"Arghhhh.... kurang ajar!! aku menyesal memiliki darahmu dalam tubuhkuuu....." teriak Kenzo, kali ini kemarahan pria itu sudah di ubun-ubun.


"Kembalikan adikku Nana, arghh....adikku....adikku yang malang....Mamaku yang malang....arghhh....," Ken Menangisi adik dan Mamanya.


Anderson Ayahnya hanya bisa menangis menyesali semua perbuatannya yang memang tidak bisa dimaafkan.


Delapan belas tahun yang lalu, kejadian paling menyedihkan yang merusak kehidupan damai keluarga Anderson terjadi saat tuan Anderson membawa pulang seorang wanita seksi dan cantik ke kediaman Anderson.


Tuan Anderson adalah seorang pengusaha tambang terkaya di Indonesia, banyak orang tertarik pada pria tampan dan gagah itu.


Tuan Anderson terkenal karena paras tampannya, hanya saja ia dijodohkan dengan seorang wanita sederhana tidak terlalu cantik namun berkepribadian lembut dan baik.


Dengan terpaksa tuan Anderson menerima perjodohan itu agar seluruh warisan keluarganya jatuh ke tangannya. Awalnya memang cinta tumbuh hingga berbuah Ken dan adiknya, namun semua hilang ketika seorang wanita masuk ke dalam rumah tangga mereka.


Tuan Anderson menceraikan istri pertamanya dan mengambil hak asuh kedua anaknya. Istri pertamanya menderita dan sakit sakitan hingga ia meninggal dunia.


Tak sampai disitu, Ia menjual kedua anaknya pada seorang milyuner psikopat yang sangat candu melihat anak anak tersiksa. Karena melihat paras kedua anak Tuan Anderson pria itu berniat membeli Ken kecil dan adiknya Nana untuk dijadikan sebagai 'mainan' barunya.


Ken kecil dan adiknya dijadikan babu dan disiksa setiap hari. Tangan dan kaki mereka diikat dengan rantai besi setiap hari.


Ken sangat membenci Ayahnya, ia melakukan hal yang sama pada ayahnya persis seperti yang dilakukan psikopat itu pada dirinya dan adiknya.


Ken yang sedari tadi duduk kini bangkit berdiri, ia merapikan pakaiannya dan menghapus air matanya.

__ADS_1


Ken berjalan mendekati pria tua yang seharusnya sudah mati sejak dulu namun sengaja diselamatkan oleh Ken untuk pembalasan dendam.


"Nikmati lah hasil kejahatanmu tua bangka!" ucap Ken dengan mata merah dan tatapan menyeramkan.


"Aku bukan anak durhaka yang membunuh orangtuanya, aku justru menyelamatkanmu dari kematian dan membuatmu bisa menikmati semua kesakitan ini," tambah Ken.


"Ma..maafkan..a.aku..Ken...uhukk....maafkan...Pa...pa," lirih tuan Anderson dengan suara lemah, air matanya terus berjatuhan menandakan bahwa ia menyesali perbuatannya.


"Kata maafmu tidak akan mengembalikan Adik dan Mamaku!" bentak Ken.


"Lihat apa yang akan kulakukan pada wanita sialan itu! kau tau? adiknya juga melakukan hal yang sama pada keluarga sahabatku, aku akan menghancurkan mereka, jika mereka sudah mati, maka anak-anak mereka akan menjadi sasaran empuk bagiku!!" ucap Ken dengan mata berapi-api.


"Maafkan...aku..Ken, Ja...jangan...sakiti Mereka!!" ucap Tuan Anderson memohon.


Ken terdiam mendengar ayahnya membela orang yang sudah merusak keluarganya. Dengan wajah marah, Ken keluar dan membanting pintu ruangan itu.


Brakkkk


Tuan Anderson hanya bisa pasrah, semua ini memang murni kesalahannya.


Ken keluar dengan amarah yang masih membuncah. Ia berteriak di koridor lorong rumah sakit itu.


"Arghhhh.......sialan!!!!"teriak Ken, hatinya hancur berantakan, ia hanya berharap Ayahnya memohon padanya bukan malah membela keluarga barunya itu, namun yang didapatkan oleh Ken adalah sebuah kekecewaan.


BRAKKK


Ptarrrt


Brukkk


Semua benda yang ada di tempat itu di lemparkan ke sembarang arah hingga hancur berantakan.


Beruntung tempat itu sudah diatur kedap suara sehingga tidak akan ada yang mendengar kemarahan seorang Ken.


"Kak...Ken, jangan marah-marah," suara lembut seseorang menghentikan Ken.


"Nana...Adikku sayang...Nana...huhuhuh,"Ken duduk meringsut ke lantai, ia menangis sejadi-jadinya.


.


.


.


Like, Vote dan komen πŸ˜ŠπŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


Kejadian masa lalunya belum komplit ya, silahkan dinantikanπŸ‘ŒπŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2