Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
94


__ADS_3

Sementara itu, Luna dan kakak kakaknya sedang menuju perusahaan Aiden. Mereka bertiga membawa mobil masing-masing.


Hari ini adalah hari terakhir mereka bisa bebas keluar bersama Luna, jika Gama sudah pulang maka kemungkinan waktu gadis itu hanya akan dilimpahkan pada suaminya.


Luna duduk di mobil Aiden sebab mereka akan menuju perusahaan Aiden yang kantor pusatnya berada di kota Jakarta sama seperti perusahaan teman temannya.


Aiden adalah anak pertama dari dua bersaudara, ayah dan Ibunya telah bercerai sejak usianya 11 tahun karena sama sama berselingkuh dan memilih menikah dengan selingkuhan masing-masing.


Ia memiliki seorang adik laki-laki berusia 18 tahun dan adiknya tinggal bersama ayah mereka. Hak asuh Aiden dan adiknya yang bernama Benedictus yang biasa di sapa Ben itu dipegang oleh ayah mereka.


Ibu mereka memang tidak peduli lagi dengan anak anaknya, ayah mereka justru sangat menyayangi mereka bahkan ketika perceraian terjadi, ayahnya sampai bersimpuh di kaki kedua anaknya karena sadar akan perbuatannya yang tak bisa dimaafkan.


Meski berat melihat kedua orangtuanya bercerai, Aiden perlahan bisa menerima ayahnya dan ibu tirinya yang juga menyayangi mereka sepenuh hati.


Dan lucunya, justru Aiden dan Ben mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari ibu tiri mereka itu bukan dari ibu kandung yang tega meninggalkan bahkan tidak memperjuangkan hak asuh anak-anaknya.


Aiden memilik saudara tiri yang saat ini usianya sekitar 9 tahun hasil pernikahan ayah dan ibu tirinya itu, Aiden juga berusaha dengan tegar menerima kehadiran anak kecil itu.


Aiden memilih tinggal di Indonesia daripada harus bersama ayah dan ibu tirinya di Eropa tepatnya di Belanda.


Dia memilih memisahkan diri dari keluarga itu meski harus meninggalkan adik kandungnya disana.


Rombongan mereka tiba di sebuah gedung modern dengan bentuk bangunan yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan bisnis yang di jalankan oleh Aiden.


Pria berdarah campuran itu, menjalankan bisnis perhotelan dan bisnis property yang berkembang pesat bukan hanya di Indonesia tapi sampai mancanegara.


Dia membangun bisnisnya dimulai sejak usianya 18 tahun 4 tahun setelah ia memilih meninggalkan keluarganya di New York. Aiden termasuk pria Incaran para wanita namun tak ada satu pun wanita yang bisa menaklukkan hati pria maskulin itu.


Memang Aiden sering dirumorkan berpacaran dengan artis terkenal, penyanyi, orang orang dari kalangan atas dan banyak lagi tapi semua itu hanya tumor belaka.


Sebab kenyataannya jika Aiden membawa wanita ke kantornya berarti mereka sedang membicarakan bisnis penting, dan bukan Aiden yang menyebarkan berita itu tapi justru para wanita itu yang kegeeran.


Aiden dan rombongannya tiba di kantor pusat Shine Group. Mereka disambut oleh asisten Aiden yang berjumlah tiga orang, mereka yang mengurus perusahaan jika Aiden tidak masuk.


Mobil sport ketiga pria tampan itu berjejer di depan gedung pencakar langit itu.


Aiden, Ken dan Bima keluar dari mobil masing-masing dengan menggunakan kacamata hitam dengan penampilan formal yang mampu menghipnotis siapa saja yang melihat mereka karena ketiga pria ini benar benar tampan.


Kedatangan mereka membuat beberapa karyawan yang lewat berhenti hanya untuk menatap mahakarya itu sejenak.


"Wow pagi pagi melihat yang begini akan meningkatkan kinerja karyawan!"


"Mataku terasa sehat!"


"Vitamin A ku akhirnya tiba!!"


"Wow triple handsome!"


"tampan tapi seperti iblis, mereka kejam!!"


Begitulah celetukan para karyawan yang melihat kedatangan mereka.


Aiden berjalan memutar mobilnya, dia membukakan pintu untuk Luna si gadis cantik nan mempesona.


Tap


Luna mengeluarkan kakinya, tampak betis mulus tanpa cacat, kedua kakinya ditutup dengan kaos kaki merah dan beralaskan high heels hitam.

__ADS_1


"Silahkan nona manis!" Ucap Aiden sambil tersenyum.


"Terimakasih tuan tampan!" Balas Luna sambil tersenyum lembut.


Tukk


Aiden menutup pintu mobilnya lalu berdiri di samping Luna sambil menekuk lengannya. Luna paham dengan maksud Aiden, ia menggandeng tangan pria itu lalu mereka berjalan menghampiri Ken dan Bima.


" Selamat datang tuan-tuan, nona!" Sambut asisten Aiden yang dianggukkan oleh mereka.


Kehadiran Luna sontak menjadi pergunjingan di tengah tengah karyawan, mereka berbisik-bisik penasaran dengan siapa sosok wanita yang dibawa oleh Aiden.


Dan yang paling membuat mereka terkejut adalah, Aiden menggandeng wanita itu, hal yang tidak pernah dilihat karyawan Aiden selama mereka bekerja di perusahaan itu.


Meski Aiden beberapa terlihat membawa wanita, mereka tidak pernah sedekat itu.


"Wahh cantik sekali, siapa dia?"


"Apa itu kekasih tuan Aiden, tampaknya mereka begitu mesra,"


"Wow visual yang sempurna, cocok bersanding dengan mereka bertiga!"


"Cih paling juga wanita penggoda,"


"Sok cantik!"


Para karyawan bergunjing, ada yang suka dan ada yang tidak suka.


Aiden, Ken, Bima dan Luna melenggang masuk ke dalam gedung itu.


Ken dan Bima sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Aiden yang terus berbicara bahkan sampai menyentuh semua yang dijelaskannya untuk tidak sampai menyentuh pegawainya, bisa mati jantungan mereka.


"Luna bagaimana perusahaan kakak? Bagus tidak?" Tanya Aiden.


"Hmmm bagus kak! Tapi Luna bisa kasih saran sedikit aja nggak kak?" Tanya Luna.


Saat ini mereka berada di ruangan Aiden yang terletak di lantai 7, biasanya ruangan Presdir letaknya berada di lantai paling atas, namun Aiden memilih lantai tujuh supaya cepat turunnya.


Di lantai paling atas sendiri adalah apartemen pribadi pria itu.


"Saran apa Lun?" Tanya Aiden.


"Kurasa kakak harus mengganti seragam kerja karyawan kakak itu, warnanya kurang menarik, orang-orang akan berpikir sedang mengunjungi rumah tahanan jika seragam karyawannya seperti itu," ujar Luna dengan polosnya.


"Pftt hahahhahaha, bahkan Luna menyadarinya, sebenarnya lebih tepatnya memang tempat ini disebut penjara," ledek Bima.


"Hahah iya Bim, asal kamu tau Lun, sudah berkali kali kami menyarankan Aiden mengganti seragam karyawaannya tapi dia bersikukuh mempertahankan warna cokelat pudar itu," ujar Ken.


"Alasannya ?" Tanya Luna.


"Murah meriah muntah hahahhahahahaah," ucap Ken dan Bima sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ck...kalian selalu mengejekku, kenapa aku memilih warna itu agar tidak ada karyawan yang terlalu fokus pada pakaiannya daripada pekerjaan mereka, selain itu semuanya sama rata dan tidak ada perbedaan antara staf atas dengan staff bawah!" Jelas Aiden dengan wajah kesal.


"Ohh...jadi begitu, sebenernya bagus sih kak tapi kakak pilihlah yang agak modern dikit, kalaupun mau pakai tema retro jangan warna yang terlalu kusam, warna pakaian juga mempengaruhi kinerja karyawan loh kak!" Celetuk Luna.


"Coba kakak buat begini saja, setiap divisi dibuat warna berbeda sehingga akan ada perbedaan antara divisi yang satu dengan divisi yang lain, modelnya harus sama tapi warnanya berbeda dan sesuai dengan ciri khas tim itu sendiri, pasti suasana di tempat ini tidak akan sesuram kuburan!" Ujar Luna.

__ADS_1


"Asal kakak tau, perusahaan kakak seperti kuburan saja!" Celetuk Luna.


Ken, Aiden dan Bima saling bertatapan, ide gadis itu cukup cemerlang dengan menerapkan hal seperti itu bisa memberikan suasana baru bagi setiap tim dalam perusahaan Aiden.


"Wah idemu cemerlang Luna!" Ujar Aiden.


"Baiklah aku akan melakukannya!" Ujar Aiden dengan penuh semangat.


Tok tok tok


"Masuk!" Ucap Aiden.


Asisten Aiden masuk mengantarkan minuman dan cemilan untuk mereka.


"Silahkan dinikmati tuan-tuan, nona!" Ucapnya dengan hormat.


"Terimakasih !" Ucap Luna sambil tersenyum ramah.


"Tak perlu sungkan nona," ucap wanita itu membalas senyuman Luna.


Lain halnya dengan Ken, Aiden dan Bima yang hanya diam.


"Ekhmmm.... sepertinya ada yang tidak tau cara berterimakasih!" Sindir Luna sambil menatap ketiga pria itu.


Ken, Aiden dan Bima membalas tatapan Luna tak mengerti. Luna menaikkan sebelah alisnya menatap hidangan dan asisten wanita itu secara bergantian.


"Ahhh...iya iya!" Ucap Aiden.


"Terimakasih Vin!" Ucap Aiden.


"Terimakasih nona," ucap Ken dan Bima bersamaan.


"Ahh... sama-sama tu..tuan tuan, sudah tugas saya, kalau begitu saya permisi!" Ucap wanita itu dengan wajah gugup ketika ketiga pria itu menatapnya sambil mengucapkan terimakasih.


"Arhhhh....dunia kiamat, dunia kiamat!!!" Teriak gadis itu setelah keluar dari ruangan Presdir.


"Yaaa, kau kenapa Vin? Apa kau gila setelah keluar dari ruangan keramat itu?" Tanya rekan prianya yang sedang berjalan menuju ruangan Presdir.


"Dunia akan kiamat arghhhh, mereka berterimakasih padaku arhhh tiiidaaakkkk, ibuuu aku belum mau matiiii!!" teriak gadis itu sambil berlari pontang-panting membawa nampan menuju pantry.


Rekannya bahkan teman sekantornya sampai terheran-heran dengan tingkah gadis itu.


Pria itupun berjalan menuju ruangan Presdir, ia mendengar gelak tawa disana, perlahan ia membuka pintu lalu mengintip.


"astaga, apa ini? apa aku tidak salah lihat dan tidak salah dengar?" ucapnya sambil mengucek matanya dan menggaruk telinganya saat melihat ketiga pria dingin itu tertawa terbahak-bahak.


Perlahan pria itu menutup pintu tak jadi masuk, ia ikut gila seperti Vina yang berlari pontang-panting karena melihat pria pria di gin itu tertawa terbahak-bahak.


"Arhhhhh.....Presdir sudah gilaaaaa....." teriaknya ketakutan.


.


.


.


jangan lupa untuk selalu dukung author dengan like, vote dan komen ya teman-teman 😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2