Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
54


__ADS_3

..."Jangan sakit, karena aku juga akan sakit jika itu terjadi, jangan menangis karena tangisanmu adalah racun bagiku,"...


...-Gamaliel Park-...


..."Hatiku telah jatuh sejatuh-jatuhnya, dan kau harus bertanggung jawab untuk itu!"...


...-Luna Christina-...


...****************...


Gama duduk di samping bed rest dimana tubuh Luna sekarang terletak. Satu jam yang lalu, Ken langsung melarikan Luna ke rumah sakit karena dokter George tidak bisa datang ke lokasi mereka.


Dengan terpaksa Ken mengemudi di tengah hujan deras yang mengguyur bumi Pertiwi. Bima ikut bersama mereka sedangkan Anna, Ferdi dan Aiden di tinggal di kediaman Ferdi, mereka pamit pada Ferdi sebelum berangkat.


Gama sedari tadi duduk di samping bed rest istrinya, ia tidak meninggalkan ruangan itu sama sekali. Wajah pucat Luna sudah mulai berkurang, ia juga sudah tenang dan terlelap akibat pengaruh obat penenang yang di suntikkan dokter.


Gama menggenggam tangan Luna dengan erat, ia mengusap lembut punggungnya tangan istrinya itu. Matanya terus menatap wajah cantik yang masih terlelap di sana.


"Kau istirahatlah Gam, Luna akan bangun besok pagi, kau juga butuh istirahat," ucap Ken yang datang menghampiri Gama sambil menyerahkan air putih hangat yang diminta Gama sebelumnya.


"Terimakasih," ucap Gama sambil menerima minumannya.


"Aku akan istirahat di sampingnya, bisa kau bantu aku?" tanya Gama.


"Baiklah jika itu maumu," ucap Ken.


Gama menghabiskan air putih hangatnya, setelah itu Ken membantunya berbaring di atas bed rest yang terbilang cukup lebar untuk dua orang.


Ken mengangkat tubuh Gama dan membantu pria itu.


"Maaf merepotkanmu," ucap Gama dengan nada sendu sambil menatap kedua kakinya.


"Jangan seperti itu, Kau pasti bisa pulih, ingat tanggung jawabmu besar sekarang!" ucap Ken sambil menepuk bahu pria itu dan melirik ke arah Luna.


"Terimakasih Ken, kau juga istirahatlah pasti kau mengalami mimpi itu lagi," ucap Gama.


Ken terdiam, "Dari mana kau tau?" tanya Ken.


"Ck....apa kau tidak tau siapa aku?" ucap Gama.


"Hmmm....jangan memulai perdebatan atau kita tidak akan tidur semalaman, Bima saja sudah molor disana," celetuk Ken dengan wajah mulai kesal.


"Hahaha, baiklah terimakasih sudah membantuku Ken," ucap Gama terkekeh.


"Ternyata gunung esnya sudah mencair dan kini menjadi genangan becek,hahah," balas Ken meledek Gama.


"Sana pergilah, aku ingin tidur!" ucap Gama yang mulai membaringkan tubuhnya di samping Luna. Tanpa malu ia memeluk Luna dengan erat.

__ADS_1


"Cih....enak sekali ya punya istri ada yang mau di peluk," ucap Ken.


"Hmmm... makanya menikah sana," ucap Gama.


"Jodohku masih belum dicetak!" ketus Ken meninggalkan Gama disana dan berjalan menuju bed rest tambahan yang mereka minta pada pihak rumah sakit.


Mereka terlelap dalam tidur mereka. Gama menatap Luna yang tidur dengan lelap, tampak jarum infus tertancap di tangannya, tidur gadis itu sangat tenang dan damai.


Gama memutar tubuh Luna perlahan, ia mengangkat kepala Luna dan meletakkan tangannya di bawah kepala Luna, membiarkan tangannya menjadi bantal bagi istrinya.


Posisi mereka saling berhadapan, sangat dekat hingga Gama bisa mencium dengan jelas aroma khas tubuh Luna yang menurutnya sangat menenangkan.


Gama membelai lembut wajah polos itu, gadis cerewet yang selalu mengomel dalam berbagai situasi yang baginya tidak sesuai.


Cup, Cup, Cup


Satu kecupan mendarat di kening Luna, satu di pipinya dan terakhir di bibirnya. Hal yang selalu Gama lakukan di malam hari jika istrinya sudah terlelap.


Ia masih malu mengakui perasaannya dan bersikap romantis dengan istrinya. Entah apa yang diragukan pria itu, tapi ia masih merasa kecil hati dengan kondisinya yang belum juga pulih padahal sudah dua Minggu lebih ia melakukan terapi.


"Jangan sakit karena aku juga sakit jika itu terjadi," ucap Gama.


"Terimakasih sudah hadir di hatiku, memenuhi ruang yang selama ini kosong, aku mencintaimu," batin Gama sambil memeluk Luna dengan erat.


Gama sudah tidak pernah lagi mengalami mimpi buruk sejak ia mulai terbiasa tidur dengan Luna bahkan setiap malam ia harus memeluk gadis itu.


Bukan mencuri kesempatan dalam kesempitan seperti istilah jaman now. Tapi mengambil kesempatan untuk semakin dekat dengan istri sendiri.


Hari berganti, Sang mentari telah menampakkan dirinya. Di ruangan serba putih dimana Luna di rawat tampak gadis itu terbangun dari tidurnya yang sangat lelap.


Semalam ia bermimpi lagi tengah memeluk seekor kelinci besar yang sangat nyaman. Padahal nyatanya kelinci besarnya itu adalah suaminya sendiri.


Luna mengerjapkan matanya, ia meraba-raba sesuatu yang tepat berada di depan wajahnya.


"sedikit empuk....apa ini?" gumam Luna sambil menusuk-nusuk benda berwarna biru tua di depannya itu.


"Apa ini?" gumam Luna sambil mendongakkan kepalanya dan alhasil ia melihat suaminya sendiri yang tengah tersenyum menatapnya.


Gama ternyata sudah bangun sejak tadi, ia memeluk Luna dengan erat seperti tidak mau kehilangan gadis itu.


"Eh... kupikir apa tadi, heheheh," ucap Luna cengengesan, ia menarik tangannya dari dada Gama.


"Sudah puas menusuk nusuk dadaku hmm?" ucap Gama sambil menatap Luna. Pandangan mereka bertemu dan terkunci satu sama lain.


Luna terkekeh saat melihat wajah tampan itu kini tepat di hadapannya. Ia masih setia menatap Gama dengan mata berbinar binar. Sepertinya Hobi baru gadis itu adalah menatap pria tampan di depannya itu sambil tersenyum manis.


"Ada apa hmmm? apa setelah sakit kau kerasukan setan di rumah sakit ini?" celetuk Gama sambil memegang kening istrinya, kali ini ia hanya ingin memastikan apa Luna masih demam bukan mengecek tingkat kewarasan gadis itu.

__ADS_1


"Emmm...kau sangat tampan heheheh," ucap Luna malu-malu ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Gama tergelak, istrinya ini memang selalu bisa membuatnya tertawa.


"Sepertinya roh salah satu pasien di rumah sakit ini telah merasukimu," ucap Gama sambil memegang telinga istrinya yang memerah seperti biasa.


"Hihihihi, aku adalah arwah perawan tua di rumah sakit ini, hihihihi,"


Luna bersandiwara seolah-olah dia kerasukan, dia mengangkat kepalanya dan menatap Gama dengan senyuman smirk di wajahnya.


"Aku akan memangsamu tuan tampan hihihihi," ucap Luna lagi seraya mengelus rahang Gama.


Luna melancarkan aksinya seperti hantu seram yang menakuti manusia.


"Ahahahah, kau lucu sekali hahaha, kau tidak cocok jadi hantu hahah, rasakan ini hantu nakal hahahah," Gama tertawa terbahak-bahak melihat akting aneh gadis itu.


Gama menarik tangannya dan melancarkan aksinya menggelitik istrinya.


"Hahahahah, geli...gam...hahahahah ampun hahahahha,"


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan dua manusia yang terbangun dengan rambut acak-acakan dan kantung mata hitam seperti panda.


"Hooooaaaammmm.......Indahnya dunia seperti milik berdua, yang lain mah ngontrak!" sindir Bima yang terbangun.


"Woy Gama bisa diam gak sih? ribut banget orang lagi tidur juga!" gerutu Ken sambil menutup kepalanya dengan menggunakan bantal.


Gama dan Luna terdiam mendengar ucapan kedua manusia itu.


" Ups...hahahahah,"


Gama dan Luna tertawa cengengesan karena gerutuan dua pria tampan itu.


Gama menatap Luna, tangannya mengelus wajah polos itu.


"Bagaimana keadaanmu? ternyata Superwoman bisa sakit juga ya," ucap Gama masih meledek Luna namun matanya tidak lepas dari wajah cantik itu.


"Aku sudah baikan, apa kalian membawaku kesini? bukannya hujan deras?" ucap Luna.


"Kita kan punya Ken dan Bima, Ken itu raja jalanan jadi dia bisa membawa kita dengan cepat kesini," ucap Gama setengah berbisik.


"Ahh...aku akan berterimakasih padanya nanti," ucap Luna.


"Lalu apa kau tidak berterimakasih pada suamimu ini hmm?" goda Gama dengan menaikkan satu alisnya.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😊😉😉


__ADS_2