
Acara ulang tahun Gama dan penyambutan baby twin dirayakan dengan penuh tawa dan kegembiraan.
Mereka mengucapkan selamat pada Gama yang genap berusia 29 tahun dan selamat atas kehamilan Luna.
Acara utama sudah selesai, kini mereka menikmati perbincangan dan hidangan yang di pesan oleh Rose dan Ken sebelumnya.
Para pelayan juga menikmati acara itu, mereka diperlakukan seperti keluarga membuat mereka begitu nyaman dan betah bekerja di rumah besar Park.
Entah karena akan segera memiliki anak atau memang kepribadian Gama yang senang bermain dengan anak-anak, pria itu kini sedang bercanda ria dengan tiga bocah anak dokter George dan anak asistennya Rendy.
Luna duduk di kursi yang sudah disediakan Aiden khusus untuk Luna apalagi saat tahu Luna mengandung bayi kembar semua kakak kakaknya sangat antusias seperti menyambut anak sendiri.
Segala kebutuhan di acara itu disesuaikan agar nyaman untuk ibu hamil, apalagi ada Rose yang merupakan seorang mantan perawat membuat mereka jadi lebih paham mengenai apa saja yang akan dibutuhkan ibu hamil.
Gama sedang duduk di atas karpet di hadapan istrinya yang asik memakan sate ayam yang sangat dia sukai.
"Wah uncle Gama jadi cantik hahahhaha," ucap David yang mengoleskan lipstik yang didapat nya dari Ibunya dengan alasan kalau Luna membutuhkannya, David licik sekali.
"Hahahaha, bang David pakein ini juga," ucap Jack sambil memberikan spidol warna yang diambilnya dari dalam tasnya.
"Wahhh...ini kamu bawa Jack?" Ucap Marco, putra Rendy yang lebih tua. Ketiga bocah itu bisa akrab seperti itu karena mama David adalah teman baiknya Katie. Jadi mereka bertiga sering bermain bersama.
"Iya, capa tau butuh nah sekalang kita butuh kan bang," ucap Jack yang masih berusia empat tahun, Marco sendiri berusia 7 tahun dan David berusia 6 tahun.
"Hahah kamu pinter Jack, sini kasih Abang David," ucap David.
"Abang Malco kenapa Ndak ikutan uga??" Tanya Jack dengan wajah imutnya.
"Abang kan udah besar jadi nggak main yang begituan lagi," ucap Marco yang memilih duduk di samping Luna.
Luna tersenyum mendengar percakapan anak anak kecil itu, dia mengelus-elus perutnya tidak sabar menantikan kelahiran kedua buah hatinya.
"Mama harap kalian cepat besar, Mama udah nggak sabar melihat kalian sayang," batin Luna.
Gama pasrah saja di kerjai oleh ketiga bocah laki-laki itu. Wajahnya sudah menor dengan coretan-coretan disana sini.
"Halo Aunty cantik," sapa Marco sementara David dan Jack merias Gama.
"Halo boy, nama kamu siapa nak?" Tanya Luna lembut sambil meletakkan piringnya di meja di samping kursinya.
"Nama ku Marco aunty, kalau aunty?" Tanya Marco.
"Panggil saja aunty Luna, nah kalau adikmu siapa namanya?" Tanya Luna lembut.
"Yang kecil itu namanya Jack aunty dan yang di sebelahnya David anak nya om George dan Tante Lily," ucap David.
"Ahhh...baiklah aunty mengerti," ucap Luna sambil tersenyum manis membuat Marco terpana.
"Aunty cantik sekali," puji Marco.
"Terimakasih, kamu juga tampan sekali nak," ucap Luna sambil menepuk kepala Marco dengan Lembut.
Marco tersenyum manis, saat pertama kali melihat Luna dia sudah menyukai ibu hamil itu, dia tau kalau Luna adalah orang yang baik dan lembut.
__ADS_1
"Wah Sayang, kamu beruntung banget bisa dekat dengan Marco, dia itu tipikal yang sulit didekati loh," ucap Gama saat melihat istrinya akrab dengan Marco anak asistennya.
"Ahh...masa iya? Marco kan anak baik, iya kan sayang?" Ucap Luna sambil merangkul Marco.
"Tentu saja, Marco anak baik," jawab Marco yang tidak menolak rangkulan Luna.
"Abang Malco cuma mau main cama pelempuan sepelti onty cantik," celetuk Jack yang konsentrasi pada wajah Gama dengan gambar kura kura hijaunya.
"Iya, Aunty tapi Abang Marco takut disuntik masa iya kemarin dokter mau kasih obat Abang Marco nangis nangis sampai lari kesana kemari hanya karena takut disuntik, Abang Marco mah cemeeenn!!" Ledek David.
"Ck...kalau suntik memang Abang gak sanggup, jadi ya kalian berdua menang dari Abang," jawab Marco pasrah sambil tertunduk lesu.
"Holee...Abang Malco kalah satu poinn!!" Seru Jack melompat kegirangan.
"Ck..ck..ck..Jack jangan melompat seperti itu nanti kamu jatuh terus nangis," ucap David sambil geleng-geleng kepala melihat Jack yang melompat kegirangan.
"Hahahhahah," Gama dan Luna tertawa mendengar celetukan anak anak itu.
Ketiganya juga ikut tertawa karena tingkah mereka sendiri.
"Wahh kalian main sendiri gak ajak ajak om tamvan ya," ucap Aiden yang sudah ganti baju karena bajunya tadi basah terkena jus anggur, dia duduk di atas karpet bersama Gama sambil membawa cemilan di tangannya.
"Heheh, halo om Aiiiiii!!"sapa Ketiga bocah itu.
Aiden, Ken, Bima, Mark dan Alex sudah kenal dengan anak anak itu sebab sebelum kecelakaan dulu, Gama sering membawa mereka ke rumah besar Park apalagi saat mereka semua sedang berkumpul di rumah besar itu.
Gama dulu memang punya tempramen yang sangat buruk, tetapi ketika berhadapan dengan anak anak dia menjadi luluh dan melupakan dirinya yang buruk itu.
"Baiklah," jawab mereka bertiga serentak apalagi melihat makanan makanan yang dibawa Aiden bersama pelayan sudah menggugah selera mereka.
Jadilah mereka duduk lesehan di atas karpet itu, Luna juga duduk dengan posisi yang sama , meski sudah dilarang tapi dia mengatakan bahwa dirinya lebih nyaman duduk seperti itu.
Gama duduk di samping istrinya, Aiden, Jack dan David duduk di di hadapan mereka sedangkan Marco menempel di sisi lain tubuh Luna, dia sangat menyukai wanita itu.
"Ayo dimakan, kalau kurang kita tambahin," ucap Aiden sambil memberikan makanan itu pada ketiga anak-anak kecil di dekatnya.
Bima dan Alex melihat mereka makan bersama langsung bergabung dengan mereka dan duduk lesehan di atas Karpet.
"Gabung ya hehehhe, lebih enak begini!" Ucap Bima.
"Wah wajahmu artistik sekali Gama, hebat!!" Celetuk Alex sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
"Terima atas pujiannya Alex, aku tau kalau aku yang paling tampan di antara kalian semua," balas Gama dengan penuh percaya diri.
"Ck...aku yang paling tampan Gama," celetuk Aiden.
"Hey apa kalian tidak sadar kalau aku yang paling tampan?" Balas Alex tak mau kalah.
"Ck...ck...ck.. sadarkan diri kalian aku yang paling tampan!" Celetuk Bima sambil bergaya di depan mereka.
Luna merotasikan kedua bola matanya, mereka ini akan terus berdebat dan mempermasalahkan hal yang kecil jika tidak segera dihentikan.
"Sudah sudah makan saja, kalian ini akan berdebat terus, jangan sampai makanannya habis kalian masih terus berdebat, dasar orang orang aneh,"ketus Luna sambil mengunyah makanannya hingga pipi nya menggembung karena makanannya memenuhi mulut nya.
__ADS_1
"Pfftt hahahahahhahaha," seketika suara tawa menggelegar di ruangan itu, mereka tertawa melihat wajah Luna yang sangat menggemaskan karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Mulutmu penuh na, seperti tidak pernah makan saja," ucap Aiden.
"Heheh, Luna lapar, makanannya enak enak," ucap Luna masih berbicara dengan mulutnya yang menggembung.
Mereka tersenyum, baguslah kalau Luna berselera makan, biasa ibu hamil apalagi di trimester pertama akan sangat sulit makan bahkan banyak yang harus dihindari, tapi tampaknya Luna kuat dan makan dengan lahap.
Gama mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan yang belepotan di wajah Luna.
"Pelan pelan makannya sayang, masih banyak kok," ucap Gama.
"So sweet!!!" Seru Aiden.
Sementara mereka menikmati makanannya, Tampak di sudut lain ruangan itu, Ferdi dan Anna yang tak bisa banyak berinteraksi dengan orang lain apalagi banyak laki-laki, duduk menyingkir ke pojokan agar Anna tidak terganggu.
Mereka menikmati makanan mereka dengan tenang, sambil Ferdi menenangkan Anna.
"Maaf ya kak Fer, Anna jadi ambil waktu kakak," ucap Anna lirih, dia merasa tidak enak karena Ferdi harus menjaganya.
"Sudah tidak apa-apa, makan lagi yuk, setelah itu kita berkumpul dengan mereka, kamu harus coba ngalahin rasa takut kamu," ucap Ferdi.
"Tapi kak, Anna takut...ba..bayangan itu terus muncul di pikiran Anna," ucapnya bergetar ketakutan.
Ferdi menggenggam tangan Anna dengan lembut.
"Tenang Anna, kakak akan menjagamu, kalau kamu takut, kamu pegang saja kakak ya," ucap Ferdi.
"Kasihan kakakmu mereka juga pengen dekat dengan kamu, masa iya di hari bahagia begini kamu nyempil sendirian di sudut ruangan, di kira Kuntilanak loh nanti," ucap Ferdi.
"huffft.....kak Ferdi gitu amat dah, iya ...iya Anna coba, tapi kakak harus di samping Anna," ucap Anna sambil menghela nafas, benar kata Ferdi tak mungkin dia terus terusan hidup dalam trauma itu,meski sulit dia harus mencoba keluar.
Di sisi lain, Ken sedang berbincang-bincang dengan tamu tamu lainnya, Rose juga disana, Andin dan Mark juga dduduk di tempat itu, Dokter George, Lily istrinya, Katie dan Rendy serta nyonya Maureer duduk di meja panjang itu bersama beberapa pelayan dari rumah besar Park.
Isi percakapan mereka lebih tenang dibandingkan dengan percakapan Luna dan yang lainnya.
Drrttt...
Drrttt..
Drrttt....
Ponsel Rose bergetar, dia melihat panggilan dari seseorang yang sangat dibencinya, yaitu panggilan telepon dari ayahnya yang tidak pernah berperan sebagai ayah seumur hidupnya.
.
.
.
like, vote dan komen ππππ
hati pasti ada yang mikir tamat hehehehπ€π€
__ADS_1