Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
52


__ADS_3

Mendengar teriakan Aiden, sontak Ken, Gama, Luna dan Anna langsung menoleh ke arah kedatangan pria itu.


"Haahhh...haahhh...hahhhh, Ken, Gam, Luna, Anna.......itu....Simboknya Ferdi.... Simboknya Ferdi," Aiden ngos-ngosan, karena ia berlari ke rumah Luna karena sudah terburu-buru.


"Ada apa Aiden, bicaralah yang jelas," ucap Gama.


"Huuuffttt.........haaaaahhhh..... capek aku," ujar Aiden.


"Ada apa?" tanya Luna.


"Begini, Simboknya Ferdi meninggal," ucap Aiden.


"Apa!!" sontak mereka terkejut mendengar berita itu. Padahal setahu mereka Simboknya masih terlihatlah sehat dan kuat. Beberapa hari yang lalu mereka masih sempat berkunjung ke rumah Ferdi dan banyak berbincang dengan Simboknya Ferdi.


" Ferdi menangis histeris di rumahnya, Bima sedang membantu mengurus Ferdi disana, orang-orang kampung juga sudah berdatangan," ucap Aiden lagi.


"Ya Tuhan kasihan Ferdi, ya sudah ayo kita kesana, tapi tunggu kalian makan siang dulu, aku tidak mau ada yang sakit, Anna kemari ayo kita cepat masak, seadanya saja, Kak Ken bisa tolong bantu Gama mengganti pakaiannya aku akan cepat, kalian bersiaplah!" ucap Luna yang langsung mempercepat pekerjaannya.


Gama, Ken dan Aiden begitu takjub dengan gadis itu sampai-sampai mereka.malah bengong melihat kelihaian Luna dalam memasak dan memainkan alat-alat dapur.


"Hei!! mau sampai kapan kalian disitu, cepatlah!!" bentak Luna membuat ketiga pria itu tersentak kaget.


"Baiklah, baik," ucap Ken langsung mendorong kursi roda Gama ke depan.


Luna dan Anna bekerja sama menyiapkan makanan untuk mereka, sederhana tapi lengkap gizinya. Luna juga menyiapkan masakan untuk Ferdi, ia tau kalau yang memasak di rumahnya adalah Simboknya.


"Gama, istrimu menyeramkan kalau marah," ucap Ken yang kini membantu Gama bersiap-siap.


"Aku juga heran, dia bisa tiba-tiba sangat lembut namun saat itu juga tiba-tiba berubah menjadi gadis paling bar-bar di dunia," ucap Gama.


"Kalian cepatlah menyusul, aku akan membantu dulu di rumah Ferdi, katakan pada Luna aku sudah pergi dahulu, aku akan bawa mobilku!" ucap Aiden tergesa-gesa.


"Baik!" jawab mereka berdua.


Luna dan Anna langsung menyiapkan makanan mereka di meja makan, Luna memanggil Ken dan Gama sementara Anna bersiap-siap.


Gama, Ken dan Anna makan dengan tenang dan cepat, lain halnya dengan Luna yang malah menyiapkan segala kebutuhan mereka untuk di bawa ke tempat Ferdi. Pakaian ganti suaminya, adiknya dan untuk dirinya.


Makanan serta obat-obatan milik Gama juga tidak lupa ia bawa. Mungkin mereka akan menginap disana malam ini.


"Apa kalian sudah selesai?" ucap Luna yang baru saja dari luar setelah memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil.


"Sudah, apa kau tidak makan?" tanya Gama.


"Nanti saja, kita harus cepat kesana, aku juga masih belum lapar, ayo cepat, aku akan bereskan piringnya dulu, kak Ken bawa Gama ke dalam mobil, Anna bantu Mereka!" ucap Luna tergesa-gesa.


Mereka semua menuruti ucapan gadis itu.


Setelah memastikan semuanya beres, Luna langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Gama. Tampak keringat gadis itu menetes di pelipisnya.


Gama langsung mengambil tisu dan mengelap keringat Luna.


"Biar aku saja," ucap Luna berusaha mengambil tisu Gama.

__ADS_1


"Sudah diam jangan bawel!!" ketus Gama.


Luna akhirnya hanya diam menuruti suaminya. Dengan perlahan Gama mengusap keringat Luna.


"Apa kau lelah?" ucap Gama.


"Emmm? sedikit tapi tidak masalah," ucap Luna.


"Anna mana yang Kakak minta tadi," ucap Gama.


"Ini kak," ucap Anna sambil memberikan wadah berisi makanan yang sengaja diminta oleh Gama tadi.


"Luna ayo makan dulu, sini kusuapi," ucap Gama sambil membuka kotak bekal itu.


"Tak usah, aku masih belum lapar," tolak Luna lembut, sebab dalam pikirannya saat ini hanyalah Ferdi teman baiknya.


"Ck...Luna, jika kau tidak makan maka kita tidak akan melanjutkan perjalanan ini kesan!" tegas Gama dengan nada sedikit marah.


"Bagaimana bisa kau mengkhawatirkan orang lain sedangkan dirimu tidak kau perhatikan, aku tidak mau kau sakit hanya karena mengurus orang lain!" jelas Gama.


"Cepat makan, tidak boleh membantah!" tegas Gama.


Luna akhirnya menurut, benar kata suaminya jika ia sakit maka mereka akan semakin kerepotan, bisa saja Gama akan melarangnya pergi ke tempat Ferdi.


"Baiklah," ucap Luna.


Akhirnya Gama menyuapi Luna sepanjang perjalanan menuju rumah Ferdi.


Dari depan, Anna dan Ken tersenyum bahagia melihat keharmonisan kedua orang itu.


Pak Kepala desa, Andre, Cindy dan Kiki juga ada disana. Luna berlari tergesa-gesa ke dalam rumah sampai ia lupa kalau dia sudah meninggalkan Gama, Ken dan Anna di dalam mobil.


Gama hanya geleng-geleng kepala melihat gadis itu, ia juga mengerti kalau Luna pasti khawatir dengan kondisi Ferdi yang pasti sangat terpuruk saat ini karena satu-satunya keluarganya telah berpulang.


"Ferdiiiiii....." teriak Luna menghampiri Ferdi dan langsung memeluk teman baiknya itu, Andin juga sudah tiba di tempat itu, tampak Ferdi dan Andin menangis di dekat tubuh kaku simbok.


"Luna, simbok...simbok..udah ninggalin kita...." Ferdi pria berusia 23 tahun itu menangis tersedu-sedu di pelukan kedua teman baiknya, Andin dan Luna yang selalu peduli pada dirinya dan Simboknya.


"Kamu yang kuat ya Fer, kamu harus kuat, Simbok udah tenang di alam sana, kamu harus kuat, kamu nggak sendirian di dunia ini, kamu masih punya kami yang akan selalu bersama mu!" ujar Luna yang juga ikut menangis tersedu-sedu karena simbok yang mereka kenal sangat baik dan selalu memberi nasihat pada mereka kini telah pergi untuk selamanya.


"Kamu harusnya kuat Fer, kami disini menmanimu," ujar Andin yang memeluk temannya dari sisi lain.


Anna juga ikut memeluk Ferdi, ia juga sempat kenal dengan simbok yang selalu menggodanya jika datang ke rumah itu


"Kak Fer jangan sedih ya, Tuhan lebih sayang sama Simbok, kakak yang kuat ya," ujar Anna.


"Hemp... terimakasih Luna, Andin, Anna, terimakasih mau menemaniku," ucap Ferdi.


"Beliau juga simbok kami dan kamu adalah teman kami, teman terbaik kami," ucap Luna sambil tersenyum, mereka melepaskan pelukan mereka dan berdiri di samping Ferdi.


"Kami juga temanmu Fer, kita keluarga, jangan sedih lagi bro!" ucap Bima sambil menepuk bahu pria itu.


Ferdi menatap mereka dengan mata sembabnya, Aiden, Ken dan Gama tersenyum menanggapi pria muda yang sudah seperti adik bagi mereka.

__ADS_1


Acara pemakaman pun dilakukan menurut agama serta adat yang berlaku di tempat itu.


Satu persatu masyarakat mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Simbok, kehadiran Tiga pria tampan yang sempat menggegerkan seluruh desa masih saja menjadi topik pembicaraan hangat.


Mereka semau salut dengan orang-orang baru itu, mereka tampaknya adalah orang berada namun tidak merasa jijik bergaul dengan Ferdi yang notabenenya dijauhi oleh sebagian orang karena bobot tubuhnya serta penampilan dekilnya.


Acara pemakaman yang sagat layak dilakukan, semuanya diurus oleh Bima dan Aiden dengan bantuan anak buah mereka.


Setelah acara selesai, mereka semua duduk di ruang tamu rumah kayu yang tampak sederhana itu. Ferdi tidak mengenal siapa orangtuanya, sejak kecil ia ditinggal bersama Simboknya, kedua orangtuanya tidak peduli dengannya.


"Ferdi jangan sedih lagi ya, semua akan berlalu, kami akan menemanimu," ucap Luna.


"Tapi aku sendirian sekarang Lun, aku tidak punya keluarga lagi," ucap Ferdi.


"Kami akan jadi keluargamu," ucap Gama.


"Fer, ikutlah dengan kami ke Jakarta, aku ingin kau menjadi asisten Luna, kalian akan mengurus toko aksesoris di Jakarta," ucap Gama tiba-tiba.


"Benar, kau ikutlah dengan kami ke Jakarta, tinggalkan Semua kenanganmu disini," ucap Bima.


"Kami akan lebih tenang jika kau bersama kami," ujar Aiden.


"iya kak, ikutlah dengan kami ke Jakarta, seminggu lagi kita akan berangkat," ucap Anna.


"Apa...boleh?" ucap Ferdi.


"Tentu boleh!" ucap mereka serentak.


"Terimakasih banyak teman-teman," ucap Ferdi terharu.


"Kalau kalian semua ke Jakarta lalu aku ditinggal sendiri dong disini," ucap Andin tak rela.


"Kalau begitu ikut aja," ujar Aiden.


"Eh....gak usah deh, aku disini aja, soalnya aku masih kerja di panti, gak enak sama orang panti kalau aku tiba-tiba keluar," ucap Andin sedikit terbata.


"Emmm...ka..kalau begitu aku balik ke rumah dulu ya semuanya, Luna aku duluan ya, Ibu sama Bapak pasti nyariin," ujar Andin langsung bangkit berdiri.


"Eh... langsung pulang? kok gak nginap aja Andin?" tanya Luna sedikit heran.


"Emmm....ada urusan penting kata Ibu sama Bapak tadi.


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa Andin," ucap Luna sambil memeluk sahabatnya itu, namun matanya tertuju pada sebuah memar di leher Andin.


Luna tidak melepaskan Andin, ia menatap Andin dengan curiga.


"Kamu jujur sama aku!" sentak Luna dengan suara keras membuat mereka sua juga terkejut mendengar suara Luna yang tiba-tiba.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉😉


__ADS_2