
Luna mengarahkan kamera ponselnya ke sudut ruangan, ia merekam suasana pesta itu.
Matanya fokus pada seorang wanita paruh baya dan wanita mudah umurnya tampaknya seumuran dengan dirinya.
"Dapat kau, aku akan menghapal wajah ini dan membuat perhitungan dengan kalian!" Batin Luna.
Aiden menyadari spot yang di rekam oleh Luna.
"Astaga Ken dia ini kenapa jeli sekali!" Ucap Aiden sambil menggoyangkan lengan Ken.
"Ck... memangnya ada apa lagi?" Ketus Ken.
"Lihat apa yang di temukannya!" Ucap Aiden sambil menunjuk layar ponsel Luna.
Ken mengikuti arah tangan Aiden, ia belum terlalu jelas dengan sosok di ponsel gadis itu.
Ken berdiri lalu mendekati adiknya, ia ikut menatap layar ponsel Luna. Mata Ken terbelalak saat melihat wanita selingkuhan ayahnya bersama seorang anak perempuan yang dia ketahui adalah anak hasil perselingkuhan mereka bahkan sebelum wanita liar itu di bawa ke rumah.
"Lu..Luna...." Ucap Ken tersengal.
"Eh..kakak, " ucap Luna sekilas melihat Kakaknya lalu kembali fokus pada objeknya.
"Ka..kamu..." Ken terdiam.
"Kenapa? Aku hanya ingin melihat wajah perusak keluarga kita lebih dekat,lihatlah senyumnya itu, ingin rasanya ku balaskan rasa sakit yang Mama alami pada mereka!" Ucap Luna dengan mata berkaca-kaca mengingat betapa menderitanya Mamanya.
Ken mengambil ponsel Luna lalu mematikannya, Ken berdiri di depan Luna sambil memegang bahu gadis itu ia menatapnya dengan dalam.
"Jangan khawatir aku akan membalas semua perbuatan mereka setimpal dengan kematian Mama," ucap Ken.
Luna menatap Kakaknya dengan berkaca-kaca, ia lalu memeluk pria itu dengan erat membenamkan kepalanya di dada bidang kakaknya, tempat kedua paling nyaman setelah suaminya tentunya.
Ken membalas pelukan Luna, sehingga orang-orang menganggap mereka sebagai pasangan kekasih dan hal ini tidak lepas dari sorotan pengunjung yang ingin mengabadikan momen itu.
Aiden sendiri tersenyum melihat kakak beradik itu membuatnya sedikit iri karena dia tidak bisa bertemu dengan adik laki lakinya untuk sementara waktu.
"Kamu masih mau makan?" Tanya Ken sambil melepaskan pelukannya, Luna mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba datang Aiden yang menarik tangan Luna hingga kini mereka saling berhadapan.
"Kenapa kau membuat adikku menangis Ken, lihat ini make upnya jadi luntur!" Gerutu Aiden sambil mengusap air mata Luna dengan sapu tangan yang selalu di bawanya kemana-mana.
"Heheheh, terimakasih kak Aiden," ucap Luna sambil tersenyum.
"Sama sama nona manis, kalau begitu peluk aku sekali sebagai balasannya," ucap Aiden sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
"Ck...dasar perhitungan sekali," Luna berdecak sambil mengerucutkan bibirnya namun ia tetap memeluk Aiden seperti permintaan pria itu.
Di seberang pulau sana tampak seorang pria tengah meremas rambutnya karena cemburu dengan Ken dan Aiden yang berkesempatan mendapatkan pelukan dari nona kecil mereka.
"Arhhh.... kenapa kalian tida bekerja dengan baik!!" Bentak Bima pada bawahan, mereka sedang melakukan rapat dadakan di malam hari atas perintah pria berambut panjang itu.
Tadi ia melihat laporan anak buahnya yang mengatakan kalau Luna menangis, cepat cepat ia membuka video yang dikirim orang suruhannya.
Seketika bagai di sambar petir kekecewaan Bima menjadi sangat kesal karena tidak bisa ikut dengan mereka malam ini. Bima menatap tajam satu persatu bawahan, ia sangat benci dengan situasi seperti ini.
Brakkkk
"Aku menggaji kalian besar besar bukan untuk melihat kelalaian ini! Bagaimana bisa kalian tidak teliti begini?" Bima benar benar marah karena bawahan yang tidak becus mengelola Mall mereka sampai terjadi kerugian cukup besar.
__ADS_1
"Jangan ada satu pun yang pulang ke rumah jika masalah ini belum selesai!" Ucap Bima dengan tatapan tajamnya.
" Jika masalah ini tidak selesai, maka gaji kalian selama enam bulan kedepan akan dipotong 50 % sebagai ganti kerugian Mall ini!" Tegas Bima.
Mereka semua ketakutan, para pegawai itu memutar otak mereka agar bisa menyelesaikan masalah ini sebelum masalah sebenarnya datang pada mereka.
"Clara siapkan keberangkatan ku besok, kau tangani masalah disini, pastikan mereka menyelesaikan semuanya dengan baik!" Titah Bima pada asisten wanitanya.
"Baik tuan!" Jawabnya dengan hormat. Clara sudah bekerja bertahun-tahun dan menjadi orang kepercayaan Bima selama itu juga ia setia mengikuti Bima, hasil kerjanya juga bagus dan memuaskan.
"Kalian semua ingat yang ku katakan tadi, jika sampai ada yang berani pulang sebelum masalah ini selesai maka kalian akan ku pecat, bukan hanya orang yang pulang itu tapi kalian semua!" Ancam Bima.
"Ba..baik tu..tuan," jawab mereka ketakutan.
"Kau istirahatlah, maaf mengganggu waktumu," ucap Bima pada Clara, lalu meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju ruangan pribadinya di kantor itu.
"Selamat malam tuan!" Ucap Clara sambil membungkuk hormat.
Sementara itu di Korea Selatan tampak Gama sedang tidak tenang karena istrinya tidak bisa dihubungi sedari tadi, meski sudah mendapatkan laporan kalau Luna aman, Gama tetap saja tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu.
"Arhhhh...kenapa panggilanku selalu di tolak, mereka terlalu asik dengan pesta mereka sampai melupakanku!"gerutu Gama yang sedang duduk di ruang kerjanya.
Rendy tersenyum tipis melihat tingkah tuannya yang merindukan istrinya.
"Kak Rendy, apa kau pernah diabaikan oleh Kak Katie? " Tanya Gama. Biasanya jika bukan jam kerja, atau saat santai Gama lebih suka memanggil Rendy dengan sebutan kakak.
"Saya pernah diabaikan tuan," ucap Rendy jujur.
"Lalu apa yang kau lakukan kak?" Tanya Ga yang sudah frustasi, lebih baik dia bertanya pada yang sudah lebih berpengalaman.
"Saya membalas perbuatannya dengan mengabaikan dan tidak menelepon istri saya sampai dia sendiri yang benar-benar menghubungi saya tuan, dan akhirnya dia yang terlebih dahulu menelepon saya," jelas Rendy.
"Arghkkk mana bisa aku mengabaikannya kak Ren, belum sehari saja kami tidak berbincang aku sudah merindukan gadis itu apalagi sampai mengabaikannya bisa mati aku!" Gerutu Gama sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kalau begitu tuan berusahalah lebih gigih mungkin akan di angkat nanti," ucap Rendy yang berusaha mengulum senyumnya karena tingkah Gama yang kekanak-kanakan.
"Arghhhh....Luuunaaaaaa, kenapa kau mengabaikan ku?" Gama meletakkan kepalanya di atas meja, wajahnya frustasi karena belum berhasil menghubungkan istrinya, bahkan Ken dan Aiden pun tidak mengangkat panggilannya.
Sementara itu kembali ke suasana pesta tadi, Ken, Aiden dan Luna duduk di sofa panjang itu. Teman-teman Aiden mulai berdatangan dan duduk di dekat mereka atas seijin Aiden dan Ken, Luna cuek saja ia terus mengunyah makanannya yang menurutnya cukup enak.
"Apa enak?" Tanya Ken pada Luna, Luna menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.
"Kakak mau?" Tanya Luna sambil mengarahkan satu sendok cake miliknya pada Ken.
Ken membuka mulutnya dan menerima suapan adiknya.
"Haaa?" Teman teman Aiden melongo melihat Ken yang mereka kenal sangat dingin pada wanita mau menerima suapan seorang gadis yang belum pernah mereka lihat.
"Lumayan, tapi jangan makan terlalu banyak ini makanan manis kau bisa sakit gigi nanti," ucap Ken sambil mengambil tisu dan membersihkan sisa krim di bibir Luna.
"Terimakasih kak," balas Luna sambil melanjutkan makannya.
Luna menyikut lengan Aiden, pria itu menoleh.
"Aaaa..." Ucap Luna sambil mengarahkan sendoknya pada Aiden. Aiden membuka mulutnya dan menerima suapan dari Luna.
"Hmmm manis sekali, kau tidak apa-apa makan ini? " Tanya Aiden lembut.
__ADS_1
"Sekali sekali nggak masalah kok kak," ucap Luna sambil tersenyum.
"Wahhh, Aiden siapa gadis ini?" Tanya salah satu rekan Aiden yang duduk bersama empat orang lainnya di sekitar Aiden dan Ken sedangkan Luna berada di tengah-tengah Aiden dan Ken.
"Kau mau tau?" Tanya Aiden dan pria itu mengangguk, yang lain juga penasaran dengan gadis itu, teman teman Aiden terdiri lagi 3 pria dan dua lagi wanita.
"Berarti kau siap kehilangan salah satu lenganmu!" Ucap Aiden sambil mengeluarkan sebuah pisau kecil dari kantongnya dan memutar mutarnya di hadapan mereka.
Glekk
"Ah..tak..tak apa Aiden, a...aku nggak perlu tau kok," ucap pria itu dengan suara bergetar ketakutan begitu juga dengan yang lain.
Memang mereka berteman sejak kuliah dan sering hang out bareng hanya saja yang paling mengerikan di antara mereka adalah Aiden yang kepribadiannya tidak bisa di tebak.
Plakk
"Owchhh....arghhhh sshhhh," Aiden menatap kesal ke arah Luna.
"Apa?"ketus Luna dengan wajah menantang.
"Mau mengancam ku juga hmm?" Tanya Luna sbil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Heheh, mana berani aku hehehe," ucap Aiden sambil menggaruk tengkuknya.
Teman temannya cukup terkejut melihat Aiden bisa mengalah pada seorang perempuan.
"Hai kakak kakak, perkenalkan aku Luna," sapa Luna memperkenalkan dirinya pada teman-teman Aiden.
Mereka terlihat diam karena masih takut dengan Aiden yang menatap mereka dengan tajam.
Bugh
"Kak...please deh," ucap Luna merotasikan kedua bola matanya.
"Iya iya, dia Luna gadis kesayanganku!" Ucap Aiden.
"Ha..hai Luna, senang bertemu denganmu!"sapa mereka meski terasa canggung.
"Heheh kak kalian seperti akan menghadapi ujian negara saja, jangan tegang begitu, santai aja kita nikmati pestanya," ucap Luna sambil tersenyum.
"Baiklah," jawab mereka membalas senyuman Luna.
Akhirnya mereka bercerita lebih tepatnya Luna bercerita banyak hal pada mereka tentang kedua pria di sampingnya itu. Suasana menjadi sangat menyenangkan karena ocehan gadis cantik itu, bahkan sesekali terdengar suara tawa disana.
Aiden dan Ken menatap Luna sambil tersenyum tipis, mereka jarang mengumbar senyum di hadapan orang lain.
"Dia bahagia sekali," batin Ken yang memainkan rambut Luna di bagian belakang.
"Syukurlah dia tertawa sangat banyak hari ini," batin Aiden.
Tiba-tiba saja saat mereka sedang berbincang seseorang datang dan menghampiri mereka.
"Hai semuanya!"sapa seseorang.
.
.
__ADS_1
.
Like , vote dan komen 😊😉😊