
" Sudah cukup bercandanya," ketus Luna yang menahan malu karena digoda oleh Anna.
"Sana kamu turun ke bawah, kakak dan kakakmu Gama akan mengantarmu ke sekolah," ucap Luna sambil memberikan ransel Anna.
Mata Anna berbinar-binar ia sungguh senang karena sudah lama ia ingin mengajak mereka berdua ke sekolahnya.
"Wahh benarkah? Terimakasih kak, Anna senang heheh," ucap nya sambil memeluk Luna berkali-kali.
"Sesenang itu kamu? " Ucap Luna heran.
Anna mengangguk sambil tersenyum, ia benar-benar sangat sayang pada kedua kakaknya itu.
"Baiklah kalau begitu, ayo turun,kakak juga belum mandi," ucap Luna sambil menggandeng tangan Anna keluar dari kamar.
Mereka keluar kamar dan berjalan menuju tangga, tiba tiba suara makhluk astral yang selalu heboh setiap hari menggelegar bahkan sampai ke seluruh ruangan itu.
"Selamat pagi Dunia tipu tipuuuuuuuu hoarhhhhhhh," Teriak Aiden keluar dari kamarnya.
Luna dan Anna terkikik geli mendengar teriakan anti jaim si pria kocak.
"Selamat pagi kak Aiiiii," balas Luna dan Anna.
"Pffthh hahahaha hahahhahah, Kak ada apa dengan wajahmu kenapa merah merah begitu?" Ledek Anna saat melihat wajah Aiden yang tampak bentol bentol dan memerah.
Luna menatap Aiden, matanya terbelalak melihat banyak bentolan di wajah dan tubuh Aiden.
"Ya ampun kak Aiii, kakak makan apa semalam? Ini bentolan merah semua di kulit kakak," panik Luna saat mendekati dan melihat lebih jelas kulit pria itu.
Aiden terdiam, ia melihat tangannya dan kakinya, pria itu hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana pendek, benar saja di kulitnya muncul bentolan merah yang sangat banyak.
"Lah ini kenapa ya, aduh kok gatal sih?" Ucapnya sambil menggaruk garuk tubuhnya.
"Astaga kak, sudah sana cepat kakak mandi, setelah itu cek ke rumah sakit, entar makin parah lagi!" Ucap Luna dengan wajah khawatir.
Aiden mengangguk, ia menurut saja tubuhnya semakin gatal apalagi setelah ia menggaruk garuk semua bentolan itu.
"Kak Aiden pulang jam berapa semalam? Apa kamu tau An?" Tanya Luna.
"Semalam kak Aiden pulang jam 10 malam kak, tapi dalam kondisi sedikit mabuk, kami saja sampai heran dibuatnya," ucap Anna.
"Mabuk? Ada apa dengan kak Aiden?" Pikir Luna.
"Sudahlah, ayo ke bawah!" Ucap Luna membawa Anna.
Akhirnya Luna masuk ke kamarnya dan melihat suaminya sedang berpakaian, Gama sedang mengancingkan pakaiannya di tubuhnya yang kekar dan tegap itu.
Melihat Gama sedikit kesulitan, Luna menghampiri Gama dan membantunya merapikan pakaian suaminya, mengancingkan baju, memakaikan Jas, memasang pin dan merapikan lipatan pakaian suaminya.
"Sayang menunduk lah, aku tidak sampai," ucap Luna seraya mengambil dasi Gama berwarna hitam pekat.
Gama menurut saja dan menunduk sambil tersenyum dan terus memandangi wajah istrinya.
"Kamu tinggi sekali, seperti tiang listrik saja," ledek Luna tepat setelah ia memasang dasi Gama.
"Heheh, biar bisa melindungi gadis cantik ini," ucap Gama sambil mencubit gemas kedua pipi Luna.
Seperti biasa wajah dan telinga Luna akan memerah jika di goda seperti itu.
"Hahahahah, kau merona sayang," tawa Gama.
Plakk
Luna memukul lengan Gama dengan pelan, ia mencebikkan bibirnya dan mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi.
Gama terkekeh, ia duduk di pinggir ranjang sambil menunggu istrinya bersiap siap. Sambil menunggu ia membaca laporan dari kedua asistennya mengenai beberapa orang yang sudah mereka targetkan untuk dimusnahkan.
Gama membaca informasi tentang mereka secara detail. Menggeser layar benda pipih itu sambil tersenyum smirk.
"Tunggu pembalasanku!" Batin Gama saat memandang foto orang orang yang terlibat dengan kecelakaan yang menimpa keluarganya dan perusak keluarga Anderson keluarga istrinya.
Tak beberapa lama Luna keluar dari kamar mandi, gadis itu sudah berpakaian dan tinggal memoles bedak di wajahnya.
Ia menatap jarinya terkejut, ia baru menyadari cincin itu di tangannya.
"Sayang ini apa?" Tanya Luna sambil mengangkat tangannya yang disematkan cincin yang sangat cantik dan indah.
Gama tersenyum, ia mengangkat tangannya juga dan menunjukkan jari manisnya.
"Cincin pernikahan kita sayang, maaf aku tidak memberikan apa apa saat pernikahan kita dulu," ucap Gama sambil memeluk istrinya dari samping dan menaruh dagunya di atas kepala Luna dengan melingkarkan tangannya di tubuh mungil Luna.
__ADS_1
Luna menatap cincin itu bergantian dengan cincin di tangan Gama.
"Cantik," ucapnya sambil tersenyum.
"Kau suka?" Tanya Gama.
Luna mengangguk pelan," suka, ini sangat cantik, terimakasih sayang," ucapnya sambil mengecup pipi suaminya.
Gama yang mendapat kecupan manis dari sang istri membuat hatinya berbunga-bunga bagaikan mendapat jackpot triliunan.
"Ahh kalau begini jadinya, aku akan membelikannya cincin setiap hari!" Batin Gam yang terpaku tanpa sadar Luna sudah tidak di pelukannya.
"Sayang sampai kapan kau akan diam disana hmm?" Tanya Luna yang sedang memoles bedak di wajahnya dan mencepol rambutnya kebelakang.
"Ehh...Ekhmmm, kau sudah selesai?" Tanya Gama.
"Sudah" ucap Luna sambil tersenyum, dia sangat cantik dengan balutan gaun berwarna cream yang tampak pas di tubuh mungilnya. Gama juga tak kalah keren dengan balutan baju formal yang dipilih istrinya.
"Ayo," ucap Gama seraya menggandeng tangan Luna.
"Oh iya kak Aiden sepertinya sedang sakit sayang, apa dia ada alergi dengan Alkohol?" Tanya Luna.
"Iya dia alergi dengan Alkohol, ada apa emangnya?" Tanya Gama seraya Membuka pintu untuk mereka dan keluar dari kamar.
"Astaga bagaimana ini, tubuh kak Aiden bendol bendol merah, tadi pagi saat aku dan Anna akan turun ke bawah kami berpapasan dan kulihat kulitnya dipenuhi bendol merah, apa kau tidak melihatnya pulang semalam?" Tanya Luna mulai panik.
"Tidak aku tidak melihatnya, jam sembilan aku sudah kembali ke kamar, astaga si bodoh itu pasti mabuk lagi!" Geram Gama.
"Apa ada sesuatu dengan kak Aiden?" Tanya Luna.
"Dia pasti sedang memikirkan keluarga nya, kau tak perlu khawatir aku akan memanggil dokter George untuk memeriksanya," ucap Gama yang dianggukkan oleh Luna.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan, tampak Mark, Ferdi, Anna dan Andin sudah duduk disana dengan keheningan apalagi Andin sangat membenci kehadiran Mark.
"Selamat pagi semuanya," sapa Luna.
" Selamat pagi," balas mereka.
"Loh mereka belum turun?"ucap Luna bingung.
"Mereka memang seperti itu sayang, sepertinya ketiganya kelelahan," ujar Gama.
"Baik tuan," jawab Mark menunduk hormat dan langsung berdiri hendak melakukan tugasnya.
"Makan dulu," ucap Luna datar, Luna sebenarnya kesal dengan Mark ya g sampai saat ini belum berbicara dengan Andin.
"Mereka berdua ini semakin lama semakin jauh, jika terus begini rencanaku mendekatkan dua manusia aneh ini akan gagal," batin Luna sambil mengoleskan selai ke roti yang ada di tangannya samapi samapi dia tidak sadar selainya sudah kebanyakan.
"Sayang, apa kau mau makan selai?" Tanya Gama saat melihat tumpukan selai di roti milik Luna.
"Eh aduh maaf maaf," ucap Luna tersadar.
Dia mengganti rotinya dengan yang baru dan mengoleskan selai lalu memberikan pada Gama dan membuat satu untuknya.
"Emmm, Andin tolong kamu urus nanti kak Aiden ya, dia sedang sakit, sepertinya dia butuh bantuan seorang wanita, kurasa kalian akan cocok," ujar Luna sambil mengunyah rotinya.
"Uhukk...uhukk," Mark tersedak, cepat cepat ia mengambil minumannya.
Gama menatap istrinya, dia tau pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh Luna.
" Kau kenapa kak Mark? Makan yang benar supaya punya keberanian!" Sindir Luna.
"Ahhh saya hanya tersedak nyonya," jawabnya canggung. Andin sama sekali tidak melirik pria itu, dia menatap Luna.
"Baiklah, lagi pula tuan Aiden itu kocak pasti akan menyenangkan bersamanya," jawab Andin.
" Hmmm," Luna hanya berdeham.
"Apa apaan nyonya ini, dia jelas tau kalau aku menyukai sahabatnya, meskipun aku sedikit lambat memang, tapi bukankah semua butuh proses?" Pikir Mark yang malah tidak tenang, ia sesekali melirik Andin yang mendiamkannya selama lebih dari dua Minggu ini.
"Kau luar biasa sayang, bahkan Mark berhasil kau jahili," batin Gama.
"Rasakan itu, ini akibatnya kalau kau terlalu lambat!" Batin Luna sambil mengunyah roti selainya.
"Drama apa lagi ini ya Tuhan?" Batin Ferdi dan Anna.
Setelah selama sarapan, Luna dan Gama melihat keadaan Aiden sebentar, Ken dan Bima masih belum bangun juga.
Ceklek,
__ADS_1
Pintu di buka, tampak Aiden yang sedang tergeletak lemah di atas kasur.
"Kak Ai, astaga kau sampai demam!" Ucap Luna panik.
"Tenang saja Luna, ini nggak apa apa kok, bentar lagi juga sembuh," ucap Aiden dengan suara lemah.
"Ck...gak apa-apa gimana? Kakak minum minum sampai mabuk, sudah tau alergi alkohol masih mau minum minuman itu, kalau ada apa apa ngomong kakakku sayang, kalau begini siapa yang rugi? Kakak kan?" cerocos Luna.
" Jangan sampai kakak sakit hanya karena sebuah masalah, kenapa kalian semua bodoh sekali sih, yang di sampingku ini mau bunuh diri yang di depanku malah mabuk mabukan padahal udah jelas alergi alkohol, aku heran dengan jalan pikiran kalian yang sempit itu, apa kalian tinggal di jaman batu hah?" ketusnya membuat Gama menggaruk lehernya.
"Kalau ada masalah kakak ngomong jangan di pendam, apalagi sampai minum alkohol, beruntung kakak pulangnya ke rumah gimana kalau kakak malah berakhir tidur dengan perempuan gak jelas, kakak pikir dong, apa kakak pikir kami gak khawatir dengan kondisi kakak seperti ini hah?"
Luna mengomel sejadi-jadinya, ia begitu kesal saat mendengar Aiden mabuk padahal dia alergi dengan Alkohol, jujur saja dia mengkhawatirkan pria itu.
"Huuufff, kesal aku!" Ketus Luna dengan nafas terengah-engah setelah mengomeli Luna.
Ken, dan Bima yang baru bangun dan langsung datang ke kamar Aiden karena tau kondisi Aiden menjadi segar setelah mendengar Luna tiba-tiba menjadi rapper dadakan.
Aiden tersenyum tipis, ingin tertawa tapi rasanya tubuhnya sangat lemah, lain halnya dengan Gama yang senyum senyum sendiri saat mendengar Omelan panjang gadis itu.
"Kau berbicara selancar air mengalir, iya aku tidak akan mengulanginya," jawab Aiden lemah.
"Ck...kau membuatku khawatir saja," ketus Luna.
Aiden merasa bersyukur bisa bertemu dengan Luna seorang gadis yang sangat perhatian.
"Seandainya kau bukan istri Gama aku sudah menjadikanmu milikku," goda Aiden yang membuat Gama melemparkan tatapan tajam pada pria itu.
"Hahahahah," Ken dan Bima tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Gama yang takut kehilangan istrinya.
"Dasar bucin!" Ledek mereka berdua yang sudah duduk rapi di sofa dalam kamar Aiden.
"Sudah jangan ribut!" Ketus Luna sambil menatap Ken dan Bima dengan tajam.
"Kalian sudah tau dia alergi kenapa membiarkannya minum alkohol? Dasar tidak bertanggungjawab!" Ketus Gadis itu.
Gama cekikikan seraya mengejek Ken dan Bima yang terkena semprotan gadis itu.
"Kak Ai," ucap Luna mendekat lalu membisikkan sesuatu pada Aiden.
Ken, Bima dan Gama penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Luna pada Aiden.
"Bagaimana bisa kak, sekalian nambah imun hahahha," kekeh Luna dengan mata berbinar-binar.
"Hmm baiklah, pasti ini akan seru, tapi aku tak mau membuat dia salah paham loh Luna," ucap Aiden.
"Makanya kakak lakukan saat kak Mark melihat saja, nanti kakak juga jelaskan pada kak Ken dan kak Bima oke?" Ujar Luna.
"Baiklah, tapi apa kau tidak mau merawatku?"tanya Aiden manja.
"Ck... kekanakan, Luna hanya boleh merawatku," ketus Gama.
"Nanti kak, sekarang kami berangkat dulu mau sekaligus ngantar Anna, nanti dokter George akan datang," ucap Luna.
"Kalau begitu kami pergi dulu, kau beristirahat lah, sebentar lagi dokter akan tiba, semoga cepat sembuh Aiden!" Ucap Gama sambil merangkul istrinya.
"Hmmm terimakasih," ucap Aiden.
"Kalian tidak bekerja kak?" Tanya Luna pada Ken dan Bima.
" Kami akan menemani Aiden dulu, lagi pula badanku sakit semua," ucap Bima.
"Ck...ck..ck, sudahlah kalian jangan lupa sarapan pagi, aku akan meminta Andin mengurus kalian," ucap Luna.
"Terimakasih nona cerewet!" Seru mereka bertiga, spontan Luna melayangkan tatapan mautnya pada mereka.
"Hahahahahah," mereka tergelak menanggapi ekspresi Luna.
.
.
.
**HAI HAI HAI, JANGAN LUPA BUAT MENDARATKAN LIKE SEBANYAK-BANYAKNYA, SUPAYA AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BUAT UPNYA,
AUTHOR MENGHARAPKAN DUKUNGAN DARI PARA READER YANG BUDIMAN.
__ADS_1
SEKALI LAGI TOLONG BAGI SIAPA PUN YANG BELUM KASIH LIKE DI EPISODE SEBELUMNYA BERIKAN LIKE PADA KARYA AUTHOR**.