
Ken memasang wajah muram, sepertinya ada yang tidak beres dengan panggilan tadi. Dia berjalan ke arah sahabat-sahabatnya sambil mencengkram ponselnya.
"Ada apa dengan Ken?" batin Rose saat melihat wajah kekasihnya murung dan tidak bersemangat seperti itu.
"Kakak kenapa?" tanya Luna.
"Ahh cuma ada sedikit masalah di kantor kok na, emmm aku harus pergi akan kuselesaikan sebentar ya," ucap Ken berpamitan.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Ken langsung pergi tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengan Ayah Mereka," batin Gama yang sangat hapal dengan perubahan ekspresi pada Ken.
Mereka melanjutkan acara mereka dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka, namun karena ini pesta mereka memilih untuk menikmati acara pesta itu.
Pesta kecil itu berlanjut tanpa Ken. Saat ini pria itu sedang melaju dengan kencang menuju sebuah rumah sakit yang terletak di daerah Jakarta juga, rumah sakit milik Ibu mereka yang berhasil di rebut Ken dari tuan Anderson Ayahnya sendiri.
"Sialan!" umpat Ken sambil memukul kemudi mobilnya.
Saat di pesta tadi dia di hubungi bahwa tuan Anderson berusaha memotong urat nadinya sendiri menggunakan pecahan beling yang entah bagaiman bisa disimpannya di balik kasurnya.
Beruntung anak buah Ken selalu siap sedia memantau pria yang diisolasi dalam ruangan khusus itu, sehingga mereka sempat menghentikan aksi pria tua itu, kini dia diikat dalam posisi silang dengan kedua tangan menggantung ke atas.
Ken melaju dengan pesat menuju rumah sakit itu.
Setibanya disana, sisi iblisnya keluar dia berjalan dengan aura mengerikan sehingga membuat siapa saja ketakutan melihatnya.
Drapp..
Drapp.
Drapp...
langkah kaki pria itu terdengar tegas dan berwibawa dia berjalan menuju lift khusus yang hanya bisa di lalui olehnya dan itu adalah satu satunya jalan menuju ruangan isolasi di rumah sakit itu.
Di tiba di ruangan isolasi dan masuk ke dalam ruangan itu dengan mata berapi-api.
Braakkkkk
Satu kursi kayu menjadi korban kemarahan pria itu, dia menghancurkan kursi kayu itu ke dinding ruangan itu hingga hancur berantakan.
"Kau mau mati dengan cara yang enak pak tua hah?!!!!" Ken menatap dengan tajam dan berbicara dengan sedikit berbisik membuat suasana semakin menakutkan.
Tuan Anderson menatap Ken dengan tatapan kemarahan.
"Lepaskan aku dari sini anak sialan!!" teriak tuan Anderson.
"Jiah hahahahahah, kau ingin lepas? "
Bughh
Satu pukulan telak dilayangkan pria itu ke wajah tuan Anderson.
"haarkk... cuih, Aku menyesal memiliki anak seperti dirimu, kenapa kau tidak mati saja bersama gadis tengil itu !!" balas Tuan Anderson sambil melemparkan tatapan Pembunuh pada Ken, putranya sendiri.
Begitu hancur hati Ken mendengar ucapan Tuan Anderson, pria yang dia pikir telah menyesali perbuatannya namun ternyata semakin menjadi-jadi.
"Grrrhhhh... Baajiiingaaann..." Suara berat Ken memenuhi ruangan itu, tangannya mengepal dengan kuat, rahangnya mengeras dia menatap Tuan Anderson dengan tatapan Pembunuh.
__ADS_1
"Grrhhhh... mati kau bangs4attttt!!!!" teriak Ken sambil mencekik leher tuan Anderson dengan kuat, membuat pria paruh abad itu mengerang kesakitan, nafasnya mulai tersengal.
tiba-tiba....
Drrttt... Drrrt... drrttt
Ponselnya berbunyi, nada khusus notifikasi panggilan dari sang adik menghentikan dirinya.
Ken melepaskan tangannya yang sudah mencekik tuan Anderson. Seketika Ken menarik nafas untuk menenangkan amarahnya,dia menatap tajam pada tuan Anderson begitu pun dengan pria itu.
"Hufffttt... ekhhmm.." Ken menghembuskan nafasnya dnegan kasar.
"Halo Na," jawab Ken.
"Kak cepat kesini, kak Rose, kak Rose nenek gawat kak, cepat ke rumah sakit!!!" ucap Luna panik dari seberang sana.
Deghh...
Seketika tubuh Ken memegang saat mendengar suara adiknya yang benar-benar panik apalagi Luna menyebutkan nama kekasihnya.
"Ada apa na?" tanya Ken panik.
"Dengan siapa dia berbicara? kenapa dia panik seperti itu?" batin tuan Anderson.
"Halo Ken, nenek Rose kritis, cepat kemari Rose butuh bantuanmu!" ucap Gama yang mengambil alih panggilan mereka sebab di seberang sana istrinya sedang panik dia tak ingin terjadi apa-apa pada Istrinya.
"Nenek? aku akan kesana!" ucap Ken langsung mengakhirinya panggilannya.
Ken menatap tajam pada tuan Anderson, "Hidupmu tak boleh berakhir begitu saja pak tua, sebelum kau melihat apa yang terjadi pada selingkuhan dan anak harammu itu!" tegasnya sambil menunjuk wajah tuan Anderson.
Blammm
"Jaga bajingan itu, atau hidup kalian jadi bayarannya!" ucap Ken menatap anak buahnya dengan tajam.
Glekk
Mereka menelan Saliva mereka dengan kuat, sungguh bos mereka jika sudah marah pasti akan sangat mengerikan.
"Dia seperti iblis!" batin anak buahnya.
Ken berlari dengan terburu-buru, pikirannya saat ini sudah dipenuhi dengan Rose dan nenek Rose.
"Oh Tuhan kenapa semua harus terjadi di hari ini, apa lagi yang terjadi dengan nenek?kumohon jangan membuat Rose menderita lagi," batin Ken dengan wajah khawatir dan panik.
Ken sudah sangat mengenal Rose, selama hampir lima bulan mereka menjalin hubungan, membuatnya mengenal dengan baik gadis cantik ya g menjadi perawat adiknya itu.
Rose sangat menyayangi nenek, hanya nenek yang menganggap Rose sebagai keluarganya oleh karenanya itu dia merawat nenek dengan benar benar baik. Ken juga memberikan perawatan terbaik bagi nenek Rose yang juga sudah dia anggap sebagai neneknya sendiri.
Sementara Ken dalam perjalanan menuju rumah sakit di hari yang menjelang malam, Di rumah sakit tampak Rose menangis tersedu-sedu di depan ruang ICU.
Andin,Anna dan Luna memeluk Rose untuk menenangkan gadis itu.
Saat acara resepsi berakhir tadi, mereka dihubungi pihak rumah sakit bahwa nenek Rose terjatuh dari tangga dan sedang dalam keadaan kritis.
Tanpa basa basi mereka semua berangkat menuju rumah sakit bahkan mereka semua masih memakai pakaian pesta.
Aiden, Mikha dan Alex mengurus kepulangan anak anak panti sehingga mereka tiba belakangan. Sungguh sesuatu yang tidak terduga sama sekali. Padahal baru saja mereka merasakan kebahagiaan dan kebersamaan namun sudah ada berita menyedihkan seperti ini.
__ADS_1
"Arhhh nenek, bagaimana ini hiks hiks hiks, Luna nenek bagaimana ini gimana kalau nenek kenapa kenapa huaaaaa.....," tangis Rose terdengar begitu menyayat hati.
"Kita doakan yang terbaik ya kak, kuatkan dirimu kak kumohon," pinta Luna dengan mata berkaca-kaca, dia juga tidak tega melihat Rose seperti itu, namun apa boleh hal ini terjadi di luar kuasa mereka.
"Tenang kak Rose, kuatkan dirimu!" ucap Andin sambil menepuk nepuk punggung gadis itu. Rose duduk di antara Luna dan Andin dan Ada Anna yang duduk bersimpuh di dekat kakinya sambil menggenggam tangan gadis itu.
Mereka semua duduk di ruang tunggu menunggu hasil pemeriksaan dokter, semuanya risau menunggu hasil pemeriksaan Dokter.
Drap...
Drap..
Drap..
Terdengar suara langkah kaki seseorang seperti sedang terburu-buru, mereka menoleh pada orang itu, dia adalah Ken yang baru tiba.
Mata Ken langsung tertuju pad Rose yang sedang menangis sambil memeluk Luna.
"Oze!" panggil Ken dengan suara bergetar, hatinya benar-benar terpukul saat melihat gadis yang dicintainya menangis tersedu-sedu seperti saat ini.
Rose menoleh dia melihat Ken disana, Luna Andin dan Anna segera menyingkir dan memberikan ruang bagi mereka berdua.
Ken langsung memeluk kekasihnya begitu juga dengan Rose dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria itu.
"Nenek, hiks hiks...nenek Ken gimana ini arhhhh..." lirih gadis itu.
Ken memeluk Rose dengan erat, dia juga turut sedih dengan kejadian ini, meski belum jelas mereka tau apa penyebab Nenek Rose terjatuh dari tangga.
"Husssh tenanglah aku disini, tenang sayang," ucap Ken sambil menghujani kepala Rose dengan kecupan.
Luna duduk disamping suaminya tampak dia juga menangis melihat Rose begitu takut dan panik. Gama membuka jas dan memakaikannya pada istrinya.
"Tenang ya sayang, apa pun yang terjadi nanti kamu jangan panik, ingat ada baby disini," ucap Gama sambil merangkul bahu Luna dan mengelus perut istrinya itu dengan lembut.
"Kasihan kak Rose sayang," ucap Luna.
"Na lebih baik kamu istirahat dulu Gih, kakak takut kamu drop," ucap Bima yang tidak tega melihat Luna harus ikut menunggu.
"Iya Na, kak Bima benar istirahat dulu jangan sampai kamu kenapa-kenapa," ucap Ferdi khawatir.
"Aku nggak apa apa,aku bakal nunggu disini, mereka juga gak rewel," tolak Luna sambil mengelus perutnya.
"Kalau butuh apa apa bilang ya," ucap Mark yang dianggukkan oleh Luna.
Lama mereka menunggu, semuanya tampak khawatir dan panik.
Ceklek...
Pintu ruang ICU di buka, dokter keluar dari dalam ruangan itu.
Bersambung....
Sampai jumpa besok 🙃🙃
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa like vote dan komentarnya ya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜ŠðŸ˜ŠðŸ˜ŠðŸ˜‰ðŸ˜‰