Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
29


__ADS_3

"Sahabat terbaik adalah mereka yang mau melewati masa suka dan duka bersamamu, bukan yang hanya datang ketika kamu bahagia tetapi pergi saat kamu terpuruk,"


-Gamaliel Park-


"Ketika kamu terpuruk maka disitulah kamu mengetahui mana kawan mana lawan,"


-Luna Christina-


...****************...


"Apa kami tidak diijinkan masuk?"tanya Ken dengan suara serak serak basahnya yang sangat seksi jika didengar oleh para wanita.


Ken membuka masker, topi dan kacamatanya, tampaklah seorang pria tampan dengan rambut blonde yang sangat cocok dengannya, pria ini tak kalah tampan dengan Gama.


Si baju merah tak ketinggalan, ia bangkit berdiri dan membuka kacamata dan maskernya, pria berambut panjang hitam itu memiliki kulit eksotis berbeda dengan ketiga temannya yang memiliki kulit putih.


"Apa kau mengijinkan mereka masuk sayang?" tanya Gama pada Luna.


Luna terkejut saat Gama memanggilnya dengan panggilan itu, bukan hanya Luna ketiga pria tampan itu bahkan lebih kaget saat Gama mengucapkan kata-kata keramat itu.


"Sa...sa..sayang?" gumam si baju merah yang biasa dipanggil Aiden itu.


"Sayang? a...apa kita tidak salah orang?" ucap Aiden lagi sambil menatap kedua temannya dengan mulut menganga dan mata melotot untung matanya nggak sampai keluar.


Ken dan Bima menggeleng, menandakan mereka tidak salah orang.


"Astaga! sejak kapan kau memanggil seorang wanita dengan kata kata keramat itu? bahkan Tiara tak pernah kau panggil dengan kata-kata itu," ucap Aiden histeris.


Gama menatap tajam ke arah Aiden karena menyinggung soal Tiara. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras, tampak wajah pria itu penuh dendam saat ini.


Menyadari perubahan ekspresi Gama, Ken dan Bima menutup mulut Aiden dengan tangan mereka agar pria yang selalu ceplas ceplos itu diam.


"Hemphh... hemphh," Aiden meronta-ronta saat ditahan oleh Ken dan Bima.


"Maafkan mulutnya yang tidak bisa tertib ini, nanti akan ku beri pelajaran!" ucap Ken.


Luna juga sadar dengan perubahan ekspresi Gama, ia memegang pundak pria itu dan menepuk-nepuk dengan lembut agar Gama tenang. Benar saja Luna berhasil.


Hal ini tidak terlewat dari mata ketiga pria itu, mereka semakin kaget dengan perubahan besar Gama.


"Akhirnya si Singa liar ini punya pawang!" batin Aiden.


"Ayo masuk dulu, kalian pasti kedinginan, makanya jangan buat keributan di malam hari," ketus Luna dengan tatapan kesal.


Bagaikan anak kucing ketiga pria tampan itu diam dan menurut. Mereka sadar mereka salah.


"Hemmph....tangan kalian bau jigong! huwekk..." gerutu Aiden sambil mengusap mulutnya dengan telapak tangannya seraya membersihkan bekas tangan Ken dan Bima.


"Ck...diam kau bego!" ketus Bima sambil menoyor kepala Aiden dari belakang, untung saja ia memiliki keseimbangan yang baik, jika tidak ia pasti sudah terjungkal dan kembali terjerembab ke lantai yang keras.

__ADS_1


Ken,Aiden dan Bima dibawa masuk dan disuruh duduk di ruang santai bersama Gama. Luna yang dengan cekatan dan penuh perhatian membantu Gama membuat ketiga pria itu terkagum-kagum, bagaimana bisa seorang gadis sederhana sepertinya membuat seekor singa liar menjadi jinak.


"Wah, ternyata benar apa kata Bima, gadis ini pawang si Singa liar itu," batin Aiden.


"Sepertinya memang aku harus sujud syukur dihadapan gadis ini!" batin Bima.


Lain halnya dengan Ken yang terus menatap Luna, ia terus melihat wajah gadis itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Gama dan Luna menyadari hal ini, Luna yang merasa tidak nyaman dengan tatapan intens Ken langsung pergi ke belakang setelah membantu Gama duduk di sofa.


"Emm...aku ke belakang sebentar, akan ku ambilkan handuk kering dan minuman hangat untuk kalian!" ucap Luna yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban mereka.


Gama menatap tajam ke arah Ken yang sedari tadi menatap Luna bahkan sampai gadis itu menghilang di balik dinding menuju dapur.


"Perhatikan matamu Ken!" ucap Gama dengan tatapan mautnya namun Ken tidak menggubris.


"Ken!" ucap Bima menyikut lengan pria itu.


Ken tersentak kaget, ia sadar dari lamunannya.


"Ada apa?" ketus Ken cuek dengan tatapan Gama.


"Ck...mau sampai kapan kau melihatnya terus?" kesal Gama yang memang tidak suka jika sesuatu yang dianggapnya miliknya dilirik oleh orang lain bahkan oleh sahabatnya sendiri.


"Terserahku, mata mataku kenapa kau yang atur?" balas Ken tak kalah kesal.


"Kenapa kalian jadi berdebat sih? apa kalian tidak bisa akur sehari saja? ini pertemuan kita setelah sekian lama Singa liar ini menghindar dari peradaban!" ucap Bima dengan tatapan meledek ke arah Gama.


"Jelaskan dari mana kalian tau aku disini?" tanya Gama .


"Apa itu penting?" tanya Ken.


"Ken tolonglah jangan memancing keributan disini," ucap Aiden yang sudah jengah dengan kedua pria yang akan selalu berdebat jika bertemu, tapi kalau tidak ketemu saling rindu.


"Hemmm," Ken menanggapi dengan berdeham, sejujurnya hatinya senang karena jika Gama mau berdebat dengannya maka itu menunjukkan bahwa dia mulai pulih dan kembali normal.


"Kami tau tempat ini dari Mark, dia tidak bisa ikut, kau tau tidak? asistenmu itu sangat mengkhawatirkan dirimu," jelas Aiden.


"Saat kutemui di Jakarta wajahnya kusut karena harus mengurus perusahaanmu seorang diri dan mengawasimu dari jauh, aku sampai kasihan melihatnya," ucapnya lagi.


"Bima mengatakan bahwa dia bertemu denganmu di kota ini, kami langsung menemui Mark di perusahaan dan menanyakan posisimu, kau tau kan Mark itu siapa?" ucap Ken.


"Hmmm..lalu apa kalian yang datang kesini kemarin?" tanya Gama.


"Iya, darimana kau tau?" tanya Aiden.


"Ck... gara-gara kalian istriku hampir saja dalam bahaya!" kesal Gama.


"Istri? apa gadis itu benar-benar istrimu?" ucap Aiden kaget. Gama tidak menjawab ia hanya menatap mereka dengan tatapan dinginnya.

__ADS_1


"Akhirnya kau bisa membuka hatimu Gam, aku turut senang!" ucap Ken.


"Ck...tapi kau memandangi milikku seperti tadi," kesal Gama.


"Aku punya alasan," ucap Ken dengan nada berubah sendu.


Gama, Aiden dan Bima mengerti apa maksud pria itu.


"Emmm... bagiamana kakimu?" tanya Bima mengalihkan pembicaraan.


"Masih sama," ucap Gama datar, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah, ia tersenyum melihat seseorang yang datang dari dapur, ketiga pria itu mengikuti arah mata Gama.


"Bucin," gumam Ken yang masih bisa di dengar oleh Gama namun tak dihiraukan olehnya.


"Pawangnya datang," batin Aiden.


"Ck..ternyata kau benar-benar luluh dengannya," batin Bima.


Luna datang dengan membawa beberapa handuk kering dan teh manis hangat untuk tamunya.


Awalnya ia gugup saat ketiga pria asing itu menatapnya, namun ditepis oleh Luna dengan hanya memandang ke arah Gama, namun ia salah jantungnya malah makin berdebar saat melihat wajah tampan suaminya yang tersenyum indah ke arahnya.


Deg ....deg... deg


"Kumohon tenanglah jantung!" batin Luna.


"Si..silahkan dinikmati, ini ada handuk kering pakailah, kalian bisa demam nanti," ucap Luna lalu bersiap beranjak ke belakang.


"Mau kemana Luna?" tanya Gama.


"Ke belakang, kalian bicaralah," ucap Luna yang merasa tak enak jika harus duduk di antara mereka.


"Kemarilah, mereka sahabatku!" ucap Gama yang mengerti kalau Luna gugup dengan ketiga pria asing itu.


Luna berjalan lalu duduk di samping Gama, entah kenapa ia tidak secerewet biasanya.


"Ada apa dengannya? apa dia takut?" batin Gama.


"Tuhan tolong aku, kenapa rasanya sesak saat melihat pria itu," batin Luna.


.


.


.


hayo Luna kenapa?


jangan Lupa tinggalkan jejak berupa Like dan komentar ya teman-teman pembaca, kalau boleh kasih vote juga 🤭🤭

__ADS_1


See you on the next episode ✌️😉


__ADS_2