
"Begitu banyak kejutan yang kudapatkan darimu, besok kejutan apa lagi yang akan ku dapatkan?"
-G/L-
...****************...
Gama menatap kagum pada Luna, kala gadis itu membela pria yang sudah menjelek-jelekkan namanya. Ada rasa bahagia saat melihat gadis itu berbicara dengan aura kepemimpinan yang sangat kental.
"Aku seperti pernah melihat aura ini," batin Gama.
Luna mendekati suaminya sambil tersenyum meskipun penampilannya sedikit acak-acakan dan ada beberapa memar dan luka di wajahnya.
"Dasar Gadis Bar-bar," batin Gama saat menatap Luna yang tersenyum dengan luka-lukanya.
"Fer makasih ya udah kasih tahu semuanya, akhirnya aku bisa mengungkapkan pribadi Andre yang sebenarnya, kuharap dia bisa sembuh dan pulih," ucap Luna yang kini mengambil alih kursi roda suaminya.
"Eh iya sama-sama Luna, kita kan teman, sesama teman harus saling bantu," balas Ferdi sambil tersenyum.
"Terimakasih atas bantuannya, Ferdi!" ucap Gama yang sontak membuat Ferdi terkejut karena image pria itu sangat menyeramkan dan misterius di dalam pikiran Ferdi.
"Eh...sa..sama-sama..."
"Gamaliel, panggil aku Gamaliel atau Gama juga boleh," ucap Gama sambil tersenyum samar.
"Baik Gama," ucap Ferdi gugup.
"Heleh Napa gugup Fer, kayak lagi ulangan semester aja hahahah," ledek Luna yang dibalas tatapan kesal dari Ferdi.
"Santai aja Fer, kau teman istriku maka kau juga temanku jika kau berminat sih berteman dengan pria lumpuh seperti diriku," ucap Gama santai.
Luna menepuk punggung Gama," jangan ngomong gitu!" ucapnya tidak suka.
"iya jangan ngomong gitu Gama, kita kan teman!" ucap Ferdi.
"Baiklah," balas Gama.
Saat mereka bercanda tawa, para warga bersama Andre dan Pak Kepala Desa datang mendekati mereka, Cindy dan Kiki malah menjauh dengan raut wajah kesal dan malu. Mereka berdua tidak mau lagi mengusik kehidupan gadis itu, lebih baik mereka menjalani hidup mereka sendiri dan melakukan hukuman mereka.
Hukuman yang diberikan oleh warga atas kesepakatan bersama adalah melakukan pelayan publik dengan menyapu jalanan desa pada pagi dan sore hari selama 100 hari tanpa di upah serta membersihkan tugu yang ada di tengah alun-alun desa yang sudah berlumut dan mengecat ulang semua mural yang ada di di sekitar desa. Setidaknya mereka mendapat pelajaran dari ulah mereka sendiri.
"Nak Luna dan nak Gama, kami meminta maaf atas semua tuduhan yang dilontarkan pada kalian," ucap Pak Kepala Desa dengan wajah menyesal.
"Benar Luna, Ibu juga minta maaf karena udah mau percaya gitu aja sama ucapan mereka," ucap Ibu-ibu berdaster.
"Saya juga minta maaf Luna," ucap yang lain.
"Saya juga minta maaf sama suami kamu, maaf kami mengejek Anda tuan!" ucap mereka.
Satu persatu warga meminta maaf pada Luna dan Gama, mereka mengakui kesalahan mereka dan berjanji untuk tidak mudah termakan omongan dan gosip murahan lagi.
__ADS_1
"Luna, Gama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua yang saya katakan pada kalian, dan untukmu Luna, terimakasih sudah membantuku," ucap Andre dengan wajah penyesalan di hadapan mereka berdua.
Luna tersenyum tulus,"kami harap kau cepat berubah, dan maaf kalau aku membongkarnya dengan cara seperti ini," balas Luna.
Andre menggelengkan kepalanya, "caramu benar Luna, seandainya kau tidak membongkarnya hari ini, mungkin aku akan terus terjebak dengan semua traumaku ini," ucap Andre.
"Hmm, saya harap kita semua bisa hidup damai di desa ini, saya juga berharap bapak-bapak dan ibu-ibu mau mendukung saudara kita Andre," ucap Luna.
"Dia butuh dukungan mental dari kita, rasa trauma karena dibully pasti membekas apalagi setelah melewati kejadian yang diceritakan oleh Pak Kepala Desa tadi," tambahnya.
"Saya harap kita sebagai manusia yang berbudi pekerti dan beragama dapat merangkul saudara-saudara kita yang mengalami hal seperti Andre, bukan malah menyudutkan dan membully mereka," ucap Luna lagi.
"Banyak di luar sana orang-orang yang mengalami hal serupa dengan Andre justru malah dijauhi dan diejek akhirnya karena tidak mendapat dukungan dari lingkungannya mereka malah semakin parah, Saya harap kita semua bisa membantu Andre," jelas Luna.
Prokk prokk prokk prokk
Terdengar tepuk tangan meriah di alun-alun desa, Luna malah terkejut saat mendengar tepuk tangan meriah dari orang-orang kampung.
"Kami setuju denganmu Luna!" teriak mereka.
"Luna kau hebat!"
"Suuiit suiittt,"
"Keren!"
"Dia gadis baik, betapa beruntungnya aku mendapat seorang istri seperti gadis bar bar ini," batin Gama sambil tersenyum.
"Kesambet apa kamu Luna? tumben bijak?" ledek Ferdi yang kalah mengundang gelak tawa orang-orang disana.
"Hahahahhahahha," mereka tertawa bahagia bersama di alun-alun desa itu.
"Nak, siapa nama suami kamu?" tanya seorang ibu-ibu tiba-tiba.
"Iya Luna, kau belum memperkenalkannya pada kami," ucap warga lain.
"Ck....bukannya kalian yang beberapa hari lalu memaksa kami menikah? kalian sudah tahu dong siapa dia?" ucap Luna dengan nada meledek.
"Hehehe, yah kami kan udah minta maaf Lun," ucap mereka sedikit malu mendengar ledekan gadis itu.
"Hmmm baiklah, Gam, perkenalan dirimu," ucap Luna pada Gama yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.
"Apa perlu?" ucap Gama menatap mereka dengan tatapan dingin tajam dan menusuk yang membuat orang bergidik ngeri saat melihat tatapan pria brewokan itu.
"Eh...Ka...kalau tidak mau juga ti...tidak apa-apa," ucap salah satu warga terbata karena gugup.
"Pffthh....hahahah, kenapa kalian takut dengannya sih?" ledek Luna sambil terkekeh.
Warga hanya diam dan merasa kikuk.
__ADS_1
"Ekhmm...jangan takut dengan saya, yang perlu kalian takuti gadis bar bar dibelakang saya ini," ucap Gama sambil melirik ke arah Luna.
"Kalian lihat sendiri kan kekuatannya tadi, saya saja sampai takjub melihat keahlian berkelahi gadis ini hahahhaha," lanjut Gama sambil tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tadi, sedangkan Luna? hmm jangan ditanya, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus karena digoda oleh suaminya sendiri.
"Hahahahahahahahahaha........," para warga ikut tertawa dan setuju dengan ucapan Gama.
"Kalau begitu perkenalkan dirimu," ucap warga lagi.
"Ahh...baiklah, perkenalkan saya Gamaliel Park suami sah Luna Christina," ucap Gama sambil tersenyum tipis.
"Gamaliel Park? apakah kakak orang Korea?" teriak seorang gadis yang tergila-gila dengan dunia per K-Pop 'an.
Para warga menatap Gama menunggu jawaban pria itu, bahkan Luna saja belum tahu karena ia tidak sempat bertanya padahal dirinya sendiri sangat menggemari drama dari negeri ginseng itu. Memang dasar Luna orangnya terlalu cuek.
"Emmm....saya blasteran Indonesia dan Korea, Ayah saya berasal dari Korea Selatan dan Ibu saya dari Indonesia," jelas Gama.
Mereka mendapatkan jawaban, sungguh indah hari ini, semua warga berkumpul di alun-alun desa untuk saling bercengkrama dan bercanda tawa, persaudaraan yang rukun itulah gambaran desa itu saat ini.
Setelah berbincang-bincang dengan mereka, Luna dan Gama memutuskan untuk berkeliling di sekitar desa kecil dekat Kota itu.
Ferdi juga ikut bersama mereka, Sepanjang jalan mereka bercerita dan bercanda. Tampak Gama lebih banyak tertawa hari ini, hatinya hangat ketika bertemu orang-orang baik seperti mereka terutama bertemu dengan Luna yang baru dikenalnya beberapa hari.
"Fer, antarin kita ke tukang pangkas dong," pinta Luna.
"Iya Fer, kau lihat kan penampilanku sudah seperti om-om, jangan sampai aku diledek oleh Tante Tante di belakangku ini lagi," ucap Gama sambil menatap Luna sebentar lalu kembali melihat Ferdi.
"Ck....dasar pendendam, emang dasar ya om-om kurang umur!" celetuk Luna.
"Ya udah Fer kamu bawa om-om ini ke tukang pangkas, sekaligus cukur itu jenggot sama kumisnya yang panjang itu!" ucap Luna.
"Loh kamu gak ikut Lun?" tanya Gama sedikit keberatan.
"Aku mau cari bibit bunga dulu sekaligus beli benang, lem dan peralatan lain untuk buat aksesoris, kamu sama Ferdi aja sekalian biar kalian makin dekat!" ucap Luna yang sudah berjalan jauh meninggalkan mereka.
"Tapi...Lun...Lunaaaa...." teriak Gama, namun yang dipanggil hanya melompat kesana kemari seperti anak TK meninggalkan mereka di tempat itu.
"Luna emang gitu Gam, yang sabar ya, tapi dia itu gadis baik kok, hanya saja kisah kehidupannya menyedihkan," ujar Ferdi.
"Benarkah? bisa kau ceritakan?" ucap Gama penasaran.
"Tentu, tapi sambil jalan ke tempat pangkas ya," ucap Ferdi yang dianggukkan oleh Gama.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😉
__ADS_1