
Tiga hari berlalu, Gama menyelesaikan sesi terapinya hari ini. Bersama Ken, Luna dan adiknya Anna mereka kembali pulang ke desa.
Luna dengan penuh perhatian selalu memperhatikan kebutuhan suaminya, apalagi sejak ia tau kalau dia sudah jatuh cinta dengan suaminya, walaupun ada sedikit rasa penasaran apakah suaminya juga mencintainya atau tidak namun ia terlalu malu untuk membahas hal itu lagi.
Ken menyetir dan membawa mereka menuju desa. Namun sebelum itu Luna meminta mereka singgah di supermarket.
"Kalian tunggulah disini sebentar, aku mau beli bahan makanan dulu," ucap Luna.
"Ku temani ya Lun," ucap Ken yang ikut keluar dari mobil.
"Ayo kak," ucap Luna.
Sementara itu di dalam mobil tinggallah Gama dan adiknya Anna. Anna duduk di kursi depan di samping Ken sedangkan Gama di kursi penumpang.
"Kak," ucap Anna sambil menoleh ke arah Gama.
Gama menatap Anna.
"Ada apa An?" tanya Gama lembut.
"Emmmm....apa orangtua kita masih hidup?" tanya Anna.
Deg
Gama terkejut dengan pertanyaan adik kecilnya itu.
"huffft...," Gama menghela nafas berat, Anna mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Mom dan Dad selalu hidup, mereka hidup di hati kita sayang, " ucap Gama dengan tenang.
"Mereka sudah meninggal ya kak," lirih Anna, matanya mulai berkaca-kaca.
"Anna, jangan menangis Mommy dan Daddy sudah bahagia dengan tempat baru mereka, sekarang giliran kita untuk bahagia, nanti kita akan usahakan agar kamu bisa mengingat mereka lagi," bujuk Gama.
Anna menegakkan kepalanya, ia menatap kakaknya dengan terharu, "Aku berharap aku bisa mengingat semua kenangan bersama mereka kak," ucapnya.
"Apa kakak punya foto mereka?" tanya Anna.
"Ahh...foto, kakak punya di ponsel kakak," ucap Gama.
Gama mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto miliknya.
"Ini foto mereka An," ucap Gama menyerahkan ponselnya.
Anna menerima ponsel itu, di layar datar benda pipih itu terlihat foto sepasang orangtua yang begitu mesra dan serasi. Anna meraba layar ponsel itu, hatinya begitu sedih saat mengetahui bahwa kedua orangtuanya sudah berpulang.
"Jadi ini Mommy dan Daddy, hiks...hiks...hikss...Maafkan aku tidak mengingat kalian," tangis Anna pecah, saat melihat foto itu ada rasa lain di hatinya. Jantungnya bergemuruh melihat gambar yang diambil beberapa tahun lalu.
"Anna, jangan menangis sayang, kau masih punya kakak, sekarang kau juga punya kak Luna, jangan sedih ya sayang," ucap Gama menguatkan adiknya.
Anna menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Hemmphh...huhhh, siapa nama asliku kak?" ucap Anna.
"Nama kamu, Park Ariana Rose tapi sejak kecil kamu sering di panggil Anna," ucap Gama.
Anna mengangguk, ia menghapus air matanya lalu mengembalikan ponsel kakaknya.
"Terimakasih kak, aku tidak akan menangis lagi, aku bersyukur bertemu dengan kak Luna yang menyelamatkanku di hari itu, jika tidak mungkin kita tidak akan pernah bertemu kak," ucap Anna.
"Kakak juga bersyukur bertemu dengan gadis itu, dia menyelamatkan hidup kita," ucap Gama yang dianggukkan oleh Anna.
"Tapi ngomong-ngomong kakak iparmu itu sangat cerewet ya," ucap Gama sedikit berbisik.
__ADS_1
Anna tertawa kecil mendengar ucapan kakaknya," Hahahah, itu namanya cerewet sayang kak," ucap Anna.
"Kak Luna memang seperti itu, tapi sikap perhatiannya tidak ada yang bisa menandingi, dan masakannya itu yang terbaik!" seru Anna sambil mengangkat dua jempolnya.
"Kau benar na, kakak bersyukur bertemu dengannya," ucap Gama.
"Kak jangan pernah tinggalkan kak Luna, jika sampai kakak melakukan itu maka aku juga akan meninggalkan kakak dan memilih ikut dengan kak Luna!" ucap Anna dengan wajah tegas.
Sifat gadis remaja ini persis seperti Gama, tegas, sorot mata tajam dan berpendirian kuat. Bisa dikatakan Anna adalah versi perempuannya Gama. Namun sifat tegasnya itu selalu kalah dengan Omelan seorang Luna.
Mereka berdua terus berbincang, sama seperti Luna dan Ken yang sedang berbelanja di supermarket.
Ken mendorong troli, sedangkan Luna mengambil semua bahan masakan yang dia perlukan. Sesekali ia bertanya pada Ken apa mereka menyukai itu atau tidak.
Saat sedang asik berjalan, tidak sengaja seorang anak kecil menabrak Luna.
Brukk
Anak kecil laki-laki itu terjatuh ke lantai, sedangkan Luna, ia cukup terkejut. Dengan segera ia membantu anak laki-laki itu.
"Aduh...dek mana yang sakit, maaf ya Tante gak sengaja," ucap Luna langsung berjongkok dan mengangkat bocah kecil itu.
"David yang minta maaf Tante, David tadi lari-lari sampai nabrak Tante, maaf ya " ucap anak kecil itu dengan puppy eyesnya yang sangat menggemaskan.
Luna tersenyum ia, mencubit gemas wajah tampan bocah kecil itu.
"Hmm...gak apa apa kok, lain kali hati-hati ya sayang, orangtua kamu mana? kenapa lari sendirian? entar diculik orang loh, anak kecil gak boleh lari kesana kemari kalau di tempat umum seperti ini," Luna mulai mengomel.
Ken merotasikan kedua bola matanya, ia sedikit tertawa melihat Luna yang selalu saja mengomel jika terjadi sesuatu yang salah di matanya.
"Hhahahah,Luna kenapa kau cerewet sekali," kekeh Ken.
Luna menatap ke arah Ken," Ck....biarkan saja," ketus nya lalu kembali fokus pada anak-anak tadi.
"David!!!" panggil seseorang dari belakang Mereka.
Luna, David dan Ken menoleh, seorang pria berpakaian formal dengan wajah khas Eropa berjalan dengan tergesa-gesa serta raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah pria itu.
"Dokter George?" ucap Ken.
"Loh Dokter George ya," ucap Luna ynag kini bangkit berdiri sambil menggendong David si bocah berusia lima tahun itu.
"Ahh, selamat siang tuan Ken, non Luna," ucap Dokter George menyapa mereka dengan sopan.
"Hay Papi, hehehe," celetuk David dengan gummy smile di gendongan Luna.
"Jadi anak tampan ini anak dokter?" ucap Luna.
"Ahh...iya nona, maaf merepotkan Anda," ucap Dokter George.
"David kemari, Papi hanya suruh kamu nunggu sebentar tapi kamu langsung lari kemana-mana, penjaga kamu sampai kewalahan!" ucap Dokter itu.
"i'm sorry Papi, i just wanna playing around," seru David dengan wajah menyesal.
"Hufftt....nona bisa berikan David pada saya?" ucap Dokter George.
"Ahh...iya ini," ucap Luna.
David di gendong oleh Dokter George, " Tuan Nona saya permisi dahulu, kebetulan Maminya David sedang sakit kami sedang beli bahan makanan kesini," ucap Dokter George dengan penuh hormat.
"Ahh, begitu, silahkan dokter, anak ganteng sampai jumpa lagi," ucap Luna sambil tersenyum.
"Dan semoga istri Anda cepat sembuh dok," ucap Luna lagi.
__ADS_1
"Terimakasih nona, kalau begitu kami permisi, tuan, nona," ucap Dokter George.
"Bye...bye...Tante cantik, Sampai jumpa lagi, bye bye paman," ucap David sambil tersenyum.
Luna melambaikan tangan, sedang Ken hanya tersenyum tipis saja.
"Sepertinya menyenangkan punya keluarga seperti itu," ucap Luna, Ken hanya diam saja.
"Kak Ken pasti senang punya keluarga harmonis juga ya kan?" ucap Luna sambil berjalan di depan Ken dengan mata yang terus fokus pada rak bahan makanan.
"Dulu, sebelum semuanya hancur karena orang ketiga keluarga kami harmonis, tapi semuanya hancur, Ibu dan adikku meninggal," ucap Ken pelan.
Luna terkejut mendengar ucapan Ken, ia membalikkan badannya dan kini mereka dalam posisi berhadapan.
"Maaf kak, bukan maksudku mengingatkan mu dengan semua itu," ucap Luna merasa tak enak.
"Tidak apa Luna," ucap Ken sambil tersenyum lembut.
Luna membalas senyuman Ken, lalu kembali membalikkan badannya dan berjalan ke depan.
"Tapi setidaknya kakak pasti punya kenangan manis bersama keluarga kakak, sedangkan aku, aku bahkan tidak tau siapa diriku," lirih Luna.
Ken terdiam mendengar gadis itu entah mengapa hatinya sakit saat mendengar suara sendu si gadis cantik itu.
"Hmmm....tapi tak apa, sekarang aku punya Gama dan Yuna eh Anna, mereka keluargaku sekarang, " ucap Luna menyemangati dirinya sendiri.
"Aku juga keluargamu Luna, anggap aku kakakmu," ucap Ken yang langsung berjalan di samping Luna.
Luna menatap Ken dengan tersenyum.
"Tentu, kakak, Kak Aiden dan Kak Bima juga keluargaku, senang sekali punya banyak kakak heheheh,"
Mood Luna kembali dengan cepat, Ken tersenyum melihat perubahan mood gadis itu.
Puk
" Kau lucu sekali hehehe," ucap Ken sambil menepuk pucuk kepala Luna dengan lembut.
"Ups....kalau Gama melihat ini dia pasti akan marah hahahha," Ken tertawaan kecil begitu juga dengan Luna.
"hahaha....Apa dia selalu seperti itu kak?" tanya Luna.
"Tidak, dia hanya begitu pada dirimu, sepertinya dia mulai jatuh cinta padamu," ucap Ken sambil tersenyum.
Luna tersenyum, pipinya merona ketika membahas tentang cinta.
"Heheheh, benarkah? syukurlah kalau begitu," gumam Luna.
"Cieee....ada yang jatuh cinta juga nieee hahahah," Ken tertawa terbahak-bahak melihat wajah Luna yang memang sangat menggemaskan.
"Pantas saja si kulkas itu takluk dengan Luna, dia sangat menggemaskan," batin Ken dengan senyum sumringah di wajahnya.
.
.
.
like, vote dan komen.
Selamat memperingati HUT DIRGAHAYU RI Ke-76, Kita doakan bersama-sama semoga negeri kita tercinta ini cepat pulih.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
__ADS_1
INDONESIA HARGA MATIπͺπͺπͺπͺπͺπͺπͺπͺ