
Semua orang sedang berkumpul di ruang kerja Gama. Setelah mendapatkan kabar mengenai musibah yang menimpa Aiden, mereka semua segera menyelesaikan pekerjaan mereka dan bergegas pulang ke rumah besar Park kecuali Bima yang belum bisa pulang untuk saat ini.
Mereka semua duduk dengan tenang di belakang Luna, Alex dan Mark yang tengah berjuang mencari info tentang gadis yang menurut perkiraan mereka di jebak oleh rekan kerjanya sendiri sehingga berakhir tidur dengan Aiden.
tukk.. takk.. tukk.. tak
krosss.. krukk..krukk
Terdengar suara ketikan di keyboard serta suara kunyahan kerupuk dari mulut seorang Luna yang dengan serius mencari sambil mengunyah kerupuk udang yang disuapi oleh Gama yang duduk di sampingnya.
"Sayang minum," ucap Luna namun matanya masih fokus dengan komputer di depannya.
"ini," ucap Gama sambil memberikan jus jeruk dengan sedotan agar memudahkan Ibu hamil itu meminum jusnya.
"Kak Ken, Kak Ai kemarilah!" panggil Luna saat melihat seseorang yang menurutnya mencurigakan.
"Ada apa na?" tanya mereka.
"Kurasa kalian mengenal pria ini," ucap Luna sambil menunjuk seorang pria yang menatap Aiden dari sudut ruangan pesta saat pesta berlangsung.
"Dia Jefri Orlando dari perusahaan periklanan di Kota Melbourne Australia saingan Ken dan Aiden, pria haus kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya ," jelas Mark yang kenal betul dengan pria itu.
"Dari mana kau kenal dia Mark?" tanya Ken.
Mark menatap layar itu sambil mengeraskan rahangnya, Gama tau siapa pria itu dan kenal betul dengan sosok yang membuat Mark menatap komputer itu dengan tatapan dendam.
"Dia anak hasil hubungan terlarang Ibu kandung Mark yang ternyata sudah lahir terlebih dahulu bahkan sebelum Mark hadir," jelas Gama sambil menatap asistennya yang menatap dengan penuh kebencian pada pria itu.
Mereka semua terbelalak, apalagi Andin dia tidak tau apa-apa tentang kekasihnya membuatnya benar-benar terkejut mendengar penuturan Gama.
"Maaf aku mengungkapkan ini Mark, tapi mereka harus tau," jelas Gama.
"Tak apa tuan," balas Mark berusaha sekuat mungkin menahan perasaannya yang kacau balau.
"Pantas saja dia begitu benci dengan perempuan, disakiti bukan hanya sekali tetapi berkali-kali," batin Andin sambil menatap Kekasihnya.
"Apa kau baik-baik saja kak Mark?" tanya Luna lembut.
Mark mengangguk pelan, namun matanya tak bisa bohong, dia benar-benar menyimpan dendam pada pria itu.
"Sepertinya ada sesuatu dengan pria itu," pikir Luna.
"Tak bisa begini kak Mark, apa kakak tidak keberatan menceritakan apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Luna.
Gama memegang pundak Luna seolah berkata bahwa dia tak harus ikut campur dengan hal itu.
"Kalau gak mau juga gak apa apa sih, ya udah kita lanjutkan pencariannya, pertama kita harus menemukan perempuan itu dulu, masalah pria tadi lupakan saja," ucap Luna.
Meski Luna mengucapkan hal itu, mereka tau kalau Luna menyimpan sesuatu di dalam hatinya, sesuatu yang benar-benar mencurigakan.
Lama mereka mencari, bahkan Luna Samapi melakukan peretasan di beberapa CCTV yang menangkap jalur yang dilalui gadis itu.
Alex dan Mark juga melakukan hal yang sama, mereka bekerja sama membuka jalan untuk meretas kamera kamera serta ponsel orang orang untuk mengetahui letak gadis itu.
Yang membuat pencarian ini sulit, Gadis itu tidak nampak dimana-mana, bahkan ponselnya pun tidak dibawa, dan tinggal di lemari karyawan di hotel milik Aiden.
Mereka cukup bersyukur bahwa wajah gadis itu terlihat jelas di layar CCTV yang merekam kepergiannya.
tuk... tak... tuk... tak
Jari jari lentik ketiga ahli komputer itu kini berirama mencari dan mencari dimana kiranya gadis itu berada.
sreett...
Sreett...
Tap....
"Tunggu dulu!" ucap Luna sambil menghentikan Video yang dia lihat.
dug.. dug... dug
__ADS_1
Luna memegang perut buncitnya saat merasakan pergerakan dari kedua bayinya.
"Ada apa sayang? apa kalian curiga dengan sesuatu?" ucap Luna pada kandungannya.
"Kenapa sayang?" tanya Gama ikut mengusap perut istrinya.
Dugg... Duggg.. Dugg
Kedua bayi Luna dan Gama bergerak semakin aktif membuat kedua orangtuanya saling menatap.
"Sayang sepertinya kalian menemukan sesuatu,apa kau melihat sesuatu tadi?" tanya Gama dan Luna mengangguk.
"Ada apa? apa kau curiga dengan perempuan yang memakai Hoodie itu?" tanya Gama sambil menunjuk seorang perempuan gemuk dengan Hoodie hitam keluar dari hotel Aiden.
"Bagaimana kau tau?" tanya Luna.
"Hei aku tak selemah Alex dan Mark, aku ini juga pintar dan teliti sayang," ucap Gama sambil mengelus kepala istrinya.
Alex dan Mark menatap Gama yang ternyata lebih hebat dari perkiraan mereka.
"Wah kalau begini anak anak kalian akan benar benar jenius nanti!" ucap Alex.
"Tentu saja, sudah ayo lanjutkan," ucap Gama.
"Kak Aiden apa gadis itu punya mata yang berbeda?" tanya Luna.
"Mata, ahhkk.. hmmm.. matanya berwarna merah maroon dan hitam," ucap Aiden.
"Sepertinya ada yang aneh, merah maroon dan hitam, " ucap Luna.
tuk..
tuk..
tuk..
krosss.. krosss..Kross
jari Luna mengetuk ngetuk meja sambil mengunyah kerupuknya.
"Ha dapat Na?" ucap mereka semua terkejut.
"Dugaan kita benar sayang, perempuan berbaju hitam tadi benar benar mencurigakan, dia melalui semua jalan yang biasa di lalui oleh gadis bernama Mikha itu," ucap Luna.
"Tapi dia gemuk dek, gadis itu kecil dan kurus dia tidak gemuk," ucap Aiden.
"Tenang dulu den, sekarang kita cari gadis gendut berpakaian hitam itu dia memiliki mata yang persis sama seperti yang Aiden ucapkan, cepat sebelum kita kehilangan jejaknya lagi!" ucap Gama.
Alex dan Mark melakukan pencarian begitu juga Luna, mereka menggabungkan semua informasi yang mereka temukan dan hasilnya cocok !
"Yes dapat!" ucap Luna saat dia berhasil mengkonfirmasi dimana lokasi gadis itu.
"dimana Na?" tanya Ken penasaran.
"Dia tinggal di sebuah panti asuhan, dan hidup bersama anak anak disana, dulu gadis itu gadis yang gemuk dan selalu mendapat ejekan dari orang-orang selain karena tubuh gemuknya dia juga diejek karena tidak punya orang tua, namun dia berjuang untuk diet dan berhasil mendapatkan berat badan idealnya namun dia memilih menutupi identitasnya dengan memakai bantalan untuk menambah bobot tubuhnya," ucap Luna.
"Berdasarkan data yang dikumpulkan anak buah yang sudah tersebar, gadis itu seorang anak yang di buang di depan panti asuhan dan orang tuanya adalah mereka!" ucap Luna sambil menunjukkan foto sepasang suami istri.
Brakkk
Meja digebrak dengan kuat membuat semua orang terbelalak dan menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Ferdi!" ucap Anna yang terkejut dengan Ferdi yang tiba-tiba marah.
"Ada apa Fer?" tanya Andin.
"Mereka orangtua kandung Ferdi dan gadis itu adalah kakak kandungnya Ferdi,"jelas Luna.
"What the h*ll!!" umpat Alex.
Mereka semua terkejut dengan ikatan takdir ini, benar benar dunia begitu sempit, bagaimana bisa Ferdi yang jelas di telantarkan oleh kedua orangtuanya bisa mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang kakak perempuan.
__ADS_1
"Na kumohon kita cepat menemukannya," pinta Ferdi.
"Tenang Fer, panti itu sudah diawasi, kita akan melakukan pendekatan,kita tidak tau sifat gadis itu seperti apa, jangan sampai dia melarikan diri karena hal ini!" ucap Luna.
"baiklah, lalu apa yang dilakukannya saat ini?" tanya Ferdi.
"Dia sedang duduk di bangku kuliah semester akhir," ucap Luna sambil menatap Aiden.
bruk....
Aiden terduduk, dia benar-benar merasa bersalah meski ini bukan keinginannya tetapi rasa bersalah telah merusak seorang gadis dengan kehidupan penuh luka serta mimpi yang harus kandas karena ulahnya kini menyelimuti hati dan pikirannya.
"Aku telah melakukan kesalahan besar, arhhhh.... aku harus melakukan sesuatu!" ucap Aiden sambil bangkit berdiri.
"kakak mau kemana?" tanya Luna.
"Mau mengunjungi tempat itu dan melihatnya lagi, pasti dia terpuruk saat ini," ucap Aiden.
"Na kirimkan alamatnya padaku," ucap Aiden.
"Aku ikut kak!" ucap Ferdi segera menyusul Aiden.
"Apa mereka akan baik-baik saja?" tanya Rose.
"Mereka akan baik baik saja kak, aku yakin Kak Aiden dan Ferdi pasti kuat, tapi wanita itu apa reaksinya nanti saat melihat Aiden disana?" ucap Andin.
"Sudahlah, yang terpenting kita sudah menemukan gadis itu, selanjutnya adalah mengatur pernikahan mereka, jangan sampai gadis itu terpuruk hanya karena hal ini, Aiden harus segera menikah dengannya," ucap Gama.
"Hah... entah aku harus senang atau sedih dengan keadaan ini, tetapi ini sangat mengejutkan," ucap Luna sambil mengelus perutnya.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tau na?" tanya Alex penasaran, dia saja yang sudah ahli dalam bidang ini tidak mampu menemukan hal seperti itu.
"Insting serta bantuan anak anakku," ujar Luna.
"Ha?" mereka melongo mendengar perkataan gadis itu.
"hushh kalian mau saja dikibulin, sebenarnya mudah memastikannya, kalian lihat dia keluar dari gedung, matanya sembab dan penampilan nya tampak acak-acakan, dia berjalan sedikit tertatih dan tidak membawa barang apa pun selain tas kecilnya, lalu dia berkali kali merem4s jarinya seperti sedang ketakutan, dan yang terakhir untuk memastikan adalah warna matanya, makanya Luna nanya warna mata gadi ke Aiden," jelas Gama.
"Benar kan sayang?" tanya Gama.
"Benar sekali sayang," balas Luna sambil tersenyum.
"Wah kalian hebat!" celetuk Ken.
"aahhh tapi aku jadi merindukan Kak Bima sudah seminggu dia disana," ucap Luna sambil mengelus perutnya.
"Ya kami juga merindukan pria itu, ku harap dia baik baik saja," ucap Ken.
tap...
tap...
tap...
"Selamat malam tuan-tuan dan nona-nona!!" sapa seseorang yang baru masuk ke dalam rumah.
Mereka semua menatap ke arah orang itu,
.
.
.
.
like, Vote dan komen ya, 😉😉😉
Author mau bilang, baca juga yuk karya author lainnya :
* A Perfect Couple
__ADS_1
* Oh My Dev-il
tinggal buka profil Author aja ya, terimakasih 😉❤️