
Gama duduk di kursi kebesarannya, ia menatap datar semua berkas menumpuk yang ada di depan meja kerja nya.
"Hufftt....panjang sekali pekerjaan ini,kenapa mereka tidak bisa bekerja dengan baik!" Gama mendesah, ia begitu kesal dengan bawahannya yang tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cepat sampai sampai ia harus turun tangan secara langsung.
Gama mengangkat gagang telepon kantor dan menghubungi sekretaris nya.
"Hae Rim panggilkan semua bagian pemasaran kesini dan panggil Ahn Min hyeop kesini!" Ucap Gama dengan nada datar lalu mematikan sambungan teleponnya.
Rendy datang dengan membawa berkas berkas yang harus di periksa oleh Gama. Mata Gama terbelalak melihat semua berkas itu.
"Apa sebanyak itu?" Seru Gama.
"Masih ada lagi tuan," ucap Rendy menunjuk troli yang di bawa karyawannya berisi berkas-berkas penting selama setahun terakhir.
"Arghhhh....sial!!"
Braakk
Gama menggebrak meja dengan sangat kesal, pekerjaannya bertumpuk hanya karena ketidakbecusan karyawannya.
"Kita lakukan rapat umum seluruh karyawan!" Ucap Gama dengan mata berapi-api. Sebenarnya bisa saja ia mengerjakan semua masalah itu sendiri namun ada istri yang harus ia temui dahulu, ia selalu memprioritaskan Luna dalam setiap perencanaannya.
Bahkan Gama sampai mengatur agar Luna bertemu dengan paman dan bibi dari keluarga Farenheit, alasannya cuma satu ia ingin istrinya tidak merasa kesepian dan bahagia meski dirinya tidak ada disana.
Segala kebutuhan Luna ia sediakan berharap agar gadis itu tidak bersedih hati, setiap hari Gama menerima laporan mengenai semua kegiatan Luna, pria itu benar-benar posesif hanya saja ia tidak menampakkan secara langsung karena Ia tidak mau istrinya merasa di batasi.
Begitu juga dengan Anna, Gama memberikan pengawalan ketat pada gadis itu apalagi ketika ia di sekolah, hanya saja Anna tidak sadar kalau dia diawasi sehingga dia leluasa melakukan semua kegiatannya.
Orang-orang yang di panggil oleh Gama tadi tiba ke dalam ruangan Gama dengan wajah takut dan tubuh gemetaran.
Sraakkk
Saat mereka tiba, semua dokumen di meja itu di campakkan Gama ke lantai hingga berserakan kemana-mana.
"Ini akan menjadi hari terakhir kalian bekerja di tempat ini, kalian semua di pecat!"Ucap Gama dengan tatapan dingin.
"Tu...tuan tolong beri kami kesempatan, kami mohon!" Pinta 6 orang itu sambil memohon, sebab semua kejadian ini bukan kelalaian mereka, semuanya terjadi akibat manajer mereka yang tidak bekerja dengan kompeten.
Gama menatap mereka dengan tatapan Pembunuh.
"Sekali di pecat kalian akan tetap di pecat!"
Glek
Mereka terkejut, takut dan syok saat mendengar kalau mereka di pecat secara langsung oleh atasan mereka.
"Min hyeop kemari !" Ucap Gama dengan Dengan wajah datar. Ahn min hyeop pria keturunan Korea itu mendekati Gama dengan wajah takut dan tubuh gemetaran, dia adalah asisten manajer pemasaran yang sebelumnya sudah dipecat oleh Gama.
"Apa kau yang mengerjakan berkas ini?" Tanya Gama sambil menatap Min hyeop yang terus menunduk ketakutan.
"I..i..iya sa..saya tu..tuan," jawab Min hyeop dengan gugup. Ia sangat takut di pecat karena hanya pekerjaan itu yang bisa menghidupi keluarganya.
Sebenarnya semua kekacauan ini diakibatkan oleh manajer mereka terdahulu yang sudah di pecat bahkan di blacklist dari daftar tenaga kerja di seluruh dunia.
"Kalian tim pemasaran, angkat kepala kalian bodoh!" Sentak Gama membuat mereka langsung mengangkat kepala mereka.
"Baru di senggak begitu kalian sudah ketakutan seperti kucing, bagaimana kalian bisa menangani semua masalah di perusahaan ini kalau kalian cengeng begitu!" Tukas Gama.
"Ambil semua berkas itu, kita ke ruang rapat umum sekarang!" Ucap Gama.
__ADS_1
"Dan kau! Pertanggungjawabkan pekerjaanmu ini!" Ucap Gama sambil menunjuk berkas berkas yang telah ia sisihkan sebelumnya.
Mereka semua terdiam, sebenarnya apa maksud pria ini pikir mereka.
"Ma...maksud tuan ba..bagaimana? Bukan kah kami di pecat?" Tanya salah satu staff laki-laki mencoba memberanikan diri untuk bertanya meski mempertaruhkan kesehatan jantungnya.
"Kalian akan benar benar di pecat jika tidak berada dalam ruangan rapat satu menit dari sekarang!" Tegas Gama sambil menatap mereka.
"A..apa?" Mereka panik dan langsung mengambil semua berkas yang berserakan di lantai itu.
"Waktu kalian 45 detik lagi!" Ucap Gama.
"Astaga tuan, jangan seperti ini, arhhhh..." Mereka semua panik, lain halnya dengan Rendy pria itu sedikit mengulum senyum melihat kelakuan tuannya.
Ini semua hanya akal akalan Gama untuk memberi pelajaran pada tim pemasaran itu, kinerja anggota pemasaran sangat bagus dan cemerlang setelah pria bernama Ahn Min hyeop itu yang memimpin mereka, inilah alasan kenapa Gama memanggil tim pemasaran ke ruangannya.
"Kau kenapa terus disitu? Apa kau mau di pecat hah?" Ketus Gama pada Min hyeop yang masih bingung dengan situasi ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi tuan saya tidak mengerti," ujar Min hyeop sambil menggaruk kepalanya.
Gama memijit pelipisnya, memang pria yang satu ini tidak cepat tanggap tapi pekerjaannya luar biasa detail dan sempurna.
"Begini, tim kalian memiliki laporan dan kinerja paling bagus, oleh sebab itu ku panggil kalian untuk memimpin rapat, jika kau tidak berada di ruang rapat satu menit dari sekarang maka berakhir sudah kariermu hari ini!" Ucap Gama panjang lebar.
"Ohhh......" Ucap Min hyeop ber- ohh ria lalu menatap Gama lagi, Gama menaikan alisnya sambil melirik jamnya.
"Tinggal 30 detik!" Ucap Gama.
"Apa!!tiidaaakkk,saya permisi tuaaann!!" Teriak Min hyeop berlari kocar kacir setelah mendengar ucapan Gama
"Haaaahhh.....Kak Ren bagaimana aku bisa punya karyawan sebodoh itu harrrhhhh, ada ada saja mereka ini," gerutu Gama sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Gama menengadah ke langit-langit ruangannya. Dia akhirnya menemukan jawaban untuk semua masalah di kantornya itu, sebelumnya pikirannya tidak bisa fokus dengan perusahaan karena ia harus melakukan perawatan dan memastikan istri dan adiknya aman dan baik baik saja.
Drrttt
Drrrttt
Drrttt
Ponsel Gama bergetar, Gama merogoh ponselnya dari dalam kantong jasnya.
Wajahnya yang tadi kusut kini mengembang sempurna saat melihat siapa yang menelepon.
"Kak Ren, pimpin rapat terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul, aku menjawab telpon gadisku dulu!" Ucap Gama buru-buru mendekati kursi rodanya lalu duduk disana.
Rendy menggelengkan kepalanya melihat tingkah Gama seperti anak remaja yang baru kasmaran saja.
"Saya permisi Tuan," ucap Rendy langsung beranjak menuju ruang rapat, tanpa Gama beri tahu pun Rendy sudah paham dengan tugasnya tentu saja karena ada file di komputer Gama yang di bawa oleh Rendy.
Gama menyiapkan aktingnya, ia membuat wajahnya pura pura lesu dan sedih. Gama belum berniat memberitahukan Luna tentang kesembuhannya.
"Halo," jawab Gama Lesu dengan wajah murung, mereka sedang melakukan Video Call.
"Halo sayang," jawab Luna dari seberang sana dengan senyuman manis yang sangat dirindukan oleh Gama, beberapa hari ini ia tidak bisa melakukan video call dengan istrinya itu.
"Ada apa?" Tanya Gama lesu.
"loh kenapa nanya gitu? Kamu kenapa? Kenapa lesu sekali, ada apa? Kenapa juga kamu gak angkat telponku? Kamu baik baik saja kan? Kamu nggak sakit kan? " Tanya Luna panik saat melihat wajah Gama muram.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, hanya saja...." Gama terdiam, ia pura-pura mengeluarkan air mata palsunya, sungguh pintar pria ini bersandiwara.
"Hufftt,Paman, Bibi, emmm kak, boleh pinjam kamar ? aku mau bicara sama suamiku sebentar," ucap Luna pada orang-orang di dekatnya sebab saat ini ia masih di kediaman Ken.
"Pergilah," ucap Mereka yang terdengar ke telinga Gama.
Di rumah itu, Luna langsung beranjak menuju kamar setelah di tuntun oleh Ken.
"Terimakasih kak, sebentar ya," ucap Luna langsung menutup pintu.
Luna duduk di atas sofa dalam kamar yang cukup luas dengan nuansa retro itu.
"Sayang ada apa?" tanya Luna langsung mengarahkan ponselnya ke wajahnya untuk melihat wajah suaminya yang tidak bersemangat.
"Luna, a..aku aku tidak bisa sembuh," ucap Gama dengan air mata di wajahnya, sebenarnya dia menangis karena merindukan gadis itu lucu memang.
"Astaga kau menangis hanya karena itu? kalau tidak bisa memangnya kenapa? apa itu masalah hmm? kau kan sudah terbiasa dengan keadaan itu, lalu kenapa kau harus kecewa? kan sudah ku bilang apa pun yang terjadi nanti kau harus bisa menerimanya dengan lapang dada!" ucap Luna.
" Tapi aku tidak sempurna Luna, aku cacat, aku lumpuh aku tidak bisa diandalkan!" ucap Gama .
" Kau ini selalu saja begitu," kesal Luna.
"Aku nggak pantas menemani kamu Luna, aku ini lumpuh aku bahkan gak bisa ngelindungin kalian," lirih Gama.
"huuuffft... Sayang jangan begitu ya, kumohon kita sudah pernah membicarakan ini, jangan sedih, sampai kapan pun, mau bagaimana pun keadaanmu aku tetap menjadi istrimu, aku tidak peduli dengan ucapan orang-orang," jelas Luna .
"jika mereka mengejekmu maka aku akan membuka kaki palsuku dan melemparkannya ke kepala mereka!" ucap Luna dengan bersungguh-sungguh.
"Apa kau sungguh sungguh tidak akan meninggalkan ku?" tanya Gama dengan mata berkaca-kaca
Luna mengangguk pelan sambil tersenyum.
" Terimakasih sayang, aku mencintaimu, aku merindukanmu, dan maafkan aku tidak menghubungimu selama beberapa hari ini," ucap Gama.
"tidak apa,yang penting kamu sehat," ujar Luna.
"Kalau begitu aku rapat dulu ya sayang, dua hari lagi aku kembali ke Jakarta, mungkin dua hari ini aku akan sibuk mengurus perusahaan, aku mungkin tidak akan meneleponmu," ucap Gama.
"hmm...tak apa sayang, yang penting ingat pulang hehehe," ujar Luna.
"Tentu saja, aku sangat merindukanmu," ucap Gama.
"Aku juga sayang, ya sudah sana gih rapatnya," ucap Luna.
" Iya, huffftt haaaahhhh ingin aku bicara lama denganmu tapi waktu ku arhhhh,apa ku batalkan saja rapatnya?" ucap Gama frustasi.
"Batalkan saja jika kau tidak ingin mendengar suara ku lagi," ucap Luna dengan ketua.
"Baiklah nyonya Park, suamimu bekerja dulu, I love you!" ucap Gama.
"I Love you too hubby!" seru Luna sambil tersebut.
.
.
.
hai readers, author minta sekiranya bersedia memberikan like, vote dan komentarnya ya, terimakasih 😉❤️🙏🙏
__ADS_1